Happy Birthday Yoori
Mentari
terasa cerah dan hempasan angin telah membangunkanku yang telah tertidur pulas
bersama boneka yang aku peluk sejak tertidur tadi, aroma kopi hangat semakin
menyejukkan perasaanku.
Entah
mimpi dan entah berimajinasi atau apalah Yoori sangat nyaman dengan memejamkan
matanya yang begitu anggun.
“Hey..
Kau tak bangun? Dengan tergesa-gesa Zura pun membangunkan dengan menggendong
tas yang berisi tugas-tugas kuliah.
‘Ah.. Biarkan saja lah, Ia terlihat capek.
“Aku
Pergi.
08:00 Am
“Mengapa
ia tak membangunkanku? Mataku masih agak menyempit.
Kulihat
jam, menunjukkan keterlambatan.
“Haish..
Berapa lama aku tertidur. Ah aku akan terlambat. Ah.. Bagaimana ini.” Kebingungan.
Setelah
melakukan persiapan untuk berangkat ke kampus. Yoori pun bergegas pergi
dan menunggu bus yang akan pergi menuju
daerah Yokohama. Setelah mendapatkan bus dan menumpanginya. Ia dengan santainya
memutar lagu dari One Ok Rock yang berjudul “Disicion”
sepanjang perjalanan ia memutar lagu itu entah bagaimana pikirannya hari itu.
Dreeett…
dreeet…
Sebuah
pesan email masuk.
“Kau ada dimana?”
Terlihat di notifikasi bahwa itu dari Zura.
“Sebentar lagi aku akan sampai.”
“Ok. Aku harap kita dapat bertemu di aula,
ada sesuatu yang ingin aku beritahu kepadamu.”
Sesampainya
di kampus, Yoori bergegas menuju aula. Entah apa yang membuatnya langsung
menuju tempat itu, namun disana ada temannya yang sepertinya ingin Yoori
menghampirinya.
Lagu
yang sedari tadi terdengar samar-samar ia hanya membiarkannya. Entah ia tidak
sadar untuk tidak mematikannya atau memang dibiarkannya. Saat berlari menuju aula,
di sana sepi, Zura yang sendiri duduk termenung dengan membawa airphonenya itu menikmati suasana yang
ada di sana.
Dari
kejauhan Yoori berteriak memanggil Zura, dan Zura hanya tersenyum dan melambai
untuk Yoori segera menghampirinya.
“Haissh..
Kau pagi-pagi sudah membuatku lelah.” Membungkuk kelelahan.
“Hahaha…
Siapa suruh kau berlari.”
“Hey
ya!!.. Kau tau apa yang ingin aku katakan padamu Yoori ?”
“Mana
aku tau!” Nada kesal.
“Hehehe..
Rupanya kau masih kesal denganku?”
“Ah.. Cepatlah
kau ingin memberitahuku tentang apa?” Tidak sabar dan kesal.
Di situ
Zura hanya tersenyum dan tersenyum lama, entah apa yang membuatnya aneh seperti
itu. Di sana, rasa kesal Yoori hampir memuncak. Dan tiba-tiba Yoori kaget apa
yang dilakukan Zura yang berteriak-teriak dengan wajah antara kegirangan dan
wajah ketakutan. Yoori melihat dengan agak kebingungan dan gelisah. Yoori
mengira apakah Zura ini kesurupan atau hanya acting untuk pensi drama minggu depan itu.
“Yaa..
Yoori, yaaaaaaaa!!! Lihat itu lihat. Disana. Lihat disana. aaaahaaaaahhaaaaa….”
Teriaknya kurasa menakutkan buatku.
Yoori
masih kebingungan dan hampir tidak percaya mengapa Zura bertingkah aneh seperti
itu. Yoori hanya menutupi wajahnya dengan selembar kertas putih kosong yang ia
temukan dibawahnya. Namun tiba-tiba Zura menarik tangannya dan “Surprise” di sana Zura tertawa dan
memberikan kejutan untuk Yoori yang hari ini berulang tahun.
“Hei..
Coba lihat di sana…” Menunjuk arah jam 9.
Yoori
dengan terpaksa melihat dan tanpa disadari di sana ada sebuah benda persegi
panjang yang terbang dengan beberapa balon yang berwarna-warni bertuliskan “Tanjoubi
Omedetou Yoori-san, We Love You, Wish You All The Best Yoori-san”. Yoori
terharu melihat semua itu dan yang Yoori tidak sadari beberapa teman kelasnya
ikut merayakan hari kebahagiaan Yoori. Entah haru bagaimana Yoori mengungkapkan
hari bahagianya itu, ia sangat berterimakasih karena sudah begitu membuat Yoori
bahagia. Padahal dalam hatinya ia tidak sama sekali ingat bahwa hari ini adalah
ulang tahunnya ke 19 tahun.
Ia
menangis merangkul Zura yang berada di samping Yoori sedari tadi. Ia sangat
berterimakasih pada Zura, karena semua ini mungkin adalah pekerjaannya Zura
untuk memberikan moment yang paling
bahagia.
Beberapa
teman menghampiri Yoori, dengan bersorak-sorak, berteriak-teriak “Happy Birthday Yoori-san” dari kejauhan
masih terdengar dan terlihat. Yoori yang melihat itu semua hanya
mengangguk-angguk dan tersenyum tanpa mengucapkan satu kata apapun, karena ia
masih merasa belum bisa berkata apa-apa selain berlinang airmata yang hangat
dengan senyum manis di bibir merahnya.
“Ya.. Kau
yang melakukan semua ini?” Dengan mata yang sayu.
“Hahaha..
Kau bahagia, Yoori-san?” Tersenyum menyeringai.
“Huumm…
Ini lebih dari bahagia Zura. Hiks..hiks..hikks..” Meneteskan airmata kembali.
“Hey… Kau
menangis lagi.” Mengusap airmata Yoori.
“Arigato Gozaimasu Zura-san” Memeluk Zura
kembali.
Beberapa
teman yang sudah berada di dalam aula membawa kue untuk Yoori. dan mereka
berteriak untuk Yoori meniupnya. “Tiup-tiup,tiup-tiup”
Yoori kembali meneteskan airmatanya kembali dan semakin menjadi-jadi. Di tengah
Yoori yang begitu merengek menangis hingga tidak bisa dihentikan, di situlah
datang seorang yang mungkin Yoori tunggu-tunggu. Ia perlahan merangkul Yoori
dengan hangat “Yang dirasakan Yoori saat
itu” Hiks..Hiks…Hikss…
“Sudah
kau jangan menangis lagi. Ada aku untukmu Yoori-san.”
Dengan
mendengarkan perkataan itu Yoori tengah bangun dari tangisnya dan melihat
seorang laki-laki yang bersuara lembut itu. Ia langsung memeluk kembali dan
berterimakasih atas itu semua.
“Aligato Gozaimasu Nam Yongjae.” Hiks..
Hiks.. Hiks…
Semua
yang berada di situ hanya berteriak bahagia dan senang melihat mereka
berpelukan.
“Ow… Woow… suit,,suit.. Ah aku iri dengan
mereka berdua.”
Yongjae
yang berada di situ juga melihat mereka yang berkata seperti itu hanya
tersenyum dan semakin erat memeluk Yoori.
“Sudah
kau jangan menangis lagi Yoori-san, Kau harus meniup lilinnya..” Yoori bangun
dari pelukan Yongjae.
“Hey.. Yoori-san. Kau tidak ingin meniup
lilinnya. Ah.. padahal aku ingin memakannya..” Seseorang merengek dengan
memegangi perutnya.
“Ya.. Dasar kau!”
“Ah.. apa-apa-an sih kau ini. Dasar memalukan.”
“Iyaa.. Kau sangat memalukan.” Mentempeleng seseorang yang tadi merengek.
Yoori yang melihat dan mendengar itu
semua hanya tersenyum dan merasa ia semangat kembali dan segera meniupkan lilin
yang sudah dibawakan oleh temannya itu.
Sesudah melakukan semua Yoori
mendapatkan kado beberapa dari seorang teman sekelasnya itu dan beberapa dari
teman yang berbeda jurusan.
***
Kafe
Todai
Perasaan hangat telah bercampur aduk
dengan kesedihan dan bahagia yang dalam. Begitu dengan diriku yang sayu menatap
semuanya. Apakah ini berlebihan. Baru kali ini aku merasakan bahagia yang
hangat dalam hidupku. Yongjae
telah membuatku kembali bersemangat. Genggaman tanganya waktu itu sangat hangat
dan erat tak terpisahkan. Sahabat sekaligus saudaraku Zura telah membuat
hidupku semakin berwarna dan melengkapi. Tuhan memang baik. Kini ku merasakan
bahwa Tuhanlah yang selalu ada untukku.
“Kau tidak makan-makanan kesukaanmu ini.
Kenapa jadi senyum-senyum sendiri seperti itu.” Aku masih tak percaya Yongjae-ku sekeren ini.
“Hei.. Yoori kau benar tidak ingin makan
Ramenmu ini!” Kembali ia merasa kesal padaku. Namun ini terlihat sangat lucu.
“Iya-iya… Aku akan memakannya crewet!”
Balasku dengan ledekan yang seperti umumnya.
“Hah.. Kau berani sekali denganku
Yooriiiii…..” Balasnya dengan mengacak-acak rambutku.
“Dasar tante-tante crewet kau itu Yongjae! Weeek…” Kembali ku
menggoda lelaki keras kepala itu.
“Dasar kau juga wanita yang tidak keren.
Tanggal mengulangmu, hari bahagiamu. Tapi kau malah memesan Ramen. Dasar kau…..Haish..Auhh..
Benar-benar sangat disayangkan sekali kau ini Yoori..” Kembali mengacak-acak
rambutku. Dan ini sangat fatal sekali.
“Heii.. Yongjae hentikan! Jangan seperti ini.”
“Oh. Ya sudah jika kau malu makan dengan
wanita sepertiku.” Hampir beranjak pergi. Tapi tanganku telah tergenggam oleh Yongjae.
Aku hanya meringis tanpa ia ketahui.
Dalam hatiku aku mentertawakan hal yang tidak asing lagi seperti ini di
hubungan kami. Aku kembali duduk dan kembali memakan Ramenku.
Setelah semua usai. Aku dan Yongjae ingin pergi ke sebuah
tempat, dimana tempat yang ingin kami kunjungi itu memberi semangat untuk kami
berdua.
Setelah berputar menyusuri ruang dan
waktu, jarak dan tempat, dan ruang imajinasi dan dimensi. Akhirnya kami memilih
ke sebuah tempat yang hangat dan memberi gairah untuk kami berdua, yaitu SPA.
Lama tidak berkunjung di tempat seperti ini selama musim semi.
Beberapa jam kita memulainya. Saat
tengah berada di dalam sebuah ruangan yang menurutku sangat dingin itu, aku
merasa menggigil dan ingin sekali keluar. Tapi bagaimana Yongjae telah berada dalam
pangkuanku dan ia memejamkan matanya untuk beberapa detik yang lalu.
“Huh.. Apakah kau tak kedinginan
sepertiku Yongjae.” Aku
berbicara pada kedua matanya yang telah terpejam dan merasa sangat dihianati,
karena ia tak membalas pertanyaan dariku.
Aku sedikit menggigil kembali. Aku
menunggu berapa lama lagi Yongjae
akan mengakhiri piknik bulannya dengan wajah yang kalem seperti itu.
Aku baru menyadari. Saat ia terpejam ia
tidak mempunyai wajah dan sifat seburuk saat ia berbicara dan bertingkah di
depanku. Aku memandangnya perlahan. Aku amati hingga aku tak sadarkan diri
bahwa aku sudah tepat di depan bibirnya yang merah tersebut.
Dalam hatiku, aku merasa berdetak jantung
dan napasku semakin keras. Aku takut Yongjae mengetahuinya dan merasakannya. Bahwa aku sudah tepat di
hadapannya dan bertingkah aneh.
Badanku, kusegerakan untuk kembali ke
posisi semula. Dan belum sampai pada posisi terbaik. Ia berbicara dengan satu kata
saja.
“Tunggu!” Dan masih memejamkan matanya.
Aku kebingungan dan aku merasa
punggungku pegal, karena kepala yang masih agak kesamping dan belum kembali ke
posisi semula berakhir dengan encok.
‘Dasar
kau membuatku merasa aneh seperti ini.’ Dalam hati sangat kesal.
“Ee.. e.. Ada apa ? Bukankah kau
tertidur. Mengapa bisa bicara!” Mulai penasaran.
“Kembalilah ke posisi semula.” Masih
dengan mata terpejam.
“Eee… ee… Un..untuk aa..apa..!”
Kebingungan membuatku selalu gugup dan gagap.
“Mengapa kau gugup sekali seperti itu.
Cepat kau kembali ke posisi dimana kau menghembuskan napasmu ke padaku Yoori…”
Tanpa aku berpikir panjang. Aku
menurutinya dan tiba-tiba ia membuka matanya. Detak jantungku terasa keras dan
berdegub kencang. Seperti genderang mau perang. Seluruh badanku bergetar tanpa
bisa aku gerakkan.
“Bagaimana ini…” Kembali aku merasa
gugup dan kebingungan.
“Kenapa ?” Ia menatapku dalam-dalam.
Aku hanya terdiam dan melotot ke arah
kanan kiri. Benar-benar bingung dan aku harus mencari alasan. Tapi ia masih
menatapku seakan ingin menciumku dan aku semakin takut.
Aku merasa punggungku juga pegal dan
ingin aku akhiri saja acara mandang-memandang ini.
“Yongjae! Pung… Pung.. Pung..”
‘Ah..
Mengapa harus gugup yang memalukan seperti ini.’ Benar-benar bodoh saat aku
melihat dia sedekat ini.
“Kau gugup! Kau takut aku akan
menciummu?” Pernyataannya membuatku berdiri kaku.
Aku hanya terdiam.
“Hahaha….” Suaranya meledak dan ia
segera beranjak berdiri.
“Dasar bodoh…Hahaha…” Tertawanya semakin
mengguncang telingaku.
“Ke.. ke.. kenapa kau tertawa
membingungkan seperti itu.”
Aku tak memberanikan diri untuk
melihatnya. Tetap menunduk melihat kakiku yang sedang bergetar sedari tadi.
“Kau lucu Yoori. Kau benar-benar lucu..
Hahahaha…” Kembali ia bersemangat meledekku.
“Apa yang lucu dariku. Kau .. kau… kau
seakan membuatku selalu dilema….dan….”
Tiba-tiba
bibir hangat mendarat ke bibirku. ‘DEG-DEG-DEG-DEG-DEG-DEG’
Mataku seakan melotot tak terkontrol.
Tapi saat ia menggigit bibir bawahku, aku merasakan kehangat dan aku spontan
memejamkan mataku, untukku menikmati sensasi itu. Lembut dan aku merasakan
hangat. Dingin yang melanda seluruh tubuhku. Pada akhirnya aku merasakan
selimut tipis, namun menghangatkanku.
Setelah usai. Aku merasa canggung untuk
melihatnya. Namun ia tidak. Saat aku masih tertunduk malu. Ia mulai memegangi
daguku. Ia memerintahkanku untuk aku melihat matanya yang memberikan ketulusan
dan rasa cintanya begitu besar padaku.
Ia tersenyum dan aku merasa aku telah
hanyut dalam pelukan yang erat.
“Maafkan aku Yoori. Aku mencintaimu.”
Pelukan erat telah membuatku luluh dengan kata seperti itu.
Aku masih terdiam dan membalas pelukan
darinya, yang mungkin lebih erat lagi.
Dalam hatiku juga membalas bahwa aku
juga mencintai. Namun masih ada yang aku pikirkan.
Aku mengingat Soenbae Toru. Entah apa
yang membuatku mengingat hal yang mungkin tidak memikirkanku.
Kembali aku larut dalam pelukan Nam Yongjae. Aku merasakan bahwa
ini beda.
***
Apartemen
Aku mengira bahwa hari ini adalah hari
yang membahagiakan. Beberapa teman memberikan lebih dari cukup. Tapi mengapa
aku masih memikirkan Toru sonbae. Bukankah ia ada Tour di Mexico.
“Heemm… Apakah live??” Bertanya pada diri sendiri.
Tiba-tiba
Zura mengagetkanku.
“Ya! Apa yang sedang kau pikirkan?”
“Ah.. Kau jangan-jangan baru saja
berciuman ya dengan Yongjae?”
“Hahaha…” Candanya.
“Haissh.. Kau apa-apa sih. Ya… Tidak mungkinlah aku melakukan
itu. Dasar tukang mesum.” Berbohong tanpa ragu.
“Ah.. Kau yang benar saja Yoori. Sudah
umumnya orang jepang suka berciuman. Jadi kau bukan orang Jepang, jika belum
berciuman. Hahaha….” Tambahnya.
“Ah.. Kau benar-benar, ya. Tukang
mesum.”
“Hemm.. Benar aku melakukannya. Tapi
tidak dengan baik. Aku sedikit tegang saat melakukannya.” Akhirnya mengaku juga
walau selemah itu.
“Hah! Dasar tukang polos. Wanita macam apa
kau ini. Begitu saja kau tidak bisa melakukannya.” Heboh sendiri.
“Mengapa kau jadi sensitive seperti ini! Memangnya kau sudah pernah melakukannya
dengan baik?” Tanyaku dengan penasaran.
“Hahaha…. Belum pernah melakukannya sama
sekali aku Yoori.” Sangat percaya diri dengan wajah yang agak blo’on.
“Hah! Dasar jablay. Wkwkwk…:D” Melarikan diri
dengan menjulurkan lidah.
“Dasar kau… “ Melemparkan bantal dan
mulai cemberut.
‘Kenapa
sih lelaki tak ada yang menyukaiku. Aku sangat menginginkan Toru dan Taka!
Haissh… Mimpi kali ya dicintai oleh kedua orang keren seperti mereka. Hemmm…..
Yoori sih enak, dulu Toru seniornya. Tapi mengapa ia semacam tak mengenali Toru
sonbaenya. Huh… Dasar si tukang molor kurang populer. Haissh….’ Gerutunya sampai kemana-mana.
Saat
Yoori bersandar di bawah pohon yang rindang dekat apartementnya. Yoori berharap hari ini hujan. Karena Yoori senang
sekali dengan hujan yang turun dalam hari bahagianya. Selalu menginginkan itu.
Dan itu lebih dari cukup.
Dengan
membawa ponselnya. Berharap Toru sonbaenya akan segera mengemail dirinya. Ia sangat berharap juga bahwa di hari bahagianya, ia
bisa bertemu dengan Toru dan Toru mengajaknya makan malam.
Musik
bagi Yoori adalah obat terhebat lelah. Dan baiknya lagi, dia mendengarkan lagu
One Ok Rock yang berjudul “Wherever You
Are”. Lagu ini ditujukan kepada Toru soenbaenya. Berharap semoga Toru
merasakan dan segera mengemail dirinya.
Saat melihat beberapa sosmed dan ingin sekali
menghubungi Toru dulu, ia merasa takut mengganggu Toru saat show. Apalagi dia sekarang ada
perjalanan Tour ke Mexico.
“Hah.. Bagaimana jika
ia melihat gadis-gadis cantik di sana.”
“Aku sangat frustasi
memikirkan hal itu.” Merasa kesal.
Instagram. Ia
tak mengupload apapun. masih
bersyukur waktu itu. Tapi kenapa saat aku ingin mengirimkan email duluan, aku
merasa takut sekali. Ketakutanku selalu tertuju pada crew-crew yang selalu merazia ponsel para member. Dan aku tak ingin
Toru soenbae ketahuan.
“Huh..” Menghela napas
panjang.
“Berharap tak ada
apa-apa.”
Dreeett…Dreeeet…Dreeeet…
Segera membuka tanpa
membaca nama pengirim karena berharap itu dari Toru sonbae. Tapi…………………………
*Kau tak ingin melihatku di Televisi?*
*Apa-apaan kau ini. Aku kira kau Toru sonbae. Ternyata kau!*
*Hei.. Mengapa kau berbicara seperti itu kepadaku. Aku ini
teman sekamarmu yang baik Yoori!* Zurasnastasia@yahoo.com
*Hah dasar kau Zura si
tukang mesuuuuum…….*
*Hahaha….*
Yoori hanya membacanya.
Tanpa membalas.
Beberapa detik
kemudian……………
Dreeeett… Dreeeet…
Dreeeet
*Yoori.. Aku baru sampai di Mexico. Maaf aku baru bisa
memberitahumu. Jadi mungkin kita belum bisa bertemu dulu. Tak apa kan?* Toru_10969@yahoo.com
Saat Yoori ingin membalas email dari Toru. Torupun
kembali mengirimkan pesan kembali.
*Tanjoubi Umedetou (selamat mengulang tanggal) Yoori-san. Aku menyayangimu.*
Yoori yang membaca perkataan Toru seperti itu, entah
perasaannya seperti apa. Campur aduk dan bagaimanapun tersa melayang saat itu.
*Ne.. Arigato gozaimasu Toru sonbae. Kau hati-hati di sana. Jaga hatimu
untukku. #emoticsmile.*
Toru tersenyum pada
saat itu, melihat balasan pesan dari Yoori seperti yang ada dalam pikirannya.
Toru berharap ini semakin dekat lagi. Karena hanya Yoorilah yang selalu membuat
ia merasa gila.
*Ok. Tunggu aku.*
*Dan sebentar lagi aku akan segera perfome. Jadi kau
harus pantengin televisi ya.#emotifrofle.*
Yoori tengah tertawa saat membaca balasan Toru yang
seperti komedian itu.
*Ok Tuan Toru. Aku akan padang wajahmu lebih lama. #emoticsmile.*
Kembali Toru tetap
tersenyum saat membaca Yoori yang mungkin perasaannya sudah mulai padaku. Tak
peduli adanya Yongjae di
antara Toru dan Yoori.
*Jangan!
Saat kau bertemu aku saja. Pandangi wajahku lebih lama. Karena hanya kau yang
bisa membuatku bergantung Yoori. Aku akan menemui segera.*
Yoori hanya tersenyum manis dan tidak membalasnya. Kurasa itu
sudah cukup dan menandakan ia akan segera memulai aksinya manggung.
Yooripun
kembali masuk ke dalam apartemen dan menyalakan televisi. Zura yang tau di
dalam kamar segera beranjak dan menemui Yoori di ruang santai. Mereka berdua
saling tertawa dan Yoori memberitahu bahwa setasiun televisi telah menyiarkan
langsung One Ok Rock untuk tournya di Mexico. Zura sebelum itu sudah mengetahui
dan Yoori merasa bahwa dirinya yang lebih telat.
“Mana Taka dan Toru-ku.” Bicaranya agak
aneh.
“Kau Taka saja.”
“Hei.. Dua-duanya dong kalau bisa. Hahahha….”
“Terserah lu dah..”
“Lu
mah enak. Dulu Toru adalah seniormu. Tapi kenapa kau tak mengenalinya.”
“Bagaimana aku bisa tahu. Bahwa ia akan
sesukses ini.”
“Hah… Kau ini memang kurang update.”
Meraukkan makanan dan memasukkannya ke
dalam bibir yang selalu nngomel
seperti ajhuma-ajhuma gatel.
“Kau apa-apaan Yoori..” Melotot
melihatku.
“Biar kau tak bicara terus Nak.”
“Baiklah kita melihat para pangeran kita
yang sebentar lagi akan live.”
Zura
akhirnya terdiam. Dan segeralah mereka standby
di depan televisi untuk melihat bias mereka masing-masing. Dengan akrab dan
pencerahan yang hangat. Mereka berdua menikmati sekali hari yang cerah ini.
Dengan melihat band One Ok Rock.
****
Terimakasih yang masih setia meluangkan
waktunya untuk membaca isi ceritaku yang abal-abal.
Vote dan Comment kalian memang sangat
bereaksi untuk saya.
Jadi, jangan hanya membaca atau
melihat-lihat saja. Penulis mohon pencet kedua tombol tersebut.
Arigato Gozaimasu…. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar