Minggu, 24 Juli 2016

Cerpenne Mas Bro (Gemma)



BADAI IMAJINASI

Sore ini langit begitu suram, senja mulai memudar dalam pandangan. Jingga perlahan hilang dalam keremangan. Senandung terdampar dalam kegalutan. Perih begitu setia menemani, serasa mentertawakanku dalam ketidakberdayaan. Muram dan begitu kelam, hingga tak lagi nampak secerca harapan. Mentari dengan teganya berlari, saat aku benar-benar butuh untuk bercerita. Butuh untuk merebahkan sayap-sayapku yang telah patah. Butuh untuk sejenak merintihkan keluh dan kesah. Butuh untuk mengadukan dahaga hidup yang tak pernah surut, meski hariku semakin larut.

 Langkah yang teramat sangat berat untuk kujalani. Begitu runyam untuk kusesali. Sedikitpun tak mampu kubanggakan damainya lambaian angin yang mengayun mengilhami. Hatiku tak berdaya dengan kenyataan semalam. Sebuah badai datang begitu saja tanpa permisi. Petir dengan gagahnya menyambar tanpa perduli. Topan menyusul dengan tanpa ampun menyapu bersih seluruh asa dalam mimpi. Habislah semua tanpa sisa. Taman yang dulu begitu indah penuh dengan bunga yang semerbak harum nan berseri. Juga kumbang-kumbang yang tak pernah berhenti menggoda mengagumi. Kini semua hancur berserakan, hingga tak ada lagi kumbang yang perduli. Semuanya pergi dengan menitipkan hinaan, cacian dan makian.

Awalnya, tak ada yang menyakiti malamku itu. Semua berjalan seperti air yang mengalir menuruni lembah yang rindang. Langit berseri-seri penuh ramai dengan bintang yang berparkir rapi, tanpa saling senggol atau berebut, walau tanpa peluit dan nomor antrian yang semrawut. Angin pun dengan santun menyapa tubuh lunglaiku dalam keremangan. Bulan apalagi, dia selalu tersenyum menawan sepanjang malam. Semua normal, tak ada yang janggal. Termenung aku sendiri, di sudut dermaga dengan secangkir kopi. Sudah dua bulan rasanya aku sendiri  semenjak laki-laki berengsek itu pergi tanpa alasan, aku hanya sendiri semenjak itu. Tak ada teman atau kawan, mungkin hanya lawan yang dulu sangat membenci karena kesombonganku yang begitu membanggakan dan memuja-muja kebahagiaan. Entah sekarang masih lawan atau sudikah memaafkanku dan mengaggapnya kawan, aku tak tahu. Yang pasti, malam itu begitu tenang untuk mengenang romansa yang telah tenggelam. beberapa daftar lagu mellow terbaik pilihan telah siap kuputar demi membawaku bernostalgia dengan masa lalu yang kelam.

Melodi yang syahdu, lirik yang mengalun rindu, membukakan sepenggal memori silam tentang dirinya. Kekasih yang dulu terindah dan terburuk dalam sejarah hidupku. Darinya, aku belajar banyak hal yang menyenangkan, juga belajar banyak hal yang kurang menyenangkan. Meski terkesan sedikit nakal, tapi cintaku padanya melebihi apapun yang kupunya di Dunia ini. Cinta memang gila kan?? kalaupun ada yang tertawa dengan steatmen yang kuujarkan, biar saja! Tuhan menciptakan manusia dengan kualitas perasaan yang berbeda. Mungkin saja dalam diriku tertanam kualitas cinta yang baik, hingga setia menjadi harga mati yang tak tergantikan.  Walau keyataannya sekarang banyak sekali yang harus menggadaikan cinta dengan kehormatan. Tapi semua oke-oke saja, karena memang itulah cara terbaik untuk mengikat suatu jalinan asmara zaman sekarang. Remaja seusiaku banyak yang berideologi seperti itu. Entah sejak kapan ideologi itu muncul dan berkembang. Namun inilah fakta, jika di tanya karena apa?? semua pasti mengkambing hitamkan perkembangan zaman. Memang bila dipikir-pikir semua itu sangat keliru. Ya!! Aku memang tahu itu salah, tapi apakah ada solusi saat cinta yang begitu membara harus terhenti karena aturan yang membatasi?? Tentu jiwa melawan. Alasan yang paling logis adalah karena status sosial, gengsi, loyalitas. Menurutku, itu benar! Dan pada akhirnya  menjadi prinsip yang membawaku dalam dunia kebebasan.
Namun ternyata aku salah, saat tak semua kepompong bisa menjadi kupu-kupu. Tak semua badai berakhir dengan pelangi. Tak semua manusia yang berakal menggunakan akalnya, dan tak semua cinta di balas dengan cinta. Ketika kekasih kebanggaanku pergi, saat itulah benar-benar aku merasa menyesal bertahan hidup dengan prinsip yang menyesatkan. Dia benar-benar pergi saat seutuhnya jiwa dan ragaku memeluk erat harapan. Lalu, aku bisa apa?? saat waktu terus berputar dan mentari telah terbit menyinari bumi. Apakah aku paksakan lagi tenggelam di ufuk barat dan memutar waktu? Jangan bertanya tentang penyesalan, tentu saja! Sesalku bukan pada kehilangan orang yang kusayang, tapi pada harga diri yang tlah tergadaikan. Atas nama cinta aku rela membagi surga yang sejatinya untuk orang yang tulus menjadi imam. Namun begitu bodohnya aku, hingga rela membagi surga yang sangat suci ini dengan hal yang sangat remeh dan murahan. Sebaris rayuan gombal yang penuh kedustaan.

Tak cukup aku meratapi pedihnya penyesalan, lebih mematikan lagi saat badai imajinasi datang tiba-tiba menguasai pikiran. Mengambil alih seluruh kontrol diri dengan ancaman yang benar-benar mematikan, bahwa setiap detik dalam hidup ini akan berjalan dengan kekhawatiran. Meski problema sebenarnya hanya tentang tamu, tamu yang seharusnya selalu datang di setiap bulan. Namun sampai saat ini tak juga kunjung datang.

Inilah puncak dilema, dimana mimpi bercampur asa membela harapan yang berjudi dengan penyesalan dan ketakutan dalam memenangkan sebuah misteri. Seketika itu, langit serasa runtuh saat mataku memandang. Di seberang nampak segerombolan bangau-bangau yang kegirangan mentertawakanku. Lagi-lagi aku menyalahkan prinsip, namun terlambat! Dulu, semua kebebasan adalah hal yang menyenangkan. Namun kini, semua kebebasan itu menjadi cambuk hukuman yang benar-benar menakutkan.

Sangat menakutkan, hingga sejenak melirik bayangan diri sendiri dalam keremangan mataku mengambang. Air mata yang dulu sangat aku hargai, kini sudah kehilangan arti. Sekuat apapun hati menahan agar tak terlihat lemah. Percuma, aku wanita yang dengan mudahnya akan hancur bersama senja yang perlahan menenggelamkan kenangan. Entah apa yang akan terjadi esok, saat ini aku hanya bisa menanti dan terus menanti. Meski setiap detik yang berputar terasa sangat menyiksa, menekik, hampir diseluruh jiwa, tetap saja aku tak mampu melawan kecuali hanya sanggup menanti. Menanti sampai benar-benar jelas fajar esok kan terbit dari timur atau malah sebaliknya. Selama penantian ini, badai imajinasi ini akan hidup dan menghantui setiap hela nafas, lorong pikiran, gerak langkah, bahkan cerita dalam mimpi yang menakutkan. Lirih batinku bersambut dengan senja yang mulai menua. Awan yang terus memudar mengantarkan malam pada kesempurnaan. Bangau-bangau pulang ke sarang, bersama mentari yang kembali pada lelapnya yang menyakitkan. Inilah kepedihanku, cerita yang kurasakan saat badai imajinasi menjadi teman sesalku.

                                               
                                                                                               
Badai Imajinasi.
                                                                                                Di tulis 17.10.2015
                                                                                                Moh. Anang Ma’ruf F.


Cerpen ini tercipta karena keprihatinan penulis terhadap pola prilaku remaja putri zaman sekarang yang dengan begitu bodohnya menganggap cinta dan kehormatan mempunyai nilai yang sama untuk diberikan secara cuma-cuma kepada pacar. Apakah kamu, saudaramu, teman-temanmu wanita pernah berpikir sewaktu-waktu akan mengalami kejadian yang persis dengan cerita di atas. Sebelum badai imajinasi benar-benar menjadi kawan sesal  hari-harimu, mulailah berpikir dari sekarang!!!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar