Minggu, 24 Juli 2016

Ujian LDR ( Perasaan yang Salah )

Part 1
Senja mengawali kehidupan gelapku di usia 19 tahun. Dan entah bagaimana aku harus memulai hidupku yang mungkin disana banyak halangan dan masalah yang menantang. Perjalanan awal memperkirakan bahwa aku akan menjadi seorang pemusik yang keren nantinya “pikirku dengan percaya diri”. Rosalina.. yah itu namaku yang baru-baru saja beken di sosmed gara gara mewarisi kata-kata yang hampir membuat para pasangan terenyuh dengan kata kata bijakku haha “tawaku sangat lebar”.
Aku adalah seorang perempuan yang di lahirkan jauh dari kata kota. Dengan pakaian apa adanya muka beler dan bahkan style tidak menjamin sama sekali. Tomboy … banyak orang  yang mengira bahwa aku ini cowo. Karena dengan gaya rambutku yang seperti lelaki ini membuat semua orang, bukan semua orang namun lebih tepatnya adalah seorang perempuan dan cewe lainnya melihatku dengan kagum dan mungkin terbawa perasaan kali yah..haha” kembali, tawaku makin bersemangat”.
Namun aku bukan menceritakan soal aku tomboy atau apa lah. Aku akan menceritakan perjalananku yang akan memulai awal perkuliahan di salah satu Universitas yang berada di Jakarta.
Aku tinggal di Jakarta lokasinya masih lumayan dekat dengan Kampusku jadi aku tidak akan susah payah lagi mencari angkutan umum seperti SMA kemarin yang sempat bolak-balik cari angkutan dan semuanya penuh, tepatnya di Surabaya. aku pindah dan lebih tepatnya masih ngontrak, di Jakarta bersama keluarga, karena Ayah ada bisnis kecil-kecilan di kota ternama ini. Dan mungkin insya Allah semuanya bakal lancar sampai aku lulus S1 nanti di Fakultas seni musik. Amin…
Oh ya aku ingat sesuatu, kekasihku..”lirih” iya kekasihku Irvan namanya, kekasih  yang selalu mendukung, menopangku agar tetap bangkit dan selalu membimbingku ke jalanNya. Kadang aku terlalu jahat dan terlalu sibuk untuk terus mengabaikan ia yang berada di Surabaya. Kita pasangan memang tidak seromantis pasangan-pasangan lainnya yang selalu mengumbar kemesraan di sosmed,makan berdua di tempat-tempat yang mewah, dan kurang lebih 1 tahunan kita jarang bertemu. Karena dia memang sibuk juga dengan kuliahnya di Surabaya apalagi di tambah dengan ia bekerja, tapi Alhamdulillah sudah semester 6 tinggal setahun lagi ya sayang hehe “tawaku dengan bersemangat”. Tapi disisi lain aku terkadang mengeluh karena merasa bener-bener cinta dan berjuang sendiri. Tidak ros, tidak. Kau tidak berjuang sendirian tapi bersam. “Hati kecil berbisik”. Bertahan dengan egoku, akhirnya aku tetap bersabar menunggu dia memberikan kabar kepadaku walau sedetik pun itu membuatku sangat berharga. Kadang menunggu itu hal yang membuatku sangat muak, namun untuk kekasih hati menunggu bukan menjadi alasan lagi untuk tidak pergi.
Komitmen sudah terjaga namun keegoisan tetap saja berkecamuk mencampuri urusan dalam hubungan kita. Bukan, ini adalah hal yang bersifat pada diri sendiri masing-masing, wajar setiap individu terdapat keegoisan yang bergejolak untuk memenangkan keras kepalanya.
Harus LDR’an lagi ?? tanyanya waktu itu..
Aku cukup menenangkannya,  karena dulu kita pernah LDR’an juga waktu Irvan bersekolah di Jakarta saat SMA dan aku di Surabaya. Entah ini seperti Adam dan Hawa saling mencari ataukah hanya manusia biasa yang saling merindui. Sungguh malam itu membuat kita sempat menangis berdua dan tak tega sekali aku meninggalkannya dengan senyuman yang manis di bibir merah itu.
Rindu.. iya, aku sering melafadzkan candu rindu kepadamu. Dan malam ini aku merindukanmu, benar-benar merindukanmu Van, akankah kau merasakan dan mendengarkan kicauku ini ?
Mereka bilang kita pasangan yang so sweet dan mereka bilang kita pasangan yang tidak terlalu cocok. Dan kita bilang mereka hanya komentator yang tidak berguna. Mereka tidak menjadi kita, dan bahagia juga kita yang nyiptain bukan mereka. Entah kenapa rasanya nyayat banget jika ada orang yang selalu bertanya “kenapa sih lo ko masih saja sama Irvan? lo yakin dia akan bertahan sama lo? Dia kan ngga pernah ngasih kabar ke elu ?” iyah sih.. tapi mau gimana lagi tali kita udah ngga bisa kebuka dan nggak aka pernah bisa di buka lagi” :D sambil tersenyum aku menjawabnya.
Cukup yakin kalau kita akan sampai ke jenjang yang lebih tinggi, hiii ciyeee kek kuliah “candaku” berdoa, berusaha dan tetap berjuang agar hubungan kita sampai ke jenjang pernikahan Amin.. bertemu, saling menggenggam tangan dan selalu melafadzkan janji komitmen kita. “tersenyum bersyukur”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar