Prakata
Perkenalkan namaku Lee Ji
Won. Aku tinggal di sebuah desa yang mungkin menurutku sangat pelosok tanpa
lampu yang belum cukup terang. Ayah dan ibuku. Mereka sangat bersemangat sekali
menyekolahkanku demi masa depanku yang cerah. Aku takkan membiarkan mereka
jatuh karena sakit. Lalu siapa yang akan membiayai sekolahku kalau mereka jatuh
sakit. Ya Tuhan, jaga mereka selalu untukku.
Aku mempunyai kakak
laki-laki bernama Lee Yong Jae. Entah dimana keberadaan orang itu sekarang. Aku
sama sekali tidak memikirkannya. Karena dia telah pergi dari rumah sudah
beberapa minggu yang lalu. Akibat perkelahian karena gangster lokal, kemudian ayah dan ibulah yang terkena imbas dari
ulah seorang bajingan itu. Aku sangat membencinya. Aku berharap ia secepatnya
mati. Kadang saat ia pulang, ia hanya mengambil uang dari hasil kerja keras
ayah dan ibu. Ayah ibu hanya bekerja sebagai buruh rumah tangga dan tenaga
kuli. Sesekali aku merasa ingin meneteskan airmata jika aku melihat mereka
berdua kelelahan dan tidur lebih awal. Hah.. Aku tidak ingin membahas ini. Aku
merasa lemah jika aku harus menangis seperti ini.
Hyungku itu selalu terlibat
aksi tawuran jika ia tidak mendapatkan uang yang banyak untuk membayar semacam
obat yang bisa membuatnya semakin tenang dan melayang itu. Entah itu apa. Aku
tidak memperdulikannya. Aku ingin sekali mengeluarkan ia dari kartu keluarga
(KK). Aku berharap setelah sukses nanti ia akan memohon-mohon kepadaku. Itupun
kalau ia masih hidup dan kembali. Tapi jika ia tak kembali dan menghilang.
Semoga saja ia cepat mati tanpa membawa apa-apa.
Di umur 20 tahun ini. Aku
berharap bisa mahir membuat design pakaian
dan yang sangat antusia adalah membuat roti ataupun kue dan sejenisnya. Karena
aku bercita-cita ingin membuat toko roti yang tidak biasa diantara yang lain.
Sebelum itu aku ingin mengajak ayah dan ibu keliling dunia. Agar mereka tidak
hanya melakukan pekerjaannya yang menguras tenaga itu. Sebagai anak aku harus
bisa lebih patuh dan hormat lagi kepada kedua orang tuaku tersebut. Karena
mereka sangat berharga buatku dan mereka segalanya bagiku.
Aku menjalani bisnis
kecil-kecilan di kampus. Itupun hanya pas untuk tiga kali makan saja dalam
sehari. Namun aku tetap bekerja keras, agar aku dapat meringankan beban ayah
dan ibu. Membiayai kuliah dengan uang sendiri itu memang menyenangkan. Apalagi
ditambah aku membantu anak-anak desa untuk pelajaran lebih lanjut (les privat).
Oh ya. Aku belum
memberitahu kalian bahwa aku melanjutkan kuliahku di salah satu kampus ternama
di seoul. Aku masuk karena beasiswa dan aku diterima di Fakultas Design. Sederhana bukan. Saat ini aku
masih berstatus single dan masih
berada di semester dua. Masih muda dong pastinya. Dan teman seperjuanganku
bernama Kim Co Ara, Lee Yu Ri, dan Lee Jae Hwan (Ken). Mereka sangat
membantuku, mendorongku agar tidak malas-malasan menjalani bisnis kecil-kecilan
ini dan pastinya memberi semangat agar selalu bersemangat dalam menjalani
perkuliahan yang kejam ini. Hehehe... Mereka sangat baik, cantik dan tampan.
Hah.. Rasanya ada yang aneh jika aku mengatakan tampan. Entah bagaimana
hubunganku dengan Ken itu. Kadang merasa seperti lebih dari teman, lebih dari
seorang kekasih, dan kembali seperti teman lagi. Entahlah..
Di umurku yang masih muda
dan imut ini aku berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal yang membuatku lemah
nantinya. Tujuanku sekarang hanya bisnisku menjadi besar dan sukses. Demikian
kuliahku lancar dan segera lulus S1. Agar apa yang aku inginkan dapat tercapai
dengan baik dan segera pastinya. Huh.. Bersyukur, percaya, berusaha, dan doa
selalu aku komitmenkan dalam hidupku. Karena saat kita jatuh pun, kita tetap
harus kembali dan ingat pada Tuhan. Demikian saat kita berada di puncak, kita
tetap harus kembali dan ingat pada Tuhan. Karena jika sehari tidak mengingat-Nya
hidup kita akan sia-sia.
Aku teringat, bahwa aku
belum memberitahu kalian juga tentang nama ayah dan ibuku. Karena aku ingin
setelah nanti lulus dan sukses nama mereka akan aku sebut dan akan berteriak
sekeras mungkin. Aku akan berterimakasih kepada Ayah Lee Si Jin dan Ibu Lee Yo
Won. Melalui televise. Karena berkat mereka berdua aku menjadi seorang wanita
yang pemberani dan manis seperti ini. Hehehe…^^
Mendengarkan lagu memang
mengasyikan untukku. Apalagi ditemani teh hangat dan cemilan ringan seperti
ini. Sambil jariku menekan tombol keyboard
dalam laptop. Aku memastikan semuanya sudah tertidur. Karena aku menulis disaat
mereka dan kalian tertidur. Aku menyukai dunia yang seperti ini. Aku bangga
pada diriku yang selalu ingin menulis. Karena menulis memberikan sejarah
keabadian di saat sang penulis meninggalkan dunianya. Menulis melahirkan
keabadian yang terang. Menulis adalah ekspresi diri. Dan menulis adalah
perasaan yang membahana yang tidak bisa dituangkan dalam alat ujar manusia.
Melainkan pikiran yang menjadi pelantara sebuah tulisan pena.
Beasiswa! Kalian akan
mengetahui dan mungkin akan merasakan bagaimana murid terfavorite telah terdaftar dalam universitas ternama dan banyak
sekali yang iri dan membullynya.
Termasuk aku. Aku telah menjadi korban dalam satu tahun terakhir. Sampai
sekarang masih, tapi hanya beberapa saja dari fakultas lain. Aku tidak
memperdulikannya. Karena tujuanku belajar dan berbisnis. Walaupun tidak sesuai
jurusan. Hahaha.. Tertawaku tiba-tiba meledak pada saat itu.
Sempat ingin berhenti saat
semuanya membiarkan mulut terbuka dan menghina tanpa berpikir dulu. Perlakuan
tak senonoh pun masih aku rasakan. Sampai pada akhirnya ada lelaki yang
menolongku. Ia seniorku bernama Song Jong Ki. Kudengar ia berada di Jurusan Psikolog.
Hemm.. Entahlah. Kenapa tiba-tiba aku menceritakan tentang identitasnya. Ah..
Bisa gila aku. Tapi benar aku merindukannya. Ah.. Bukan-bukan. Aku belum sempat
berterimakasih padanya. Ia malah segera pergi dan entahlah.
Angin dari arah seberang jendela
kamarku telah tertiup sedikit demi sedikit telah masuk dalam tulang-belulangku
yang kecil ini. Segera aku menyelesaikan tulisanku dan bergegas pergi tidur
dengan cahaya lampu yang agak remang-remang itu. Aku merasakan aku bermimpi
malam itu. Sekuat tenaga aku mengingatnya. Tapi benar-benar tidak menguntungkan
buatku, jika aku mengingat-ingat hal yang mungkin aku lupa. Sama saja mengingat
orang yang tak aku kenal. Ah.. Dasar Lee Ji Won.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar