GERBONG TUA
Tak kusangka kereta sudah melaju, padahal baru saja aku
masuk. Gerbong ini sangat penuh, hanya tersisa satu kursi kosong di sudut depan
pintu. Seperti debu yang diterpa angin, tanpa berpikir lagi aku duduk dikursi
dekat kakek tua itu. Entah mengapa sejak pertama kali melihat aku ingin sekali
kumengenal kakek tua ini, perlahan kudekati dan kusanding dengan perasaan
gugup! “ Selamat pagi kek!” ujarku dengan ramah. Beliau diam! lho kakek ini kok
cuma tersenyum. “ Kakek namanya siapa?” tanyaku lagi dengan santun. Namun tetap
sama, beliau hanya tersenyum. Sebenarnya kakek ini gila atau gimana? Gumam
batinku. Beliau hanya setia pada buku besar yang dibacanya sedari tadi. Entah
mengapa aku heran dengan kakek tua ini, seumuran beliau masih dengan
semangatnya untuk membaca dan terus membaca, sampai puluhan halaman, hingga tak
terasa berjam-jam sudah beliau membaca. Dalam kegaduan suara peluit kereta,
beliau menunjuk ke luar jendela disampingnya. Kulihat keluar segerombolan
pemuda bangsa yang duduk-duduk manis membolos waktu jam sekolah. Seketika aku
merespon“ Owh, itu sudah biasa kek!!” beliau
menatapku dan geleng-geleng kepala. Sebenarnya kenapa kakek? Apa yang salah?
Beliau kembali diam.
Selang beberapa hela nafas beliau kembali menunjuk keluar
jendela, namun kali ini dengan reaksi yang sedikit aneh. Kulihat dengan jelas
dua sejoli yang membawa jas almamater kampus mereka, dengan tas kecil dan celana
robek-robek sebelah serta rokok disulut dibibir. Mereka terlihat santai
menikmati suasana kacau tepian rel kereta. Entah mengapa beliau berbalik
menatapku dengan melotot! “Aku kenapa kek?” kembali aku dibuat bingung dengan
ulahnya. Sepertinya ada yang salah dari cara dia menatapku, apa peduliku! biarkan
saja. Biar saja marah sekalian, apa salahku?
Kembali suasana hening diantara kami. Sedikitpun kakek
tua ini tak mau bicara denganku. Sombong sekali pikirku, padahal aku sudah
ramah kepadanya. Meskipun jarak diantara kami berdua sangat dekat namun
perasaan kami berdua sangat jauh berbeda. Asing, seolah-olah aku penjahat yang
ingin merampok dan membunuh kakek tua ini, membosankan sekali. Ahh.. lebih baik
aku tidur. Seketika mimpi serasa mulai terajut, aku sangat kaget saat lenganku
ditepuk kakek tua ini. “ada apa?” ujarku sedikit marah. kembali beliau hanya menujuk-nunjuk
tapi kali ini koran sebagai korban. Jelas sekali topik dalam rubrik itu
menamparku. “Sarjana Berlabel Pengangguran Semkin Meningkat” Kaget, dapat dari
mana koran ini. “Halah kek, gini aja kok!! Dari dulu banyak sarjana yang
nganggur. Itu mah karena lapangan kerja yang kurang. Ditambah lagi ijazah palsu
yang bisa dibeli dengan mudah” Kakek tua ini lagi-lagi melotot dan geram.. kembali
mata tuanya yang keriput melototi aku. “Sebenarnya maumu apa sih kek??” sedikit
geram aku dibuatnya. Lagi dan lagi, beliau hanya diam. Seakan akun adalah
penjahat yang harus dihakimi.
Kereta sepertinya akan berhenti distasiun seberang. Kakek
tua ini sepertinya akan turun. Beliau berdiri dengan tongkat tua yang bergetar.
Membawa sebuah tas kecil yang ternyata penuh dengan buku-buku bacaan. Sebelum
beliau melangkah keluar, kemabli beliau melototi aku dengan muka muramnya.
Entah aku sudah salah apa atau berbuat apa, kubiarkan saja dia pergi tanpa
kuhiraukan. Dari kursi kakek ini ketemukan sebuah catatan kecil bertuliskan,
Langit runtuh
dipelupuk mata..
Fajar meredup
tergerus embun..
Asa terus bertikai
dengan waktu..
Mimpi bergulat
dengan nafsu.
Cinta pertiwi
tergadai materi..
Yang berjasa
tinggal cerita..
Kini.
Senja diujung senja..
Indah tak lagi
indah.
Masaku telah
habis..
Mataku lelah
menangis..
Sampai tak terasa
indah..
Lagi..
Langkah gemetarku mereda..
Ditertawakan
harapan sendiri..
Sesal..
Remangnya,
silaunya, hitamnya..
Tak sudi kusapa..
Entah..
Esok mentari
seperti apa..
Di tanganku, atau
tanganmu..
Cerita yg
sebenarnya..
Sebaris
sajak yang berbaris indah. Dalam batinku, kakek itu sengajakah meninggalkan
kertas ini atau memang lupa membawanya. Kulihat keluar kakek itu masih terlihat
berjalan walau sedikit tertutup yang lain, perlahan mulai menghilang dalam
keramaian. Sudahlah, apa peduliku. Kulipat kembali kertas ini dan kusisipkan
dalam jendela gerbong tua kereta. Kereta berjalan kembali, saatnya kembali
merajut mimpi.
Gerbong
Tua.
Ditulis,
17/10/15
Moh.
Anang Ma’ruf F.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar