BADAI IMAJINASI
Sore ini langit begitu suram, senja mulai memudar dalam
pandangan. Jingga perlahan hilang dalam keremangan. Senandung terdampar dalam
kegalutan. Perih begitu setia menemani, serasa mentertawakanku dalam
ketidakberdayaan. Muram dan begitu kelam, hingga tak lagi nampak secerca harapan.
Mentari dengan teganya berlari, saat aku benar-benar butuh untuk bercerita.
Butuh untuk merebahkan sayap-sayapku yang telah patah. Butuh untuk sejenak
merintihkan keluh dan kesah. Butuh untuk mengadukan dahaga hidup yang tak
pernah surut, meski hariku semakin larut.
Langkah yang
teramat sangat berat untuk kujalani. Begitu runyam untuk kusesali. Sedikitpun tak
mampu kubanggakan damainya lambaian angin yang mengayun mengilhami. Hatiku tak
berdaya dengan kenyataan semalam. Sebuah badai datang begitu saja tanpa permisi.
Petir dengan gagahnya menyambar tanpa perduli. Topan menyusul dengan tanpa
ampun menyapu bersih seluruh asa dalam mimpi. Habislah semua tanpa sisa. Taman
yang dulu begitu indah penuh dengan bunga yang semerbak harum nan berseri. Juga
kumbang-kumbang yang tak pernah berhenti menggoda mengagumi. Kini semua hancur
berserakan, hingga tak ada lagi kumbang yang perduli. Semuanya pergi dengan
menitipkan hinaan, cacian dan makian.
Awalnya, tak ada yang menyakiti malamku itu. Semua
berjalan seperti air yang mengalir menuruni lembah yang rindang. Langit
berseri-seri penuh ramai dengan bintang yang berparkir rapi, tanpa saling
senggol atau berebut, walau tanpa peluit dan nomor antrian yang semrawut. Angin
pun dengan santun menyapa tubuh lunglaiku dalam keremangan. Bulan apalagi, dia
selalu tersenyum menawan sepanjang malam. Semua normal, tak ada yang janggal. Termenung
aku sendiri, di sudut dermaga dengan secangkir kopi. Sudah dua bulan rasanya
aku sendiri semenjak laki-laki berengsek
itu pergi tanpa alasan, aku hanya sendiri semenjak itu. Tak ada teman atau
kawan, mungkin hanya lawan yang dulu sangat membenci karena kesombonganku yang begitu membanggakan dan memuja-muja kebahagiaan. Entah sekarang masih lawan atau sudikah
memaafkanku dan mengaggapnya kawan, aku tak tahu. Yang pasti, malam itu begitu
tenang untuk mengenang romansa yang telah tenggelam. beberapa daftar lagu
mellow terbaik pilihan telah siap kuputar demi membawaku bernostalgia dengan
masa lalu yang kelam.
Melodi yang syahdu, lirik yang mengalun rindu, membukakan
sepenggal memori silam tentang dirinya. Kekasih yang dulu terindah dan terburuk
dalam sejarah hidupku. Darinya, aku belajar banyak hal yang menyenangkan, juga
belajar banyak hal yang kurang menyenangkan. Meski terkesan sedikit nakal, tapi
cintaku padanya melebihi apapun yang kupunya di Dunia ini. Cinta memang gila
kan?? kalaupun ada yang tertawa dengan steatmen yang kuujarkan, biar saja!
Tuhan menciptakan manusia dengan kualitas perasaan yang berbeda. Mungkin saja
dalam diriku tertanam kualitas cinta yang baik, hingga setia menjadi harga mati
yang tak tergantikan. Walau keyataannya
sekarang banyak sekali yang harus menggadaikan cinta dengan kehormatan. Tapi
semua oke-oke saja, karena memang itulah cara terbaik untuk mengikat suatu
jalinan asmara zaman sekarang. Remaja seusiaku banyak yang berideologi seperti
itu. Entah sejak kapan ideologi itu muncul dan berkembang. Namun inilah fakta,
jika di tanya karena apa?? semua pasti mengkambing hitamkan perkembangan zaman.
Memang bila dipikir-pikir semua itu sangat keliru. Ya!! Aku memang tahu itu
salah, tapi apakah ada solusi saat cinta yang begitu membara harus terhenti
karena aturan yang membatasi?? Tentu jiwa melawan. Alasan yang paling logis
adalah karena status sosial, gengsi, loyalitas. Menurutku, itu benar! Dan
pada akhirnya menjadi prinsip yang membawaku dalam dunia kebebasan.
Namun ternyata aku salah, saat tak semua kepompong bisa menjadi
kupu-kupu. Tak semua badai berakhir dengan pelangi. Tak semua manusia
yang berakal
menggunakan akalnya, dan tak semua cinta di balas dengan cinta. Ketika kekasih
kebanggaanku pergi, saat itulah benar-benar aku merasa menyesal bertahan hidup
dengan prinsip yang menyesatkan. Dia benar-benar pergi saat seutuhnya jiwa dan
ragaku memeluk erat harapan. Lalu, aku bisa apa?? saat waktu terus berputar dan
mentari telah terbit menyinari bumi. Apakah aku paksakan lagi tenggelam di ufuk
barat dan memutar waktu? Jangan bertanya tentang penyesalan, tentu saja! Sesalku
bukan pada kehilangan orang yang kusayang, tapi pada harga diri yang tlah tergadaikan.
Atas nama cinta aku rela membagi surga yang sejatinya untuk orang yang tulus
menjadi imam. Namun begitu bodohnya aku, hingga rela membagi surga yang sangat
suci ini dengan hal yang sangat remeh dan murahan. Sebaris rayuan gombal yang
penuh kedustaan.
Tak cukup aku meratapi pedihnya penyesalan, lebih mematikan
lagi saat badai imajinasi datang tiba-tiba menguasai pikiran. Mengambil alih
seluruh kontrol diri dengan ancaman yang benar-benar mematikan, bahwa setiap
detik dalam hidup ini akan berjalan dengan kekhawatiran. Meski problema
sebenarnya hanya tentang tamu, tamu yang seharusnya selalu datang di setiap bulan. Namun sampai saat ini tak juga kunjung
datang.
Inilah puncak dilema, dimana mimpi bercampur asa membela
harapan yang berjudi dengan penyesalan dan ketakutan dalam memenangkan sebuah
misteri. Seketika itu, langit serasa runtuh saat mataku memandang. Di seberang
nampak segerombolan bangau-bangau yang kegirangan mentertawakanku. Lagi-lagi
aku menyalahkan prinsip, namun terlambat! Dulu, semua kebebasan adalah hal yang
menyenangkan. Namun kini, semua kebebasan itu menjadi cambuk hukuman yang
benar-benar menakutkan.
Sangat menakutkan, hingga sejenak melirik bayangan
diri sendiri dalam keremangan mataku mengambang. Air mata yang dulu sangat aku
hargai, kini sudah kehilangan
arti. Sekuat apapun hati menahan agar tak terlihat lemah. Percuma, aku wanita yang dengan mudahnya
akan hancur
bersama senja yang perlahan
menenggelamkan kenangan. Entah apa yang akan terjadi esok, saat ini
aku hanya bisa menanti dan terus menanti. Meski setiap detik yang berputar
terasa sangat menyiksa, menekik, hampir diseluruh jiwa, tetap saja aku tak
mampu melawan kecuali hanya sanggup menanti. Menanti sampai benar-benar jelas
fajar esok kan terbit dari timur atau malah sebaliknya. Selama penantian ini, badai
imajinasi ini akan hidup dan menghantui setiap hela nafas, lorong pikiran, gerak
langkah, bahkan cerita dalam mimpi yang menakutkan. Lirih batinku bersambut
dengan senja yang mulai menua. Awan yang terus memudar mengantarkan malam pada
kesempurnaan. Bangau-bangau pulang ke sarang, bersama mentari yang kembali pada
lelapnya yang menyakitkan. Inilah kepedihanku, cerita yang kurasakan saat badai
imajinasi menjadi teman
sesalku.
Badai Imajinasi.
Di
tulis 17.10.2015
Moh.
Anang Ma’ruf F.
Cerpen ini tercipta karena keprihatinan
penulis terhadap pola prilaku remaja putri zaman sekarang yang dengan begitu
bodohnya menganggap cinta dan kehormatan mempunyai nilai yang sama untuk
diberikan secara cuma-cuma kepada pacar. Apakah kamu, saudaramu, teman-temanmu
wanita pernah berpikir sewaktu-waktu akan mengalami kejadian yang persis dengan
cerita di atas. Sebelum badai imajinasi benar-benar menjadi kawan sesal hari-harimu, mulailah berpikir dari
sekarang!!!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar