Minggu, 20 Agustus 2017

PART 4 -Terimakasih Karena Sudah Membalas-



 -Descendant Of The Sun-
Dua minggu telah beranjak menghampiri keluarga Jiwon. Hari yang cerah mengantarkan mereka untuk berlibur ke Busan. Dengan menggunakan mobil pamannya. Jiwon duduk di sebelah Oppanya yang telah mengendarai mobilnya itu. Terakhir berlibur bersama, sejak perusahaan Ayah Jiwon masih tetap berjaya dan ini adalah liburan dengan awal kebangkrutan perusahaan Ayahnya. Bukan bangkrut, melainkan telah disabotase dan dipindah tangankan. Jiwon tidak ingin mengingat-ingat kejadian tersebut. Ia hanya mendengarkan lagu yang disukainya dan menikmati setiap perjalanan yang memanjakan setiap kedua matanya itu.

~Rindu nenek dan segera ingin memeluk nenek. Terakhir bertemu nenek beberapa bulan lalu. Nenek memasak makanan enak untuk cucu cantiknya yaitu aku. Masakan nenek memang tidak kalah dengan rumah makan yang terkenal di Seoul. Jadi aku selalu merindukan nenek dan masakkan khas yang menggoda itu.

Beberapa menit kemudian moodnya telah berubah dalam sekejap menjadi gelisah. Ia memikirkan Song Joong Ki. Bibirnya keluh dan semakin menghawatirkannya dengan sangat. Bahkan mungkin ia tak sempat mengingatnya. Pikirnya, untuk apa terus-terus memikirkan Song Joong Ki. Padahal aku bukan siapa-siapa untuk dirinya.

…… “Hei!!” Dengan tangan menyibak lengan Jiwon.

Jiwon kaget. Diam.
“Haish…” Menatap Oppanya tajam.

Lee Yong Jae hanya tertawa jail.

….. “Hei.. Kalian selalu bertengkar.” Tegurnya dengan lembut.
…….. “Kau Yongjae, kemudikan mobilnya dengan benar.”

“Ne..Ne.. Omma..” Dengan menundukkan kepala masih dengan fokus menyetir.

Diam sejenak…..

“Kau memikirkan Song Joong Ki?”

Jiwon tersedak dengan mata melongo. Oppanya pun melihat tingkah aneh Jiwon itu.

“Kau tak mendengar Oppamu?” Tanyanya kembali menggelitik telinga Jiwon.

“Aniy (tidak) Oppa.”
“Fokuskan saja kau menyetir dengan benar.” Merasa kesal.

“Ya! Kau benar-benar sedang jatuh cinta rupanya.” Tersenyum menyeringai sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Jiwon hanya berlalu tanpa mengucapkan atau menjawab pertanyaan dari Oppanya itu.

***
BUSAN
Beberapa jam kemudian, sampailah mereka di tempat kenangan yang mengharukan kala itu, sebelum berpindah tempat di Seoul. Masih sama dan masih terasa segar udara sore di tempat ini. Ingin sekali ku bergumam lembut di hadapan pantai di belakang rumah nenek. Tidak ingin masuk kedalam rumah dulu. Aku sangat ingin menikmati udara segar di background yang menyejukkan ini. Andai bersamanya membuatku semakin tenang menikmatinya disini.

…..“Jiwon…..” Teriak suara yang menggelegar namun terdengar keropos.

Aku berbalik arah…
“Oh Nenek.” Berlari kearahnya.

“Aigooo.. Kau sudah tumbuh dewasa dan cantik sekali.” Ia memelukku erat.

Beranjak dari pelukkan.
“Jiwon sungguh merindukan Nenek..” Memeluknya kembali dan sedikit manja.

“Aigoo… Cucuku satu ini memang imut sekali..” Membelai rambutku.

Beranjak dari pelukan.
Tersenyum…
kemudian mencium Nenek.

          Mereka yang melihat kejadian itu sangat iri sekali. Dan Oppa Jiwon, Youngjae nampak sedikit cemburu dan ingin memalingkan perhatian Nenek terhadap Jiwon.

“Ah.. Nek. Badanku sangat capek dan ingin sekali Nenek pijat.” Pasang wajah manja.

“Aigoo.. Cucuku yang tampan satu ini tidak kalah imutnya dengan cucuku yang satu ini.” Melihat Jiwon.

“Dasar Oppa genit.” Menatap Yongjae tajam.

“Aigooo.. Kalian memang tidak pernah berubah selalu saja bertengkar.”

“Ehmm Nenek. Jangan pedulikan Yongjae. Dia Oppa yang tidak bisa menjaga adiknya.” Pekiknya melotot.

“Uuuukhh… Kau memang benar-benar aktris terbaik Jiwon..Aigooo..Hmmm.” Mengacak-ngacak rambut Jiwon. Kemudian masuk kedalam.

Mereka yang melihat hanya tertawa.

Jiwon merajuk. Dan merasa tidak ada yang membelanya.

“Baiklah cucuku. Mari kita masuk ke dalam. Bukankah kau merindukan masakan Nenekmu ini.” Senyumnya hangat saat menatapku.

“Baik Nek.” Berjalan dengan merangkul Nenek.

***

GANGNAM
          Song Joong Ki sangat mencemaskan keadaan Jiwon. Yang beberapa hari tidak memberi kabar untuknya. Namun, Pesan Lee Yong Jae (Oppa Jiwon) masih diingat olehnya. Bahwa hari ini, Yong Jae ingin sekali bertemu dengan Song Joongki di perbatasan Busan. Pikir Joongki adalah Yongjae ingin mempertemukan Jiwon dengannya. Bergegaslah Song Joong Ki mengemudikan mobilnya. Namun, pikirannya sedikit samar. Dalam perjalannya ia segera mengecek ponselnya kembali. ~Jangan lupa. Kau harus membawa beberapa pakaian.~ Tidak mungkin Song Joong Ki kembali kerumahnya, hanya untuk mengambil beberapa pakaian saja. Pada akhirnya ia menemukan toko pakaian untuk segera membeli beberapa pakaian. Tak disangka, bahwa yang menjaga toko tersebut adalah Yuri teman Jiwon. Sontak Yuri menanyakan sesuatu kepada Song Joong Ki.

“Soenbae. Kau berada di sini?” Kegirangan.
“Bagaimana bisa…” Masih tidak percaya.

“Ah.. Ye. Aku mencari pakaian yang nyaman untukku pakai.” Sambil melihat-lihat.

“Pakaian yang nyaman, ya?” Diperjelas kembali. Seolah Yuri tak mendengar perkataan Song Joong Ki.

“Iya.. Ada atau tidak. Antarkan aku, aku ingin memilihnya.” Terlihat gugup.

‘Mengapa soenbae terlihat gugup sekali.’
“Ah.. Ye soenbae. Mari kuantar..” Terlihat Song Joong Ki mengikuti Yuri.

Beberapa menit kemudian Song Joong Ki memilih-milih pakaian kaos pendek yang akan ia kenakan untuk menemui Lee Yong Jae atau Oppanya Jiwon itu. Beberapa ia mengambil. Namun ia sangat menyukai kaos berlengan pendek berwarna hitam. Pikirnya kaos itu tidak membawa kematian, namun kebahagiaan suatu saat.

Song Joong Ki pergi ke kasir.

“lima puluh ribu won, Tuan.”

“Ah.. Ye..” Memberikan kredit cardnya.

          Selesai membelinya Song Joong Ki bergegas pergi. Namun saat itu Yuri berada di depan halaman toko. Kemudian Yuri menyapanya kembali. Karena melihat Song Joong Ki gugup seperti itu. Menambah penasaran untuk Yuri menanyainya.

“Soenbae..?”

“Oh.. Yuri. Aku harus pergi. Lain kali saja, ya?”

          Tidak sepatah kata pun terucap dari bibir Yuri. Namun sudah terselak oleh perkataan Song Joong Ki yang sudah menyudahi basa-basinya. Sebelum masuk ke mobilnya. Song Joong Ki melihat sesuatu.

Song Joong Ki kembali berdiri di depan toko pakain itu.

“Soenbae.. Kau tidak jadi pergi?” Kegirangan.

“Aku ingin membeli topi warna hitam itu.” Masuk kedalam.

‘Kenapa bisa sedingin itu dia padaku. Apakah ini karena Jiwon?’
‘Bagaimana ia bisa mengacuhkanku seperti itu. Kau kira kau siapa? Seenaknya saja. Hanya melewatiku.’
‘Mengapa hatiku sangat sakit sekali..’

          Beberapa menit kemudian Song Joong Ki kembali pergi dan hanya berpapasan dengan Yuri. Tanpa menyapanya kembali.

“Sebenarnya kau ini kenapa sih soenbae? Mengapa kau tidak melihatku sebagai temanmu?”

***

GENG WARIOR

          Seperti biasa mereka berkumpul dan masih membahas tentang bagaimana agar obat penenang ini bisa mereka sembunyikan tanpa ada polisi yang mencurigai.

          Namun beberapa menit kemudian sang pemimpin kembali datang dan ingin sekali mengajak anggota pergi libur ke Busan. Karena sudah agak lama mereka hanya berlalu-lalang mencari obat dari beberapa geng lokal dan tidak ada pemandangan yang mengenakan. Hanya percampuran darah yang bercucuran saja yang selalu mereka lihat.

“Semuanya.. Berkumpul..” Teriaknya membangunkan beberapa anggota yang masih tertidur.

“Hah.. Kau ini kenapa sih Hyuk. Hanya mengganggu saja. Ini masih pagi dan kau tak perlu membangunkan yang lain.” Jawabnya kesal, karena merasa dirinya terganggu.

“Ah.. Sudahlah Yongguk. Beritahu semuanya. Aku membawa berita bagus. Cepat.” Perintah tegasnya tak dibalas oleh Yongguk (tangan kanan Hyuk).

          Semuanya berkumpul tanpa ada yang tertinggal. Walau sedikit sipit masih terasa kantuk menyelimuti. Mereka tetap berdiri tegap dengan mendengarkan kata demi kata dari sang pemimpinnya itu.

          Tiga puluh menit sudah Hyuk menjelaskan. Kemana kita akan pergi berlibur dan beberapa anggota ada yang senang ada pula yang tidak senang. Karena takut polisi masih mengincar dan berpatroli karena kejadian dua minggu yang lalu.

          Hyuk memberikan arahan bagaimana agar polisi tidak mencurigai mereka. Otak licik memang selalu menguasai dirinya. Tidak kalah dengan Yong jae penghianat yang berwajah polos itu. Hyuk memang nampak lebih licik lagi. Dan berharap semoga apa yang ia rencanakan sesuai dengan apa yang ia harapkan (tidak ketahuan dengan polisi).

“Baiklah.. Semuanya. Siapkanlah diri kalian masing-masing. Kita akan berangkat 1 jam lagi.” Pergi.

“Haishh… Bagaimana jika kita tertangkap?” Seseorang tidak percaya diri.

“Iya.. Bagaimana ini..” Tambah anggota lain.

“Hah… Rasanya aku tidak bisa bernapas lega.” Tambah beberapa anggota lagi.

“Hah sudahlah.. Tenang saja. Kita serahkan saja kepada Hyung. Karena dialah yang akan bertanggung jawab atas semua ini.” Mata sinis mengarah Hyuk yang sedang menuju keluar.

***

BUSAN 15:00

“Oppa.. Kau jadi beli Kimchinya?” Mendekati Lee Yong Jae.

“Huem..” Hanya mengangguk.

“Kenapa Oppa tidak bersemangat?” Tanyaku serius kepada Oppa.

“Bukan begitu. Aku hanya teringat sesuatu.”

“Maksud Oppa? Cerita saja padaku. Aku pendengar yang sangat BAIK loh..” Tersenyum meringis.

“Kau bersiaplah. Lalu mencari kimchinya.” Hanya berlalu.

“Haish.. Kau menyebalkan sekali.” Masuk untuk bersiap-siap.

Kemudian Lee Yong Jae mengirimkan pesan pada seseorang.


***
PERJALANAN  SONG JOONG KI MENUJU KE PANTAI BUSAN

Dreett..Dreett..Dreett..
Song Joong Ki segera membuka pesan tersebut.

~Kau sudah ada dimana? Aku dan Jiwon akan segera mendarat ke seberang Pantai Busan. Kau segeralah berada di sana. Karena nanti akan ada festival firework yang spekta di area Pantai Busan.~

Song Joong Ki yang membaca pesan yang dikirimkan oleh Lee Yong Jae tersebut pun tersenyum kegirangan. Bahwa ternyata dugaannya selama perjalanan benar bahwa Lee Yong Jae menginginkan bertemu dengannya adalah untuk mempertemukan Lee Jiwon dengannya. Sungguh hati Song Joong Ki pun tidak sabar untuk hal yang membahagiakan tersebut.

***
BUSAN RUMAH NENEK

Dreet.. Dreett..Dreett..
Lee Yongjae segera membuka isi pesan tersebut.

~Baiklah Hyung. Aku akan segera mendarat ke sana dan akan membelikan sesuatu untuk Jiwon terlebih dahulu. Gomawo Hyung.. (Terimakasih kakak laki-laki).~

Lee Yong Jae yang melihat isi pesan Song Joong Ki pun hanya tersenyum menyeringai.

‘Ya! Lee Jiwon.. Oppamu ini tak akan membiarkan kau kesepian selama berada di busan. Oppa akan mengajakmu pergi kemanapun. Karena bentuk penyesalan Oppa yang telah meninggalkanmu selama itu. Oppa minta maaf. Oppa Jae menyayangimu..’

***
GANGNAM
RUMAH YURI

       Yuri masih memikirkan, akan pergi kemana Song Joong Ki sunbaenya. Terlihat sangat gugup dan panik seperti itu. Apa yang membuatnya sangat gugup seperti itu.

“Ah.. Kau benar Yuri. Sekarang adalah perayaan ulang tahun Kota Busan. Pasti Lee Jiwon berada dirumah neneknya. Dan Joong Ki sunbae menemuinya! Lalu apa hubungannya dengan ulang tahun Kota Busan dan Joong Ki soenbae yang membeli kaos lengan pendek sebanyak itu dengan terburu-buru. Hah! Aku harus mencari tahu..” Kebingungan, lalu pergi.

***
KEDAI KOPI

          Beberapa menit kemudian Yuri memberitahu Coara dan Ken agar berkumpul dan membahas tentang kejadian yang dialami oleh Yuri tadi.

“Kau tahu Coara? Tadi pagi aku bertemu dengan Song Joong Ki soenbae di tempat kerjaku.” Cerita antusiasnya.

“Lalu? ia menyapamu?” Balas Coara kepadanya.

“Bagaimana ia menyapaku. Ia tidak melihatku walau aku ada di depannya.” Tiba-tiba raut wajah kesal.

“Mungkin memang Song Joong Ki soenbae tidak mengenalimu, waktu itu Yuri.” Reda Coara.

“Bagaimana ia tak mengenaliku. Aku menyapanya berulang kali. Ia hanya sok jual mahal kepadaku.” Panas hati menyeruak.

Ken yang hanya melipatkan tangan dan dibenami wajahnya pun tiba-tiba tergegas menegakkan kepalanya. Karena mendengar ocehan Yuri yang tidak penting dan lagi pula Ken masih marah dengan Song Joong Ki. Atas kejadian dua minggu yang lalu.

“Bukan dia yang sok jual mahal. Kau yang terlalu terobsesi dengannya. Kau tidak malu. Kau selalu ditolak olehnya. Mengapa kau tetap saja seperti ini. Kau lebih baik cari pria lain. Masih banyak pria di luar sana yang menyukaimu.” Jelas Ken dengan suara lantang tampak emosi.

Yuri melotot.

Coara pun kaget.

“Heeh!.. Jadi kau menyalahkan temanmu ini?” Berontak Yuri kepada Ken.

Ken hanya terdiam dan kembali membenami wajahnya dengan kedua lengannya.

“Ya! Ken. Kau dengar aku!” Teriakknya.

“Ah.. Sudahlah Yuri kau kendalikan dirimu. Jangan berteriak.” Menenangkan Yuri.

“Kau tahu Coara? Aku yakin Song Joong Ki soenbae menemui Lee Jiwon diperayaan ulang tahun Kota Busan.” Kembali mengoceh.

Ken pun kaget. Spontan membuka matanya.

“Lalu apa hubungannya? Dengan ulang tahun Kota Busan dan Song Joong Ki yang terburu-buru. Memang benar Jiwon sekarang berada di Busan dirumah neneknya.”

Ken kembali menegakkan kepalanya.

“Dan dia tak memberitahuku? Aku rasa ini benar Coara. Song Joong Ki menemui Jiwon di Busan.” Tetap curiga.

“Yuri.. Kau ini kenapa! Tenangkan dirimu. Aku akan menanyakan hal itu kepada Jiwon.”

Yuri terdiam.

Ken beranjak.

“Kau ingin pergi kemana Ken?” Tanya Coara penasaran.

“Ada beberapa urusan mendadak. Jadi aku harus pergi dulu.” Pergi.

“Kau hati-hati..” Pesan lembutnya kepada Ken.

Ken hanya mengangguk.

          Mereka bertiga tidak sadar bahwa topik pembicaraannya terdengar oleh Sarang. Sarang pun kembali dan mengikuti Jae Hwan atau Ken. Ia pikir Ken akan menemui Jiwon dan Song Joong Ki di Busan. Padahal Ken belum mengetahuinya.

“Takkan kubiarkan kau (Jiwon) dalam genggaman Song Joong Ki!” Teriaknya mengejutkan Sarang.

***

SEBERANG PANTAI BUSAN 17:00

~Hyung aku sudah berada di seberang Pantai Busan. Kau sudah menuju ke sini?~ Mengirimkan pesan untuk Yong Jae.

          Berharap semua akan baik-baik saja dan sesuai rencana.

“Semoga Jiwon menyukai bunga dan gaun ini.” Tersenyum bahagia.

***

BUSAN RUMAH NENEK

~Aku hampir sampai. 15 menit lagi.~ Balasnya pada Song Joong Ki.

“Oppa kau sedang menyetir. Jangan bermain ponsel seperti itu.”

“Aku hanya membalas pesan dari So..” Tergagap sudah.

Jiwon memekikkan dahinya. Jiwon rasa Oppanya aneh.

“Dari seseorang maksudku Jiwon.” Jawabnya santai.

“Biarkan aku saja yang membalasnya.. Oppa tinggal bicara aku yang akan memencet dan mengirimnya. Apa susahnya. Kau mempunyai adik yang baik sepertiku.”

“Auh.. Kau selalu memuji-muji dirimu sendiri..” Menyubit kecil pipi Jiwon tanda sayang Yong Jae kepadanya.

“Aku bukan seperti anak kecil lagi Oppa.. Jadi lepaskan.” Menyingkirkan tangan Oppa dari pipinya.

Diam sejenak..

“Tapi Oppa.. Kenapa membeli kimchinya harus di seberang Pantai Busan. Apakah di dekat rumah nenek tidak ada?”

“Bukan tidak ada. Tapi hanya lumayan enak. Kalau di seberang Pantai Busan. Di jamin sangat enak.”

“Tapi kenapa Oppa tiba-tiba tahu ada kimchi yang enak di sana?”

“E.. Ya, Karena.. Karena Oppa dulu sering membelinya.”

Jiwon merasa ada yang Oppanya sembunyikan.

“Oh..” Mengangguk.


-FLASHBACK-

“Hahaha… Hahaha… Hahaha…” Tertawa bahagia setelah makan kimchi kesukaan mereka bertiga.

          Hyuk, Yongguk dan Yongjae tertawa bersama saat itu. Persahabatan yang tidak pernah lekang oleh waktu. Dunia di nomor duakan oleh mereka bertiga. Karena yang lebih penting dari apapun adalah persahabatan mereka. Tidak ada obat penenang waktu itu. Hanya karena Han Sang Hyuk-lah persahabatan mereka bercerai berai. Mereka bersaing hanya karena obat penenang. Yongjae kini menghianati mereka. Karena itu adalah keputusan yang baik di dalam hidupnya. Yongjae hanya ingin ia kembali pada keluarganya dan bahagia bersama. Tapi, Hyuk dan Yongguk berusaha ingin menlenyapkan Yongjae dengan kedua tangan mereka sendiri. Dan pada akhirnya kini mereka berdua sangat tidak suka dengan Yongjae. Prinsip mereka sekarang adalah di mana ada Yongjae di situlah Yongjae akan mati. Namun, disisi lain ada Hyuk yang masih berpihak kebenaran. Yang paling tidak menyukai Yongjae di sini adalah Yongguk. Entah karena kecemburuannya kepada Hyuk. Karena Yongjae lebih dekat dengan Hyuk waktu itu. Atau entah karena apa.

          Mereka dahulu sering menghabiskan masa liburannya di seberang Pantai Busan ini dengan menikmati menu makanan khas kimchi super di daerah tersebut. Berenang bersama, Spa bersama, Liburan bersama dan seperti sudah keluarga. Kalau sekarang mungkin “Triple Song” Namun tidak kembar mereka bertiga. Mereka selalu mengerjakan bersama-sama hingga Yongjae jika mengingatnya selalu ingin meneteskan bening airmatanya.

          Cerita itu yang membuatnya agak canggung tadi. Dan hampir meneteskan airmatanya.

-END FLASHBACK-

“Oppa.. Kau kenapa?” Tanyaku khawatir.
“Ada sesuatu yang kau pikirkan?” Tetap khawatir.

Yong Jae hanya berdiam.

“Oppa..Oppa..”
“Yasudahlah..” Pasrahnya.

***

          Sesampainya di seberang Pantai Busan. Angin sejuk menghempas tegas di seluruh tubuh Jiwon. Jiwon merasakan ada kenikmatan di sini. Ia bersyukur masih bisa menyapa-Nya di sini.

“Oppa.. ?”

Mata Yongjae menjawab.

“Gomawo. Kau sudah mengajakku kemari. Aku menyukainya..” Tersenyum lalu memeluk Oppanya.

“Ini tidak seberapa. Coba kau lihat di sana. Siapa yang datang menemuimu?”

Jiwon beranjak dari pelukan Oppanya. Dan melihat mata Oppanya. Mata Yongjae pun memberi isyarat agar Jiwon melihat kearah belakangnya.

Jiwon menoleh kebelakang.

          Ia sangat tidak percaya ada Song Joong Ki soenbae disana. Tersentak sudah mereka bertatapan. Kemudian Song Joong Ki soenbae mendekatinya. Dan Yongjae meninggalkan mereka. Yongjae berjalan menuju arah dimana mereka (bertiga) sering menghabiskan waktu bersama dahulu.

“Jiwon-si…” Panggilnya pelan dengan mendekati Jiwon.

Jiwon masih terdiam dan tidak percaya.

“Kau merindukanku?” Candanya tidak membuyarkan tatapan kaget Jiwon.

Jiwon masih saja terdiam dan kini meneteskan airmata.

“Kenapa Jiwon-si, kau menangis?” Tanyanya penuh khawatir.

“Kenapa soenbae. Kau tidak memberiku kabar sama sekali. Kau tahu, aku sangat khawatir kepadamu. Dan kau tiba-tiba mengejutkanku seperti ini malam-malam. Apa sebenarnya rencana kalian berdua (Song Joong Ki dan Lee Yong Jae Oppa).”
“Kenapa melakukan ini kepadaku?” Menangis tertunduk.

Segeralah Song Joong Ki memeluk Lee Ji Won. Song Joong Ki tidak membalas apa yang dipertanyakan oleh Lee Jiwon. Namun inilah yang sangat tepat untuk membuat Lee Ji Won merasa tenang sementara.

Diam sejenak…

“Mianhae (Maafkan aku) Lee Ji Won. Aku memang sengaja tidak menghubungimu. Aku merasa gugup ketika hyung mengirimkan pesan kepadaku. Bahwa kau akan menemuiku saat ini juga. Tapi kita menjadi salah paham seperti ini. Jeongmal mianhae (Sungguh maafkan aku) Lee Ji Won.” Peluknya erat.

Jiwon merasakan hangat saat itu. ia tidak membalas apa yang dikatakan oleh Song Joong Ki. Ia merasa tenang saat dipelukkannya waktu itu.

“Jiwon-si.. Aku ingin bertanya kepadamu?”

Jiwon bergegas dari pelukan Song Joong Ki.

“Hei.. Kau jangan terus menangis.” Mengusap airmata di kedua pipi Jiwon.

Jiwon memandang Song Joong Ki penuh arti.

“Entah bagaimana aku bisa gila tanpamu.” Mengalihkan pandangannya.

Song Joong Ki terdiam tidak paham apa yang dimaksud oleh Jiwon.

“Aku menyukaimu, dan terus menyukaimu soenbae. Aku selalu merindukanmu, dan sangat, sangat, sangat, sangat,sangat merindukanmu. Aku selalu menghawatirkanmu setiap detik. Aku selalu memikirkanmu layaknya perempuan yang lainnya. Aku setiap hari jatuh cinta kepadamu, walaupun aku tidak bertemu denganmu pada hari itu. Aku menyimpan namamu dalam lubuk hatiku yang terdalam. Tapi aku sadar kau tidak menyukaiku soenbae. Hehe..” Mencoba tegar namun terlihat Jiwon meneteskan airmata kembali.

Song Joong Ki memaknai setiap kata yang terucap lewat bibir manis Lee Ji Won. Perlahan Song Joong Ki menatap dalam mata Jiwon. Dan mencoba mendengarnya kembali setiap ocehan kecilnya sangat penting bagi dirinya Song Joong Ki.

“Soenbae.. Aku ingin menanyakan sesuatu lagi kepadamu. Kau harus menjawabnya sekarang. Aku tidak ingin menunggu lagi.”

Song Joong Ki menatap Jiwon dalam-dalam.

“Ya! Soenbae kau jangan menatapku seperti itu.” Canggung tercampur malu.

Song Joong Ki tersenyum.

“Ku perjelas kembali. Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu. Kau harus menjawabnya sekarang. Aku tidak ingin menunggu lagi. Kau dengar itu soenbae.” Tertunduk tanpa melihat wajah atau mata Song Joong Ki.

Song Joong Ki menarik dagu Jiwon. Perintahnya agar mata mereka bertemu. Dan Song Joong Ki mengedipkan matanya tanda mengerti.

Jiwon pun semakin gugup dan kakinya terlihat bergetar.

“Soenbae.. Aku menyukaimu. Dan maukah kau menjadi ke…” Terpotong.

          Tiba-tiba ciuman hangat mendarat ke bibir Jiwon. Sontak Jiwon terlihat kaget syok. Dan kemudian perlahan ia memejamkan matanya. Song Joong Ki melakukannya dengan sangat pelan dan lembut. Hingga Lee Jiwon pun merasa nyaman dan menikmatinya. Kaki masih bergetar, namun kehangatan sudah mulai didapat kembali oleh Jiwon. Ia merasa ini adalah ciuman pertamanya dengan orang yang sangat ia sukai dan cintai. Dan biarkan Song Joong Ki yang melakukannya dan melatihnya.Uh bagaimana aku meneruskannya. Ini sangat labil dan ekstream sekali. Author jadi ingin melakukan dengan Song Joong Ki Oppa wkwkwk.

          Beberapa menit kemudian. Usai membuat semuanya menjadi romance. Kini mereka berdua melepaskan bibir keduanya yang menancap satu sama lain. Mereka berdua pun terlihat canggung. Tapi Song Joong Ki sebagai laki-laki ingin mengatakan sesuatu yang sebenarnya, yang mengusik kepalanya saat ini.

“E.. Lee Ji Won? Aku harus menanyakan ini kepadamu?”

Jiwon masih tidak menyangka dan tertunduk malu sekali.

“Lee Ji Won..” Kembali menarik dagu Jiwon.
“Tatap mataku?” Perintahnya.

Jiwon menatap pelan mata Song Joong Ki.

“Kau menyukaiku, kan ? Lalu.. Apakah kau menerimaku jika aku membalasmu (menyukaimu)?”

“M..Maksud soenbae?” Terasa kaku mendengarnya. Karena efek “Ciuman Hangat”. WKWKWK

“Iya.. Aku membalas rasa sukamu terhadapku. Dan sekarang aku yang lebih menyukaimu. Apakah kau menerimaku, menjadi kekasihmu?” Menatap dekat mata Jiwon dalam-dalam. Ih Gueh yang tegang tau wkwkwk. Kalian kan pasti sudah mengetahui bahwa Song Joong Ki kalau menatap kan bikin hati penonton deg-degan.

Jiwon kembali menatap mata Song Joong Ki penuh arti.

“Kau tidak menerimaku?” Candanya dengan tersenyum manis.

“Bagaimana aku bisa menolak pria sebaik dirimu. Aku akan kembali gila jika tanpamu. Aku menerimamu soenbae.” Tersenyum dan meneteskan airmata.

“Benarkah, kau menerimaku? Lalu mengapa kau menangis?” Mengusap airmata Jiwon.

Jiwon spontan memeluk Song Joong Ki tanpa merasa malu atau ragu.

Song Joong Ki tersenyum dan membalas pelukkan Jiwon.
“Sarangheyo (aku mencintaimu) Lee Ji Won..” Memeluk erat dan mencium kening Jiwon.

“Nado (aku juga mencintaimu) soenbae..” Tersenyum bahagia.

“Hemm.. Kau menggemaskan sekali Jiwon-si..” Tambah genitnya.

Jiwon hanya tersenyum tidak percaya bahwa Song Joong Ki telah membalas perasaannya. Kini Jiwon merasa lega karena pada akhirnya peran utama akan mendapatkan pasangan yang baik. ‘Sarangheyo Song Joong Ki Oppa’.

          Beberapa menit kemudian. Mereka melepaskan pelukan masing-masing dan segera mencari tempat agar Song Joong Ki dapat memberikan sebuah hadiah yang spesial kepada Jiwon malam ini.

          Perasaan yang menyelubungi hati mereka kini membuat mereka sangat bahagia. Song Joong Ki selalu memperhatikan gerak-gerik Lee Ji Won, yang sedikit terlihat malu. Itu membuat Song Joong Ki hanya tersenyum lucu. Lee Ji Won menurut Song Joong Ki sangat cantik pada malam itu. Entah apa yang dilakukan oleh Lee Ji Won, sampai-sampai ia ingin menghindar lagi karena merasa canggung kepada Song Joong Ki, atas insiden (uhuy) tadi. Itu yang pertama kalinya ia melakukan. Bahkan Lee Jiwon hanya diam dan sangat menikmati. Seharusnya aku juga harus melakukannya. Pikirnya waktu itu.

Diam sejenak…

“Oppa kemana?” Lirikku kesana kemari. Dan mencoba mencairkan suasana. Agar tidak terlalu tegang.

“Ia mengirimkan pesan padaku. Bahwa ia di kedai kimchi seberang jalan.”

“Mengapa ia tidak menghubungiku. Kenapa soenbae! Sebenarnya yang menjadi adik Lee Yong Jae itu aku atau Song Joong Ki-si!” Kesal.

“Hehe.. Kau mulai kesal lagi.”

Jiwon hanya diam.

“Jiwon-si. Aku ingin memberikan ini untukmu.” Memberikan buket bunga yang indah.

“Jiwonn-si lagi? Dan aku tidak menerimanya.” Tambah kesal.

“Lalu aku harus panggil dirimu dengan sebutan apa? Kau ini kan sangat pemarah. Jadi aku ingin memanggilmu dengan rasa hormatku padamu.” Godanya ia pada Jiwon.

“Pemarah!” Melotot ke Song Joong Ki.

“Hei.. Lee Ji Won. Aku ingin memanggilmu Jiwon-si, karena aku menyukai Jiwon-si yang pemarah dan selalu khawatir kepada Song Joong Ki. Mulai sekarang itu panggilan sayangku padamu.” Tersenyum dekat wajah Jiwon.

Jiwon pun kembali berdebar, klepek-klepek dengan mata yang berbinar mempesona seperti itu. Bagaimana ia mempunyai laser mata yang tajam dengan penuh memikat itu. Bagaimana ia melakukannya dengan wanita lain. Pikirnya saat ia ditatap oleh Song Joong Ki.

“Kau.. Jangan lakukan ini (tatapan) pada perempuan lain.” Tegasnya malu.

“Maksudmu?” Mengkerutkan dahinya.

“Tatapanmu itu..” Tidak menatap Song Joong Ki.

Song Joong Ki tersenyum menyeringai melihat Lee Jiwon yang terlihat malu.
“Lalu kenapa kau tidak menatap mataku…” Bisiknya lirih.

“Ya! Song Joong Ki-si..” Menoleh dan……

          Kembali bibir mereka bertemu. Tertempel sedikit dan Song Joong Ki yang berada dalam situasi itu hanya tersenyum menyeringai. Lee Jiwon terlihat kebingungan. Matanya menandakan “Aku harus bagaimana”. Ia merasa ingin menyudahi saja. Malu sekali dengan tatapan yang dipancarkan oleh Song Joong Ki terhadapnya.

‘Bagaimana ini. Haruskah terjadi lagi.’ Matanya lirik sana sini.
‘Apakah aku harus melakukannya juga?’ Tanya pada diriku sendiri.

          Saat aku ingin melakukannya. Hampir terjangkau oleh bibir Song Joong Ki tiba-tiba aku mendengar segerombolan kaki yang berlarian menuju arah kami. Kami kaget dan segera menyudahi kejadian diantara kita.

“Braaaak…..” Seseorang jatuh tepat dihadapan Jiwon.

Jiwon segera menolongnya.
“Kau tidak apa-apa?” Tangannya (seseorang yang jatuh) hampir tergapai oleh Jiwon.

          Namun laki-laki tersebut segera berdiri dan cepat pergi tanpa menghiraukan Lee Ji Won. Seseorang itu hanya melihat sekilas wajah Jiwon dan cepat melarikan diri.

“Ayooo cepaaatt Hyuk-ki!” Teriak seseorang yang masih terjangkau dengan mereka berdua (Jiwon dan Joongki).

‘Hyuk-ki’ kataku penasaran.

“Jiwon-si kau tidak apa-apa?” Khawatirnya terhadapku.

“Ah.. Tidak. Aku tidak apa-apa soenbae.” Tiba-tiba tubuhnya lemas.

“Ya.. Lee Ji Won. Kau harus duduk di sini dulu. Aku akan mencarikan minuman untukmu.” Menyandarkan Jiwon dekat dengan pohon yang pencahayaannya penuh dengan keindahan.

Jiwon hanya mengangguk tanda mengerti.

***

SEBERANG JALAN
KEDAI KIMCHI

          Lee Yong Jae masih menghawatirkan dirinya sendiri dengan ditemani kimchi favoritnya bersama dua temannya tersebut, Hyuk dan Yongguk. Ia takut sekali jika mereka berada disini, karena hari ini adalah sabtu malam. Dan biasanya mereka menghabiskan malam petangnya disini dengan minum alkohol yang memabukkan mereka keesokkan harinya tanpa tersadar seketika.

Kliiing..Kliiing..Kliingg..
Panggilan masuk.
Lee Yong Jae kaget dan membuyarkan lamunannya dan segera mengangkat.

^Yoeboseyo (Hallo)..^

^Hei… Kunyuk. Kau ada dimana? Kau tidak mengangkat telponku dari tadi.^ Teriak kerasnya dari seberang telpon.

^Ya.. Myungsoo. Aku sedang berlibur di Busan sekarang. Kau jangan mengangguku.^ Mematikan ponselny5a.

Beberapa detik kemudian…
Kliiing…Kliiing..Kliing..
Kembali Myungsoo menelpon.

^Apa lagi!^ Jawabnya kesal.

^Ya hyung.. Kau bersama Lee Ji Won!^

          Lee Yong Jae pun kaget. Mengapa tiba-tiba ia memanggilnya dengan sebutan hyung (kakak laki-laki) padahal mereka seumuran dan mereka saling bertengkar. Pikirnya adalah ini hanyalah rayuan belaka. Padahal Kim Myung Soo melakukannya dengan terpaksa agar Lee Yongjae tidak kesal dengannya dan memberitahukan bahwa Lee Ji Won bersamanya.

^Wae (Kenapa) kalau aku dengan Lee Ji Won.^

^Kau seharusnya mengajakku hyung.. Haish kau memang jahat.^ Gerutunya.

^Kalau kau ingin menemui Lee Ji Won adikku. Cepat datang kesini. sebentar lagi perayaan ulang tahun Kota Busan dengan festival firework di seberang Pantai Busan. Kau harus mengatakannya, jangan sampai Song Joong Ki yang mendahuluimu.^ Menutup telponnya.

“Haish.. Bikin kesal saja.” Gerutunya dengan memasukkan ponsel ke dalam sakunya.

          Tak sadarkan bahwa Lee Yong Jae telah diawasi oleh beberapa kelompok dari Hyuk dan Yongguk (Geng Warior). Mereka yang tanpa Hyuk dan Yongguk, tetap waspada dan membawa senjata tajam. Entah bagaimana yang akan terjadi.

~Bos.. Aku melihat Yongjae berada di kedai kimchi. Kau cepat kemari. Mari kita bereskan semuanya.~ Seseorang dari kelompok Geng Warior mengirim pesan untuk leadernya.

~Kau jangan gegabah. Kau awasi dulu. Yang kita butuhkan hanyalah obat penenangnya bukan dia. Aku sudah tidak butuh dia lagi. Dia memang penghianat.~

~Baiklah hyung.. aku akan mengikutinya. Lalu kau sekarag berada dimana hyung?~

~Kau tak perlu tahu. Dan jangan menghawatirkan aku dengan Yongguk. Kami baik-baik saja.~

~Baiklah hyung.~

‘Akan kau pastikan kau mati sekarang Lee Yong Jae.’ Mata tajam terfokus kea rah Lee Yong Jae.

***

SEBERANG PANTAI BUSAN

       Lee Jiwon masih mengingat siapa Hyuk yang dimaksudkan tadi. Apakah teman Oppa Lee Yong Jae? Dan wajahnya tidak asing bagi Lee Jiwon. Tiba-tiba Song Joong Ki membuyarkan lamunan penasarannya itu.

“Lee Jiwon. Kau minum ini.”

Jiwon menerima dan meminum sebotol air putih.

“Kau benar tidak apa-apa?”

Jiwon melihat Song Joong Ki dalam.

“Kenapa menatapku?”

“Aku… Aku sangat mencintaimu Song Joong Ki soenbae.” Rayunya mengalihkan bahasan.

“Haish.. Kau baru saja nyaris pingsan. Tapi kau sekarang malah bercanda.”

“Soenbae.. Aku ingin ke kedai kimchi.” Tiba-tiba..

Song Joong Ki menatap Lee Jiwon heran.
“Baiklah. Ayo..” Pergi dengan menggandeng tangan Jiwon.


***
KEDAI KIMCHI 20:00

          Lee Yongjae menghabiskan sebotol minuman berakohol. Dan sedikit pusing. Namun saat Lee Jiwon mengetahuinya. Ia langsung khawatir dengan Oppanya itu dan sedikit memarahinya.

“Ya.. Oppa! Apa yang kau lakukan?”

“Hehehe… Kau Lee Jiwon adikku?” Sedikit sadar.

“Eh.. Soenbae.. Tolong bawa pergi Oppa dari sini.”

Song Joong Ki mengangguk lalu membawa Lee Yongjae pergi dari tempat kedai kimchi tersebut.

          Namun mereka tidak sadar bahwa Geng Warior telah mengikuti mereka bertiga.

***

          Setelah beberapa menit berjalan dan menemukan tempat yang nyaman untuk Lee Yongjae beristirahat, akhirnya sedikit demi sedikit Lee Yong Jae pun kembali tersadar.

“Aku tidak apa-apa. Kau jangan seperti ini.” Berbicara pada Song Joong Ki.

“Ah.. Tidak hyung. Aku harus melakukannya.”

“Kau juga Jiwon. Kau tidak usah terlalu khawatir dengan Oppamu ini.”

“Bagaimana aku tidak khawatir denganmu. Aku tidak ingin kau menghilang lagi.” Memeluk Lee Yong Jae.

“Haish.. Kau selalu berlebihan pada Oppamu.” Membalas pelukan Jiwon.

          Song Joong Ki yang berada disitu, melihat kejadian itu pun tersenyum penuh haru.

“Ah.. Baiklah hyung aku akan membeli minuman untukmu.” Melihat Lee Yong Jae.
“Aku akan segera kembali Lee Jiwon.” Menatap dalam pada Jiwon.

Jiwon menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
“Kau hati-hati soenbae.” Balasnya menatap dalam.

Balas Song Joong Ki tersenyum. Lalu pergi untuk mencari minuman.

tiga menit kemudian..
“Hei.. Sudah jangan melihat dia seperti itu. Dia takkan pergi kemana-mana. Ia hanya membeli air mineral saja.” Goda Oppanya menggelitik.

Jiwon kaget dan segera melihat Oppanya.
“Aku hanya tidak ingin ia pergi Oppa. Ia sangat baik padaku.”

“Tentu. Dia pria sejati, seperti Oppamu ini.” Memuji dirinya sendiri.

“Haish…” Jiwon geli melihatnya.
“Tapi mengapa kau melakukan itu (mabuk) lagi Oppa. Bagaimana kalau terjadi apa-apa denganmu. Kau tidak memikirkan keluargamu, ya!” Teriaknya tegas.

“Hei.. Oppa hanya melampiaskannya.”

“Maksud Oppa?” Tanyanya penasaran.

“Ah..Sudahlah. Kau jangan banyak bicara. Aku khawatir suaramu tidak keluar lagi besok.”

“Ya! Oppa!” Kesalnya.

Lee Yongjae tertawa jahil.

“Lalu.. Mengenai pernyataan tadi, kenapa Oppa belum menemukan pasangan Oppa. Kalau Oppa adalah pria sejati.” Ledeknya geli.

“Hei.. Bukan tentang pasangan atau mendapatkan pasangan Jiwon. Tapi pria sejati itu selalu berpihak kepada kebaikkan dan kebenaran.”

Tiba-tiba…
“Benarkah kau pria sejati dan selalu berpihak kepada kebaikkan dan kebenaran Lee Yong Jae!” Sontak tiba-tiba dari beberapa kelompok yang mengenakan pakaian hitam-hitam.

Jiwon dan Lee Yong Jae kaget. Lalu berdiri.

“Jiwon kau menyingkirlah.” Meminta Jiwon untuk segera pergi dari kejadian itu.

“Tapi Oppa.. Aku takkan meninggalkanmu..” Sangat ketakutan dan khawatir.

“Wohooo.. Adik dan kakak sangat romantis sekali.” Balas sinis anggota Geng Warior.

“Kalian semua siapa! Dan mengapa kalian ingin menyerang kami. Ha!” Teriak amarah Jiwon.

“Kau santai saja anak manis…” Mencoba memegang pipi Jiwon dan tiba-tiba tangan yang hampir menjangkau pipi Jiwon pun tertangkis oleh Oppanya.

“Kalian jangan coba-coba menyentuh adikku. Kau boleh mengambil apa yang kau mau di dalam tasku. Tapi jangan pernah menyentuh adikku.”

“Oppa.. Sebenarnya apa yang mereka inginkan?” Tanyanya pelan.

“Kau diamlah.. Jangan berbicara. Biar Oppa yang menyelesaikannya. Kau cepat pergi saja dari sini. Cari Song Joong Ki dan cepat pergi kerumah nenek.” Bisiknya pelan tanpa terdengar oleh beberapa kelompok Geng Warior.

“Ya! Apa yang kalian bicarakan!” Teriak salah satu anggota.

          Lee Jiwon menatap beberapa anggota Geng warior. Terlihat salah satu dari mereka ada yang tidak asing bagi Jiwon. Dia hanya diam, seperti ragu untuk melihatku. Aku seperti mengenalnya tapi di mana? Jiwon mengingat-ingat lagi. Namun Lee Yongjae sedang kesal dengannya. Pikir Lee Yongjae, mengapa Jiwon masih tetap disini dan tidak cepat menuruti apa perintahnya.

“Jiwon.. Apa yang kau lakukan! Cepat kau pergi!” Teriak Lee Yongjae mengagetkan Jiwon.

Jiwon segera pergi dengan keadaan lari kebingungan.

Jiwon ragu untuk meninggalkan Oppanya sendirian disana. Pada akhirnya Jiwon berhasil bertemu dengan Song Joong Ki di perpapasan jalan.

“Soenbae..” Teriakku dengan berlari mendekati Song Joong Ki.

“Kenapa.. Kenapa kau berlari seperti ini. Lalu hyung dimana?”

Jiwon terlihat syok.

“Jiwon.. Kau tenanglah. Minum dulu.” Memberikan minumannya.

“Oppa.. Oppa dalam bahaya.” Ketakutan dengan menunjuk kearah pantai.

“Baiklah ayo kita kesana.”
“Tapi kau bisa berjalan sendiri, kan?”

Jiwon mengangguk. Masih dalam ketakutan.

Kemudian Song Joong Ki dan Lee Jiwon pun berlari menuju tempat dimana kejadian Geng Warior dengan Lee Yong Jae berlangsung.

***

“Kau mau apa! Bukankah urusan kalian sudah selesai denganku!” Tegasnya.

“Kau bilang sudah selesai! Lalu kau melupakan taruhan yang kemarin!”

“Aku bilang akan mengurusnya dengan Hyuk. Kau sebagai anggotanya tak usah ikut campur urusan kami.” Tegasnya kembali.

Jiwon mendengar semua itu dan benar Oppanya menyebut nama Hyuk. Berarti orang yang tepat jatuh dihadapan Jiwon tadi, itu benar Hyuk teman Oppanya sewaktu SMA. Namun Jiwon tetap memastikannya.

Song Joong Ki mendekati Gang Warior.

“Kau ini siapa! Jangan sok jadi pahlawan.” Makinya pada Song Joong Ki dengan mendorong.

“Polisi segera datang kemari. Jadi kalian harus meninggalkan tempat ini secepatnya.”

“Apa maksudmu!” Kembali menelan amarah.

Wiuw..wiuw..wiuw…

Sirine alarm pun terdengar. Kelompok Geng Warior pun kaget dan bergegas pergi.

“Hei! Kau Lee Yongjae. Awas kau nanti akan mati! Urusan kita belum selesai!” Anggota lain menambahi dan segera cepat pergi dari tempat itu.

“Oppa.. Kau tidak apa-apa?” Khawatir Jiwon kepada Oppanya.

“Aku tidak apa-apa Jiwon.” Memegangi tangan Jiwon.

          Song Joong Ki, Lee Yongjae dan Lee Jiwon melihat kearah dimana suara sirine itu terus berbunyi. Suaranya menuju kearah mereka bertiga.

“Bagaimana bisa ada polisi?” Tanya Lee Yongjae kepada Song Joong Ki.

“Entahlah.. Aku hanya menipu mereka tadi, tetapi mengapa ada polisi beneran.” Heran Song Joong Ki.

Tiba-tiba…

          Seorang wanita berwajah dewasa menghampiri mereka bertiga dengan menggunakan alat sirine asli seperti polisi. Menggunakan pakaian warna hitam dan sangat elegan di bawah cahaya warna kuning.

“Jadi kau yang melakukan semuanya?” Tanya Yongjae penasaran.

“Benar. Aku menyelamatkanmu, ya?” Percaya diri.

“Iya.. Kau menyelamatkanku. Jadi aku sangat berterimakasih padamu.” Memberikan tangannya kearah seorang wanita itu, untuk ia beri balasan (bersalaman).

“Tak usah berlebihan. Aku memang bekerja seperti ini di seberang Pantai Busan. Selebihnya aku adalah polisi yang berpatroli disini.”

“Oh.. Aku ingin mengajakmu minum segelas air soda manis. Tanda terimakasihku padamu. Kau mau?” Tanya Yongjae penuh harap.

“Baiklah..”

Yongjae melihat Jiwon dan Song Joong Ki.

“Lee Jiwon. Oppa akan segera kembali. Kau harus kerumah nenek sekarang bersama Song Joong Ki.” Memegang pundak Jiwon.

“Tapi Oppa.. Kau mau kemana?” Tanyanya penasaran.

“Oppa akan baik-baik saja.” Melepaskan pegangan dipundak Jiwon.
“Kau Song Joong Ki. Jaga Jiwon. Antarkan dia sampai kerumah nenek.”
“Aku percaya padamu..”

“Baik hyung..” Menganggukkan kepala.

Lee Yongjae pun pergi bersama wanita berwajah dewasa itu.

***

GENG WARIOR

“Haish! Bagaimana bisa gagal! Salah satu anggota GW terlihat kesal.

“Kau bersabarlah. Mungkin ini belum saatnya.” Salah satu anggota terlihat menasehati anggota lainnya yang terlihat kesal.

“Ya! Kunyuk. Kau hanya anak baru disini. Jadi jangan mencoba menasehati kami. Kau tahu apa! Di dunia gangster tidak ada yang namanya kesabaran. Adanya muak berkepanjangan. Kau dengar itu.” Makinya dengan menunjuk kearah anggota yang baru saja menasehati.

Anggota yang dimaki hanya diam.

Beberapa anggota lain pun kesal dengan apa yang telah dikatakan oleh personil GW yang baru.

***

PERJALANAN MENUJU RUMAH NENEK

       Jiwon masih memikirkan kejadian yang sudah terjadi tadi menimpa Oppanya. Ini tidak pertama kalinya, ia melihatnya. Ini sudah kedua kalinya. Ia terus menghawatirkan Oppanya. Ketakutan telah menyelubunginya. Berharap semua akan baik-baik saja.

          Song Joong Ki yang melihat Lee Jiwon yang begitu gelisah. Segeralah ia memutar lagu favorit Lee Jiwon “You Are My Everything” yang berada di tempat jok mobilnya. Lee Jiwon mungkin mendengarnya. Pikir Song Joong Ki. Namun mengapa Lee Jiwon masih gelisah seperti itu. Song Joong Ki pun menenangkannya dengan memegang tangan kiri Jiwon. Jiwon pun kaget.

“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Song Joong Ki pelan.

“Oppa..” Jawab lirihnya.

“Semua akan baik-baik saja Jiwon-si.”

“Untuk sekarang. Tapi nanti?”

“Tidak akan terjadi apa-apa. Aku tahu hyung mampu melawan mereka.”
“Aku akan membantu hyung.”

Jiwon tiba-tiba menatap Song Joong Ki.

“Kenapa menatapku seperti itu.”

“Aku percaya padamu.”

“Kau tenanglah. Semua akan baik-baik saja Jiwon-si.”

Jiwon yang mendengar kata-kata Song Joong Ki merasa tenang. Song Joong Ki yang mengemudikan mobilnya dengan pelan. Berusaha membuat Lee Jiwon agar tidak memikirkan hal-hal yang di gelisahinya.

***
PANTAI BUSAN 22:00

“Bagaimana kau melakukannya. Ini adalah pekerjaan pria.” Tanya Yongjae kepada perempuan yang menyelamatkannya.

“Ceritanya sangat panjang. Aku melakukannya karena ada alasan yang sangat dalam.”

Mereka berdua duduk di bawah pohon kelapa yang banyak pencahayaan yang sangat natural. Lee Yongjae sampai sekarang tidak mengerti, bagaimana ada wanita cantik seperti dia bekerja sebagai patrol. Dan itu seharusnya dilakukan oleh seorang laki-laki seperti diriku. Pikirnya waktu itu.

“Sebentar. Aku akan membeli sesuatu yang bisa kita makan.” Pergi.
~
“Yongjae.. Kau tidak mengenaliku?” Lirihnya kearah lautan. Dengan memegangi gelang berwarna merah.


***
BUSAN RUMAH NENEK

“Yongjae mengajak Jiwon kemana? Mengapa mereka belum pulang? Padahal sudah hampir dini. Gerutu neneknya.

“Oma.. kau harus beristirahat. Sudah malam.” Tenangkan Ibu Jiwon.

“Cucuku Yongjae dan Jiwon mengapa mereka belum pulang Yowon.” Khawatirnya.

“Mereka sudah besar untuk dikhawatirkan Oma. Mereka akan segera pulang. Jadi Oma harus segera beristirahat. Lalu tidur. Sudah malam Oma.” Paksanya pelan.

“Ah.. Ne, ne, ne. Kau memang selalu begitu. Terlalu memanjakan mereka.”

Ibu Jiwon hanya diam dan mengantarkan Omanya masuk ke kamar. Agar segera beristirahat dan tidak lagi menghawatirkan kedua cucunya itu.

***

          Ibu Jiwon kemudian menghampiri suaminya di kamar dan menyuruhnya menelpon Jiwon dan Yongjae untuk pulang. Ibu Jiwon merasa khawatir. Karena sudah tengah malam. Dan hampir dini hari. Memang Ibu Jiwon mengetahui bahwa hari ini adalah ulang tahun Kota Busan dan aka nada festival fireworks juga. Tapi tidak baik untuk perempuan keluar malam. Nenek mereka terlalu khawatir kepada mereka. Walau bersama Yongjae tetap saja Lee Jiwon adalah anak perempuan yang baru saja menginjak usia 20 tahun. Nenek yang sering gampang sakit-sakitan, takut terjadi apa-apa dengan cucu-cucu mereka. Jika mendengar cucu-cucunya terluka. Maka neneknya pun sangat khawatir melebihi kedua orang tua Jiwon dan Yongjae sendiri. Karena hanya mempunyai anak tunggal dan cucu hanya dua orang. Apapun nenek akan lakukan, asal yang terbaik untuk kedua cucunya tersebut.

Ayah Jiwon terlihat terlelap.

“Sayang. Bagaimana Jiwon dan Yongjae belum pulang?” Khawatirnya mendekati suami tercintanya.

“Yongjae yang mengajaknya melihat festival fireworks, Bu. Jadi biarkanlah.”

“Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Yongjae dan Jiwon. Kau tidak mengingat Yongjae dua minggu yang lalu.” Berusaha membuat suaminya sadar akan hal itu.

Ayah Jiwon kaget.

“E.. Baiklah aku akan menelpon Yongjae.”

***
PANTAI BUSAN

Kliiing..Kliiing..Kliing..
Telpon masuk
Yongjae segera mengangkat.

^Ah.. Ne Yoeboeyeso Appa (hallo ayah).^ Dengan berjalan menuju sandaran pantai.

^Kau sekarang berada dimana? Semua baik-baik saja?^ Terdengar khawatir.

^Oh..Ne (iya). Semua baik-baik saja Ayah.^

Yongjae pun sampai di sandaran pantai dan memberikan sebotol minuman bersoda manis kepada perempuan yang menyelamatkannya. Wanita itu segera menerimanya dan meminumnya.

^Lalu Jiwon?^

^Oh.. Ya aku lupa memberitahu Ayah dan Oma. Bahwa Jiwon sudah perjalanan pulang. Ia bersama laki-laki yang disukainya, Yah. Sudah dari tadi. Mungkin sebentar lagi akan sampai.^

^Maksudmu?^

^Yasudah, Yah. Aku bersama teman di seberang Pantai Busan. Aku pulang agak terlambat. Jadi Ayah dan Oma tak usah khawatirkan aku. Aku aman disini.^ Melihat perempuan yang berada di depannya itu dengan senyuman penuh arti.

^Baiklah.. Segera pulang. Nenek dan Ibumu sedang menghawatirkan kalian berdua (Yongjae dan Jiwon).^

^Baik Ayah.^ Menutup telpon.
~

“Ayahmu masih menghawatirkanmu?”

“Bukan begitu. Ceritanya panjang.” Balas Yongjae seperti kalimat awal yang dikatakan oleh wanita itu.

“Hei.. Kau balas dendam rupanya.”

“Tidak. Akan ada waktu dimana kita akan saling menukar cerita kita masing-masing di lain waktu.”

Perempuan itu hanya mengangguk.

“Lalu, siapa namamu?. Kita belum sempat berkenalan.” Sapa Yongjae halus.

‘Kau sudah mengenalku, Yongjae.’
“Nam Ji Hyun. Kau?”

“Ah.. Seperti nama teman perempuanku sewaktu SD. Aku Lee Yongjae.”

Nam Jihyun hanya tersenyum.
‘Kau seharusnya mengenalku. Aku memang temanmu Lee Yongjae. Dan gelang ini adalah pemberianmu. Untuk persahabatan kita.’

“Eh.. Hampir pukul dua belas malam. Aku harus pergi.”

“Kau tidak melihat festivalnya?”

“Ah.. tidak. Ini lebih penting.”

“Oh baiklah.. Aku juga ada jam malam. Dan senang bertemu denganmu.” Tersenyum dan berjabat tangan.

Lee Yongjae tersenyum dan membalas jabatan tangannya.

Nam Ji Hyun kemudian pergi. Tanpa Jihyun sadari gelang berwarna merahnya pun terlepas dari genggamannya dan berhasil ditemukan oleh Lee Yongjae. Lee Yongjae berusaha memanggil Nam Jihyun. Namun, Nam Jihyun sudah terlalu jauh. Akhirnya gelang karet itu segera diambil oleh Lee Yongjae untuk disimpannya. Dia berharap dia bertemu dengan Nam Jihyun kembali di tempat ini. Pikirnya waktu itu.

***
BUSAN, RUMAH NENEK 23:45

          Sesampainya dirumah Song Joong Ki yang melihat Lee Jiwon yang tertidur pulas. Tidak tega jika dirinya membangunkan Lee Jiwon. Pada akhirnya Song Joong Ki menggendong Jiwon sampai di depan pintu Halmonie House (Rumah Nenek).

“Paman.. Bibi..” Panggilnya halus tanpa terdengar nenek Jiwon.

          Ibu Jiwon yang mendengar itu segera membukakan pintu. Diikuti oleh suaminya dari belakang.

Membuka pintu..

“Bibi.. Harus aku bawa kemana Lee Jiwon?”

“Eh.. Mari kuantar..” Menunjukkan kamar Lee Jiwon.

Song Joong Ki mengikuti dari belakang. Dan Ayah Jiwon pun menutup pintu Halmonie House segera. Karena hawa sejuk selalu membuat dingin mertuanya itu.

***
KAMAR JIWON

       Song Joong Ki berusaha menemani Lee Jiwon. Namun Ibu Jiwon tidak enak dengan Song Joong Ki. Akhirnya Ibu Jiwon lah yang menemani tidur Lee Jiwon.

“Sebaiknya Nak Joongki istirahat saja di kamar tamu. Ini sudah malam.”

“Tapi Bibi.. Aku berterus terang, ingin menjaga Lee Jiwon.”

“Ah.. Tidak usah. Nak Joongki istirahat saja, ya?” Perintahnya halus namun tegas.

“Baiklah bibi.. Aku permisi dulu.” Menunduk (tanda hormat).

          Ibu Jiwon menyelimuti Jiwon yang terlihat gerak-geriknya kedinginan. Dan Ibu Jiwon pun menemani Jiwon dengan tidur disampingnya.

***
DI RUANG TAMU

          Song Joong Ki bertemu dengan Ayahnya Jiwon dan sedikit berbincang.

“Ya.. Song Joong Ki. Kau ingin beristirahat.” Tanya Ayah Jiwon yang melihat Song Joong Ki berjalan menuju kamar tamu.

“Eh.. Iya Paman.”

“Minumlah sebentar.” Mempersilahkan duduk.

“E..Tidak usah repot-repot paman.” Balasnya sopan.

“Tidak usah sungkan. Minumlah sebentar.” Perintahnya halus dan dituruti oleh Song Joong Ki.

Pada akhirnya Song Joong Ki menemani Ayah Jiwon dengan sedikit mengobrol dengan ditemani teh hangat buatan Ayah Jiwon.

***
Tok..Tok..Tok..

Ayah Jiwon dan Song Joong Ki sontak melihat kearah pintu. Dan ombrolan mereka yang seru pun terbuyarkan. Oleh kedatangan seseorang yang tanpa memanggil.

“Biarkan aku saja Paman.”

Song Joong Ki membukakan pintunya.

“Ya hyung.. Mengapa terlambat sekali. Paman dan Bibi menghawatirkanmu.”

“Kejadian yang baru saja terjadi, jangan beritahukan pada keluargaku, ya?”

Song Joong Ki mengangguk tanda mengerti.

Lee Yongjae pun segera duduk bersebelahan dengan Ayahnya. Dan kembali Song Joong Ki menutup pintu.

“Ayah.. Aku lelah sekali.”

“Baiklah-baiklah.. Aku tahu kau akan seperti ini. Agar Ayahmu ini tidak bisa marah denganmu.” Gerutunya membuat Lee Yongjae tertawa kecil, namun kegirangan.

Song Joong Ki yang melihat itu merasa sangat iri sekali. Karena tidak begitu mudah untuk bertemu dengan kedua orang tuanya yang selalu mementingkan bisnis di luar kota daripada anak tunggalnya itu. Tetap sabar song joong ki oppa.

“Ya! Song Joong Ki. Apa yang sedang kau pikirkan.”

Song Joong Ki membuyarkan lamunannya.

“Baiklah kau tidur di kamarku saja. Ayo..” Ajaknya tegas.

Song Joong Ki pun mengikuti Lee Yongjae. Dan sebelum pergi ia tunduk (hormat) pada Ayah Jiwon. Sangat sopan sekali. Walau terlahir dengan keadaan yang tidak pernah memberikan arahan sopan seperti itu.

***
KAMAR LEE YONGJAE

       Lee Yongjae membereskan kamarnya untuk diberikan kepada Song Joong Ki. Maksudnya agar Song Joong Ki menempati tempat tidur itu dan Lee Yongjae menempati tempat kursi panjangnya, yang lumayan menyamankan sekali untuk ia tiduri. Namun Song Joong Ki tidak enak dengan itu. Ia berusaha menyakinkan Lee Yongjae agar sebaiknya yang tidur di kursi panjangnya itu adalah Song Joong Ki bukan Yongjae. Karena ia merasa hanya tamu disana.

“Hyung sebaiknya kau tidur diatas kamarmu saja. Aku tak enak dengan ini semua.”

“Hei.. Kau selalu saja begitu.”

Song Joong Ki diam.

Lee Yongjae yang melihat itu paham.
“Baiklah-baiklah.. Aku memberikan kursi panjang ini padamu. Kau jangan merusaknya.” Candanya menuju tempat tidur yang baru saja dibereskan itu.

Song Joong Ki yang mendengar perkataan cerewetnya itu tertawa kecil.

“Apakah kau membalasnya (Menyukai Jiwon)?”

Song Joong Ki kaget saat akan terlelap.

“Oh.. Ne, aku membalasnya hyung.”

“Baguslah. Aku tak perlu menjaganya lagi. Kau tahu Jiwon sangat menyebalkan sekali. Padahal usianya menginjak dewasa. Namun, dia masih saja terlihat seperti anak kecil. Sangat pemarah dan manja sekali denganku. Hah.. bisa-bisanya aku mempunyai adik secrewet dia. Kau sebagai kekasihnya harus benar-benar menjaga adikku dan selalu bersabarlah Song Joong Ki.” Tersenyum nyengir.

          Dan lama tidak terespon oleh Song Joong Ki. Sedikit melirik dan Lee Yongjae merasa sangat kesal. Sudah banyak bicara tetapi Song Joong Ki malah mengabaikannya dengan tertidur.

“Hah.. Dasar kunyuk satu ini. Kau membiarkanku mengoceh dan kau tenang dalam tidurmu. Haish.. Kau kira aku radiomu!” Kesal kemudian tertidur.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar