Lentera jiwa saat itu
meradang menjadi kesedihan. Cakrawala dari arah barat telah membuat semuanya
menjadi buta akan warnanya yang semakin keemasan. Seorang perempuan dua puluh
tahun bersembunyi dari kegelisahan yang melandanya saat ini. Entah apa yang
menjadi beban pikirannya saat ingin memulai bergegas untuk pendakian di malam
nanti.
Malam semakin larut,
pendakian akan segera terlaksana. Perempuan ini menunggu seseorang yang ia sukai. Angin membawa segala kecamuk kerancauan di
malam yang dingin menembus tulang belulang mungilnya. Sungguh kegelisahan
melandanya lagi. Seseorang yang ia
tunggu entah kapan akan datang menyapanya kembali.
“Hei.. Ada apa! Nampaknya ada yang sedang kau
pikirkan!”
Salah
seorang teman mengagetkanku dan membuyarkan lamunanku akan seseorang itu. Malam semakin gelap. Petang menghampiri cahaya yang
terbentang terang di dekat desa yang cukup sepi ini. Kembaliku menatap ponsel. Seseorang yang sudah lama kunanti, ia
mengirim pesan padaku. Gembiraku saat itu membuat semua teman di sekitar heran
dengan keadaanku.
~Kau
berada dimana? Aku hampir sampai dekat bukit.~
Aku
hanya tersenyum datar membaca pesan yang ia
kirimkan padaku. Bagaimana bisa ia
baru ingin sampai di dekat bukit. Ah.. Menunggu memang menyebalkan sekali.
Namun, jika menunggu seseorang yang
akan datang itu menyenangkan dan membuat semuanya menjadi bahagia. Gumamku
mendesak kea rah langi-langit luas. Bintang seakan menyapaku perlahan malam
ini. Kuseringaikan senyumku untuk membalas mereka yang tersenyum geli
terhadapku.
‘Nampaknya
bintang-bintang di sana sedang menyemangatiku sekarang.’
Gumamku dengan
melihat setitik terang di antara bintang-bintang yang luas dan membuat terharu
akan ciptaan-Nya. Kembali kulihat pergelangan tangan, melihat dering jam yang
menunjukkan pukul Sembilan lebih dan semuanya semakin mengacau dengan ocehan
yang terdengar samar olehku. Mereka mengumpat karena seseorang belum datang. Ya.. seseorang
itu adalah ketua pendakian di komunitas kita. Aku sudah lama menyembunyikan
perasaanku terhadapnya. Istilahnya
aku hanya seorang pengagum rahasia. Aku tidak pernah berpikir untuk
mengungkapkannya secara langsung. Bagi perasaanku ini sudah sewajarnya untuk
menutupi. Banyak perempuan lainnya yang lebih ideal menyukai dia. Jadi, aku tidak bisa selevel itu.
Lebih baik aku mundur dan berdiam diri saja. Biar perjalanan yang menyenangkan
ini membuat semuanya berubah menjadi apa yang aku inginkan.
“Hei kalian! Maafkan aku. Aku sangat terlambat,
kan?”
Seseorang
datang dengan nada keras yang khas sekali. Segeraku melupakan semua yang aku
imajinasikan. Ia melihatku dengan
senyumannya yang manis. Jantungku semakin berdebar melihat senyuman itu.
Kualihkan pandanganku ke langit luas lagi. Entah apa yang membuatnya semakin
mendekatiku. Apakah ia merasa aku mengabaikan pandangannya ke arahku?
“Hei.. Kau Lee Jiwon. Sedang apa? Kau tidak membalas
pesan singkatku tadi?” Lirihnya membuat hatiku semakin melompat.
“Ke..Kenapa! Kau sebaiknya tidak mendekat ke arahku.
Seseorang telah melihat kita.”
Menunduk.
“Hei.. Bicaramu seakan kita itu mempunyai hubungan
rahasia.”
“Ya! AKU TIDAK BERMAKSUD SEPERTI ITU!!!”
Orang-orang
yang melihat dan mendengar teriakkanku mengumpat serius. Aku sangat malu sekali
dan dia hanya tertawa geli melihatku.
Bagaimana aku mengatasinya. Bahkan aku tidak becus untuk bicara dengannya.
Wajahku nyaris pucat pasi saat ia mentertawaiku.
“Baiklah… Apa yang kalian lakukan! Mari kita berdoa
bersama-sama agar perjalanan kita nanti selalu dalam lindungan-Nya. Berdoa
mulai..” Menunduk.
Aku
melihat wajah yang gagah dan tampan itu. Aku menyukainya, karena dia begitu
taat pada Tuhannya. Itu yang selalu membuatku merasa tenang dan selalu ingin
mengaguminya. Entah bagaimana dengan dia.
Begitu banyak perempuan yang menyukai
dirinya. Namun, ia selalu
menolaknya, dan menganggap semuanya menjadi biasa.
***
Perjalanan
perlahan dimulai dengan gemuruh angin yang membuat segala dalam kebingunganku
menjadi membeku. Ilalang semakin menegak dan beberapa kunang-kunang
mengantarkan kami untuk perjalanan malam ini. Dingin. Dingin, dan sangat
dingin. Kulihat dirinya sedang
berjalan dengan perempuan yang melihat kita tadi. Huh.. rasanya terdengar aneh,
saat mengingatnya.
Setengah
perjalanan sudah kami raih dan sejenak untuk beristirahat. Aku duduk di dekat
teman lelakiku dengan meluruskan kaki pegalku, karena perjalanan tadi agak
melelahkan akibat jalan yang menanjak sedikit lumpur, karena hujan kemarin.
“Kita beristirahat dulu. Sebentar lagi kita akan
berhadapan dengan jembatan pohon. Di sana terdapat jurang yang sangat curam.
Jadi kita harus berhati-hati. Jangan sampai meninggalkan teman yang lain. Kita
WAJIB bersama-sama. Tidak ada yang namanya EGOIS di sini.” Tegasnya membuatku tersenyum kecil.
Kulihat
kembali pergelangan tangan. Semakin larut dan angin semakin membuatku tak
nyaman. Bagaimana bisa beku seperti ini tanganku. Pendakian terakhir tidak
seperti ini. Apakah karena hujan kemarin. Semoga Tuhan melindungi kami. Amin.
Kuusap-usapkan tanganku berkali-kali sehingga menjadi hangat. Ia melihatku. Aku malu dan mengabaikannya. Aku sengaja berbicara dengan teman
sebelahku dan membiarkan semuanya menjadi tenang. Sesekali kulihat ia tetap memandangku dari jangkauan yang
lumayan. Hah.. jangan seperti itu. Kau membuat jantungku terus berdebar. Sudahi
sajalah.
“Auw..” Tiba-tiba ada yang mengigit telapak
tanganku.
Segera
kulihat dan ternyata benar ada semut hitam agak besar mengigit tanganku. Segera
kuusir dan membuat dia terlihat
begitu khawatir. Ada apa ini? Semua anak-anak pun mencoba menghampiri dan
terlihat ketakukan dan kebingungan. Aku mencoba tidak apa-apa, karena memang
tidak sebegitu menyakitkan. Hanya gatal dan akan segera membaik.
“Kenapa Lee Jiwon!” Ia sangat khawatir. Aku merasakan itu.
“Eh! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ini hanya
semut biasa.” Tiba-tiba tanganku bergetar.
“Lalu.. Mengapa tanganmu bergetar seperti ini!”
Tiba-tiba Ia memegangi tanganku erat.
Iya sangat erat.
Aku
hanya diam dan tidak membalas pertanyaannya.
Bukan maksudku untuk menikmati moment
itu. Hanya saja bibirku kaku dan keluh untuk menjawab pertanyaan darinya. Jujur saja tangannya yang menghangatkan tanganku
membuatku merasa tenang. Entah apa yang membuatnya sebegitu khawatir terhadapku. Aku tidak harus lemah seperti
ini, karena memang ini bukan perjalanan untuk aku dan dia saja. Tapi beberapa komunitas. Aku harus menyudahinya dan
membuat semuanya meneruskan perjalanan.
“Park Seo Jun/Joon. Aku tidak apa-apa. Kau jangan
seperti ini. Mari kita teruskan. Sudah hampir dini.” Tatapanku sayu melihat
wajah tampan itu.
Ia
masih saja menggenggam tanganku. Ini lebih erat lagi dan hangat lagi. Aku
merasakan desis semilir angin yang mendengkur hebat. Ia tiba-tiba memelukku.
Aku kaget setengah mati. Ada apa ini? Aku melotot dengan mendongak ke atas
langit-langit. Kulihat ada bintang yang jatuh dengan efek yang membuat batinku
tersenyum. Segeraku memejamkan mata dan membuat suatu permohonan. Iya.. Aku
memohon agar Park Seo Jun/Joon juga menyukaiku. Spontan aku mengucap itu dalam
relung hati yang paling dalam. Entah terdengar oleh dia atau tidak. Aku tak peduli. Ini kurasa cukup.
“Haish… Drama apa lagi ini?” Seseorang mengumpat
lirih.
“Hei! Soenbae. Mari kita meneruskan perjalanannya.
Mengapa kau khawatir sekali dengan perempuan bodoh itu! Seharusnya ia tak perlu
bergabung. Ini sangat menyusahkan!” Tambah yang lain dengan nada kesal.
Park Seo Jun/Joon
melepaskan pelukkan terhadapku. Setelah mendengar perkataan teman yang lain,
yang membuatnya telinganya sedikit terganggu. Ia akan marah jika ada anggota lain yang merengek dan bicara tidak
sopan dalam perjalanan pendakian yang di antara bukit-bukit dan tempat
menyeramkan seperti ini. Baginya kedisiplinan adalah kunci keselamatan. Ia selalu membicarakan itu sebelum
berangkat.
Ia menatapku kembali. Ia mengeluarkan sebuah sapu tangan
berwarna putih dan terbuat dari sutra yang lembut. Ia berikan padaku dengan mengikatnya di bagian tanganku yang baru
saja tergigit oleh semut hitam. Membengkak sudah bagian telapak tanganku. Ia semakin khawatir melihat keadaanku
yang menggigil beku dan pucat pasi seperti itu. Ia sangat telaten, sebelum mengikatnya ia sedikit mengoleskan obat yang menghilangkan sedikit rasa
sakit dan bengkak itu. Aku mengiyakan semuanya. Jika ia menjadi pasanganku, ini sudah cukup romantis untukku. Ah..
lagi-lagi aku berimajinasi.
“Sudah kuikat bagian yang bengkak. Kau tidak
apa-apa, kan? Mari kita mulai kembali perjalanannya. Aku akan berjaga di
belakangmu.” Ia menatapku manis.
Nada
bicaranya sungguh membuatku
terbelalak diam kaku. Sumpah ini membuatku sangat gugup atas ucapannya “Aku akan berjaga di belakangmu.”
Mantap sekali. Ini membuatku bergairah. Maksudku bergairah bersemangat untuk
memilikinya. Gumamku takut terdengar yang lain. Tapi bintang yang berada di
atas telah membuat semuanya berbeda. Sungguh aku menikmati kelembutannya.
***
01:55
AM
Di sinilah kami
akan melawan ketegangan, ketakutan, dan ketidakberdayaan melihat ke bawah. Ya..
di bawah adalah jurang yang cukup curam, seperti yang ia bicarakan tadi sebelum memulai perjalanan yang kedua ini. Aku
agak kebingungan. Bagaimana aku harus melakukannya. Telapak tanganku masih
bengkak. Apakah aku bisa?
“Jangan takut. Aku mengawasimu dari belakang.”
Kembali ia tersenyum padaku.
Aku
hanya tersenyum datar setelah ia mencoba menenangkanku. Namun, tetap saja aku
khawatir dengan situasi ini. Suara-suara lirih dan mengerikan terdengar oleh
telingaku. Ah.. menakutkan sekali. Malam mencekam dan membuat semuanya seperti
film horor. Benar. Seperti ada yang mendesis ditelingaku. Aku mengabaikannya.
Aku mencoba untuk menahan dan tidak akan terjadi apa-apa.
Sekarang
adalah giliranku melewati jembatan pohon yang penuh dengan tumbuhan yang
mengekor di dahannya itu. Pencahayaan yang kuikat di dahiku membuat semuanya
tersamar. Aku mengira batrenya akan habis. Setengah perjalanan aku mendapati
jembatan itu. Namun, bagaimana ini? Lampuku mati. Tamat riwayatku. Hah!!
“Aku mohon! Tolong selamatkan aku!” Teriakkanku
membuat penghuni hutan itu berseberangan dengan kami. Aku merasakan hawa yang
mendesis berjalan.
Seseorang telah memberikan cahaya kearahku
yang hampir merangkak terjatuh. Park Seo Jun kembali membuatku gugup tidak
karuan. Ia datang kepadaku dan berada
tepat di belakangku. Ia memakai tali
untuk menjadi pegangan agar tidak terjatuh dalam jurang yang cukup curam itu.
Aku menangis ketakutan. Ia masih
menenangkanku, bahwa semua akan baik-baik saja. Aku ada di sini. Ia menatap
mataku dalam. Ranting dan dahan yang rapuh membuatku semakin takut dan
cepat-cepat menyelesaikan misi ini. Ya… Aku yang terakhir dengannya. Tuhan
selamatkan aku dari tempat ini. Batinku selalu merengek.
“Kau berbalik arahlah. Kau pegang tali ini.” Ia memberikan tali untukku. Aku
menerimanya.
“Tapi…”
“Percayalah tidak akan terjadi apa-apa.” Kulihat
matanya penuh dengan cahaya.
“Baiklah.. Kau harus tetap di belakangku dan
berjalan bersama.” Tegasku tidak terbantah. Ia
malah tersenyum padaku. Itu sangat
membuatku gugup lagi.
Setelah
mencapai final dari penyebrangan jembatan pohon itu. Aku segera tergeletak dan
tak sadarkan diri. Aku ingat. Ia
begitu terdengar khawatir dengan nada bicara yang sangat panic itu membuatku
ingin membuka mataku perlahan. Tapi aku tidak bisa membuka mataku. Aku syok dan
beberapa organ tubuhku kaku. Salah satunya adalah kedua kakiku. Wajah yang
pucat pasi membuatku semakin mengeluarkan rasa dingin dalam diri. Kucium aroma
herbal atau selebihnya minyak telon
mungkin seperti itu. Terasa seperti obat oles itu. Panas bagian hidungku. Melemah
sudah semua bagian tubuhku. Mataku terbuka perlahan menjadi lebar. Kulihat ia
sangat khawatir dan tiba-tiba ia memelukku. Entah apa yang membuatnya semakin
liar seperti ini. Aku merasa aku kekasihnya yang segera akan mati
meninggalkannya. Aku merasakan erat pelukan hangatnya membuatku semakin menatap
tidak percaya, bahwa ia akan memperlakukanku spesial seperti ini. Sunggu
batinku berteriak, bahwa aku menyukaimu Seojun. Semoga batinmu pun mendengarku.
“Syukurlah kau sudah siuman Jiwon.” Pelukkan eratnya
menambah.
“Uhuk.. Uhukk.. Aku tidak bisa bernapas Seojun.
Tolong lepaskan aku.” Benar-benar sesak dadaku waktu itu. Karena ia erat sekali
memelukku. Dia terlihat begitu khawatir padaku.
“Bagaimana kau bisa seperti ini!” Nadanya meninggi.
Membuatku takut.
Aku
hanya diam melihat tatap matanya yang begitu terlihat khawatir. Ia memberikan
air mineral padaku. Sesekali ia bertanya padaku. Apakah aku baik-baik saja. Ia
terus bertanya seperti itu. Aku hanya mengangguk-angguk saja. Agar ia tidak
menghawatirkanku lagi. Aku mencoba berdiri, ia menahanku. Sulit bagiku untuk
mengatakannya. Namun, aku memang bodoh. Aku hanya perempuan yang buta terhadap
sekitar.
“Manja sekali kau!” Teriak salah seorang teman
perempuan yang tidak menyukaiku.
“Ya! Park Seojun. Kau selalu khawatir padanya.
Apakah dia kekasihmu!” Tambah salah seorang teman lelakinya yang membuat kami
terkejut saling menatap.
“Akankah aku jujur pada kalian?” Jawabnya santai
dengan memegangi tanganku. Iya.. tanganku yang masih terlihat feminim. Tidak yang
bengkak.
Ku
terkejut tidak karuan. Jantungku kembali tidak beraturan. Bagaimana ini. Aku
selalu terjebak dalam situasi yang terus menegangkan seperti ini. Lebih parah
menghadapi yang namanya perasaan daripada menyebrangi jembatan pohon tadi.
Tidak, tidak. Aku tidak meremehkan jembatan pohon tadi. Ini memang luar biasa.
Mereka
yang mendengar jawaban yang diberikan oleh ketua komunitasnya merasa terdiam
tanpa ada yang mau berdebat dengannya lagi. Sudah cukup. Ini seharusnya
terselesaikan. Aku memegangi tangan Seojun untuk membantuku berdiri. Ia tetap
menahanku.
“Tidak.. Kau harus beristirahat.” Pegangnya kembali
erat.
“Ini sudah hampir subuh. Kita harus ke puncak agar
bisa menikmati terbitnya matahari.” Aku meyakinkannya dengan tatapanku
kepadanya.
“Baiklah… Akan kubantu berdiri.”
Sekarang
ku sudah berdiri. Ia berada di
sampingku. Masih memegang kedua pundakku. Ia
masih menjagaku, melindungiku. Mungkin ia masih khawatir, bila aku terjatuh
lagi dan tergeletak seperti tadi. Mereka masih mencibirku dengan kata-kata yang
terdengar samar olehku, sedikit menyakitkan. Aku tidak menghiraukan mereka.
Tapi yang pasti Seojun masih dipihakku. Kami berjalan kembali.
***
Pukul
03:05 Am
“Semuanya… Kita sudah sampai. Mari kita ucapkan
syukur pada TUHAN KITA.” Tersenyum lebar. Hingga kedua matanya yang sipit itu
tidak terlihat lagi.
Akhirnya kami
tiba di puncak. Ini sangat menyejukkan. Goresan rumput liar membuatku ingin
segera menyapanya. Hembusan angin membius tubuh lunglaiku. Kicauan terdengar
oleh telingaku dari jangkauan yang agak dekat dengan area puncak pendakian di
Gunung Gangnam ini. Dingin menyeruak bebas kemanapun. Sunyi masih melintas.
Hening tidak lagi. Kami berteriak kegirangan. Bersyukur masih diberikan
kesempatan untuk melihat surga-surga kecil-Nya. Kuharap ini adalah pendakianku
yang terakhir. Aku tidak bisa meneruskannya lagi. Aku harus pergi.
“Jiwon!” Panggilnya menghampiriku.
“Hemm..” Aku menatapnya sayu.
“Haruskah aku mengatakan sesuatu padamu?”
“Maksudmu. Mengapa kau bertanya? Terus teranglah.”
Pandangku luas.
“Bagaimana kalau aku tidak bisa menahannya?”
Terlihat gugup.
“Kau! Bicaralah yang benar.” Tambahku nadaku
mengeras. Hampir kesal.
“Bagaimana kau membentakku seperti itu. Kulihat kau
tadi merengek.”
‘Apakah
dia baru saja meledekku?’
“Bu..bukan seperti itu Seojun. Hanya saja aku….”
“Aku menyukaimu.”
“Ehh….!!!” Mataku melotot tidak percaya.
Ia
menatapku tidak berkedip. Aku sangat malu dan aku harus berbuat apa. Kenapa aku
tidak menyukai moment ini. Seharusnya aku senang melihatnya mengungkapkan
perasaannya padaku.
“Ya.. Aku menyukaimu, Lee Jiwon.”
“Ahahaha… Ini hanya lelucon saja. Agar aku bisa
tertawa, kan?” Kugaruk-garuk kepalaku. Hampir seperti kera.
“Tidak. Aku tidak bisa membohongi perasaanku.
Semuanya aku lakukan, karena aku begitu menyukaimu.” Tatapannya dalam lagi.
Membuatku berkaca-kaca.
“Hehe.. Hei! Park Seo Jun. Aku benar-benar tidak
mengerti. Tapi aku sangat berterimakasih padamu.” Aku tersenyum datar saat
melihatnya. Kurasa ia kecewa saat aku berterimakasih dengan menunjuk sapu
tangan berwarna putih yang terikat di telapak tanganku.
Ia
terdiam. Entah apa yang aku lakukan. Ia terdiam. Dan diam. Kemudian ia
meninggalkanku. Aku merasa sakit sekali. Kenapa aku berkata seperti itu
terhadapnya. Bukankah aku juga menyukainya. Dasar! Kau melewatkan kesempatan
emasmu Jiwon! Aku harus menghampirinya. Tapi aku telah mengecewakannya.
Bagaimana aku harus menampakkan wajahku dihadapannya.
***
Pukul
05:02 Am
Sunrise
menampakkan kilauan keemasaannya di atas permukaan air laut. Ia tersenyum cerah
dengan diiringi awan putih menggumpal manis melapisi langit-langit yang biru
itu. Kicauan burung meneriakki telingaku. Hembusan angin yang semerbak wangi
membuatku tidak usah menyemprotkan farfum ke baju lagi. Namun, dingin yang membekukan
kakiku terasa sangat lemah. Hanya membasuh muka saja dengan air mineral yang ia berikan padaku saat tergeletak di
jembatan pohon dini tadi.
Kulihat
bunga keabadian membuatku ingin membghampirinya. Dengan warnanya yang putih dan
harum wanginya. Melambangkan cinta, ketulusan, serta keabadian. Ia tinggal dikesejukan
dataran tinggi. Para pendaki akrab dengannya. Dari pendaki yang hanya ingin menikmati
wangi dan mengambil fotonya hingga pendaki bodoh yang mencabut akarnya demi
nafsunya. Edelweiss pun kini semakin langka. Namun di tempat-tempat tinggi ini,
sang bunga abadi masih terus berdiam cantik hingga waktu dimana kita masih bisa
terus menjaganya. Aku bercerita tentang itu pada sang surya, yang telah
bersinar sejak lima menit yang lalu. Aku sedikit bermeditasi untuk mereflekkan
badanku. Dengan diguyur habis-habisan oleh angin yang mendengkur sempurna
ditubuhku. Aku merasakannya.
Panas
menyeruak dihadapanku. Inilah yang disebut dengan kita dekat dengan Tuhan. Di
saat kita bermeditasi di alam terbuka seperti Gunung Gangnam ini. Semakin
tinggi, semakin dekat dengan Tuhannya. Aku memejamkan mata dengan
sedikit-sedikit mengedipkan, karena terkena sinar matahari membuat mataku sakit
dan efek radiasi. Ini membuatku tak tahan. Namun, tiba-tiba saat aku ingin
pindah dari tempat itu, merasakan bahwa kini aku sudah terlindungi dengan entah
apa yang berada didepanku. Aku sedikit membuka mataku. Saat aku melihat samar
wajahnya. Aku kaget bukan kepalang. Dia Park Seo Jun.
“Ah!! Mengagetkan sekali!” Denyut nadiku
tidak beraturan.
Ia
hanya tersenyum. Aku heran. Mengernyitkan dahiku. Ada apa dengannya? Ia masih
menatapku dalam-dalam. Akankah ia lapar. Lalu kemudian aku menjadi lauknya
sementara? Ah! Apa yang aku pikirkan.
“Sedang apa kau!” Gugupku terlihat
olehnya.
“Kenapa? Kau terlihat sangat gugup.”
Gelitikknya.
“Ah.. Park Seo Jun. Kenapa kau selalu
membuatku sangat gugup dan panik. Aku tahu, aku juga mempunyai perasaan itu.
Tapi, aku benar-benar tidak bisa mengatakannya.” Menunduk malu.
“Kau bicaralah aku akan mendengarnya. Di
sini waktu kita tidak banyak lagi. Tiga puluh menit lagi kita semua harus
turun. Melakukan pendakian selanjutnya. Jadi kuharap kau dapat mengatakan
sebenarnya dan membuat semuanya menjadi moment yang dapat dilupakan.”
‘Apaan sih maksudnya.. Gak jelas banget.’
“Heh.. Aku benar-benar tidak mengerti
maksudmu?”
Ia memegangi tanganku. Hangat.
Ia menatapku penuh dengan keseriusan.
Aku melihat ada ribuan cahaya di
matanya.
Sangat indah…
Apakah ini Miracle In December…
“Aku sangat ingin melakukannya. Kenapa aku tidak
bisa melihat apapun kecuali bibir merahmu?”
‘Sumpah!
Aku benar-benar bingung untuk saat ini. Aku terjebak. Apa yang harus aku
lakukan. Akankah aku mengiyakannya. Jika ia benar akan menciumku. Lalu aku
harus membuka mataku atau memejamkannya?’
Gugupku
tidak karuan lagi. Aku menghela napas panjang. Selalu itu yang aku lakukan,
jika sudah mendekap dalam kegugupan yang seperti ini. Park Seo Jun! Jangan
membuatku semakin jatuh hati padamu. Ini sangat menyebalkan untukku. Kau sangat
sempurna. Aku hanya perempuan biasa yang hanya bisa merengek dan merengek. Aku
tak tahu bagaimana cara berterimakasih karena cintamu itu. Itu sulit sekali aku
katakana. Aku takut kau menyesal nanti.
“Lee Jiwon!”
Kembali
ia memanggil namaku lirih. Sehingga apa yang kubayangkan tadi hilang begitu
saja. Kudapati mata yang berbinar itu sangat tulus. Namun, tetap saja aku takut
kau kecewa denganku. Park Seo Jun! Bantu aku membalas perasaanmu.
“Tapi setelah ini aku akan pergi.”
“Maksudmu?”
“Iya.. Aku akan pergi ke Tokyo.”
“Tokyo? Untuk apa ?”
“Orang tuaku ingin aku belajar di sana.”
Wajah
yang semula memancarkan cahaya yang begitu indah. Kini berubah menjadi mendung.
Kulihat samar wajahnya begitu sedikit kecewa. Angin alih-alih membawa segala
kabar tak sedap untuk hari ini. Kurasa aku benar tidak bisa membendung perasaan
ini.
“Park Seo Jun. Aku tidak bisa menyembunyikannya.
Benar! Aku juga menyukaimu. Tapi….”
“Tidak. Kau tetap pergi. Dan aku menunggu kau
kembali.”
“Maksudmu?”
Aku
heran memaknai kata-perkata darinya. Saat kulihat tatapan matanya. Aku
merasakan bahwa ia berbicara lewat matanya yang agak sipit menggemaskan saat
tersenyum. Ia mendekat perlahan. Ia kembali memegangi tanganku yang tanpa luka.
Kulihat matanya melirik arah bibirku. Aku semakin gugup dan panik. Bagaimana
ini.. Bagaimana ini.. Ia semakin dekat, hidungnya telah bersentuhan dengan
hidung pendekku dan, dan,
dan…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
AH…. AKU TERBANGUN DARI TEMPAT TIDURKU. DASAR!
DASAR! DASAR!
“Ah.. aku gagal dicium oleh Aktor Korea Park Seo
Jun.”
Aku mengumpat sia-sia.
Tidak akan kembali
mimpimu itu @wandagain. Kau harus subuh! Sisi terang menasehati.
Kau menyiakan-nyiakan
kesempatan emas. Balas sisi gelap mengumpat.
Kau bahkan tidak tahu.
Kau sudah menjadi kekasihnya atau belum. Tambah sisi gelap lagi.
“Ah… Bagaimana ini. PARK SEO JUN…..!!!”
Aku berteriak dalam batinku yang paling dangkal.
Hanya
karena Drama Korea “Fight For My Way” tadi malam yang kutayangkan dalam
laptopku hingga jam tengah malam hampir dini hari, karena itulah rutinitasku
saat malam minggu melihat drama korea
terbaru yang dibintangi olehnya, oleh PARK SEO JUN OPPA #WKWK GAMPAR YANG
LAIN. Aku sampai terbawa mimpi mendaki Gunung Gangnam bersamanya. Hampir masuk
jurang yang cukup curam dan terselamatkan olehnya. Sebotol kecil minyak telon menyadarkanku. Bagaiman
dengan tanganku yang bengkak! Iya.. Aku tergigit semut merah saat tertidur.
Kini jariku yang baru saja ia (calon imam) beri cincin terasa gatal dan sedikit
bengkak, karena mimpi di luar nalar membuatku mengumpat tidak karuan. Maafkan
aku ya Tuhan. Aku harus subuh!!!
Cerpen murni dari mimpi. Kusegeratancapkan dalam
pena hitam di atas kertas putih. Mengagumkan. Ciumku paling dalam untuk
seseorang yang paling kusayang. Tenang. Aku tidak akan berhianat. Aku sekedar
melampiaskan saja. Karena kau tidak menemani. Dodik Pratama :)
07:59-10:34
Am
8/20/2017
@wandagain

Tidak ada komentar:
Posting Komentar