Minggu, 11 Juni 2017

Descendants Of The Sun Versi Wandagain



Prakata

     Perkenalkan namaku Lee Ji Won. Aku tinggal di sebuah desa yang mungkin menurutku sangat pelosok tanpa lampu yang belum cukup terang. Ayah dan ibuku. Mereka sangat bersemangat sekali menyekolahkanku demi masa depanku yang cerah. Aku takkan membiarkan mereka jatuh karena sakit. Lalu siapa yang akan membiayai sekolahku kalau mereka jatuh sakit. Ya Tuhan, jaga mereka selalu untukku.
    
     Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Lee Yong Jae. Entah dimana keberadaan orang itu sekarang. Aku sama sekali tidak memikirkannya. Karena dia telah pergi dari rumah sudah beberapa minggu yang lalu. Akibat perkelahian karena gangster lokal, kemudian ayah dan ibulah yang terkena imbas dari ulah seorang bajingan itu. Aku sangat membencinya. Aku berharap ia secepatnya mati. Kadang saat ia pulang, ia hanya mengambil uang dari hasil kerja keras ayah dan ibu. Ayah ibu hanya bekerja sebagai buruh rumah tangga dan tenaga kuli. Sesekali aku merasa ingin meneteskan airmata jika aku melihat mereka berdua kelelahan dan tidur lebih awal. Hah.. Aku tidak ingin membahas ini. Aku merasa lemah jika aku harus menangis seperti ini.

     Hyungku itu selalu terlibat aksi tawuran jika ia tidak mendapatkan uang yang banyak untuk membayar semacam obat yang bisa membuatnya semakin tenang dan melayang itu. Entah itu apa. Aku tidak memperdulikannya. Aku ingin sekali mengeluarkan ia dari kartu keluarga (KK). Aku berharap setelah sukses nanti ia akan memohon-mohon kepadaku. Itupun kalau ia masih hidup dan kembali. Tapi jika ia tak kembali dan menghilang. Semoga saja ia cepat mati tanpa membawa apa-apa.

     Di umur 20 tahun ini. Aku berharap bisa mahir membuat design pakaian dan yang sangat antusia adalah membuat roti ataupun kue dan sejenisnya. Karena aku bercita-cita ingin membuat toko roti yang tidak biasa diantara yang lain. Sebelum itu aku ingin mengajak ayah dan ibu keliling dunia. Agar mereka tidak hanya melakukan pekerjaannya yang menguras tenaga itu. Sebagai anak aku harus bisa lebih patuh dan hormat lagi kepada kedua orang tuaku tersebut. Karena mereka sangat berharga buatku dan mereka segalanya bagiku.

     Aku menjalani bisnis kecil-kecilan di kampus. Itupun hanya pas untuk tiga kali makan saja dalam sehari. Namun aku tetap bekerja keras, agar aku dapat meringankan beban ayah dan ibu. Membiayai kuliah dengan uang sendiri itu memang menyenangkan. Apalagi ditambah aku membantu anak-anak desa untuk pelajaran lebih lanjut (les privat).
     Oh ya. Aku belum memberitahu kalian bahwa aku melanjutkan kuliahku di salah satu kampus ternama di seoul. Aku masuk karena beasiswa dan aku diterima di Fakultas Design. Sederhana bukan. Saat ini aku masih berstatus single dan masih berada di semester dua. Masih muda dong pastinya. Dan teman seperjuanganku bernama Kim Co Ara, Lee Yu Ri, dan Lee Jae Hwan (Ken). Mereka sangat membantuku, mendorongku agar tidak malas-malasan menjalani bisnis kecil-kecilan ini dan pastinya memberi semangat agar selalu bersemangat dalam menjalani perkuliahan yang kejam ini. Hehehe... Mereka sangat baik, cantik dan tampan. Hah.. Rasanya ada yang aneh jika aku mengatakan tampan. Entah bagaimana hubunganku dengan Ken itu. Kadang merasa seperti lebih dari teman, lebih dari seorang kekasih, dan kembali seperti teman lagi. Entahlah..

     Di umurku yang masih muda dan imut ini aku berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal yang membuatku lemah nantinya. Tujuanku sekarang hanya bisnisku menjadi besar dan sukses. Demikian kuliahku lancar dan segera lulus S1. Agar apa yang aku inginkan dapat tercapai dengan baik dan segera pastinya. Huh.. Bersyukur, percaya, berusaha, dan doa selalu aku komitmenkan dalam hidupku. Karena saat kita jatuh pun, kita tetap harus kembali dan ingat pada Tuhan. Demikian saat kita berada di puncak, kita tetap harus kembali dan ingat pada Tuhan. Karena jika sehari tidak mengingat-Nya hidup kita akan sia-sia.

     Aku teringat, bahwa aku belum memberitahu kalian juga tentang nama ayah dan ibuku. Karena aku ingin setelah nanti lulus dan sukses nama mereka akan aku sebut dan akan berteriak sekeras mungkin. Aku akan berterimakasih kepada Ayah Lee Si Jin dan Ibu Lee Yo Won. Melalui televise. Karena berkat mereka berdua aku menjadi seorang wanita yang pemberani dan manis seperti ini. Hehehe…^^

     Mendengarkan lagu memang mengasyikan untukku. Apalagi ditemani teh hangat dan cemilan ringan seperti ini. Sambil jariku menekan tombol keyboard dalam laptop. Aku memastikan semuanya sudah tertidur. Karena aku menulis disaat mereka dan kalian tertidur. Aku menyukai dunia yang seperti ini. Aku bangga pada diriku yang selalu ingin menulis. Karena menulis memberikan sejarah keabadian di saat sang penulis meninggalkan dunianya. Menulis melahirkan keabadian yang terang. Menulis adalah ekspresi diri. Dan menulis adalah perasaan yang membahana yang tidak bisa dituangkan dalam alat ujar manusia. Melainkan pikiran yang menjadi pelantara sebuah tulisan pena.

     Beasiswa! Kalian akan mengetahui dan mungkin akan merasakan bagaimana murid terfavorite telah terdaftar dalam universitas ternama dan banyak sekali yang iri dan membullynya. Termasuk aku. Aku telah menjadi korban dalam satu tahun terakhir. Sampai sekarang masih, tapi hanya beberapa saja dari fakultas lain. Aku tidak memperdulikannya. Karena tujuanku belajar dan berbisnis. Walaupun tidak sesuai jurusan. Hahaha.. Tertawaku tiba-tiba meledak pada saat itu.

     Sempat ingin berhenti saat semuanya membiarkan mulut terbuka dan menghina tanpa berpikir dulu. Perlakuan tak senonoh pun masih aku rasakan. Sampai pada akhirnya ada lelaki yang menolongku. Ia seniorku bernama Song Jong Ki. Kudengar ia berada di Jurusan Psikolog. Hemm.. Entahlah. Kenapa tiba-tiba aku menceritakan tentang identitasnya. Ah.. Bisa gila aku. Tapi benar aku merindukannya. Ah.. Bukan-bukan. Aku belum sempat berterimakasih padanya. Ia malah segera pergi dan entahlah.

     Angin dari arah seberang jendela kamarku telah tertiup sedikit demi sedikit telah masuk dalam tulang-belulangku yang kecil ini. Segera aku menyelesaikan tulisanku dan bergegas pergi tidur dengan cahaya lampu yang agak remang-remang itu. Aku merasakan aku bermimpi malam itu. Sekuat tenaga aku mengingatnya. Tapi benar-benar tidak menguntungkan buatku, jika aku mengingat-ingat hal yang mungkin aku lupa. Sama saja mengingat orang yang tak aku kenal. Ah.. Dasar Lee Ji Won.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar