Minggu, 24 Juli 2016

Cerpenne Mas Bro 3 (Gemma)



MEI

Siang itu begitu menuai dahagaku. Panas, perih, bersambut menampar muka kusamku. Begitu lengkap saat kulihat uang dalam dompet kecilku yang tinggal dua puluh ribu. hmmm...!! ini hanya cukup untuk memberi makan kuda besiku saja. Padahal perjalanan ke kampus sangat jauh. Kembali kulihat jam di teleponku, samar-samar nampak pukul 12.00 Wib tepat. Segera kuhidupkan kuda besiku yang kotor berdebu. Tas kecil yang senantiasa menemani setiap gerakku tak lupa mendampingi. Walau hanya berisi catatan kecil hutang dan tagihan, tetap saja aku bangga memamerkannya.

Satu jam sudah kutarik pedal gas dari besi yang berjalan. Rasanya lelah dan sangat menguras  stamina. Tiba juga aku di kampus kesayangan, tempat dimana segala asa dan inspirasi kutuangkan dalam setiap kelas dan materi yang kuampuh. Seperti biasa hari ini tanggungjawab mengkoordinir ragaku untuk bergegas menata ruang dilantai atas. Lantas kulakukan saja dengan menyela keringat yang sedari tadi terus meluap seperti banjir yang tak ada solusi. Meski tanpa pemasukan dan terus mengeluarkan, aku tak peduli. Tanggungjawab bagiku adalah loyalitas sejati. Walau terkadang sangat miris melihat hanya yang bergolok yang berbaris rapi. Tapi memang itulah filsafat hidup, awal memang kita harus bergolok, baru nanti akan menuai hasil dengan berpakaian rapi, berpeci, dan berdasi.

Saat pikiranku sibuk dengan menghayal yang tak pasti, seketika mataku terpana dengan sebuah alasan. Dari lorong yang tak begitu jauh, mata ini dibuat kagum dengan senyum dan paras yang begitu menawan, indah, semerbak meracuni setiap lorong ilusi. Begitu anggun, lebih dari pas, selayaknya senja yang merekah diatas gulungan ombak samudra yang berseri. Aku terlena, benar-benar terlena. Sungguh kuasa sang pencipta alam begitu adil mengukir setiap relief manis dari sekelebat senyum yang kutemukan. Siapakah gerangan? hatiku bertnya-tanya! Sepertinya aku pernah melihat parasnya. Bukankah dia gadis berhijab yang menyapaku di lorong tempo hari saat senja memadu asmara?? Benar, itu memang dia. Dengan baju lengan panjang hitam berpadu dengan celana jeans abu-abu nampak begitu manis hingga tak kuasa aku menahan untuk tak mengajaknya berbincang. Keinginan yang menderu tak mampu kubendung, aku pun tak ingin kehilangan dia lagi hanya karena sifat jaimku. Perlahan walau sedikit bergetar, kudekati dia yang sedari tadi duduk dan asik dengan ponselnya. Walau runyam kuutarakan, akhirnya satu persatu frasa keluar hingga membentuk kalimat yang manis. Dia merespon begitu asik untuk taraf baru mengenal. Sejatinya aku ingin menahanya lebih lama dalam perbincangan ini, namun waktu begitu cepat memksa langkahnya beranjak.

Petang kini membentang hampir diseluruh kekuatan mata memandang. Walau tak begitu cerah, namun setidaknya masih ada cahaya dalam keremangan ini. Terpaan angin yang sendu menderu menggetarkan jiwa yang lama meradang, menghadirkan kisah lalu yang terkubur waktu. May, nama gadis manis itu tak mau pergi dari pikiranku. Meskipun sangat singkat caraku untukku mengenal. Namun melodi yang terus bergemma berirama dalam nadiku senantiasa menyanyikan namanya. Sajak-sajak indah yang terlukis dari bahasa tubuhnya, terus mengalir dalam aliran darah, memompa, dan menciptakan rindu dalam kehangatan. Lalu apa sekarang? Saat bintang seperti mata yang berkedip menawan, bulan seperti bibir yang tersenyum merekah menggoda. Langit sengaja meniru wajah manisnya. Ahh... Menyebalkan....!!! Ibarat terombang-ambing dalam sampan kecil di tengah samudra. Sanggupkah aku menepi, atau mati tenggelam gulungan ombak yang menghempas. May, gadis manis di peraduan senja yang menawan. Dekaplah aku yang tenggelam dalam kegalutan.

May
Ditulis, 10/10/15
Moh. Anang Ma’ruf F.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar