Minggu, 20 Agustus 2017

DELUSIONER PRINCE “PARK SEO JOON / PARK SEO JUN”






Lentera jiwa saat itu meradang menjadi kesedihan. Cakrawala dari arah barat telah membuat semuanya menjadi buta akan warnanya yang semakin keemasan. Seorang perempuan dua puluh tahun bersembunyi dari kegelisahan yang melandanya saat ini. Entah apa yang menjadi beban pikirannya saat ingin memulai bergegas untuk pendakian di malam nanti.

Malam semakin larut, pendakian akan segera terlaksana. Perempuan ini menunggu seseorang yang ia sukai. Angin membawa segala kecamuk kerancauan di malam yang dingin menembus tulang belulang mungilnya. Sungguh kegelisahan melandanya lagi. Seseorang yang ia tunggu entah kapan akan datang menyapanya kembali.

“Hei.. Ada apa! Nampaknya ada yang sedang kau pikirkan!”

            Salah seorang teman mengagetkanku dan membuyarkan lamunanku akan seseorang itu. Malam semakin gelap. Petang menghampiri cahaya yang terbentang terang di dekat desa yang cukup sepi ini. Kembaliku menatap ponsel. Seseorang yang sudah lama kunanti, ia mengirim pesan padaku. Gembiraku saat itu membuat semua teman di sekitar heran dengan keadaanku.

~Kau berada dimana? Aku hampir sampai dekat bukit.~

            Aku hanya tersenyum datar membaca pesan yang ia kirimkan padaku. Bagaimana bisa ia baru ingin sampai di dekat bukit. Ah.. Menunggu memang menyebalkan sekali. Namun, jika menunggu seseorang yang akan datang itu menyenangkan dan membuat semuanya menjadi bahagia. Gumamku mendesak kea rah langi-langit luas. Bintang seakan menyapaku perlahan malam ini. Kuseringaikan senyumku untuk membalas mereka yang tersenyum geli terhadapku.

‘Nampaknya bintang-bintang di sana sedang menyemangatiku sekarang.’

            Gumamku dengan melihat setitik terang di antara bintang-bintang yang luas dan membuat terharu akan ciptaan-Nya. Kembali kulihat pergelangan tangan, melihat dering jam yang menunjukkan pukul Sembilan lebih dan semuanya semakin mengacau dengan ocehan yang terdengar samar olehku. Mereka mengumpat karena seseorang belum datang. Ya.. seseorang itu adalah ketua pendakian di komunitas kita. Aku sudah lama menyembunyikan perasaanku terhadapnya. Istilahnya aku hanya seorang pengagum rahasia. Aku tidak pernah berpikir untuk mengungkapkannya secara langsung. Bagi perasaanku ini sudah sewajarnya untuk menutupi. Banyak perempuan lainnya yang lebih ideal menyukai dia. Jadi, aku tidak bisa selevel itu. Lebih baik aku mundur dan berdiam diri saja. Biar perjalanan yang menyenangkan ini membuat semuanya berubah menjadi apa yang aku inginkan.

“Hei kalian! Maafkan aku. Aku sangat terlambat, kan?”

            Seseorang datang dengan nada keras yang khas sekali. Segeraku melupakan semua yang aku imajinasikan. Ia melihatku dengan senyumannya yang manis. Jantungku semakin berdebar melihat senyuman itu. Kualihkan pandanganku ke langit luas lagi. Entah apa yang membuatnya semakin mendekatiku. Apakah ia merasa aku mengabaikan pandangannya ke arahku?

“Hei.. Kau Lee Jiwon. Sedang apa? Kau tidak membalas pesan singkatku tadi?” Lirihnya membuat hatiku semakin melompat.

“Ke..Kenapa! Kau sebaiknya tidak mendekat ke arahku. Seseorang telah melihat kita.” Menunduk.

“Hei.. Bicaramu seakan kita itu mempunyai hubungan rahasia.”

“Ya! AKU TIDAK BERMAKSUD SEPERTI ITU!!!”

            Orang-orang yang melihat dan mendengar teriakkanku mengumpat serius. Aku sangat malu sekali dan dia hanya tertawa geli melihatku. Bagaimana aku mengatasinya. Bahkan aku tidak becus untuk bicara dengannya. Wajahku nyaris pucat pasi saat ia mentertawaiku.

“Baiklah… Apa yang kalian lakukan! Mari kita berdoa bersama-sama agar perjalanan kita nanti selalu dalam lindungan-Nya. Berdoa mulai..” Menunduk.

            Aku melihat wajah yang gagah dan tampan itu. Aku menyukainya, karena dia begitu taat pada Tuhannya. Itu yang selalu membuatku merasa tenang dan selalu ingin mengaguminya. Entah bagaimana dengan dia. Begitu banyak perempuan yang menyukai dirinya. Namun, ia selalu menolaknya, dan menganggap semuanya menjadi biasa.

***

            Perjalanan perlahan dimulai dengan gemuruh angin yang membuat segala dalam kebingunganku menjadi membeku. Ilalang semakin menegak dan beberapa kunang-kunang mengantarkan kami untuk perjalanan malam ini. Dingin. Dingin, dan sangat dingin. Kulihat dirinya sedang berjalan dengan perempuan yang melihat kita tadi. Huh.. rasanya terdengar aneh, saat mengingatnya.

            Setengah perjalanan sudah kami raih dan sejenak untuk beristirahat. Aku duduk di dekat teman lelakiku dengan meluruskan kaki pegalku, karena perjalanan tadi agak melelahkan akibat jalan yang menanjak sedikit lumpur, karena hujan kemarin.

“Kita beristirahat dulu. Sebentar lagi kita akan berhadapan dengan jembatan pohon. Di sana terdapat jurang yang sangat curam. Jadi kita harus berhati-hati. Jangan sampai meninggalkan teman yang lain. Kita WAJIB bersama-sama. Tidak ada yang namanya EGOIS di sini.” Tegasnya membuatku tersenyum kecil.

            Kulihat kembali pergelangan tangan. Semakin larut dan angin semakin membuatku tak nyaman. Bagaimana bisa beku seperti ini tanganku. Pendakian terakhir tidak seperti ini. Apakah karena hujan kemarin. Semoga Tuhan melindungi kami. Amin. Kuusap-usapkan tanganku berkali-kali sehingga menjadi hangat. Ia melihatku. Aku malu dan mengabaikannya. Aku sengaja berbicara dengan teman sebelahku dan membiarkan semuanya menjadi tenang. Sesekali kulihat ia tetap memandangku dari jangkauan yang lumayan. Hah.. jangan seperti itu. Kau membuat jantungku terus berdebar. Sudahi sajalah.

“Auw..” Tiba-tiba ada yang mengigit telapak tanganku.

            Segera kulihat dan ternyata benar ada semut hitam agak besar mengigit tanganku. Segera kuusir dan membuat dia terlihat begitu khawatir. Ada apa ini? Semua anak-anak pun mencoba menghampiri dan terlihat ketakukan dan kebingungan. Aku mencoba tidak apa-apa, karena memang tidak sebegitu menyakitkan. Hanya gatal dan akan segera membaik.

“Kenapa Lee Jiwon!” Ia sangat khawatir. Aku merasakan itu.

“Eh! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ini hanya semut biasa.” Tiba-tiba tanganku bergetar.

“Lalu.. Mengapa tanganmu bergetar seperti ini!” Tiba-tiba Ia memegangi tanganku erat. Iya sangat erat.

            Aku hanya diam dan tidak membalas pertanyaannya. Bukan maksudku untuk menikmati moment itu. Hanya saja bibirku kaku dan keluh untuk menjawab pertanyaan darinya. Jujur saja tangannya yang menghangatkan tanganku membuatku merasa tenang. Entah apa yang membuatnya sebegitu khawatir terhadapku. Aku tidak harus lemah seperti ini, karena memang ini bukan perjalanan untuk aku dan dia saja. Tapi beberapa komunitas. Aku harus menyudahinya dan membuat semuanya meneruskan perjalanan.

“Park Seo Jun/Joon. Aku tidak apa-apa. Kau jangan seperti ini. Mari kita teruskan. Sudah hampir dini.” Tatapanku sayu melihat wajah tampan itu.

            Ia masih saja menggenggam tanganku. Ini lebih erat lagi dan hangat lagi. Aku merasakan desis semilir angin yang mendengkur hebat. Ia tiba-tiba memelukku. Aku kaget setengah mati. Ada apa ini? Aku melotot dengan mendongak ke atas langit-langit. Kulihat ada bintang yang jatuh dengan efek yang membuat batinku tersenyum. Segeraku memejamkan mata dan membuat suatu permohonan. Iya.. Aku memohon agar Park Seo Jun/Joon juga menyukaiku. Spontan aku mengucap itu dalam relung hati yang paling dalam. Entah terdengar oleh dia atau tidak. Aku tak peduli. Ini kurasa cukup.

“Haish… Drama apa lagi ini?” Seseorang mengumpat lirih.

“Hei! Soenbae. Mari kita meneruskan perjalanannya. Mengapa kau khawatir sekali dengan perempuan bodoh itu! Seharusnya ia tak perlu bergabung. Ini sangat menyusahkan!” Tambah yang lain dengan nada kesal.

Park Seo Jun/Joon melepaskan pelukkan terhadapku. Setelah mendengar perkataan teman yang lain, yang membuatnya telinganya sedikit terganggu. Ia akan marah jika ada anggota lain yang merengek dan bicara tidak sopan dalam perjalanan pendakian yang di antara bukit-bukit dan tempat menyeramkan seperti ini. Baginya kedisiplinan adalah kunci keselamatan. Ia selalu membicarakan itu sebelum berangkat.

            Ia menatapku kembali. Ia mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna putih dan terbuat dari sutra yang lembut. Ia berikan padaku dengan mengikatnya di bagian tanganku yang baru saja tergigit oleh semut hitam. Membengkak sudah bagian telapak tanganku. Ia semakin khawatir melihat keadaanku yang menggigil beku dan pucat pasi seperti itu. Ia sangat telaten, sebelum mengikatnya ia sedikit mengoleskan obat yang menghilangkan sedikit rasa sakit dan bengkak itu. Aku mengiyakan semuanya. Jika ia menjadi pasanganku, ini sudah cukup romantis untukku. Ah.. lagi-lagi aku berimajinasi.

“Sudah kuikat bagian yang bengkak. Kau tidak apa-apa, kan? Mari kita mulai kembali perjalanannya. Aku akan berjaga di belakangmu.” Ia menatapku manis.

            Nada bicaranya sungguh membuatku terbelalak diam kaku. Sumpah ini membuatku sangat gugup atas ucapannya “Aku akan berjaga di belakangmu.” Mantap sekali. Ini membuatku bergairah. Maksudku bergairah bersemangat untuk memilikinya. Gumamku takut terdengar yang lain. Tapi bintang yang berada di atas telah membuat semuanya berbeda. Sungguh aku menikmati kelembutannya.

***
01:55 AM

            Di sinilah kami akan melawan ketegangan, ketakutan, dan ketidakberdayaan melihat ke bawah. Ya.. di bawah adalah jurang yang cukup curam, seperti yang ia bicarakan tadi sebelum memulai perjalanan yang kedua ini. Aku agak kebingungan. Bagaimana aku harus melakukannya. Telapak tanganku masih bengkak. Apakah aku bisa?

“Jangan takut. Aku mengawasimu dari belakang.” Kembali ia tersenyum padaku.

            Aku hanya tersenyum datar setelah ia mencoba menenangkanku. Namun, tetap saja aku khawatir dengan situasi ini. Suara-suara lirih dan mengerikan terdengar oleh telingaku. Ah.. menakutkan sekali. Malam mencekam dan membuat semuanya seperti film horor. Benar. Seperti ada yang mendesis ditelingaku. Aku mengabaikannya. Aku mencoba untuk menahan dan tidak akan terjadi apa-apa.

            Sekarang adalah giliranku melewati jembatan pohon yang penuh dengan tumbuhan yang mengekor di dahannya itu. Pencahayaan yang kuikat di dahiku membuat semuanya tersamar. Aku mengira batrenya akan habis. Setengah perjalanan aku mendapati jembatan itu. Namun, bagaimana ini? Lampuku mati. Tamat riwayatku. Hah!!

“Aku mohon! Tolong selamatkan aku!” Teriakkanku membuat penghuni hutan itu berseberangan dengan kami. Aku merasakan hawa yang mendesis berjalan.

            Seseorang telah memberikan cahaya kearahku yang hampir merangkak terjatuh. Park Seo Jun kembali membuatku gugup tidak karuan. Ia datang kepadaku dan berada tepat di belakangku. Ia memakai tali untuk menjadi pegangan agar tidak terjatuh dalam jurang yang cukup curam itu. Aku menangis ketakutan. Ia masih menenangkanku, bahwa semua akan baik-baik saja. Aku ada di sini. Ia menatap mataku dalam. Ranting dan dahan yang rapuh membuatku semakin takut dan cepat-cepat menyelesaikan misi ini. Ya… Aku yang terakhir dengannya. Tuhan selamatkan aku dari tempat ini. Batinku selalu merengek.

“Kau berbalik arahlah. Kau pegang tali ini.” Ia memberikan tali untukku. Aku menerimanya.

“Tapi…”

“Percayalah tidak akan terjadi apa-apa.” Kulihat matanya penuh dengan cahaya.

“Baiklah.. Kau harus tetap di belakangku dan berjalan bersama.” Tegasku tidak terbantah. Ia  malah tersenyum padaku. Itu sangat membuatku gugup lagi.

            Setelah mencapai final dari penyebrangan jembatan pohon itu. Aku segera tergeletak dan tak sadarkan diri. Aku ingat. Ia begitu terdengar khawatir dengan nada bicara yang sangat panic itu membuatku ingin membuka mataku perlahan. Tapi aku tidak bisa membuka mataku. Aku syok dan beberapa organ tubuhku kaku. Salah satunya adalah kedua kakiku. Wajah yang pucat pasi membuatku semakin mengeluarkan rasa dingin dalam diri. Kucium aroma herbal atau selebihnya minyak telon mungkin seperti itu. Terasa seperti obat oles itu. Panas bagian hidungku. Melemah sudah semua bagian tubuhku. Mataku terbuka perlahan menjadi lebar. Kulihat ia sangat khawatir dan tiba-tiba ia memelukku. Entah apa yang membuatnya semakin liar seperti ini. Aku merasa aku kekasihnya yang segera akan mati meninggalkannya. Aku merasakan erat pelukan hangatnya membuatku semakin menatap tidak percaya, bahwa ia akan memperlakukanku spesial seperti ini. Sunggu batinku berteriak, bahwa aku menyukaimu Seojun. Semoga batinmu pun mendengarku.

“Syukurlah kau sudah siuman Jiwon.” Pelukkan eratnya menambah.

“Uhuk.. Uhukk.. Aku tidak bisa bernapas Seojun. Tolong lepaskan aku.” Benar-benar sesak dadaku waktu itu. Karena ia erat sekali memelukku. Dia terlihat begitu khawatir padaku.

“Bagaimana kau bisa seperti ini!” Nadanya meninggi. Membuatku takut.

            Aku hanya diam melihat tatap matanya yang begitu terlihat khawatir. Ia memberikan air mineral padaku. Sesekali ia bertanya padaku. Apakah aku baik-baik saja. Ia terus bertanya seperti itu. Aku hanya mengangguk-angguk saja. Agar ia tidak menghawatirkanku lagi. Aku mencoba berdiri, ia menahanku. Sulit bagiku untuk mengatakannya. Namun, aku memang bodoh. Aku hanya perempuan yang buta terhadap sekitar.

“Manja sekali kau!” Teriak salah seorang teman perempuan yang tidak menyukaiku.

“Ya! Park Seojun. Kau selalu khawatir padanya. Apakah dia kekasihmu!” Tambah salah seorang teman lelakinya yang membuat kami terkejut saling menatap.

“Akankah aku jujur pada kalian?” Jawabnya santai dengan memegangi tanganku. Iya.. tanganku yang masih terlihat feminim. Tidak yang bengkak.

            Ku terkejut tidak karuan. Jantungku kembali tidak beraturan. Bagaimana ini. Aku selalu terjebak dalam situasi yang terus menegangkan seperti ini. Lebih parah menghadapi yang namanya perasaan daripada menyebrangi jembatan pohon tadi. Tidak, tidak. Aku tidak meremehkan jembatan pohon tadi. Ini memang luar biasa.

            Mereka yang mendengar jawaban yang diberikan oleh ketua komunitasnya merasa terdiam tanpa ada yang mau berdebat dengannya lagi. Sudah cukup. Ini seharusnya terselesaikan. Aku memegangi tangan Seojun untuk membantuku berdiri. Ia tetap menahanku.

“Tidak.. Kau harus beristirahat.” Pegangnya kembali erat.

“Ini sudah hampir subuh. Kita harus ke puncak agar bisa menikmati terbitnya matahari.” Aku meyakinkannya dengan tatapanku kepadanya.

“Baiklah… Akan kubantu berdiri.”

            Sekarang ku sudah berdiri. Ia berada di sampingku. Masih memegang kedua pundakku. Ia masih menjagaku, melindungiku. Mungkin ia masih khawatir, bila aku terjatuh lagi dan tergeletak seperti tadi. Mereka masih mencibirku dengan kata-kata yang terdengar samar olehku, sedikit menyakitkan. Aku tidak menghiraukan mereka. Tapi yang pasti Seojun masih dipihakku. Kami berjalan kembali.

***
Pukul 03:05 Am

“Semuanya… Kita sudah sampai. Mari kita ucapkan syukur pada TUHAN KITA.” Tersenyum lebar. Hingga kedua matanya yang sipit itu tidak terlihat lagi.

            Akhirnya kami tiba di puncak. Ini sangat menyejukkan. Goresan rumput liar membuatku ingin segera menyapanya. Hembusan angin membius tubuh lunglaiku. Kicauan terdengar oleh telingaku dari jangkauan yang agak dekat dengan area puncak pendakian di Gunung Gangnam ini. Dingin menyeruak bebas kemanapun. Sunyi masih melintas. Hening tidak lagi. Kami berteriak kegirangan. Bersyukur masih diberikan kesempatan untuk melihat surga-surga kecil-Nya. Kuharap ini adalah pendakianku yang terakhir. Aku tidak bisa meneruskannya lagi. Aku harus pergi.

“Jiwon!” Panggilnya menghampiriku.

“Hemm..” Aku menatapnya sayu.

“Haruskah aku mengatakan sesuatu padamu?”

“Maksudmu. Mengapa kau bertanya? Terus teranglah.” Pandangku luas.

“Bagaimana kalau aku tidak bisa menahannya?” Terlihat gugup.

“Kau! Bicaralah yang benar.” Tambahku nadaku mengeras. Hampir kesal.

“Bagaimana kau membentakku seperti itu. Kulihat kau tadi merengek.”

‘Apakah dia baru saja meledekku?’
“Bu..bukan seperti itu Seojun. Hanya saja aku….”

“Aku menyukaimu.”

“Ehh….!!!” Mataku melotot tidak percaya.

            Ia menatapku tidak berkedip. Aku sangat malu dan aku harus berbuat apa. Kenapa aku tidak menyukai moment ini. Seharusnya aku senang melihatnya mengungkapkan perasaannya padaku.

“Ya.. Aku menyukaimu, Lee Jiwon.”

“Ahahaha… Ini hanya lelucon saja. Agar aku bisa tertawa, kan?” Kugaruk-garuk kepalaku. Hampir seperti kera.

“Tidak. Aku tidak bisa membohongi perasaanku. Semuanya aku lakukan, karena aku begitu menyukaimu.” Tatapannya dalam lagi. Membuatku berkaca-kaca.

“Hehe.. Hei! Park Seo Jun. Aku benar-benar tidak mengerti. Tapi aku sangat berterimakasih padamu.” Aku tersenyum datar saat melihatnya. Kurasa ia kecewa saat aku berterimakasih dengan menunjuk sapu tangan berwarna putih yang terikat di telapak tanganku.

            Ia terdiam. Entah apa yang aku lakukan. Ia terdiam. Dan diam. Kemudian ia meninggalkanku. Aku merasa sakit sekali. Kenapa aku berkata seperti itu terhadapnya. Bukankah aku juga menyukainya. Dasar! Kau melewatkan kesempatan emasmu Jiwon! Aku harus menghampirinya. Tapi aku telah mengecewakannya. Bagaimana aku harus menampakkan wajahku dihadapannya.

***
Pukul 05:02 Am

            Sunrise menampakkan kilauan keemasaannya di atas permukaan air laut. Ia tersenyum cerah dengan diiringi awan putih menggumpal manis melapisi langit-langit yang biru itu. Kicauan burung meneriakki telingaku. Hembusan angin yang semerbak wangi membuatku tidak usah menyemprotkan farfum ke baju lagi. Namun, dingin yang membekukan kakiku terasa sangat lemah. Hanya membasuh muka saja dengan air mineral yang ia berikan padaku saat tergeletak di jembatan pohon dini tadi.

Kulihat bunga keabadian membuatku ingin membghampirinya. Dengan warnanya yang putih dan harum wanginya. Melambangkan cinta, ketulusan, serta keabadian. Ia tinggal dikesejukan dataran tinggi. Para pendaki akrab dengannya. Dari pendaki yang hanya ingin menikmati wangi dan mengambil fotonya hingga pendaki bodoh yang mencabut akarnya demi nafsunya. Edelweiss pun kini semakin langka. Namun di tempat-tempat tinggi ini, sang bunga abadi masih terus berdiam cantik hingga waktu dimana kita masih bisa terus menjaganya. Aku bercerita tentang itu pada sang surya, yang telah bersinar sejak lima menit yang lalu. Aku sedikit bermeditasi untuk mereflekkan badanku. Dengan diguyur habis-habisan oleh angin yang mendengkur sempurna ditubuhku. Aku merasakannya.

Panas menyeruak dihadapanku. Inilah yang disebut dengan kita dekat dengan Tuhan. Di saat kita bermeditasi di alam terbuka seperti Gunung Gangnam ini. Semakin tinggi, semakin dekat dengan Tuhannya. Aku memejamkan mata dengan sedikit-sedikit mengedipkan, karena terkena sinar matahari membuat mataku sakit dan efek radiasi. Ini membuatku tak tahan. Namun, tiba-tiba saat aku ingin pindah dari tempat itu, merasakan bahwa kini aku sudah terlindungi dengan entah apa yang berada didepanku. Aku sedikit membuka mataku. Saat aku melihat samar wajahnya. Aku kaget bukan kepalang. Dia Park Seo Jun.

“Ah!! Mengagetkan sekali!” Denyut nadiku tidak beraturan.

            Ia hanya tersenyum. Aku heran. Mengernyitkan dahiku. Ada apa dengannya? Ia masih menatapku dalam-dalam. Akankah ia lapar. Lalu kemudian aku menjadi lauknya sementara? Ah! Apa yang aku pikirkan.

“Sedang apa kau!” Gugupku terlihat olehnya.

“Kenapa? Kau terlihat sangat gugup.” Gelitikknya.

“Ah.. Park Seo Jun. Kenapa kau selalu membuatku sangat gugup dan panik. Aku tahu, aku juga mempunyai perasaan itu. Tapi, aku benar-benar tidak bisa mengatakannya.” Menunduk malu.

“Kau bicaralah aku akan mendengarnya. Di sini waktu kita tidak banyak lagi. Tiga puluh menit lagi kita semua harus turun. Melakukan pendakian selanjutnya. Jadi kuharap kau dapat mengatakan sebenarnya dan membuat semuanya menjadi moment yang dapat dilupakan.”

‘Apaan sih maksudnya.. Gak jelas banget.’
“Heh.. Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu?”

Ia memegangi tanganku. Hangat.
Ia menatapku penuh dengan keseriusan.
Aku melihat ada ribuan cahaya di matanya.
Sangat indah…
Apakah ini Miracle In December

“Aku sangat ingin melakukannya. Kenapa aku tidak bisa melihat apapun kecuali bibir merahmu?”

‘Sumpah! Aku benar-benar bingung untuk saat ini. Aku terjebak. Apa yang harus aku lakukan. Akankah aku mengiyakannya. Jika ia benar akan menciumku. Lalu aku harus membuka mataku atau memejamkannya?’

            Gugupku tidak karuan lagi. Aku menghela napas panjang. Selalu itu yang aku lakukan, jika sudah mendekap dalam kegugupan yang seperti ini. Park Seo Jun! Jangan membuatku semakin jatuh hati padamu. Ini sangat menyebalkan untukku. Kau sangat sempurna. Aku hanya perempuan biasa yang hanya bisa merengek dan merengek. Aku tak tahu bagaimana cara berterimakasih karena cintamu itu. Itu sulit sekali aku katakana. Aku takut kau menyesal nanti.

“Lee Jiwon!”

            Kembali ia memanggil namaku lirih. Sehingga apa yang kubayangkan tadi hilang begitu saja. Kudapati mata yang berbinar itu sangat tulus. Namun, tetap saja aku takut kau kecewa denganku. Park Seo Jun! Bantu aku membalas perasaanmu.

“Tapi setelah ini aku akan pergi.”

“Maksudmu?”

“Iya.. Aku akan pergi ke Tokyo.”

“Tokyo? Untuk apa ?”

“Orang tuaku ingin aku belajar di sana.”

            Wajah yang semula memancarkan cahaya yang begitu indah. Kini berubah menjadi mendung. Kulihat samar wajahnya begitu sedikit kecewa. Angin alih-alih membawa segala kabar tak sedap untuk hari ini. Kurasa aku benar tidak bisa membendung perasaan ini.

“Park Seo Jun. Aku tidak bisa menyembunyikannya. Benar! Aku juga menyukaimu. Tapi….”

“Tidak. Kau tetap pergi. Dan aku menunggu kau kembali.”

“Maksudmu?”

            Aku heran memaknai kata-perkata darinya. Saat kulihat tatapan matanya. Aku merasakan bahwa ia berbicara lewat matanya yang agak sipit menggemaskan saat tersenyum. Ia mendekat perlahan. Ia kembali memegangi tanganku yang tanpa luka. Kulihat matanya melirik arah bibirku. Aku semakin gugup dan panik. Bagaimana ini.. Bagaimana ini.. Ia semakin dekat, hidungnya telah bersentuhan dengan hidung pendekku dan, dan, dan………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….. AH….  AKU TERBANGUN DARI TEMPAT TIDURKU. DASAR! DASAR! DASAR!

“Ah.. aku gagal dicium oleh Aktor Korea Park Seo Jun.”
Aku mengumpat sia-sia.
Tidak akan kembali mimpimu itu @wandagain. Kau harus subuh! Sisi terang menasehati.
Kau menyiakan-nyiakan kesempatan emas. Balas sisi gelap mengumpat.
Kau bahkan tidak tahu. Kau sudah menjadi kekasihnya atau belum. Tambah sisi gelap lagi.
“Ah… Bagaimana ini. PARK SEO JUN…..!!!”
Aku berteriak dalam batinku yang paling dangkal.

            Hanya karena Drama Korea “Fight For My Way” tadi malam yang kutayangkan dalam laptopku hingga jam tengah malam hampir dini hari, karena itulah rutinitasku saat malam minggu melihat drama korea terbaru yang dibintangi olehnya, oleh PARK SEO JUN OPPA #WKWK GAMPAR YANG LAIN. Aku sampai terbawa mimpi mendaki Gunung Gangnam bersamanya. Hampir masuk jurang yang cukup curam dan terselamatkan olehnya. Sebotol kecil minyak telon menyadarkanku. Bagaiman dengan tanganku yang bengkak! Iya.. Aku tergigit semut merah saat tertidur. Kini jariku yang baru saja ia (calon imam) beri cincin terasa gatal dan sedikit bengkak, karena mimpi di luar nalar membuatku mengumpat tidak karuan. Maafkan aku ya Tuhan. Aku harus subuh!!!

Cerpen murni dari mimpi. Kusegeratancapkan dalam pena hitam di atas kertas putih. Mengagumkan. Ciumku paling dalam untuk seseorang yang paling kusayang. Tenang. Aku tidak akan berhianat. Aku sekedar melampiaskan saja. Karena kau tidak menemani. Dodik Pratama :)

07:59-10:34 Am
8/20/2017
@wandagain

Tidak ada komentar:

Posting Komentar