MEI
Siang itu begitu menuai dahagaku. Panas, perih, bersambut
menampar muka kusamku. Begitu lengkap saat kulihat uang dalam dompet kecilku yang
tinggal dua puluh ribu. hmmm...!! ini hanya cukup untuk memberi makan kuda
besiku saja. Padahal perjalanan ke kampus sangat jauh. Kembali kulihat jam di
teleponku, samar-samar nampak pukul 12.00 Wib tepat. Segera kuhidupkan kuda
besiku yang kotor berdebu. Tas kecil yang senantiasa menemani setiap gerakku
tak lupa mendampingi. Walau hanya berisi catatan kecil hutang dan tagihan,
tetap saja aku bangga memamerkannya.
Satu jam sudah kutarik pedal gas dari besi yang berjalan.
Rasanya lelah dan sangat menguras stamina.
Tiba juga aku di kampus kesayangan, tempat dimana segala asa dan inspirasi
kutuangkan dalam setiap kelas dan materi yang kuampuh. Seperti biasa hari ini
tanggungjawab mengkoordinir ragaku untuk bergegas menata ruang dilantai atas.
Lantas kulakukan saja dengan menyela keringat yang sedari tadi terus meluap
seperti banjir yang tak ada solusi. Meski tanpa pemasukan dan terus
mengeluarkan, aku tak peduli. Tanggungjawab bagiku adalah loyalitas sejati.
Walau terkadang sangat miris melihat hanya yang bergolok yang berbaris rapi. Tapi
memang itulah filsafat hidup, awal memang kita harus bergolok, baru nanti akan
menuai hasil dengan berpakaian rapi, berpeci, dan berdasi.
Saat pikiranku sibuk dengan menghayal yang tak pasti,
seketika mataku terpana dengan sebuah alasan. Dari lorong yang tak begitu jauh,
mata ini dibuat kagum dengan senyum dan paras yang begitu menawan, indah, semerbak
meracuni setiap lorong ilusi. Begitu anggun, lebih dari pas, selayaknya senja
yang merekah diatas gulungan ombak samudra yang berseri. Aku terlena,
benar-benar terlena. Sungguh kuasa sang pencipta alam begitu adil mengukir
setiap relief manis dari sekelebat senyum yang kutemukan. Siapakah gerangan?
hatiku bertnya-tanya! Sepertinya aku pernah melihat parasnya. Bukankah dia
gadis berhijab yang menyapaku di lorong tempo hari saat senja memadu asmara??
Benar, itu memang dia. Dengan baju lengan panjang hitam berpadu dengan celana
jeans abu-abu nampak begitu manis hingga tak kuasa aku menahan untuk tak
mengajaknya berbincang. Keinginan yang menderu tak mampu kubendung, aku pun tak
ingin kehilangan dia lagi hanya karena sifat jaimku. Perlahan walau sedikit bergetar,
kudekati dia yang sedari tadi duduk dan asik dengan ponselnya. Walau runyam
kuutarakan, akhirnya satu persatu frasa keluar hingga membentuk kalimat yang
manis. Dia merespon begitu asik untuk taraf baru mengenal. Sejatinya aku ingin
menahanya lebih lama dalam perbincangan ini, namun waktu begitu cepat memksa
langkahnya beranjak.
Petang kini membentang hampir diseluruh kekuatan mata
memandang. Walau tak begitu cerah, namun setidaknya masih ada cahaya dalam
keremangan ini. Terpaan angin yang sendu menderu menggetarkan jiwa yang lama
meradang, menghadirkan kisah lalu yang terkubur waktu. May, nama gadis manis
itu tak mau pergi dari pikiranku. Meskipun sangat singkat caraku untukku mengenal.
Namun melodi yang terus bergemma berirama dalam nadiku senantiasa menyanyikan
namanya. Sajak-sajak indah yang terlukis dari bahasa tubuhnya, terus mengalir
dalam aliran darah, memompa, dan menciptakan rindu dalam kehangatan. Lalu apa
sekarang? Saat bintang seperti mata yang berkedip menawan, bulan seperti bibir
yang tersenyum merekah menggoda. Langit sengaja meniru wajah manisnya. Ahh...
Menyebalkan....!!! Ibarat terombang-ambing dalam sampan kecil di tengah
samudra. Sanggupkah aku menepi, atau mati tenggelam gulungan ombak yang
menghempas. May, gadis manis di peraduan senja yang menawan. Dekaplah aku yang
tenggelam dalam kegalutan.
May
Ditulis, 10/10/15
Moh. Anang Ma’ruf
F.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar