Minggu, 24 Juli 2016

Cerpenne Mas Bro 2 (Gemma)



GERBONG TUA
           
Tak kusangka kereta sudah melaju, padahal baru saja aku masuk. Gerbong ini sangat penuh, hanya tersisa satu kursi kosong di sudut depan pintu. Seperti debu yang diterpa angin, tanpa berpikir lagi aku duduk dikursi dekat kakek tua itu. Entah mengapa sejak pertama kali melihat aku ingin sekali kumengenal kakek tua ini, perlahan kudekati dan kusanding dengan perasaan gugup! “ Selamat pagi kek!” ujarku dengan ramah. Beliau diam! lho kakek ini kok cuma tersenyum. “ Kakek namanya siapa?” tanyaku lagi dengan santun. Namun tetap sama, beliau hanya tersenyum. Sebenarnya kakek ini gila atau gimana? Gumam batinku. Beliau hanya setia pada buku besar yang dibacanya sedari tadi. Entah mengapa aku heran dengan kakek tua ini, seumuran beliau masih dengan semangatnya untuk membaca dan terus membaca, sampai puluhan halaman, hingga tak terasa berjam-jam sudah beliau membaca. Dalam kegaduan suara peluit kereta, beliau menunjuk ke luar jendela disampingnya. Kulihat keluar segerombolan pemuda bangsa yang duduk-duduk manis membolos waktu jam sekolah. Seketika aku merespon“ Owh,  itu sudah biasa kek!!” beliau menatapku dan geleng-geleng kepala. Sebenarnya kenapa kakek? Apa yang salah? Beliau kembali diam.

Selang beberapa hela nafas beliau kembali menunjuk keluar jendela, namun kali ini dengan reaksi yang sedikit aneh. Kulihat dengan jelas dua sejoli yang membawa jas almamater kampus mereka, dengan tas kecil dan celana robek-robek sebelah serta rokok disulut dibibir. Mereka terlihat santai menikmati suasana kacau tepian rel kereta. Entah mengapa beliau berbalik menatapku dengan melotot! “Aku kenapa kek?” kembali aku dibuat bingung dengan ulahnya. Sepertinya ada yang salah dari cara dia menatapku, apa peduliku! biarkan saja. Biar saja marah sekalian, apa salahku?

Kembali suasana hening diantara kami. Sedikitpun kakek tua ini tak mau bicara denganku. Sombong sekali pikirku, padahal aku sudah ramah kepadanya. Meskipun jarak diantara kami berdua sangat dekat namun perasaan kami berdua sangat jauh berbeda. Asing, seolah-olah aku penjahat yang ingin merampok dan membunuh kakek tua ini, membosankan sekali. Ahh.. lebih baik aku tidur. Seketika mimpi serasa mulai terajut, aku sangat kaget saat lenganku ditepuk kakek tua ini. “ada apa?” ujarku sedikit marah. kembali beliau hanya menujuk-nunjuk tapi kali ini koran sebagai korban. Jelas sekali topik dalam rubrik itu menamparku. “Sarjana Berlabel Pengangguran Semkin Meningkat” Kaget, dapat dari mana koran ini. “Halah kek, gini aja kok!! Dari dulu banyak sarjana yang nganggur. Itu mah karena lapangan kerja yang kurang. Ditambah lagi ijazah palsu yang bisa dibeli dengan mudah” Kakek tua ini lagi-lagi melotot dan geram.. kembali mata tuanya yang keriput melototi aku. “Sebenarnya maumu apa sih kek??” sedikit geram aku dibuatnya. Lagi dan lagi, beliau hanya diam. Seakan akun adalah penjahat yang harus dihakimi.

Kereta sepertinya akan berhenti distasiun seberang. Kakek tua ini sepertinya akan turun. Beliau berdiri dengan tongkat tua yang bergetar. Membawa sebuah tas kecil yang ternyata penuh dengan buku-buku bacaan. Sebelum beliau melangkah keluar, kemabli beliau melototi aku dengan muka muramnya. Entah aku sudah salah apa atau berbuat apa, kubiarkan saja dia pergi tanpa kuhiraukan. Dari kursi kakek ini ketemukan sebuah catatan kecil bertuliskan,

Langit runtuh dipelupuk mata..
Fajar meredup tergerus embun..
Asa terus bertikai dengan waktu..
Mimpi bergulat dengan nafsu.
Cinta pertiwi tergadai materi..
Yang berjasa tinggal cerita..
Kini.
Senja diujung senja..
Indah tak lagi indah.
Masaku telah habis..
Mataku lelah menangis..
Sampai tak terasa indah..
Lagi..
Langkah gemetarku mereda..
Ditertawakan harapan sendiri..
Sesal..
Remangnya, silaunya, hitamnya..
Tak sudi kusapa..
Entah..
Esok mentari seperti apa..
Di tanganku, atau tanganmu..
Cerita yg sebenarnya..

            Sebaris sajak yang berbaris indah. Dalam batinku, kakek itu sengajakah meninggalkan kertas ini atau memang lupa membawanya. Kulihat keluar kakek itu masih terlihat berjalan walau sedikit tertutup yang lain, perlahan mulai menghilang dalam keramaian. Sudahlah, apa peduliku. Kulipat kembali kertas ini dan kusisipkan dalam jendela gerbong tua kereta. Kereta berjalan kembali, saatnya kembali merajut mimpi.


                                                                                                            Gerbong Tua.
                                                                                                            Ditulis, 17/10/15
                                                                                                            Moh. Anang Ma’ruf F.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar