Minggu, 11 Juni 2017

Part 3 HE MAKES ME CRAZIER "TORU ONE OK ROCK"



Happy Birthday Yoori

Mentari terasa cerah dan hempasan angin telah membangunkanku yang telah tertidur pulas bersama boneka yang aku peluk sejak tertidur tadi, aroma kopi hangat semakin menyejukkan perasaanku.

Entah mimpi dan entah berimajinasi atau apalah Yoori sangat nyaman dengan memejamkan matanya yang begitu anggun.

“Hey.. Kau tak bangun? Dengan tergesa-gesa Zura pun membangunkan dengan menggendong tas yang berisi tugas-tugas kuliah.
Ah.. Biarkan saja lah, Ia  terlihat capek.
“Aku Pergi.

08:00 Am

“Mengapa ia tak membangunkanku? Mataku masih agak menyempit.

Kulihat jam, menunjukkan keterlambatan.

“Haish.. Berapa lama aku tertidur. Ah aku akan terlambat. Ah.. Bagaimana ini.” Kebingungan.

Setelah melakukan persiapan untuk berangkat ke kampus. Yoori pun bergegas pergi dan  menunggu bus yang akan pergi menuju daerah Yokohama. Setelah mendapatkan bus dan menumpanginya. Ia dengan santainya memutar lagu dari One Ok Rock yang berjudul “Disicion” sepanjang perjalanan ia memutar lagu itu entah bagaimana pikirannya hari itu.

Dreeett… dreeet…
Sebuah pesan email masuk.

“Kau ada dimana?” Terlihat di notifikasi bahwa itu dari Zura.

“Sebentar lagi aku akan sampai.”

“Ok. Aku harap kita dapat bertemu di aula, ada sesuatu yang ingin aku beritahu kepadamu.”

Sesampainya di kampus, Yoori bergegas menuju aula. Entah apa yang membuatnya langsung menuju tempat itu, namun disana ada temannya yang sepertinya ingin Yoori menghampirinya.

Lagu yang sedari tadi terdengar samar-samar ia hanya membiarkannya. Entah ia tidak sadar untuk tidak mematikannya atau memang dibiarkannya. Saat berlari menuju aula, di sana sepi, Zura yang sendiri duduk termenung dengan membawa airphonenya itu menikmati suasana yang ada di sana.

Dari kejauhan Yoori berteriak memanggil Zura, dan Zura hanya tersenyum dan melambai untuk Yoori segera menghampirinya.

“Haissh.. Kau pagi-pagi sudah membuatku lelah.” Membungkuk kelelahan.

“Hahaha… Siapa suruh kau berlari.”
“Hey ya!!.. Kau tau apa yang ingin aku katakan padamu Yoori ?”

“Mana aku tau!” Nada kesal.

“Hehehe.. Rupanya kau masih kesal denganku?”

“Ah.. Cepatlah kau ingin memberitahuku tentang apa?” Tidak sabar dan kesal.

Di situ Zura hanya tersenyum dan tersenyum lama, entah apa yang membuatnya aneh seperti itu. Di sana, rasa kesal Yoori hampir memuncak. Dan tiba-tiba Yoori kaget apa yang dilakukan Zura yang berteriak-teriak dengan wajah antara kegirangan dan wajah ketakutan. Yoori melihat dengan agak kebingungan dan gelisah. Yoori mengira apakah Zura ini kesurupan atau hanya acting untuk pensi drama minggu depan itu.

“Yaa.. Yoori, yaaaaaaaa!!! Lihat itu lihat. Disana. Lihat disana. aaaahaaaaahhaaaaa….” Teriaknya kurasa menakutkan buatku.

Yoori masih kebingungan dan hampir tidak percaya mengapa Zura bertingkah aneh seperti itu. Yoori hanya menutupi wajahnya dengan selembar kertas putih kosong yang ia temukan dibawahnya. Namun tiba-tiba Zura menarik tangannya dan “Surprise” di sana Zura tertawa dan memberikan kejutan untuk Yoori yang hari ini berulang tahun.

“Hei.. Coba lihat di sana…” Menunjuk arah jam 9.

Yoori dengan terpaksa melihat dan tanpa disadari di sana ada sebuah benda persegi panjang yang terbang dengan beberapa balon yang berwarna-warni bertuliskan  Tanjoubi Omedetou Yoori-san, We Love You, Wish You All The Best Yoori-san”. Yoori terharu melihat semua itu dan yang Yoori tidak sadari beberapa teman kelasnya ikut merayakan hari kebahagiaan Yoori. Entah haru bagaimana Yoori mengungkapkan hari bahagianya itu, ia sangat berterimakasih karena sudah begitu membuat Yoori bahagia. Padahal dalam hatinya ia tidak sama sekali ingat bahwa hari ini adalah ulang tahunnya ke 19 tahun.

Ia menangis merangkul Zura yang berada di samping Yoori sedari tadi. Ia sangat berterimakasih pada Zura, karena semua ini mungkin adalah pekerjaannya Zura untuk memberikan moment yang paling bahagia.

Beberapa teman menghampiri Yoori, dengan bersorak-sorak, berteriak-teriak “Happy Birthday Yoori-san” dari kejauhan masih terdengar dan terlihat. Yoori yang melihat itu semua hanya mengangguk-angguk dan tersenyum tanpa mengucapkan satu kata apapun, karena ia masih merasa belum bisa berkata apa-apa selain berlinang airmata yang hangat dengan senyum manis di bibir merahnya.

“Ya.. Kau yang melakukan semua ini?” Dengan mata yang sayu.

“Hahaha.. Kau bahagia, Yoori-san?” Tersenyum menyeringai.

“Huumm… Ini lebih dari bahagia Zura. Hiks..hiks..hikks..” Meneteskan airmata kembali.

“Hey… Kau menangis lagi.” Mengusap airmata Yoori.

Arigato Gozaimasu Zura-san” Memeluk Zura kembali.

Beberapa teman yang sudah berada di dalam aula membawa kue untuk Yoori. dan mereka berteriak untuk Yoori meniupnya. “Tiup-tiup,tiup-tiup” Yoori kembali meneteskan airmatanya kembali dan semakin menjadi-jadi. Di tengah Yoori yang begitu merengek menangis hingga tidak bisa dihentikan, di situlah datang seorang yang mungkin Yoori tunggu-tunggu. Ia perlahan merangkul Yoori dengan hangat “Yang dirasakan Yoori saat itu” Hiks..Hiks…Hikss…

“Sudah kau jangan menangis lagi. Ada aku untukmu Yoori-san.”

Dengan mendengarkan perkataan itu Yoori tengah bangun dari tangisnya dan melihat seorang laki-laki yang bersuara lembut itu. Ia langsung memeluk kembali dan berterimakasih atas itu semua.

Aligato Gozaimasu Nam Yongjae.” Hiks.. Hiks.. Hiks…

Semua yang berada di situ hanya berteriak bahagia dan senang melihat mereka berpelukan.

“Ow… Woow… suit,,suit.. Ah aku iri dengan mereka berdua.”

Yongjae yang berada di situ juga melihat mereka yang berkata seperti itu hanya tersenyum dan semakin erat memeluk Yoori.

“Sudah kau jangan menangis lagi Yoori-san, Kau harus meniup lilinnya..” Yoori bangun dari pelukan Yongjae.

“Hey.. Yoori-san. Kau tidak ingin meniup lilinnya. Ah.. padahal aku ingin memakannya..” Seseorang merengek dengan memegangi perutnya.

“Ya.. Dasar kau!”
“Ah.. apa-apa-an sih kau ini. Dasar memalukan.”
“Iyaa.. Kau sangat memalukan.”  Mentempeleng seseorang yang tadi merengek.

Yoori yang melihat dan mendengar itu semua hanya tersenyum dan merasa ia semangat kembali dan segera meniupkan lilin yang sudah dibawakan oleh temannya itu.

Sesudah melakukan semua Yoori mendapatkan kado beberapa dari seorang teman sekelasnya itu dan beberapa dari teman yang berbeda jurusan.

***

Kafe Todai
           
Perasaan hangat telah bercampur aduk dengan kesedihan dan bahagia yang dalam. Begitu dengan diriku yang sayu menatap semuanya. Apakah ini berlebihan. Baru kali ini aku merasakan bahagia yang hangat dalam hidupku. Yongjae telah membuatku kembali bersemangat. Genggaman tanganya waktu itu sangat hangat dan erat tak terpisahkan. Sahabat sekaligus saudaraku Zura telah membuat hidupku semakin berwarna dan melengkapi. Tuhan memang baik. Kini ku merasakan bahwa Tuhanlah yang selalu ada untukku.

“Kau tidak makan-makanan kesukaanmu ini. Kenapa jadi senyum-senyum sendiri seperti itu.” Aku masih tak percaya Yongjae-ku sekeren ini.

“Hei.. Yoori kau benar tidak ingin makan Ramenmu ini!” Kembali ia merasa kesal padaku. Namun ini terlihat sangat lucu.

“Iya-iya… Aku akan memakannya crewet!” Balasku dengan ledekan yang seperti umumnya.

“Hah.. Kau berani sekali denganku Yooriiiii…..” Balasnya dengan mengacak-acak rambutku.

“Dasar tante-tante crewet kau itu Yongjae! Weeek…” Kembali ku menggoda lelaki keras kepala itu.

“Dasar kau juga wanita yang tidak keren. Tanggal mengulangmu, hari bahagiamu. Tapi kau malah memesan Ramen. Dasar kau…..Haish..Auhh.. Benar-benar sangat disayangkan sekali kau ini Yoori..” Kembali mengacak-acak rambutku. Dan ini sangat fatal sekali.

“Heii.. Yongjae hentikan! Jangan seperti ini.”
“Oh. Ya sudah jika kau malu makan dengan wanita sepertiku.” Hampir beranjak pergi. Tapi tanganku telah tergenggam oleh Yongjae.

Aku hanya meringis tanpa ia ketahui. Dalam hatiku aku mentertawakan hal yang tidak asing lagi seperti ini di hubungan kami. Aku kembali duduk dan kembali memakan Ramenku.

Setelah semua usai. Aku dan Yongjae ingin pergi ke sebuah tempat, dimana tempat yang ingin kami kunjungi itu memberi semangat untuk kami berdua.

Setelah berputar menyusuri ruang dan waktu, jarak dan tempat, dan ruang imajinasi dan dimensi. Akhirnya kami memilih ke sebuah tempat yang hangat dan memberi gairah untuk kami berdua, yaitu SPA. Lama tidak berkunjung di tempat seperti ini selama musim semi.

Beberapa jam kita memulainya. Saat tengah berada di dalam sebuah ruangan yang menurutku sangat dingin itu, aku merasa menggigil dan ingin sekali keluar. Tapi bagaimana Yongjae telah berada dalam pangkuanku dan ia memejamkan matanya untuk beberapa detik yang lalu.

“Huh.. Apakah kau tak kedinginan sepertiku Yongjae.” Aku berbicara pada kedua matanya yang telah terpejam dan merasa sangat dihianati, karena ia tak membalas pertanyaan dariku.

Aku sedikit menggigil kembali. Aku menunggu berapa lama lagi Yongjae akan mengakhiri piknik bulannya dengan wajah yang kalem seperti itu.

Aku baru menyadari. Saat ia terpejam ia tidak mempunyai wajah dan sifat seburuk saat ia berbicara dan bertingkah di depanku. Aku memandangnya perlahan. Aku amati hingga aku tak sadarkan diri bahwa aku sudah tepat di depan bibirnya yang merah tersebut.

Dalam hatiku, aku merasa berdetak jantung dan napasku semakin keras. Aku takut Yongjae mengetahuinya dan merasakannya. Bahwa aku sudah tepat di hadapannya dan bertingkah aneh.

Badanku, kusegerakan untuk kembali ke posisi semula. Dan belum sampai pada posisi terbaik. Ia berbicara dengan satu kata saja.

“Tunggu!” Dan masih memejamkan matanya.

Aku kebingungan dan aku merasa punggungku pegal, karena kepala yang masih agak kesamping dan belum kembali ke posisi semula berakhir dengan encok.

Dasar kau membuatku merasa aneh seperti ini.’  Dalam hati sangat kesal.

“Ee.. e.. Ada apa ? Bukankah kau tertidur. Mengapa bisa bicara!” Mulai penasaran.

“Kembalilah ke posisi semula.” Masih dengan mata terpejam.

“Eee… ee… Un..untuk aa..apa..!” Kebingungan membuatku selalu gugup dan gagap.

“Mengapa kau gugup sekali seperti itu. Cepat kau kembali ke posisi dimana kau menghembuskan napasmu ke padaku Yoori…”

Tanpa aku berpikir panjang. Aku menurutinya dan tiba-tiba ia membuka matanya. Detak jantungku terasa keras dan berdegub kencang. Seperti genderang mau perang. Seluruh badanku bergetar tanpa bisa aku gerakkan.

“Bagaimana ini…” Kembali aku merasa gugup dan kebingungan.

“Kenapa ?” Ia menatapku dalam-dalam.

Aku hanya terdiam dan melotot ke arah kanan kiri. Benar-benar bingung dan aku harus mencari alasan. Tapi ia masih menatapku seakan ingin menciumku dan aku semakin takut.

Aku merasa punggungku juga pegal dan ingin aku akhiri saja acara mandang-memandang ini.

Yongjae! Pung… Pung.. Pung..”
Ah.. Mengapa harus gugup yang memalukan seperti ini.’ Benar-benar bodoh saat aku melihat dia sedekat ini.

“Kau gugup! Kau takut aku akan menciummu?” Pernyataannya membuatku berdiri kaku.

Aku hanya terdiam.

“Hahaha….” Suaranya meledak dan ia segera beranjak berdiri.
“Dasar bodoh…Hahaha…” Tertawanya semakin mengguncang telingaku.

“Ke.. ke.. kenapa kau tertawa membingungkan seperti itu.”

Aku tak memberanikan diri untuk melihatnya. Tetap menunduk melihat kakiku yang sedang bergetar sedari tadi.

“Kau lucu Yoori. Kau benar-benar lucu.. Hahahaha…” Kembali ia bersemangat meledekku.

“Apa yang lucu dariku. Kau .. kau… kau seakan membuatku selalu dilema….dan….”

Tiba-tiba bibir hangat mendarat ke bibirku. ‘DEG-DEG-DEG-DEG-DEG-DEG’

Mataku seakan melotot tak terkontrol. Tapi saat ia menggigit bibir bawahku, aku merasakan kehangat dan aku spontan memejamkan mataku, untukku menikmati sensasi itu. Lembut dan aku merasakan hangat. Dingin yang melanda seluruh tubuhku. Pada akhirnya aku merasakan selimut tipis, namun menghangatkanku.

Setelah usai. Aku merasa canggung untuk melihatnya. Namun ia tidak. Saat aku masih tertunduk malu. Ia mulai memegangi daguku. Ia memerintahkanku untuk aku melihat matanya yang memberikan ketulusan dan rasa cintanya begitu besar padaku.

Ia tersenyum dan aku merasa aku telah hanyut dalam pelukan yang erat.

“Maafkan aku Yoori. Aku mencintaimu.” Pelukan erat telah membuatku luluh dengan kata seperti itu.

Aku masih terdiam dan membalas pelukan darinya, yang mungkin lebih erat lagi.

Dalam hatiku juga membalas bahwa aku juga mencintai. Namun masih ada yang aku pikirkan.

Aku mengingat Soenbae Toru. Entah apa yang membuatku mengingat hal yang mungkin tidak memikirkanku.

Kembali aku larut dalam pelukan Nam Yongjae. Aku merasakan bahwa ini beda.

***
Apartemen
           
Aku mengira bahwa hari ini adalah hari yang membahagiakan. Beberapa teman memberikan lebih dari cukup. Tapi mengapa aku masih memikirkan Toru sonbae. Bukankah ia ada Tour di Mexico.

“Heemm… Apakah live??” Bertanya pada diri sendiri.

            Tiba-tiba Zura mengagetkanku.
“Ya! Apa yang sedang kau pikirkan?”
“Ah.. Kau jangan-jangan baru saja berciuman ya dengan Yongjae?”
“Hahaha…” Candanya.

“Haissh.. Kau apa-apa sih. Ya… Tidak mungkinlah aku melakukan itu. Dasar tukang mesum.” Berbohong tanpa ragu.

“Ah.. Kau yang benar saja Yoori. Sudah umumnya orang jepang suka berciuman. Jadi kau bukan orang Jepang, jika belum berciuman. Hahaha….” Tambahnya.

“Ah.. Kau benar-benar, ya. Tukang mesum.”
“Hemm.. Benar aku melakukannya. Tapi tidak dengan baik. Aku sedikit tegang saat melakukannya.” Akhirnya mengaku juga walau selemah itu.

“Hah! Dasar tukang polos. Wanita macam apa kau ini. Begitu saja kau tidak bisa melakukannya.” Heboh sendiri.

“Mengapa kau jadi sensitive seperti ini! Memangnya kau sudah pernah melakukannya dengan baik?” Tanyaku dengan penasaran.

“Hahaha…. Belum pernah melakukannya sama sekali aku Yoori.” Sangat percaya diri dengan wajah yang agak blo’on.

“Hah! Dasar jablay. Wkwkwk…:D” Melarikan diri dengan menjulurkan lidah.

“Dasar kau… “ Melemparkan bantal dan mulai cemberut.
‘Kenapa sih lelaki tak ada yang menyukaiku. Aku sangat menginginkan Toru dan Taka! Haissh… Mimpi kali ya dicintai oleh kedua orang keren seperti mereka. Hemmm….. Yoori sih enak, dulu Toru seniornya. Tapi mengapa ia semacam tak mengenali Toru sonbaenya. Huh… Dasar si tukang molor kurang populer. Haissh….’ Gerutunya sampai kemana-mana.

            Saat Yoori bersandar di bawah pohon yang rindang dekat apartementnya. Yoori berharap hari ini hujan. Karena Yoori senang sekali dengan hujan yang turun dalam hari bahagianya. Selalu menginginkan itu. Dan itu lebih dari cukup.

            Dengan membawa ponselnya. Berharap Toru sonbaenya akan segera mengemail dirinya. Ia sangat berharap juga bahwa di hari bahagianya, ia bisa bertemu dengan Toru dan Toru mengajaknya makan malam.

            Musik bagi Yoori adalah obat terhebat lelah. Dan baiknya lagi, dia mendengarkan lagu One Ok Rock yang berjudul “Wherever You Are”. Lagu ini ditujukan kepada Toru soenbaenya. Berharap semoga Toru merasakan dan segera mengemail dirinya.

            Saat melihat beberapa sosmed dan ingin sekali menghubungi Toru dulu, ia merasa takut mengganggu Toru saat show. Apalagi dia sekarang ada perjalanan Tour ke Mexico.

“Hah.. Bagaimana jika ia melihat gadis-gadis cantik di sana.”
“Aku sangat frustasi memikirkan hal itu.” Merasa kesal.

            Instagram. Ia tak mengupload apapun. masih bersyukur waktu itu. Tapi kenapa saat aku ingin mengirimkan email duluan, aku merasa takut sekali. Ketakutanku selalu tertuju pada crew-crew yang selalu merazia ponsel para member. Dan aku tak ingin Toru soenbae ketahuan.

“Huh..” Menghela napas panjang.
“Berharap tak ada apa-apa.”

Dreeett…Dreeeet…Dreeeet…

Segera membuka tanpa membaca nama pengirim karena berharap itu dari Toru sonbae. Tapi…………………………

*Kau tak ingin melihatku di Televisi?*

*Apa-apaan kau ini. Aku kira kau Toru sonbae. Ternyata kau!*

*Hei.. Mengapa kau berbicara seperti itu kepadaku. Aku ini teman sekamarmu yang baik Yoori!* Zurasnastasia@yahoo.com

*Hah dasar kau Zura si  tukang mesuuuuum…….*

*Hahaha….*

            Yoori hanya membacanya. Tanpa membalas.
Beberapa detik kemudian……………

Dreeeett… Dreeeet… Dreeeet

*Yoori.. Aku baru sampai di Mexico. Maaf aku baru bisa memberitahumu. Jadi mungkin kita belum bisa bertemu dulu. Tak apa kan?* Toru_10969@yahoo.com

            Saat Yoori ingin membalas email dari Toru. Torupun kembali mengirimkan pesan kembali.

*Tanjoubi Umedetou (selamat mengulang tanggal) Yoori-san. Aku menyayangimu.*

            Yoori yang membaca perkataan Toru seperti itu, entah perasaannya seperti apa. Campur aduk dan bagaimanapun tersa melayang saat itu.

*Ne.. Arigato gozaimasu Toru sonbae. Kau hati-hati di sana. Jaga hatimu untukku. #emoticsmile.*

            Toru tersenyum pada saat itu, melihat balasan pesan dari Yoori seperti yang ada dalam pikirannya. Toru berharap ini semakin dekat lagi. Karena hanya Yoorilah yang selalu membuat ia merasa gila.

*Ok. Tunggu aku.*
*Dan sebentar lagi aku akan segera perfome. Jadi kau harus pantengin televisi ya.#emotifrofle.*

            Yoori tengah tertawa saat membaca balasan Toru yang seperti komedian itu.

*Ok Tuan Toru. Aku akan padang wajahmu lebih lama. #emoticsmile.*

            Kembali Toru tetap tersenyum saat membaca Yoori yang mungkin perasaannya sudah mulai padaku. Tak peduli adanya Yongjae di antara Toru dan Yoori.

*Jangan! Saat kau bertemu aku saja. Pandangi wajahku lebih lama. Karena hanya kau yang bisa membuatku bergantung Yoori. Aku akan menemui segera.*

            Yoori hanya tersenyum manis dan tidak membalasnya. Kurasa itu sudah cukup dan menandakan ia akan segera memulai aksinya manggung.

            Yooripun kembali masuk ke dalam apartemen dan menyalakan televisi. Zura yang tau di dalam kamar segera beranjak dan menemui Yoori di ruang santai. Mereka berdua saling tertawa dan Yoori memberitahu bahwa setasiun televisi telah menyiarkan langsung One Ok Rock untuk tournya di Mexico. Zura sebelum itu sudah mengetahui dan Yoori merasa bahwa dirinya yang lebih telat. 

“Mana Taka dan Toru-ku.” Bicaranya agak aneh.

“Kau Taka saja.”

“Hei.. Dua-duanya dong kalau bisa. Hahahha….”

“Terserah lu dah..

Lu mah enak. Dulu Toru adalah seniormu. Tapi kenapa kau tak mengenalinya.”

“Bagaimana aku bisa tahu. Bahwa ia akan sesukses ini.”

“Hah… Kau ini memang kurang update.”

Meraukkan makanan dan memasukkannya ke dalam bibir yang selalu nngomel seperti ajhuma-ajhuma gatel.

“Kau apa-apaan Yoori..” Melotot melihatku.

“Biar kau tak bicara terus Nak.”
“Baiklah kita melihat para pangeran kita yang sebentar lagi akan live.”

            Zura akhirnya terdiam. Dan segeralah mereka standby di depan televisi untuk melihat bias mereka masing-masing. Dengan akrab dan pencerahan yang hangat. Mereka berdua menikmati sekali hari yang cerah ini. Dengan melihat band One Ok Rock.
****

Terimakasih yang masih setia meluangkan waktunya untuk membaca isi ceritaku yang abal-abal.
Vote dan Comment kalian memang sangat bereaksi untuk saya.
Jadi, jangan hanya membaca atau melihat-lihat saja. Penulis mohon pencet kedua tombol tersebut.
Arigato Gozaimasu…. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar