-Descendant Of The Sun-
Dua
minggu telah beranjak menghampiri keluarga Jiwon. Hari yang cerah mengantarkan
mereka untuk berlibur ke Busan. Dengan menggunakan mobil pamannya. Jiwon duduk
di sebelah Oppanya yang telah mengendarai mobilnya itu. Terakhir berlibur
bersama, sejak perusahaan Ayah Jiwon masih tetap berjaya dan ini adalah liburan
dengan awal kebangkrutan perusahaan Ayahnya. Bukan bangkrut, melainkan telah disabotase
dan dipindah tangankan. Jiwon tidak ingin mengingat-ingat kejadian tersebut. Ia
hanya mendengarkan lagu yang disukainya dan menikmati setiap perjalanan yang
memanjakan setiap kedua matanya itu.
~Rindu
nenek dan segera ingin memeluk nenek. Terakhir bertemu nenek beberapa bulan
lalu. Nenek memasak makanan enak untuk cucu cantiknya yaitu aku. Masakan nenek
memang tidak kalah dengan rumah makan yang terkenal di Seoul. Jadi aku selalu
merindukan nenek dan masakkan khas yang menggoda itu.
Beberapa
menit kemudian moodnya telah berubah
dalam sekejap menjadi gelisah. Ia memikirkan Song Joong Ki. Bibirnya keluh dan
semakin menghawatirkannya dengan sangat. Bahkan mungkin ia tak sempat
mengingatnya. Pikirnya, untuk apa terus-terus memikirkan Song Joong Ki. Padahal
aku bukan siapa-siapa untuk dirinya.
…… “Hei!!” Dengan tangan menyibak
lengan Jiwon.
Jiwon kaget. Diam.
“Haish…” Menatap Oppanya tajam.
Lee Yong Jae hanya tertawa jail.
….. “Hei.. Kalian selalu
bertengkar.” Tegurnya dengan lembut.
…….. “Kau Yongjae, kemudikan
mobilnya dengan benar.”
“Ne..Ne.. Omma..” Dengan
menundukkan kepala masih dengan fokus menyetir.
Diam sejenak…..
“Kau memikirkan Song Joong Ki?”
Jiwon tersedak dengan mata
melongo. Oppanya pun melihat tingkah aneh Jiwon itu.
“Kau tak mendengar Oppamu?”
Tanyanya kembali menggelitik telinga Jiwon.
“Aniy (tidak) Oppa.”
“Fokuskan saja kau menyetir
dengan benar.” Merasa kesal.
“Ya! Kau benar-benar sedang jatuh
cinta rupanya.” Tersenyum menyeringai sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Jiwon hanya berlalu tanpa
mengucapkan atau menjawab pertanyaan dari Oppanya itu.
***
BUSAN
Beberapa
jam kemudian, sampailah mereka di tempat kenangan yang mengharukan kala itu,
sebelum berpindah tempat di Seoul. Masih sama dan masih terasa segar udara sore
di tempat ini. Ingin sekali ku bergumam lembut di hadapan pantai di belakang
rumah nenek. Tidak ingin masuk kedalam rumah dulu. Aku sangat ingin menikmati
udara segar di background yang
menyejukkan ini. Andai bersamanya membuatku semakin tenang menikmatinya disini.
…..“Jiwon…..” Teriak suara yang
menggelegar namun terdengar keropos.
Aku berbalik arah…
“Oh Nenek.” Berlari kearahnya.
“Aigooo.. Kau sudah tumbuh dewasa
dan cantik sekali.” Ia memelukku erat.
Beranjak dari pelukkan.
“Jiwon sungguh merindukan
Nenek..” Memeluknya kembali dan sedikit manja.
“Aigoo… Cucuku satu ini memang
imut sekali..” Membelai rambutku.
Beranjak dari pelukan.
Tersenyum…
kemudian mencium Nenek.
Mereka
yang melihat kejadian itu sangat iri sekali. Dan Oppa Jiwon, Youngjae nampak sedikit
cemburu dan ingin memalingkan perhatian Nenek terhadap Jiwon.
“Ah.. Nek. Badanku sangat capek
dan ingin sekali Nenek pijat.” Pasang wajah manja.
“Aigoo.. Cucuku yang tampan satu
ini tidak kalah imutnya dengan cucuku yang satu ini.” Melihat Jiwon.
“Dasar Oppa genit.” Menatap
Yongjae tajam.
“Aigooo.. Kalian memang tidak pernah
berubah selalu saja bertengkar.”
“Ehmm Nenek. Jangan pedulikan
Yongjae. Dia Oppa yang tidak bisa menjaga adiknya.” Pekiknya melotot.
“Uuuukhh… Kau memang benar-benar
aktris terbaik Jiwon..Aigooo..Hmmm.” Mengacak-ngacak rambut Jiwon. Kemudian
masuk kedalam.
Mereka yang melihat hanya
tertawa.
Jiwon merajuk. Dan merasa tidak
ada yang membelanya.
“Baiklah cucuku. Mari kita masuk
ke dalam. Bukankah kau merindukan masakan Nenekmu ini.” Senyumnya hangat saat
menatapku.
“Baik Nek.” Berjalan dengan
merangkul Nenek.
***
GANGNAM
Song
Joong Ki sangat mencemaskan keadaan Jiwon. Yang beberapa hari tidak memberi
kabar untuknya. Namun, Pesan Lee Yong Jae (Oppa Jiwon) masih diingat olehnya.
Bahwa hari ini, Yong Jae ingin sekali bertemu dengan Song Joongki di perbatasan
Busan. Pikir Joongki adalah Yongjae ingin mempertemukan Jiwon dengannya.
Bergegaslah Song Joong Ki mengemudikan mobilnya. Namun, pikirannya sedikit
samar. Dalam perjalannya ia segera mengecek ponselnya kembali. ~Jangan lupa. Kau harus membawa beberapa
pakaian.~ Tidak mungkin Song Joong Ki kembali kerumahnya, hanya untuk
mengambil beberapa pakaian saja. Pada akhirnya ia menemukan toko pakaian untuk
segera membeli beberapa pakaian. Tak disangka, bahwa yang menjaga toko tersebut
adalah Yuri teman Jiwon. Sontak Yuri menanyakan sesuatu kepada Song Joong Ki.
“Soenbae. Kau berada di sini?”
Kegirangan.
“Bagaimana bisa…” Masih tidak
percaya.
“Ah.. Ye. Aku mencari pakaian
yang nyaman untukku pakai.” Sambil melihat-lihat.
“Pakaian yang nyaman, ya?”
Diperjelas kembali. Seolah Yuri tak mendengar perkataan Song Joong Ki.
“Iya.. Ada atau tidak. Antarkan
aku, aku ingin memilihnya.” Terlihat gugup.
‘Mengapa soenbae terlihat gugup sekali.’
“Ah.. Ye soenbae. Mari kuantar..”
Terlihat Song Joong Ki mengikuti Yuri.
Beberapa
menit kemudian Song Joong Ki memilih-milih pakaian kaos pendek yang akan ia
kenakan untuk menemui Lee Yong Jae atau Oppanya Jiwon itu. Beberapa ia
mengambil. Namun ia sangat menyukai kaos berlengan pendek berwarna hitam.
Pikirnya kaos itu tidak membawa kematian, namun kebahagiaan suatu saat.
Song Joong Ki pergi ke kasir.
“lima puluh ribu won, Tuan.”
“Ah.. Ye..” Memberikan kredit cardnya.
Selesai
membelinya Song Joong Ki bergegas pergi. Namun saat itu Yuri berada di depan
halaman toko. Kemudian Yuri menyapanya kembali. Karena melihat Song Joong Ki
gugup seperti itu. Menambah penasaran untuk Yuri menanyainya.
“Soenbae..?”
“Oh.. Yuri. Aku harus pergi. Lain
kali saja, ya?”
Tidak
sepatah kata pun terucap dari bibir Yuri. Namun sudah terselak oleh perkataan
Song Joong Ki yang sudah menyudahi basa-basinya. Sebelum masuk ke mobilnya.
Song Joong Ki melihat sesuatu.
Song Joong Ki kembali berdiri di depan
toko pakain itu.
“Soenbae.. Kau tidak jadi pergi?”
Kegirangan.
“Aku ingin membeli topi warna
hitam itu.” Masuk kedalam.
‘Kenapa bisa sedingin itu dia padaku. Apakah ini
karena Jiwon?’
‘Bagaimana ia bisa mengacuhkanku seperti itu. Kau
kira kau siapa? Seenaknya saja. Hanya melewatiku.’
‘Mengapa hatiku sangat sakit sekali..’
Beberapa
menit kemudian Song Joong Ki kembali pergi dan hanya berpapasan dengan Yuri.
Tanpa menyapanya kembali.
“Sebenarnya kau ini kenapa sih soenbae? Mengapa kau tidak melihatku
sebagai temanmu?”
***
GENG WARIOR
Seperti
biasa mereka berkumpul dan masih membahas tentang bagaimana agar obat penenang
ini bisa mereka sembunyikan tanpa ada polisi yang mencurigai.
Namun
beberapa menit kemudian sang pemimpin kembali datang dan ingin sekali mengajak
anggota pergi libur ke Busan. Karena sudah agak lama mereka hanya berlalu-lalang
mencari obat dari beberapa geng lokal dan tidak ada pemandangan yang
mengenakan. Hanya percampuran darah yang bercucuran saja yang selalu mereka
lihat.
“Semuanya.. Berkumpul..”
Teriaknya membangunkan beberapa anggota yang masih tertidur.
“Hah.. Kau ini kenapa sih Hyuk. Hanya mengganggu saja. Ini
masih pagi dan kau tak perlu membangunkan yang lain.” Jawabnya kesal, karena
merasa dirinya terganggu.
“Ah.. Sudahlah Yongguk. Beritahu
semuanya. Aku membawa berita bagus. Cepat.” Perintah tegasnya tak dibalas oleh
Yongguk (tangan kanan Hyuk).
Semuanya
berkumpul tanpa ada yang tertinggal. Walau sedikit sipit masih terasa kantuk
menyelimuti. Mereka tetap berdiri tegap dengan mendengarkan kata demi kata dari
sang pemimpinnya itu.
Tiga
puluh menit sudah Hyuk menjelaskan. Kemana kita akan pergi berlibur dan
beberapa anggota ada yang senang ada pula yang tidak senang. Karena takut
polisi masih mengincar dan berpatroli karena kejadian dua minggu yang lalu.
Hyuk
memberikan arahan bagaimana agar polisi tidak mencurigai mereka. Otak licik
memang selalu menguasai dirinya. Tidak kalah dengan Yong jae penghianat yang
berwajah polos itu. Hyuk memang nampak lebih licik lagi. Dan berharap semoga
apa yang ia rencanakan sesuai dengan apa yang ia harapkan (tidak ketahuan
dengan polisi).
“Baiklah.. Semuanya. Siapkanlah
diri kalian masing-masing. Kita akan berangkat 1 jam lagi.” Pergi.
“Haishh… Bagaimana jika kita
tertangkap?” Seseorang tidak percaya diri.
“Iya.. Bagaimana ini..” Tambah
anggota lain.
“Hah… Rasanya aku tidak bisa
bernapas lega.” Tambah beberapa anggota lagi.
“Hah sudahlah.. Tenang saja. Kita
serahkan saja kepada Hyung. Karena dialah yang akan bertanggung jawab atas
semua ini.” Mata sinis mengarah Hyuk yang sedang menuju keluar.
***
BUSAN 15:00
“Oppa.. Kau jadi beli Kimchinya?”
Mendekati Lee Yong Jae.
“Huem..” Hanya mengangguk.
“Kenapa Oppa tidak bersemangat?”
Tanyaku serius kepada Oppa.
“Bukan begitu. Aku hanya teringat
sesuatu.”
“Maksud Oppa? Cerita saja padaku.
Aku pendengar yang sangat BAIK loh..”
Tersenyum meringis.
“Kau bersiaplah. Lalu mencari
kimchinya.” Hanya berlalu.
“Haish.. Kau menyebalkan sekali.”
Masuk untuk bersiap-siap.
Kemudian Lee Yong Jae mengirimkan
pesan pada seseorang.
***
PERJALANAN
SONG JOONG KI MENUJU KE PANTAI BUSAN
Dreett..Dreett..Dreett..
Song Joong Ki segera membuka
pesan tersebut.
~Kau sudah ada dimana? Aku dan Jiwon akan segera
mendarat ke seberang Pantai Busan. Kau segeralah berada di sana. Karena nanti akan
ada festival firework yang spekta di area Pantai Busan.~
Song
Joong Ki yang membaca pesan yang dikirimkan oleh Lee Yong Jae tersebut pun
tersenyum kegirangan. Bahwa ternyata dugaannya selama perjalanan benar bahwa
Lee Yong Jae menginginkan bertemu dengannya adalah untuk mempertemukan Lee
Jiwon dengannya. Sungguh hati Song Joong Ki pun tidak sabar untuk hal yang
membahagiakan tersebut.
***
BUSAN RUMAH NENEK
Dreet.. Dreett..Dreett..
Lee Yongjae segera membuka isi pesan tersebut.
~Baiklah Hyung. Aku akan segera mendarat ke sana
dan akan membelikan sesuatu untuk Jiwon terlebih dahulu. Gomawo Hyung..
(Terimakasih kakak laki-laki).~
Lee
Yong Jae yang melihat isi pesan Song Joong Ki pun hanya tersenyum menyeringai.
‘Ya! Lee Jiwon.. Oppamu ini tak akan membiarkan
kau kesepian selama berada di busan. Oppa akan mengajakmu pergi kemanapun.
Karena bentuk penyesalan Oppa yang telah meninggalkanmu selama itu. Oppa minta
maaf. Oppa Jae menyayangimu..’
***
GANGNAM
RUMAH YURI
Yuri masih memikirkan, akan pergi kemana Song
Joong Ki sunbaenya. Terlihat sangat gugup dan panik seperti itu. Apa yang
membuatnya sangat gugup seperti itu.
“Ah.. Kau benar Yuri. Sekarang
adalah perayaan ulang tahun Kota Busan. Pasti Lee Jiwon berada dirumah
neneknya. Dan Joong Ki sunbae menemuinya! Lalu apa hubungannya dengan ulang
tahun Kota Busan dan Joong Ki soenbae yang membeli kaos lengan pendek sebanyak
itu dengan terburu-buru. Hah! Aku harus mencari tahu..” Kebingungan, lalu pergi.
***
KEDAI KOPI
Beberapa
menit kemudian Yuri memberitahu Coara dan Ken agar berkumpul dan membahas
tentang kejadian yang dialami oleh Yuri tadi.
“Kau tahu Coara? Tadi pagi aku
bertemu dengan Song Joong Ki soenbae di tempat kerjaku.” Cerita antusiasnya.
“Lalu? ia menyapamu?” Balas Coara
kepadanya.
“Bagaimana ia menyapaku. Ia tidak
melihatku walau aku ada di depannya.” Tiba-tiba raut wajah kesal.
“Mungkin memang Song Joong Ki
soenbae tidak mengenalimu, waktu itu Yuri.” Reda Coara.
“Bagaimana ia tak mengenaliku.
Aku menyapanya berulang kali. Ia hanya sok
jual mahal kepadaku.” Panas hati menyeruak.
Ken
yang hanya melipatkan tangan dan dibenami wajahnya pun tiba-tiba tergegas
menegakkan kepalanya. Karena mendengar ocehan Yuri yang tidak penting dan lagi
pula Ken masih marah dengan Song Joong Ki. Atas kejadian dua minggu yang lalu.
“Bukan dia yang sok jual mahal. Kau yang terlalu
terobsesi dengannya. Kau tidak malu. Kau selalu ditolak olehnya. Mengapa kau
tetap saja seperti ini. Kau lebih baik cari pria lain. Masih banyak pria di
luar sana yang menyukaimu.” Jelas Ken dengan suara lantang tampak emosi.
Yuri melotot.
Coara pun kaget.
“Heeh!.. Jadi kau menyalahkan
temanmu ini?” Berontak Yuri kepada Ken.
Ken
hanya terdiam dan kembali membenami wajahnya dengan kedua lengannya.
“Ya! Ken. Kau dengar aku!”
Teriakknya.
“Ah.. Sudahlah Yuri kau
kendalikan dirimu. Jangan berteriak.” Menenangkan Yuri.
“Kau tahu Coara? Aku yakin Song
Joong Ki soenbae menemui Lee Jiwon diperayaan ulang tahun Kota Busan.” Kembali
mengoceh.
Ken pun kaget. Spontan membuka
matanya.
“Lalu apa hubungannya? Dengan
ulang tahun Kota Busan dan Song Joong Ki yang terburu-buru. Memang benar Jiwon
sekarang berada di Busan dirumah neneknya.”
Ken kembali menegakkan kepalanya.
“Dan dia tak memberitahuku? Aku
rasa ini benar Coara. Song Joong Ki menemui Jiwon di Busan.” Tetap curiga.
“Yuri.. Kau ini kenapa! Tenangkan
dirimu. Aku akan menanyakan hal itu kepada Jiwon.”
Yuri terdiam.
Ken beranjak.
“Kau ingin pergi kemana Ken?”
Tanya Coara penasaran.
“Ada beberapa urusan mendadak.
Jadi aku harus pergi dulu.” Pergi.
“Kau hati-hati..” Pesan lembutnya
kepada Ken.
Ken hanya mengangguk.
Mereka
bertiga tidak sadar bahwa topik pembicaraannya terdengar oleh Sarang. Sarang pun
kembali dan mengikuti Jae Hwan atau Ken. Ia pikir Ken akan menemui Jiwon dan
Song Joong Ki di Busan. Padahal Ken belum mengetahuinya.
“Takkan kubiarkan kau (Jiwon)
dalam genggaman Song Joong Ki!” Teriaknya mengejutkan Sarang.
***
SEBERANG PANTAI BUSAN 17:00
~Hyung aku sudah berada di seberang Pantai Busan.
Kau sudah menuju ke sini?~ Mengirimkan
pesan untuk Yong Jae.
Berharap semua akan baik-baik saja dan sesuai
rencana.
“Semoga Jiwon menyukai bunga dan
gaun ini.” Tersenyum bahagia.
***
BUSAN RUMAH NENEK
~Aku hampir sampai. 15 menit lagi.~ Balasnya pada Song Joong Ki.
“Oppa kau sedang menyetir. Jangan
bermain ponsel seperti itu.”
“Aku hanya membalas pesan dari
So..” Tergagap sudah.
Jiwon memekikkan dahinya. Jiwon
rasa Oppanya aneh.
“Dari seseorang maksudku Jiwon.”
Jawabnya santai.
“Biarkan aku saja yang
membalasnya.. Oppa tinggal bicara aku yang akan memencet dan mengirimnya. Apa
susahnya. Kau mempunyai adik yang baik sepertiku.”
“Auh.. Kau selalu memuji-muji
dirimu sendiri..” Menyubit kecil pipi Jiwon tanda sayang Yong Jae kepadanya.
“Aku bukan seperti anak kecil
lagi Oppa.. Jadi lepaskan.” Menyingkirkan tangan Oppa dari pipinya.
Diam sejenak..
“Tapi Oppa.. Kenapa membeli
kimchinya harus di seberang Pantai Busan. Apakah di dekat rumah nenek tidak
ada?”
“Bukan tidak ada. Tapi hanya
lumayan enak. Kalau di seberang Pantai Busan. Di jamin sangat enak.”
“Tapi kenapa Oppa tiba-tiba tahu
ada kimchi yang enak di sana?”
“E.. Ya, Karena.. Karena Oppa
dulu sering membelinya.”
Jiwon merasa ada yang Oppanya
sembunyikan.
“Oh..” Mengangguk.
-FLASHBACK-
“Hahaha… Hahaha… Hahaha…” Tertawa
bahagia setelah makan kimchi kesukaan mereka bertiga.
Hyuk,
Yongguk dan Yongjae tertawa bersama saat itu. Persahabatan yang tidak pernah
lekang oleh waktu. Dunia di nomor duakan oleh mereka bertiga. Karena yang lebih
penting dari apapun adalah persahabatan mereka. Tidak ada obat penenang waktu
itu. Hanya karena Han Sang Hyuk-lah persahabatan mereka bercerai berai. Mereka
bersaing hanya karena obat penenang. Yongjae kini menghianati mereka. Karena
itu adalah keputusan yang baik di dalam hidupnya. Yongjae hanya ingin ia
kembali pada keluarganya dan bahagia bersama. Tapi, Hyuk dan Yongguk berusaha
ingin menlenyapkan Yongjae dengan kedua tangan mereka sendiri. Dan pada
akhirnya kini mereka berdua sangat tidak suka dengan Yongjae. Prinsip mereka
sekarang adalah di mana ada Yongjae di situlah Yongjae akan mati. Namun, disisi
lain ada Hyuk yang masih berpihak kebenaran. Yang paling tidak menyukai Yongjae
di sini adalah Yongguk. Entah karena kecemburuannya kepada Hyuk. Karena Yongjae
lebih dekat dengan Hyuk waktu itu. Atau entah karena apa.
Mereka
dahulu sering menghabiskan masa liburannya di seberang Pantai Busan ini dengan
menikmati menu makanan khas kimchi super di daerah tersebut. Berenang bersama,
Spa bersama, Liburan bersama dan seperti sudah keluarga. Kalau sekarang mungkin
“Triple Song” Namun tidak kembar
mereka bertiga. Mereka selalu mengerjakan bersama-sama hingga Yongjae jika
mengingatnya selalu ingin meneteskan bening airmatanya.
Cerita
itu yang membuatnya agak canggung tadi. Dan hampir meneteskan airmatanya.
-END FLASHBACK-
“Oppa.. Kau kenapa?” Tanyaku
khawatir.
“Ada sesuatu yang kau pikirkan?”
Tetap khawatir.
Yong Jae hanya berdiam.
“Oppa..Oppa..”
“Yasudahlah..” Pasrahnya.
***
Sesampainya
di seberang Pantai Busan. Angin sejuk menghempas tegas di seluruh tubuh Jiwon.
Jiwon merasakan ada kenikmatan di sini. Ia bersyukur masih bisa menyapa-Nya di
sini.
“Oppa.. ?”
Mata Yongjae menjawab.
“Gomawo. Kau sudah mengajakku
kemari. Aku menyukainya..” Tersenyum lalu memeluk Oppanya.
“Ini tidak seberapa. Coba kau
lihat di sana. Siapa yang datang menemuimu?”
Jiwon
beranjak dari pelukan Oppanya. Dan melihat mata Oppanya. Mata Yongjae pun
memberi isyarat agar Jiwon melihat kearah belakangnya.
Jiwon menoleh kebelakang.
Ia
sangat tidak percaya ada Song Joong Ki soenbae disana. Tersentak sudah mereka
bertatapan. Kemudian Song Joong Ki soenbae mendekatinya. Dan Yongjae
meninggalkan mereka. Yongjae berjalan menuju arah dimana mereka (bertiga)
sering menghabiskan waktu bersama dahulu.
“Jiwon-si…” Panggilnya pelan
dengan mendekati Jiwon.
Jiwon masih terdiam dan tidak
percaya.
“Kau merindukanku?” Candanya
tidak membuyarkan tatapan kaget Jiwon.
Jiwon masih saja terdiam dan kini
meneteskan airmata.
“Kenapa Jiwon-si, kau menangis?”
Tanyanya penuh khawatir.
“Kenapa soenbae. Kau tidak memberiku
kabar sama sekali. Kau tahu, aku sangat khawatir kepadamu. Dan kau tiba-tiba
mengejutkanku seperti ini malam-malam. Apa sebenarnya rencana kalian berdua
(Song Joong Ki dan Lee Yong Jae Oppa).”
“Kenapa melakukan ini kepadaku?”
Menangis tertunduk.
Segeralah
Song Joong Ki memeluk Lee Ji Won. Song Joong Ki tidak membalas apa yang
dipertanyakan oleh Lee Jiwon. Namun inilah yang sangat tepat untuk membuat Lee
Ji Won merasa tenang sementara.
Diam sejenak…
“Mianhae (Maafkan aku) Lee Ji
Won. Aku memang sengaja tidak menghubungimu. Aku merasa gugup ketika hyung
mengirimkan pesan kepadaku. Bahwa kau akan menemuiku saat ini juga. Tapi kita
menjadi salah paham seperti ini. Jeongmal mianhae (Sungguh maafkan aku) Lee Ji
Won.” Peluknya erat.
Jiwon
merasakan hangat saat itu. ia tidak membalas apa yang dikatakan oleh Song Joong
Ki. Ia merasa tenang saat dipelukkannya waktu itu.
“Jiwon-si.. Aku ingin bertanya
kepadamu?”
Jiwon bergegas dari pelukan Song
Joong Ki.
“Hei.. Kau jangan terus
menangis.” Mengusap airmata di kedua pipi Jiwon.
Jiwon memandang Song Joong Ki
penuh arti.
“Entah bagaimana aku bisa gila
tanpamu.” Mengalihkan pandangannya.
Song Joong Ki terdiam tidak paham
apa yang dimaksud oleh Jiwon.
“Aku menyukaimu, dan terus
menyukaimu soenbae. Aku selalu merindukanmu, dan sangat, sangat, sangat,
sangat,sangat merindukanmu. Aku selalu menghawatirkanmu setiap detik. Aku
selalu memikirkanmu layaknya perempuan yang lainnya. Aku setiap hari jatuh
cinta kepadamu, walaupun aku tidak bertemu denganmu pada hari itu. Aku
menyimpan namamu dalam lubuk hatiku yang terdalam. Tapi aku sadar kau tidak
menyukaiku soenbae. Hehe..” Mencoba tegar namun terlihat Jiwon meneteskan
airmata kembali.
Song
Joong Ki memaknai setiap kata yang terucap lewat bibir manis Lee Ji Won. Perlahan
Song Joong Ki menatap dalam mata Jiwon. Dan mencoba mendengarnya kembali setiap
ocehan kecilnya sangat penting bagi dirinya Song Joong Ki.
“Soenbae.. Aku ingin menanyakan
sesuatu lagi kepadamu. Kau harus menjawabnya sekarang. Aku tidak ingin menunggu
lagi.”
Song Joong Ki menatap Jiwon
dalam-dalam.
“Ya! Soenbae kau jangan menatapku
seperti itu.” Canggung tercampur malu.
Song Joong Ki tersenyum.
“Ku perjelas kembali. Aku ingin
menanyakan sesuatu kepadamu. Kau harus menjawabnya sekarang. Aku tidak ingin
menunggu lagi. Kau dengar itu soenbae.” Tertunduk tanpa melihat wajah atau mata
Song Joong Ki.
Song
Joong Ki menarik dagu Jiwon. Perintahnya agar mata mereka bertemu. Dan Song
Joong Ki mengedipkan matanya tanda mengerti.
Jiwon pun semakin gugup dan
kakinya terlihat bergetar.
“Soenbae.. Aku menyukaimu. Dan
maukah kau menjadi ke…” Terpotong.
Tiba-tiba
ciuman hangat mendarat ke bibir Jiwon. Sontak Jiwon terlihat kaget syok. Dan
kemudian perlahan ia memejamkan matanya. Song Joong Ki melakukannya dengan sangat
pelan dan lembut. Hingga Lee Jiwon pun merasa nyaman dan menikmatinya. Kaki
masih bergetar, namun kehangatan sudah mulai didapat kembali oleh Jiwon. Ia
merasa ini adalah ciuman pertamanya dengan orang yang sangat ia sukai dan
cintai. Dan biarkan Song Joong Ki yang melakukannya dan melatihnya.Uh bagaimana aku meneruskannya. Ini
sangat labil dan ekstream sekali. Author jadi ingin melakukan dengan Song Joong
Ki Oppa wkwkwk.
Beberapa
menit kemudian. Usai membuat semuanya menjadi romance. Kini mereka berdua melepaskan bibir keduanya yang menancap
satu sama lain. Mereka berdua pun terlihat canggung. Tapi Song Joong Ki sebagai
laki-laki ingin mengatakan sesuatu yang sebenarnya, yang mengusik kepalanya
saat ini.
“E.. Lee Ji Won? Aku harus
menanyakan ini kepadamu?”
Jiwon masih tidak menyangka dan
tertunduk malu sekali.
“Lee Ji Won..” Kembali menarik
dagu Jiwon.
“Tatap mataku?” Perintahnya.
Jiwon menatap pelan mata Song
Joong Ki.
“Kau menyukaiku, kan ? Lalu..
Apakah kau menerimaku jika aku membalasmu (menyukaimu)?”
“M..Maksud soenbae?” Terasa kaku
mendengarnya. Karena efek “Ciuman Hangat”. WKWKWK
“Iya.. Aku membalas rasa sukamu
terhadapku. Dan sekarang aku yang lebih menyukaimu. Apakah kau menerimaku,
menjadi kekasihmu?” Menatap dekat mata Jiwon dalam-dalam. Ih Gueh yang tegang tau wkwkwk. Kalian kan pasti sudah mengetahui
bahwa Song Joong Ki kalau menatap kan bikin hati penonton deg-degan.
Jiwon kembali menatap mata Song
Joong Ki penuh arti.
“Kau tidak menerimaku?” Candanya
dengan tersenyum manis.
“Bagaimana aku bisa menolak pria
sebaik dirimu. Aku akan kembali gila jika tanpamu. Aku menerimamu soenbae.”
Tersenyum dan meneteskan airmata.
“Benarkah, kau menerimaku? Lalu
mengapa kau menangis?” Mengusap airmata Jiwon.
Jiwon spontan memeluk Song Joong
Ki tanpa merasa malu atau ragu.
Song Joong Ki tersenyum dan
membalas pelukkan Jiwon.
“Sarangheyo (aku mencintaimu) Lee
Ji Won..” Memeluk erat dan mencium kening Jiwon.
“Nado (aku juga mencintaimu)
soenbae..” Tersenyum bahagia.
“Hemm.. Kau menggemaskan sekali
Jiwon-si..” Tambah genitnya.
Jiwon
hanya tersenyum tidak percaya bahwa Song Joong Ki telah membalas perasaannya.
Kini Jiwon merasa lega karena pada akhirnya peran utama akan mendapatkan
pasangan yang baik. ‘Sarangheyo Song
Joong Ki Oppa’.
Beberapa
menit kemudian. Mereka melepaskan pelukan masing-masing dan segera mencari
tempat agar Song Joong Ki dapat memberikan sebuah hadiah yang spesial kepada
Jiwon malam ini.
Perasaan
yang menyelubungi hati mereka kini membuat mereka sangat bahagia. Song Joong Ki
selalu memperhatikan gerak-gerik Lee Ji Won, yang sedikit terlihat malu. Itu
membuat Song Joong Ki hanya tersenyum lucu. Lee Ji Won menurut Song Joong Ki
sangat cantik pada malam itu. Entah apa yang dilakukan oleh Lee Ji Won,
sampai-sampai ia ingin menghindar lagi karena merasa canggung kepada Song Joong
Ki, atas insiden (uhuy) tadi. Itu yang pertama kalinya ia melakukan. Bahkan Lee
Jiwon hanya diam dan sangat menikmati. Seharusnya aku juga harus melakukannya.
Pikirnya waktu itu.
Diam sejenak…
“Oppa kemana?” Lirikku kesana
kemari. Dan mencoba mencairkan suasana. Agar tidak terlalu tegang.
“Ia mengirimkan pesan padaku.
Bahwa ia di kedai kimchi seberang jalan.”
“Mengapa ia tidak menghubungiku.
Kenapa soenbae! Sebenarnya yang menjadi adik Lee Yong Jae itu aku atau Song
Joong Ki-si!” Kesal.
“Hehe.. Kau mulai kesal lagi.”
Jiwon hanya diam.
“Jiwon-si. Aku ingin memberikan
ini untukmu.” Memberikan buket bunga yang indah.
“Jiwonn-si lagi? Dan aku tidak
menerimanya.” Tambah kesal.
“Lalu aku harus panggil dirimu
dengan sebutan apa? Kau ini kan sangat pemarah. Jadi aku ingin memanggilmu
dengan rasa hormatku padamu.” Godanya ia pada Jiwon.
“Pemarah!” Melotot ke Song Joong
Ki.
“Hei.. Lee Ji Won. Aku ingin
memanggilmu Jiwon-si, karena aku menyukai Jiwon-si yang pemarah dan selalu khawatir
kepada Song Joong Ki. Mulai sekarang itu panggilan sayangku padamu.” Tersenyum
dekat wajah Jiwon.
Jiwon
pun kembali berdebar, klepek-klepek dengan mata yang berbinar mempesona seperti
itu. Bagaimana ia mempunyai laser mata yang tajam dengan penuh memikat itu.
Bagaimana ia melakukannya dengan wanita lain. Pikirnya saat ia ditatap oleh
Song Joong Ki.
“Kau.. Jangan lakukan ini
(tatapan) pada perempuan lain.” Tegasnya malu.
“Maksudmu?” Mengkerutkan dahinya.
“Tatapanmu itu..” Tidak menatap
Song Joong Ki.
Song Joong Ki tersenyum
menyeringai melihat Lee Jiwon yang terlihat malu.
“Lalu kenapa kau tidak menatap
mataku…” Bisiknya lirih.
“Ya! Song Joong Ki-si..” Menoleh
dan……
Kembali
bibir mereka bertemu. Tertempel sedikit dan Song Joong Ki yang berada dalam
situasi itu hanya tersenyum menyeringai. Lee Jiwon terlihat kebingungan.
Matanya menandakan “Aku harus bagaimana”. Ia merasa ingin menyudahi saja. Malu
sekali dengan tatapan yang dipancarkan oleh Song Joong Ki terhadapnya.
‘Bagaimana ini. Haruskah terjadi lagi.’ Matanya lirik sana sini.
‘Apakah aku harus melakukannya juga?’ Tanya pada diriku sendiri.
Saat
aku ingin melakukannya. Hampir terjangkau oleh bibir Song Joong Ki tiba-tiba
aku mendengar segerombolan kaki yang berlarian menuju arah kami. Kami kaget dan
segera menyudahi kejadian diantara kita.
“Braaaak…..” Seseorang jatuh
tepat dihadapan Jiwon.
Jiwon segera menolongnya.
“Kau tidak apa-apa?” Tangannya
(seseorang yang jatuh) hampir tergapai oleh Jiwon.
Namun
laki-laki tersebut segera berdiri dan cepat pergi tanpa menghiraukan Lee Ji
Won. Seseorang itu hanya melihat sekilas wajah Jiwon dan cepat melarikan diri.
“Ayooo cepaaatt Hyuk-ki!” Teriak
seseorang yang masih terjangkau dengan mereka berdua (Jiwon dan Joongki).
‘Hyuk-ki’ kataku
penasaran.
“Jiwon-si kau tidak apa-apa?”
Khawatirnya terhadapku.
“Ah.. Tidak. Aku tidak apa-apa
soenbae.” Tiba-tiba tubuhnya lemas.
“Ya.. Lee Ji Won. Kau harus duduk
di sini dulu. Aku akan mencarikan minuman untukmu.” Menyandarkan Jiwon dekat
dengan pohon yang pencahayaannya penuh dengan keindahan.
Jiwon hanya mengangguk tanda
mengerti.
***
SEBERANG JALAN
KEDAI KIMCHI
Lee
Yong Jae masih menghawatirkan dirinya sendiri dengan ditemani kimchi favoritnya
bersama dua temannya tersebut, Hyuk dan Yongguk. Ia takut sekali jika mereka
berada disini, karena hari ini adalah sabtu malam. Dan biasanya mereka
menghabiskan malam petangnya disini dengan minum alkohol yang memabukkan mereka
keesokkan harinya tanpa tersadar seketika.
Kliiing..Kliiing..Kliingg..
Panggilan masuk.
Lee Yong Jae kaget dan
membuyarkan lamunannya dan segera mengangkat.
^Yoeboseyo (Hallo)..^
^Hei… Kunyuk. Kau ada dimana? Kau tidak
mengangkat telponku dari tadi.^ Teriak
kerasnya dari seberang telpon.
^Ya.. Myungsoo. Aku sedang
berlibur di Busan sekarang. Kau jangan mengangguku.^ Mematikan ponselny5a.
Beberapa detik kemudian…
Kliiing…Kliiing..Kliing..
Kembali Myungsoo menelpon.
^Apa lagi!^ Jawabnya kesal.
^Ya hyung.. Kau bersama Lee Ji Won!^
Lee
Yong Jae pun kaget. Mengapa tiba-tiba ia memanggilnya dengan sebutan hyung
(kakak laki-laki) padahal mereka seumuran dan mereka saling bertengkar.
Pikirnya adalah ini hanyalah rayuan belaka. Padahal Kim Myung Soo melakukannya
dengan terpaksa agar Lee Yongjae tidak kesal dengannya dan memberitahukan bahwa
Lee Ji Won bersamanya.
^Wae (Kenapa) kalau aku dengan
Lee Ji Won.^
^Kau seharusnya mengajakku hyung.. Haish kau
memang jahat.^ Gerutunya.
^Kalau kau ingin menemui Lee Ji
Won adikku. Cepat datang kesini. sebentar lagi perayaan ulang tahun Kota Busan
dengan festival firework di seberang Pantai Busan. Kau harus mengatakannya,
jangan sampai Song Joong Ki yang mendahuluimu.^ Menutup telponnya.
“Haish.. Bikin kesal saja.”
Gerutunya dengan memasukkan ponsel ke dalam sakunya.
Tak
sadarkan bahwa Lee Yong Jae telah diawasi oleh beberapa kelompok dari Hyuk dan
Yongguk (Geng Warior). Mereka yang tanpa Hyuk dan Yongguk, tetap waspada dan
membawa senjata tajam. Entah bagaimana yang akan terjadi.
~Bos.. Aku melihat Yongjae berada
di kedai kimchi. Kau cepat kemari. Mari kita bereskan semuanya.~ Seseorang dari
kelompok Geng Warior mengirim pesan untuk leadernya.
~Kau jangan gegabah. Kau awasi dulu. Yang kita
butuhkan hanyalah obat penenangnya bukan dia. Aku sudah tidak butuh dia lagi.
Dia memang penghianat.~
~Baiklah hyung.. aku akan
mengikutinya. Lalu kau sekarag berada dimana hyung?~
~Kau tak perlu tahu. Dan jangan menghawatirkan
aku dengan Yongguk. Kami baik-baik saja.~
~Baiklah hyung.~
‘Akan kau pastikan kau mati sekarang Lee Yong
Jae.’ Mata tajam terfokus kea rah Lee
Yong Jae.
***
SEBERANG PANTAI BUSAN
Lee Jiwon masih mengingat siapa Hyuk yang
dimaksudkan tadi. Apakah teman Oppa Lee Yong Jae? Dan wajahnya tidak asing bagi
Lee Jiwon. Tiba-tiba Song Joong Ki membuyarkan lamunan penasarannya itu.
“Lee Jiwon. Kau minum ini.”
Jiwon menerima dan meminum
sebotol air putih.
“Kau benar tidak apa-apa?”
Jiwon melihat Song Joong Ki
dalam.
“Kenapa menatapku?”
“Aku… Aku sangat mencintaimu Song
Joong Ki soenbae.” Rayunya mengalihkan bahasan.
“Haish.. Kau baru saja nyaris pingsan.
Tapi kau sekarang malah bercanda.”
“Soenbae.. Aku ingin ke kedai
kimchi.” Tiba-tiba..
Song Joong Ki menatap Lee Jiwon
heran.
“Baiklah. Ayo..” Pergi dengan
menggandeng tangan Jiwon.
***
KEDAI KIMCHI 20:00
Lee
Yongjae menghabiskan sebotol minuman berakohol. Dan sedikit pusing. Namun saat
Lee Jiwon mengetahuinya. Ia langsung khawatir dengan Oppanya itu dan sedikit
memarahinya.
“Ya.. Oppa! Apa yang kau
lakukan?”
“Hehehe… Kau Lee Jiwon adikku?”
Sedikit sadar.
“Eh.. Soenbae.. Tolong bawa pergi
Oppa dari sini.”
Song
Joong Ki mengangguk lalu membawa Lee Yongjae pergi dari tempat kedai kimchi
tersebut.
Namun
mereka tidak sadar bahwa Geng Warior telah mengikuti mereka bertiga.
***
Setelah
beberapa menit berjalan dan menemukan tempat yang nyaman untuk Lee Yongjae
beristirahat, akhirnya sedikit demi sedikit Lee Yong Jae pun kembali tersadar.
“Aku tidak apa-apa. Kau jangan
seperti ini.” Berbicara pada Song Joong Ki.
“Ah.. Tidak hyung. Aku harus
melakukannya.”
“Kau juga Jiwon. Kau tidak usah
terlalu khawatir dengan Oppamu ini.”
“Bagaimana aku tidak khawatir
denganmu. Aku tidak ingin kau menghilang lagi.” Memeluk Lee Yong Jae.
“Haish.. Kau selalu berlebihan
pada Oppamu.” Membalas pelukan Jiwon.
Song
Joong Ki yang berada disitu, melihat kejadian itu pun tersenyum penuh haru.
“Ah.. Baiklah hyung aku akan
membeli minuman untukmu.” Melihat Lee Yong Jae.
“Aku akan segera kembali Lee
Jiwon.” Menatap dalam pada Jiwon.
Jiwon menganggukkan kepalanya
tanda mengerti.
“Kau hati-hati soenbae.” Balasnya
menatap dalam.
Balas Song Joong Ki tersenyum.
Lalu pergi untuk mencari minuman.
tiga menit kemudian..
“Hei.. Sudah jangan melihat dia
seperti itu. Dia takkan pergi kemana-mana. Ia hanya membeli air mineral saja.”
Goda Oppanya menggelitik.
Jiwon kaget dan segera melihat
Oppanya.
“Aku hanya tidak ingin ia pergi
Oppa. Ia sangat baik padaku.”
“Tentu. Dia pria sejati, seperti
Oppamu ini.” Memuji dirinya sendiri.
“Haish…” Jiwon geli melihatnya.
“Tapi mengapa kau melakukan itu
(mabuk) lagi Oppa. Bagaimana kalau terjadi apa-apa denganmu. Kau tidak
memikirkan keluargamu, ya!” Teriaknya tegas.
“Hei.. Oppa hanya
melampiaskannya.”
“Maksud Oppa?” Tanyanya
penasaran.
“Ah..Sudahlah. Kau jangan banyak
bicara. Aku khawatir suaramu tidak keluar lagi besok.”
“Ya! Oppa!” Kesalnya.
Lee Yongjae tertawa jahil.
“Lalu.. Mengenai pernyataan tadi,
kenapa Oppa belum menemukan pasangan Oppa. Kalau Oppa adalah pria sejati.”
Ledeknya geli.
“Hei.. Bukan tentang pasangan atau
mendapatkan pasangan Jiwon. Tapi pria sejati itu selalu berpihak kepada
kebaikkan dan kebenaran.”
Tiba-tiba…
“Benarkah kau pria sejati dan
selalu berpihak kepada kebaikkan dan kebenaran Lee Yong Jae!” Sontak tiba-tiba
dari beberapa kelompok yang mengenakan pakaian hitam-hitam.
Jiwon dan Lee Yong Jae kaget.
Lalu berdiri.
“Jiwon kau menyingkirlah.”
Meminta Jiwon untuk segera pergi dari kejadian itu.
“Tapi Oppa.. Aku takkan
meninggalkanmu..” Sangat ketakutan dan khawatir.
“Wohooo.. Adik dan kakak sangat
romantis sekali.” Balas sinis anggota Geng Warior.
“Kalian semua siapa! Dan mengapa
kalian ingin menyerang kami. Ha!” Teriak amarah Jiwon.
“Kau santai saja anak manis…”
Mencoba memegang pipi Jiwon dan tiba-tiba tangan yang hampir menjangkau pipi
Jiwon pun tertangkis oleh Oppanya.
“Kalian jangan coba-coba
menyentuh adikku. Kau boleh mengambil apa yang kau mau di dalam tasku. Tapi
jangan pernah menyentuh adikku.”
“Oppa.. Sebenarnya apa yang
mereka inginkan?” Tanyanya pelan.
“Kau diamlah.. Jangan berbicara.
Biar Oppa yang menyelesaikannya. Kau cepat pergi saja dari sini. Cari Song
Joong Ki dan cepat pergi kerumah nenek.” Bisiknya pelan tanpa terdengar oleh
beberapa kelompok Geng Warior.
“Ya! Apa yang kalian bicarakan!”
Teriak salah satu anggota.
Lee
Jiwon menatap beberapa anggota Geng warior. Terlihat salah satu dari mereka ada
yang tidak asing bagi Jiwon. Dia hanya diam, seperti ragu untuk melihatku. Aku
seperti mengenalnya tapi di mana? Jiwon mengingat-ingat lagi. Namun Lee Yongjae
sedang kesal dengannya. Pikir Lee Yongjae, mengapa Jiwon masih tetap disini dan
tidak cepat menuruti apa perintahnya.
“Jiwon.. Apa yang kau lakukan!
Cepat kau pergi!” Teriak Lee Yongjae mengagetkan Jiwon.
Jiwon segera pergi dengan keadaan
lari kebingungan.
Jiwon
ragu untuk meninggalkan Oppanya sendirian disana. Pada akhirnya Jiwon berhasil
bertemu dengan Song Joong Ki di perpapasan jalan.
“Soenbae..” Teriakku dengan
berlari mendekati Song Joong Ki.
“Kenapa.. Kenapa kau berlari
seperti ini. Lalu hyung dimana?”
Jiwon terlihat syok.
“Jiwon.. Kau tenanglah. Minum
dulu.” Memberikan minumannya.
“Oppa.. Oppa dalam bahaya.” Ketakutan
dengan menunjuk kearah pantai.
“Baiklah ayo kita kesana.”
“Tapi kau bisa berjalan sendiri,
kan?”
Jiwon mengangguk. Masih dalam
ketakutan.
Kemudian
Song Joong Ki dan Lee Jiwon pun berlari menuju tempat dimana kejadian Geng
Warior dengan Lee Yong Jae berlangsung.
***
“Kau mau apa! Bukankah urusan
kalian sudah selesai denganku!” Tegasnya.
“Kau bilang sudah selesai! Lalu
kau melupakan taruhan yang kemarin!”
“Aku bilang akan mengurusnya
dengan Hyuk. Kau sebagai anggotanya tak usah ikut campur urusan kami.” Tegasnya
kembali.
Jiwon
mendengar semua itu dan benar Oppanya menyebut nama Hyuk. Berarti orang yang
tepat jatuh dihadapan Jiwon tadi, itu benar Hyuk teman Oppanya sewaktu SMA.
Namun Jiwon tetap memastikannya.
Song Joong Ki mendekati Gang
Warior.
“Kau ini siapa! Jangan sok jadi pahlawan.” Makinya pada Song
Joong Ki dengan mendorong.
“Polisi segera datang kemari.
Jadi kalian harus meninggalkan tempat ini secepatnya.”
“Apa maksudmu!” Kembali menelan
amarah.
Wiuw..wiuw..wiuw…
Sirine
alarm pun terdengar. Kelompok Geng Warior pun kaget dan bergegas pergi.
“Hei! Kau Lee Yongjae. Awas kau
nanti akan mati! Urusan kita belum selesai!” Anggota lain menambahi dan segera
cepat pergi dari tempat itu.
“Oppa.. Kau tidak apa-apa?”
Khawatir Jiwon kepada Oppanya.
“Aku tidak apa-apa Jiwon.”
Memegangi tangan Jiwon.
Song
Joong Ki, Lee Yongjae dan Lee Jiwon melihat kearah dimana suara sirine itu terus
berbunyi. Suaranya menuju kearah mereka bertiga.
“Bagaimana bisa ada polisi?”
Tanya Lee Yongjae kepada Song Joong Ki.
“Entahlah.. Aku hanya menipu
mereka tadi, tetapi mengapa ada polisi beneran.”
Heran Song Joong Ki.
Tiba-tiba…
Seorang
wanita berwajah dewasa menghampiri mereka bertiga dengan menggunakan alat
sirine asli seperti polisi. Menggunakan pakaian warna hitam dan sangat elegan
di bawah cahaya warna kuning.
“Jadi kau yang melakukan
semuanya?” Tanya Yongjae penasaran.
“Benar. Aku menyelamatkanmu, ya?”
Percaya diri.
“Iya.. Kau menyelamatkanku. Jadi
aku sangat berterimakasih padamu.” Memberikan tangannya kearah seorang wanita
itu, untuk ia beri balasan (bersalaman).
“Tak usah berlebihan. Aku memang
bekerja seperti ini di seberang Pantai Busan. Selebihnya aku adalah polisi yang
berpatroli disini.”
“Oh.. Aku ingin mengajakmu minum
segelas air soda manis. Tanda terimakasihku padamu. Kau mau?” Tanya Yongjae
penuh harap.
“Baiklah..”
Yongjae melihat Jiwon dan Song
Joong Ki.
“Lee Jiwon. Oppa akan segera
kembali. Kau harus kerumah nenek sekarang bersama Song Joong Ki.” Memegang
pundak Jiwon.
“Tapi Oppa.. Kau mau kemana?”
Tanyanya penasaran.
“Oppa akan baik-baik saja.”
Melepaskan pegangan dipundak Jiwon.
“Kau Song Joong Ki. Jaga Jiwon.
Antarkan dia sampai kerumah nenek.”
“Aku percaya padamu..”
“Baik hyung..” Menganggukkan
kepala.
Lee Yongjae pun pergi bersama
wanita berwajah dewasa itu.
***
GENG WARIOR
“Haish! Bagaimana bisa gagal! Salah
satu anggota GW terlihat kesal.
“Kau bersabarlah. Mungkin ini
belum saatnya.” Salah satu anggota terlihat menasehati anggota lainnya yang
terlihat kesal.
“Ya! Kunyuk. Kau hanya anak baru
disini. Jadi jangan mencoba menasehati kami. Kau tahu apa! Di dunia gangster
tidak ada yang namanya kesabaran. Adanya muak berkepanjangan. Kau dengar itu.”
Makinya dengan menunjuk kearah anggota yang baru saja menasehati.
Anggota yang dimaki hanya diam.
Beberapa
anggota lain pun kesal dengan apa yang telah dikatakan oleh personil GW yang
baru.
***
PERJALANAN MENUJU RUMAH NENEK
Jiwon masih memikirkan kejadian yang sudah
terjadi tadi menimpa Oppanya. Ini tidak pertama kalinya, ia melihatnya. Ini
sudah kedua kalinya. Ia terus menghawatirkan Oppanya. Ketakutan telah
menyelubunginya. Berharap semua akan baik-baik saja.
Song
Joong Ki yang melihat Lee Jiwon yang begitu gelisah. Segeralah ia memutar lagu
favorit Lee Jiwon “You Are My Everything” yang berada di tempat jok mobilnya.
Lee Jiwon mungkin mendengarnya. Pikir Song Joong Ki. Namun mengapa Lee Jiwon
masih gelisah seperti itu. Song Joong Ki pun menenangkannya dengan memegang
tangan kiri Jiwon. Jiwon pun kaget.
“Apa yang kau pikirkan?” Tanya
Song Joong Ki pelan.
“Oppa..” Jawab lirihnya.
“Semua akan baik-baik saja
Jiwon-si.”
“Untuk sekarang. Tapi nanti?”
“Tidak akan terjadi apa-apa. Aku
tahu hyung mampu melawan mereka.”
“Aku akan membantu hyung.”
Jiwon tiba-tiba menatap Song
Joong Ki.
“Kenapa menatapku seperti itu.”
“Aku percaya padamu.”
“Kau tenanglah. Semua akan
baik-baik saja Jiwon-si.”
Jiwon
yang mendengar kata-kata Song Joong Ki merasa tenang. Song Joong Ki yang
mengemudikan mobilnya dengan pelan. Berusaha membuat Lee Jiwon agar tidak
memikirkan hal-hal yang di gelisahinya.
***
PANTAI BUSAN 22:00
“Bagaimana kau melakukannya. Ini
adalah pekerjaan pria.” Tanya Yongjae kepada perempuan yang menyelamatkannya.
“Ceritanya sangat panjang. Aku
melakukannya karena ada alasan yang sangat dalam.”
Mereka
berdua duduk di bawah pohon kelapa yang banyak pencahayaan yang sangat natural.
Lee Yongjae sampai sekarang tidak mengerti, bagaimana ada wanita cantik seperti
dia bekerja sebagai patrol. Dan itu seharusnya dilakukan oleh seorang laki-laki
seperti diriku. Pikirnya waktu itu.
“Sebentar. Aku akan membeli
sesuatu yang bisa kita makan.” Pergi.
~
“Yongjae.. Kau tidak
mengenaliku?” Lirihnya kearah lautan. Dengan memegangi gelang berwarna merah.
***
BUSAN RUMAH NENEK
“Yongjae mengajak Jiwon kemana?
Mengapa mereka belum pulang? Padahal sudah hampir dini. Gerutu neneknya.
“Oma.. kau harus beristirahat.
Sudah malam.” Tenangkan Ibu Jiwon.
“Cucuku Yongjae dan Jiwon mengapa
mereka belum pulang Yowon.” Khawatirnya.
“Mereka sudah besar untuk
dikhawatirkan Oma. Mereka akan segera pulang. Jadi Oma harus segera
beristirahat. Lalu tidur. Sudah malam Oma.” Paksanya pelan.
“Ah.. Ne, ne, ne. Kau memang
selalu begitu. Terlalu memanjakan mereka.”
Ibu
Jiwon hanya diam dan mengantarkan Omanya masuk ke kamar. Agar segera
beristirahat dan tidak lagi menghawatirkan kedua cucunya itu.
***
Ibu
Jiwon kemudian menghampiri suaminya di kamar dan menyuruhnya menelpon Jiwon dan
Yongjae untuk pulang. Ibu Jiwon merasa khawatir. Karena sudah tengah malam. Dan
hampir dini hari. Memang Ibu Jiwon mengetahui bahwa hari ini adalah ulang tahun
Kota Busan dan aka nada festival fireworks
juga. Tapi tidak baik untuk perempuan keluar malam. Nenek mereka terlalu
khawatir kepada mereka. Walau bersama Yongjae tetap saja Lee Jiwon adalah anak
perempuan yang baru saja menginjak usia 20 tahun. Nenek yang sering gampang
sakit-sakitan, takut terjadi apa-apa dengan cucu-cucu mereka. Jika mendengar
cucu-cucunya terluka. Maka neneknya pun sangat khawatir melebihi kedua orang
tua Jiwon dan Yongjae sendiri. Karena hanya mempunyai anak tunggal dan cucu
hanya dua orang. Apapun nenek akan lakukan, asal yang terbaik untuk kedua
cucunya tersebut.
Ayah Jiwon terlihat terlelap.
“Sayang. Bagaimana Jiwon dan
Yongjae belum pulang?” Khawatirnya mendekati suami tercintanya.
“Yongjae yang mengajaknya melihat
festival fireworks, Bu. Jadi
biarkanlah.”
“Bagaimana kalau terjadi apa-apa
dengan Yongjae dan Jiwon. Kau tidak mengingat Yongjae dua minggu yang lalu.”
Berusaha membuat suaminya sadar akan hal itu.
Ayah Jiwon kaget.
“E.. Baiklah aku akan menelpon
Yongjae.”
***
PANTAI BUSAN
Kliiing..Kliiing..Kliing..
Telpon masuk
Yongjae segera mengangkat.
^Ah.. Ne Yoeboeyeso Appa (hallo
ayah).^ Dengan berjalan menuju sandaran pantai.
^Kau sekarang berada dimana? Semua baik-baik
saja?^ Terdengar khawatir.
^Oh..Ne (iya). Semua baik-baik
saja Ayah.^
Yongjae
pun sampai di sandaran pantai dan memberikan sebotol minuman bersoda manis
kepada perempuan yang menyelamatkannya. Wanita itu segera menerimanya dan
meminumnya.
^Lalu Jiwon?^
^Oh.. Ya aku lupa memberitahu
Ayah dan Oma. Bahwa Jiwon sudah perjalanan pulang. Ia bersama laki-laki yang
disukainya, Yah. Sudah dari tadi. Mungkin sebentar lagi akan sampai.^
^Maksudmu?^
^Yasudah, Yah. Aku bersama teman
di seberang Pantai Busan. Aku pulang agak terlambat. Jadi Ayah dan Oma tak usah
khawatirkan aku. Aku aman disini.^ Melihat perempuan yang berada di depannya
itu dengan senyuman penuh arti.
^Baiklah.. Segera pulang. Nenek dan Ibumu sedang
menghawatirkan kalian berdua (Yongjae dan Jiwon).^
^Baik Ayah.^ Menutup telpon.
~
“Ayahmu masih menghawatirkanmu?”
“Bukan begitu. Ceritanya
panjang.” Balas Yongjae seperti kalimat awal yang dikatakan oleh wanita itu.
“Hei.. Kau balas dendam rupanya.”
“Tidak. Akan ada waktu dimana
kita akan saling menukar cerita kita masing-masing di lain waktu.”
Perempuan itu hanya mengangguk.
“Lalu, siapa namamu?. Kita belum
sempat berkenalan.” Sapa Yongjae halus.
‘Kau sudah mengenalku, Yongjae.’
“Nam Ji Hyun. Kau?”
“Ah.. Seperti nama teman
perempuanku sewaktu SD. Aku Lee Yongjae.”
Nam Jihyun hanya tersenyum.
‘Kau seharusnya mengenalku. Aku memang temanmu
Lee Yongjae. Dan gelang ini adalah pemberianmu. Untuk persahabatan kita.’
“Eh.. Hampir pukul dua belas
malam. Aku harus pergi.”
“Kau tidak melihat festivalnya?”
“Ah.. tidak. Ini lebih penting.”
“Oh baiklah.. Aku juga ada jam
malam. Dan senang bertemu denganmu.” Tersenyum dan berjabat tangan.
Lee Yongjae tersenyum dan
membalas jabatan tangannya.
Nam
Ji Hyun kemudian pergi. Tanpa Jihyun sadari gelang berwarna merahnya pun
terlepas dari genggamannya dan berhasil ditemukan oleh Lee Yongjae. Lee Yongjae
berusaha memanggil Nam Jihyun. Namun, Nam Jihyun sudah terlalu jauh. Akhirnya
gelang karet itu segera diambil oleh Lee Yongjae untuk disimpannya. Dia
berharap dia bertemu dengan Nam Jihyun kembali di tempat ini. Pikirnya waktu
itu.
***
BUSAN, RUMAH NENEK 23:45
Sesampainya
dirumah Song Joong Ki yang melihat Lee Jiwon yang tertidur pulas. Tidak tega
jika dirinya membangunkan Lee Jiwon. Pada akhirnya Song Joong Ki menggendong
Jiwon sampai di depan pintu Halmonie House (Rumah Nenek).
“Paman.. Bibi..” Panggilnya halus
tanpa terdengar nenek Jiwon.
Ibu
Jiwon yang mendengar itu segera membukakan pintu. Diikuti oleh suaminya dari
belakang.
Membuka pintu..
“Bibi.. Harus aku bawa kemana Lee
Jiwon?”
“Eh.. Mari kuantar..” Menunjukkan
kamar Lee Jiwon.
Song
Joong Ki mengikuti dari belakang. Dan Ayah Jiwon pun menutup pintu Halmonie
House segera. Karena hawa sejuk selalu membuat dingin mertuanya itu.
***
KAMAR JIWON
Song Joong Ki berusaha menemani Lee Jiwon. Namun
Ibu Jiwon tidak enak dengan Song Joong Ki. Akhirnya Ibu Jiwon lah yang menemani
tidur Lee Jiwon.
“Sebaiknya Nak Joongki istirahat
saja di kamar tamu. Ini sudah malam.”
“Tapi Bibi.. Aku berterus terang,
ingin menjaga Lee Jiwon.”
“Ah.. Tidak usah. Nak Joongki
istirahat saja, ya?” Perintahnya halus namun tegas.
“Baiklah bibi.. Aku permisi
dulu.” Menunduk (tanda hormat).
Ibu
Jiwon menyelimuti Jiwon yang terlihat gerak-geriknya kedinginan. Dan Ibu Jiwon
pun menemani Jiwon dengan tidur disampingnya.
***
DI RUANG TAMU
Song
Joong Ki bertemu dengan Ayahnya Jiwon dan sedikit berbincang.
“Ya.. Song Joong Ki. Kau ingin
beristirahat.” Tanya Ayah Jiwon yang melihat Song Joong Ki berjalan menuju
kamar tamu.
“Eh.. Iya Paman.”
“Minumlah sebentar.”
Mempersilahkan duduk.
“E..Tidak usah repot-repot paman.”
Balasnya sopan.
“Tidak usah sungkan. Minumlah
sebentar.” Perintahnya halus dan dituruti oleh Song Joong Ki.
Pada
akhirnya Song Joong Ki menemani Ayah Jiwon dengan sedikit mengobrol dengan
ditemani teh hangat buatan Ayah Jiwon.
***
Tok..Tok..Tok..
Ayah
Jiwon dan Song Joong Ki sontak melihat kearah pintu. Dan ombrolan mereka yang
seru pun terbuyarkan. Oleh kedatangan seseorang yang tanpa memanggil.
“Biarkan aku saja Paman.”
Song Joong Ki membukakan
pintunya.
“Ya hyung.. Mengapa terlambat
sekali. Paman dan Bibi menghawatirkanmu.”
“Kejadian yang baru saja terjadi,
jangan beritahukan pada keluargaku, ya?”
Song Joong Ki mengangguk tanda
mengerti.
Lee
Yongjae pun segera duduk bersebelahan dengan Ayahnya. Dan kembali Song Joong Ki
menutup pintu.
“Ayah.. Aku lelah sekali.”
“Baiklah-baiklah.. Aku tahu kau
akan seperti ini. Agar Ayahmu ini tidak bisa marah denganmu.” Gerutunya membuat
Lee Yongjae tertawa kecil, namun kegirangan.
Song
Joong Ki yang melihat itu merasa sangat iri sekali. Karena tidak begitu mudah
untuk bertemu dengan kedua orang tuanya yang selalu mementingkan bisnis di luar
kota daripada anak tunggalnya itu.
Tetap sabar song joong ki oppa.
“Ya! Song Joong Ki. Apa yang
sedang kau pikirkan.”
Song Joong Ki membuyarkan
lamunannya.
“Baiklah kau tidur di kamarku
saja. Ayo..” Ajaknya tegas.
Song
Joong Ki pun mengikuti Lee Yongjae. Dan sebelum pergi ia tunduk (hormat) pada
Ayah Jiwon. Sangat sopan sekali. Walau terlahir dengan keadaan yang tidak
pernah memberikan arahan sopan seperti itu.
***
KAMAR LEE YONGJAE
Lee Yongjae membereskan kamarnya untuk diberikan
kepada Song Joong Ki. Maksudnya agar Song Joong Ki menempati tempat tidur itu
dan Lee Yongjae menempati tempat kursi panjangnya, yang lumayan menyamankan
sekali untuk ia tiduri. Namun Song Joong Ki tidak enak dengan itu. Ia berusaha
menyakinkan Lee Yongjae agar sebaiknya yang tidur di kursi panjangnya itu
adalah Song Joong Ki bukan Yongjae. Karena ia merasa hanya tamu disana.
“Hyung sebaiknya kau tidur diatas
kamarmu saja. Aku tak enak dengan ini semua.”
“Hei.. Kau selalu saja begitu.”
Song Joong Ki diam.
Lee Yongjae yang melihat itu
paham.
“Baiklah-baiklah.. Aku memberikan
kursi panjang ini padamu. Kau jangan merusaknya.” Candanya menuju tempat tidur
yang baru saja dibereskan itu.
Song
Joong Ki yang mendengar perkataan cerewetnya itu tertawa kecil.
“Apakah kau membalasnya (Menyukai
Jiwon)?”
Song Joong Ki kaget saat akan
terlelap.
“Oh.. Ne, aku membalasnya hyung.”
“Baguslah. Aku tak perlu
menjaganya lagi. Kau tahu Jiwon sangat menyebalkan sekali. Padahal usianya
menginjak dewasa. Namun, dia masih saja terlihat seperti anak kecil. Sangat
pemarah dan manja sekali denganku. Hah.. bisa-bisanya aku mempunyai adik
secrewet dia. Kau sebagai kekasihnya harus benar-benar menjaga adikku dan
selalu bersabarlah Song Joong Ki.” Tersenyum nyengir.
Dan
lama tidak terespon oleh Song Joong Ki. Sedikit melirik dan Lee Yongjae merasa
sangat kesal. Sudah banyak bicara tetapi Song Joong Ki malah mengabaikannya
dengan tertidur.
“Hah.. Dasar kunyuk satu ini. Kau
membiarkanku mengoceh dan kau tenang dalam tidurmu. Haish.. Kau kira aku
radiomu!” Kesal kemudian tertidur.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar