Minggu, 11 Juni 2017

PART 2 Descendant Of The Sun Versi Wandagain



-Karena Cinta Awal Dari Kebiasaan-
    
Mentari kembali terik dan memapas jendelaku dengan cahayanya yang keemasan itu. Aku rebahkan semua yang berada dalam tubuhku, selimut dan guling yang menahanku untuk bangun. Kucium bau kopi yang menyegarkan semangatku dari arah dapur. Tak biasanya bau itu tercium saat ini. Aku mengingat, hanya hyung yang meminum kopi bukan ayah atau ibu. Tapi saat ku melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 08:59 ayah ibu telah berangkat bekerja lagi setiap harinya.

“Padahal hari libur. Tapi tidak untuk ayah dan ibu. Heeem.” Menghela napas dan bergegas untuk bangun dari tempat tidur.

Kreeeekkk…. Kreeeeek…
Pintu terbuka.

Aku melihatnya kaget bukan kepalang. Apakah sesosok yang berdiri di tengah pintu itu benar hyungku. Lidahku keluh untuk memanggilnya. Ia mendekatiku dengan wajah yang berlumuran darah, namun terlihat kering.

“Jiwon…” Tersenyum dan mendekatiku.

Aku masih melotot tidak percaya.

Hyung semakin dekat denganku, dan berdiri tepat dihadapanku. Ia tersenyum padaku. Ia membelai rambutku dan aku semakin ingin menangis. Mengapa seperti ini. Lalu mengapa ada darah yang bercucuran kering diwajah tampannya itu. Akhirnya ku beranikan diri untuk bertanya padanya.

“Bagaimana hyung bisa berada disini..” Agak sedikit kaku.

     Hyung masih membelai rambutku dan masih menatap serius wajahku. Kembali ia memasang wajah tampannya dengan dilapisi senyum yang manis itu.

“Hyung.. Kau dengar aku?” Menatap serius wajah hyungku.

“Iya.. Aku mendengarnya.” Balasnya dengan senyuman.

“Lalu mengapa kau tak menjawabku? Dan mengapa wajahmu penuh dengan darah? Sebenarnya kau di luar sana sedang apa! Kau kerja apa!” Bentakku mulai terlihat.

Hyung berhenti membelai rambutku. Dan menatapku tajam.
“Hei… Kau memang tak berubah rupanya.” Tersenyum.

“Kau masih bisa bercanda rupanya?” Mencoba melarikan diri dari hadapan hyungnya.

Hyung menarik tanganku. Akupun berhenti.
“Kau tidak ingin mengobati hyungmu yang malang ini.” Suara melembut.

Aku menoleh melihatnya.
“Baik. Tapi kau harus menceritakan kepadaku nanti.”

Hyungku hanya mengangguk dan tersenyum.

RUANG TAMU 10:56 AM.
~
     Jiwon mengobati luka yang berada di dahi hyungnya dengan sedikit agak perih hyungnya pun merasa kesakitan.

“Awhhh..Awhh…” Pekiknya kesakitan.

“Hei.. Kau pria. Mengapa lemah sekali.” Memarahi hyungnya.

“Yaa… Mengapa kau terus memarahiku. Kau tidak melihatku yang terluka seperti ini.” Masih merasa kesakitan.

Melihat hyungnya dengan tajam.
“Selesai.” Melepaskan plester dari dahi hyungnya.
“Kau harus menceritakan kepadaku hyung.”

“Hah.. Kau ini memang sangat keras kepala sekali.”

Kembali Jiwon melotot kepada hyungnya.

“Ah! iya-iya…. Aku merasa menyesal telah meninggalkan kalian tanpa mengucapkan sepatah kata waktu itu. Hyungmu ini telah dihajar oleh gangster lokal, karena hyungmu ini tidak bisa membayar hutang yang beberapa bulan lalu aku meminjamnya, dan aku belikan sebuah obat penenang. Maafkan aku Jiwon. Hyungmu ini memang seorang pria brengsek. Hyung akan mencoba mencari pekerjaan yang gajinya sangat banyak. Dan hyung berjanji akan membiyayai kuliahmu. Itupun jika cukup untuk buat jajan saja.” Tersenyum kemudian membelai rambut Jiwon.

     Jiwon yang mendengarnya hampir meneteskan airmata. Mengapa harus begini akhir dari kehidupan hyungnya.

“Heii.. Mengapa kau tidak meresponku. Kau tadi sangat berantusias sekali ingin mendengar ceritaku.

Jiwon tetap diam dan melihat hyungnya penuh dengan kesedihan.

Mengapa kau selalu membuatku khawatir hyung. Tapi aku bersyukur kau masih kembali pada kami dan baik menjadi hyungku.’

“Ah… Aku membelikanmu sesuatu. Sebentar...” Mengambil sesuatu dari luar.

Jiwon tetap diam dan sedikit penasaran.

Hyungnya kembali menghampirinya.

“Taraaa……” Membuka sebuah kotak berisikan kue.

Jiwon masih tetap diam.

“Ya.. Kenapa kau tidak senang. Aku membawakanmu kue, Jiwon.”

Tiba-tiba Jiwon menangis dan memeluk hyungnya erat sekali. Perasaan Jiwon kembali merasa sedih dan bersyukur, karena hyungnya telah kembali dengan baik-baik saja. Hyungnya membalas pelukan Jiwon dengan terharu. Begitupun hyungnya mengeluarkan bening-bening putih dari matanya. Membasahi bibirnya yang sedikit terluka. Jiwon menangis dengan sesenggukan. Hyungnya hanya mengelus-elus punggungnya. Mencoba menenangkan dan semua akan baik-baik saja.

“Kau memang jahat hyung. Aku sangat membencimu sebenarnya. Aku berharap kau mati saja dan takkan kembali lagi menjadi anak dari ayah ibu dan menjadi hyungku. Kau tidak sadar membuat semuanya khawatir. Tapi saat kau kembali dengan terluka seperti ini. Aku ingin sekali melindungimu. Aku tidak ingin hyung meninggalkan kami lagi.” Menangis dengan keras dan memeluk hyungnya lebih erat.

“Ah..Hehe.. Maafkan hyungmu yang tidak bisa melindungi keluarga ini. Dan malah lari dari kenyataan, karena kepuasan hyung di luar sana. Maafkan aku, karena telah membuatmu selalu khawatir dengan keadaanku. Sekali lagi maafkan aku, Jiwon.” Mencium pelipis Jiwon.

     Beberapa menit kemudian. Tiba-tiba seseorang datang dan menjatuhkan barang yang ia bawa. Ia adalah Lee Yo Won ibu dari mereka berdua. Ia kaget hampir tidak percaya bahwa anak pertamanya akan kembali dengan terluka seperti itu.

Braaaaaak…..

Jiwon dan Yongjae melihat seseorang itu.

“Omaaa…” Kata Yongjae sambil lari mendekati ibunya.

“Yongjae.. Anakku.” Merasa dadanya sesak.

“Omaa,..” Tepat dihadapan ibunyna.

Jiwon yang mengikuti hyungnya segera membantu ibunya yang sudah hampir tergeletak di ubin, karena dadanya sesak dan ia terus memeganginya.

“Omaaa….” Teriak Yongjae dengan meneteskan airmatanya.

“Omaaa…Omaaa..” Jiwon pun panik.

Ibunya hanya sedikit remang-remang saat melihat Yongjae dan akhirnya mengalami syok dan pingsan. Segeralah Yongjae membawa masuk ke dalam kamar. Dan menyuruh Jiwon untuk menelpon dokter terdekat untuk memeriksa ibunya.

     Dengan menunggu kedatangan dokter. Yongjae yang masih mengompres dahi ibunya sambil meneteskan airmata itu merasa bersalah dan menyesal.

“Mengapa aku datang hanya membuat masalah seperti ini.” Menangis.

Jiwon yang berada dekat jangkauannya hanya mengelus pundak hyungnya dengan tanda bahwa semuanya akan baik-baik saja.

     Tak lama kemudian dokter datang. Dan menyuruhnya segera mengobati dan memeriksa ibunya. Yongjae yang panik itu membuat pikirannya tak tentu arah. Ia merasa pusing dan membuang semua benda-benda yang berada didekatnya dengan keras. Hingga terlempar pada kepala Jiwon. Jiwon yang melihat hyungnya merasa panik dan juga tidak melihat bahwa ia sedang terluka. Dokter yang mendengarnya dari dalam kamar, mencoba keluar dan melihat kejadian itu. Segera mengambil obat penenang. Dan kemudian disuntikkannya kedalam tubuh Yongjae. Yongjae pun tidak bergerak dan melemaskan badannya dan terbaring lemas di lantai. Jiwon merasa panik dan takut dengan kejadian yang baru saja terjadi.

“Dokter.. Mengapa hyungku menjadi seperti ini?” Tanyanya dengan agak ketakutan.

“Ia hanya mengalami kecemasan yang berlebihan. Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Ini obat untuk hyungmu. Setelah ia tersadar kau harus memberikannya, campurkan kedalam air tanpa sepengetahuannya.”

Jiwon hanya mengangguk tanda mengerti.

“Dan ini obat untuk ibumu. Ia hanya mengalami syok dan segera sadar. Kau harus memberikannya air putih setelah sadar nanti.”

Jiwon kembali mengangguk.

“Baik. Aku harus melanjutkan tugasku.”

“Oh.. Ne..” Memberikan salam, hingga obat yang berada ditangannya jatuh di lantai.

     Setelah dokter yang memeriksa itu pergi. Jiwon masih tetap tidak percaya hyungnya mengalami kecemasan yang berlebihan seperti itu. Ia merasa tangannya bergetar tanpa terkontrol. Ia merasa takut kejadian tadi terulang dan membuat keluarganya panik.

     Beberapa menit kemudian. Ibu Jiwon tersadar dan merasa lemas dan pusing. Ia terus memegangi dadanya yang sesak.

“Oh.. Omaaa… Syukurlah. Omaa telah sadar.” Mengambil segelas air putih dan memberikannya kepada ibunya.

Ibunya meminum segelas air putih yang diberikan Jiwon.

     Usai meminum segelas air putih. Ibunya spontan menanyakan keadaan anak pertamanya kepada anak keduanya, mengapa terjadi seperti itu. Mengapa ada luka di dahi Yongjae yang deras mengalir bau anyir.

“Bagaimana keadaan kakakmu? Kemana dia? Mengapa tak menghampiri ibunya?” Merasa cemas dengan keadaan anak pertamanya.

“Omaa.. Omma harus memikirkan kondisi omma dulu. Jangan memikirkan hyung dulu.... Ayah sebentar lagi akan pulang.”

“Apa kau memberitahu ayahmu tadi?”

“Ne.. Karena aku sangat khawatir dengan keadaan omma.” Memeluk ibunya dengan erat.

Ibunya merespon dengan mata berkaca-kaca.

     Tak lama mereka berpelukan diatas ranjang. Seseorang datang dengan jalan yang agak melemas menuju kamar tersebut.

“Ommaa…” Panggilnya dengan meneteskan airmatanya.

“Yoo..Yongjae. Anakku.” Melihat dengan tidak percaya.

Jiwon melepaskan pelukkannya.

“Ne.. Ini anakmu yang malang omma..” Tangisannya keras dan menundukkan kepalanya tepat di lutut ibunya.

     Jiwon yang melihat kejadian itu tidak bisa membendung airmatanya. Hyungnya merasa sangat bersalah sekali hingga sujud mencium kaki ibunya dengan suara tangisan yang membuatnya sangat perih sekali. Jiwon merasakan bahwa amat dalam sekali omma mencintai anak pertamannya itu.

“Maafkan aku omaa… Maafkan aku.” Menangis dengan sesenggukkan.

“Oma sudah memaafkanmu. Jadi kau berdirilah. Jangan seperti ini.” Pintanya untuk segera berdiri.

Yongjae melihat mata ibunya yang menangis.

“Oma.. Putramu yang malang ini berjanji akan menjadi anak yang baik dan mencari uang untuk kalian bertiga, ayah, Jiwon dan omaa.. Mengerti?” Mencium tangan ibunya.

     Terlihat sangat tulus sekali saat Yongjae mengucapkan kalimat yang seperti itu. Jiwon yang berada disitu memalingkan wajahnya agar tidak kembali menangis saat melihat kejadian yang berada di depannya. Mendengarnya terasa menyakitkan dan bahkan banyak pengorbanan disana.

     Usai tangisan yang terisak malang kembali membawa segala bahagia didalam keluarga itu. Mereka bertiga duduk bersama dan masih diatas ranjang. ibunya sangat bahagia walaupun masih belum sepenuhnya bahagia karena keadaan yongjae yang masih terluka itu. Ibunya memeluk Jiwon dan kemudian memeluk Yongjae dengan tersenyum mengiris sekali.

“Syukurlah.. Anak-anakku sudah dewasa.” Tersenyum. Kembali memeluk erat.

Jiwon dan Yongjae yang mendengar perkataan itu merasa bersyukur dan merasa akan lebih melindungi keluarganya lagi.

Seseorang tiba-tiba datang dan membawa segala alat bangunan yang sangat memberatkan tulang-tulang yang hampir keropos. Ia merasa kesusahan dan meletakkannya didekat pintu masuk.

“Aigooo…” Suaranya semakin mengecil dan berjalan masuk ke dalam kamar.

     Ayahnya melongo tidak percaya saat matanya mendapati mata anaknya yang bernama Yongjae itu. Pikirannya tidak menemukan kata untuk diperjelaskan lagi. Ia mencoba mendekati Yongjae dan hampir memukulnya.

“Aigooo… Dasar anak tidak berguna. Mengapa kau kembali dengan wajah yang tidak tampan seperti ini.” Memukuli dada Yongjae.

Yongjae hanya meneteskan airmatanya dan merasa sangat bersalah sekali.

     Setiap tetesan airmata dari Yongjae menandakan bahwa ia sangat menyesal sekali, telah menjadikan keluarganya semakin terisak tangis seperti ini.

“Maafkan aku ayah.. Maafkan putramu yang bodoh ini.” Ayahnya masih memukul-mukul Yongjae.

“Lalu mengapa kau melakukan ini pada ayahmu! Kenapa!” Teriaknya dengan melotot tajam tepat bulatan mata Yongjae.

“Mianhae aboeji..Mianhae..” Yongjae memeluk erat ayahnya.

Ayahnya pun merespon pelukkan Yongjae.

     Jiwon dan ibunya melihat kejadian itu merasa haru. Bening-bening putih telah menetes sejak kedatangan ayahnya. Bagaimanapun suasana segera menjadi lebih terang dan panas sekali. Setelah melewatkan waktu yang sangat mengharu biru. Kembali mereka berempat telah merencanakan akan berlibur dengan hasil jeri payah yang telah dihasilkan oleh ayah dan ibu mereka. Rencana liburan mereka akan ke pantai untuk beberapa hari di Busan.

     Setelah merencanakan liburan minggu depan. Jiwon dan Yongjae segera bersiap-siap untuk membeli sesuatu untuk dimasak saat keberangkatan esok. Mereka membeli bahan yang masih agak sejangkau dari rumah mereka.

     Sepanjang perjalanan. Mereka berdua saling berpegang tangan tanpa menghiraukan yang lain. Tak lama kemudia kami berdua sampai di tempat penjualan bahan-bahan yang akan dimasak.

     Usai membeli untuk beberapa menit yang lalu, mereka kembali menuju tempat tinggalnya. Masih dengan berjalan kaki, karena cukup menghemat dan sedikit berolahraga. Walaupun panas dan terik mentari menepiskan tubuh mereka berdua. Mereka tetap berjalan tanpa henti. Namun dari arah tak terduga seseorang menyerang dan memukul Yongjae. Jiwon yang tiba melihat itu terlihat kaget dan hanya melongo begitu saja. Pikirnya cemas dan segera meminta tolong kepada yang lain, yang mendengarnya.

“Tolong.. Toloong.. Toloong..”Teriaknya dengan cemas.
“Hyuuuung…” Bahan-bahanya tercecer sepanjang perjalanan.

Beberapa orang telah memegangi Jiwon. Agar tetap diam dan tidak berteriak-teriak lagi. Bungkamnya terlalu sadis dan Jiwon tidak dapat berkata apa-apa selain menangis syok melihat kejadian itu. Hyungnya telah terpukul untuk beberapa kali. Cucuran darah telah mengalir deras dari dahi yang baru saja ia obati. Kini telah terbuka lebih lebar lagi. Wajah hyungnya telah terlihat seperti lautan darah. Mata kiri bengkak dan mengeluarkan darah. Ini menyakitkan dan mengerikan. Jiwon semakin berteriak dan menangis, namun usaha bersikerasnya tidak dapat terpungkiri. Rasa sakit yang tidak menyadarkannya, telah membuatnya pingsan dan seperti kehabisan darah. Beberapa orang tidak muncul untuk membantu mereka berdua. Praaak… Tamparan keras mengenai wajah Jiwon yang cantik itu. Entah bagaimana mereka melakukannya sangat kejam. Kini Jiwon tahu apa yang membuat mereka menghajar hyungnya itu.

Aku tidak tahu mengapa menjadi seperti itu. Kurasa karena hyungku menyembunyikan sesuatu. Mereka menggelidah beberapa saku hyungku. Aku melihatnya dan menemukan sebuah benda kecil, entah itu apa. Aku tidak begitu jelas saat melihat. Remang-remang telah membuat mataku tidak jelas. Hyungku kembali tersadar.

“Ah.. Jangan kau ambil..” Suaranya kudengar terasa menyakitkan.

“Hahaha….” Menendang muka Yongjae. Kembali bibirnya mengalir deras bau anyir.

     Beberapa orang itu telah pergi. Akupun menghampiri hyungku dan aku mengangkat kepala yang hampir terselimuti darah kental yang sangat deras sekali. Aku menangis terasa sakit melihat semua itu. Bagaimana hyungku bisa mendapatkan masalah seperti ini dan darah yang mengalir deras seperti ini.

“Apa kau tidak bisa berkelahi.. Ha!” Aku memarahinya dan masih menangis.

     Aku melihatnya, bahwa ia hanya tersenyum membalas perkataanku. Aku mengabaikannya dan mencoba menghubungi L sunbae.

~Sunbae kau ada dimana. Aku membutuhkanmu. Aku berada di jalan gangnam nomor 68. Kau cepat kesini aku sangat membutuhkan bantuanmu. Cepat!~ Teriakku tanpa jeda dan sangat panik. Langsung mematikan ponselnya.

     L yang belum membalas perkataannya itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang sifat Jiwon saat panik seperti itu. Langsung ke inti.

“Kau bertahanlah hyung. Sebentar lagi aku akan membawamu ke rumah sakit. Kau bertahanlah.”

Yongjae pun pingsan kembali pingsan.

Aku kembali menangis.
“Bagaimana ini… Ah.. Hyung. Kau bertahanlah…” Teriakku menggema.

     Beberapa menit kemudian. Mobil berwarna putih mengkilap telah menghampiri mereka berdua. Saat L turun dari mobilnya, melihat yang berada dalam pangkuannya adalah teman saat SMAnya itu. L terlihat kebingungan dan tidak percaya bahwa temannya itu telah kembali dan terluka seperti itu.

“Eee..ee.. Bagaimana hyungmu….” Melihat Jiwon tidak percaya.

“Ah.. Kau tidak usah banyak bertanya dulu sunbae. Kau harus membawa hyungku ke rumah sakit.” Balasnya dengan nada memaksa.

“Lalu wa..wajahmu….” Menunjuk pipi kiriku.

“Ah sudahlah sunbae. Cepat!” Balasku teriak.

“Oh.. Ye..Ye..” Membopong Yongjae kedalam mobil.

     Setelah semuanya beres. Jiwon tidak mengikuti L sunbae dan hyungnya. Melainkan membersihkan bahan-bahan yang telah tercecer di jalan.

“Kau tidak ikut?” Mendekatiku yang sedang memunguti beberapa bahan yang masih utuh.

“Kau harus membawa hyungku sunbae. Aku akan memberitahu ayah dan ibuku. Cepat!” Perintahku tegas.

“Oh.. Baik.. Kau segeralah kesana.” Masuk dalam mobil.

Aku hanya mengangguk tanda mengerti.

     Beberapa menit kemudian. Jiwon telah sampai dirumah dan dilemma, harus bagaimana mengatakan semua ini. Padahal baru saja hyungnya datang dengan keadaan sedikit terluka. Namun sekarang bertambah parah dan hampir tidak mengenali wajahnya.

“Kau sendirian? Mana hyungmu? Tanya ibunya penasaran.
“Mengapa bahan-bahannya sedikit sekali. Bukankah ibu menyuruhmu mengambil beberapa yang harus kita bawa esok pada saat liburan?” Tanyanya sedikit membingungkan Jiwon.

“Ah.. Tadi…….” Terpotong dengan kedatangan ayahnya yang dari belakang.

“Jiwon.. Mengapa didepan kamar ibumu banyak benda yang bergelimpangan dan sedikit pecah?” Kembali tanyanya membuat Jiwon semakin gelisah.

“Sebenarnya.. Hyung berada di rumah sakit sekarang omma, ayah..” Melihat ibu dan ayahnya dengan sedikit agak menghawatirkan.

“Aigooo…” Kembali ibu Jiwon memegangi dadanya.

“Sayang kau tidak apa-apa?” Menopang tubuh istrinya.

“Kita harus ke rumah sakit ayah, oma… sekarang.”
“Omma.. Oma harus bisa menahannya..” Merangkul ibunya.

     Taksi masih agak sulit dicari di daerah Gangnam yang pelosok seperti ini. Biar bagaimanapun Jiwon tetap mencarikan demi kedua orang tuanya itu. Beberapa menit kemudian Jiwon tidak mendapatkan taksi melainkan mobil Joongki sunbaenya. Tidak merasa terepotkan pada akhirnya mobil yang dikemudikan Joongki ini membawa Jiwon dan ayah ibunya kerumah sakit Gangnam.

“Aigoo.. Temanmu tampan sekali.” Joongki yang mendengar itu hanya tersenyum kecil.

“Ah.. Oma, mengapa seperti itu. Bukannya oma tadi merengek karena dadamu sakit. Haish dasar!

“Jiwon.. Kau tidak seharusnya berkata seperti itu pada ibumu.” Melihat Jiwon dengan tatapan menasehati.

“Lihatlah Jiwon ia sangat dewasa sekali.” Kembali sedikit merayu Jiwon.

“Ah.. Benar-benar, omaa..” Sedikit agak malu-malu.

Joongki tersenyum menyeringai dengan menyetir mobilnya.

“Oh.. Nak. Kau benar teman Jiwon?” Tanyanya sedikit kurang jelas.

“Ayah!” Menoleh kebelakang untuk melotot tajam kepada bulat mata ayahnya itu.

“Ahehehe… Ne. Aku hanya senior putrimu paman.” Melihat sekilas ayah Jiwon.

“Ah.. Benar-benar. Mengapa aku terjebak dalam situasi seperti ini. Dan kau ayah. Joongki sunbae sedang mengemudikan mobilnya. Jadi ayah jangan bertanya atau bicara lagi. Biarkan Joongki sunbae fokus menyetir.”

“Wooowowoooow….” Kembali ayah dan ibu Jiwon menggoda Jiwon.

“Haish.. Benar-benar kalian kekanak-kanakan sekali.” Merasa kesal.

Joongki yang melihat kejadian seperti itu hanya tertawa kecil dan melihat Jiwon lucu sekali bertingkah seperti itu.

RUMAH SAKIT GANGNAM 03:45 PM.
    
     Setelah sampai rumah sakit untuk beberapa menit. Mereka berjalan menuju pusat informasi. Setelah mendapati tempat Yongjae yang berada diruang UGD lantai 5. Mereka bergegas menuju ke lantai 5 dengan menggunakan lift. Sesampainya disana, L sunbae telah menunggu dengan raut wajah yang masih terlihat kebingungan.

“Sunbae…” panggilku dengan agak sedikit tergesa.

L sunbae menolehku.

“Jiwon.. Oh, paman bibi.” Menyalami ayah ibu Jiwon.

“Bagaimana keadaan Yongjae.”

“Ah masih diperiksa paman. Jadi paman dan bibi duduklah dulu.”

Ayah dan ibu Jiwon duduk, sedikit mencemaskan anak pertamanya itu.

“Jiwon.. Kau kesini dengan apa?” Melihat langkah seseorang yang berjalan.
“Joongki. Mengapa kau ada disini.” Tanyanya penasaran.

“Ah.. L sunbae kau jangan berpikiran negative dulu. Joongki sunbae telah mengantarkan kami kesini. Oh... Terimakasih Joongki sunbae, Kau telah mengantarkan kami dengan baik sampai kesini.” Tersenyum melihat Joongki.

L sunbae merasa diabaikan.

“Iya Jiwon. Kau tidak usah sungkan jika kau membutuhkan bantuan dariku.” Balasnya tersenyum menyeringai manis.

“Ah.. Jiwon. Luka dipipi kirimu sudah tidak apa, kan?” Khawatirnya dengan mengjangkau pipi kiri Jiwon.

“Oh.. Baik-baik saja sunbae. Kau jangan khawatir seperti itu. Aku tak apa-apa.

Joongki hanya diam, dan sedikit mengamati pipi kiri Jiwon. Dia mencoba untuk bertanya namun belum waktunya. Ia masih harus mendengarkan apa yang sedang mereka berdua bicarakan tanpa menghiraukan ia yang berada di jangkauan mereka berdua.

“Kau tidak ingin memeriksanya, mari kuantar?”

“Ah.. Tidak usah. Aku baik-baik saja sunbae.”

“Lalu mengapa kau terluka di pipi kirimu. Nampak bekas luka tamparan.” Kembali ia mempertegas pertanyaannya.

“Sunbae. Mengapa kau ingin tahu sekali.”

“Karena aku menyukaimu, aku ingin melindungimu Jiwon.” Tanpa canggung di depan kedua orang tua Jiwon.

     Ayah ibu Jiwon hanya melihat, kemudian mengabaikannya. Begitupun Joongki yang mendengar itu seakan tidak percaya. Teman seperjuangannya itu telah menyukai perempuan yang ia sukai juga. Namun Joongki masih sekedar suka. Belum mencintai atau menyayangi.

     Jiwon yang mendengar perkataan dari L hanya merasa bahwa ia tidak mendengarkan kata-kata dari L sunbaenya itu. Merasa tidak terjadi apa-apa dan segera mengajak Joongki sunbae mencari minuman. Karena ia merasa haus sekali.

“Ah.. Joongki sunbae. Kau belum minumkan dari tadi. Ayo kita mencari yang dingin.” Menggandeng tangan Joongki sunbae.

L yang melihat tingkah mereka berdua merasa cemburu dan diabaikan untuk kedua kalinya lagi.

KANTIN RUMAH SAKIT GANGNAM 04:15 PM.

“Haish… Mengapa aku dalam situasi seperti ini lagi.” Duduk.

“Kenapa?” Mengikuti Jiwon duduk.

“Ah.. Tidak apa-apa sunbae.” Balasku tersenyum kelelahan.

“Jiwon.. Aku ingin bertanya kepadamu?”

“Apa sunbae?”

“Sebenarnya ada kejadian apa? Mengapa ada bekas luka tampar di pipi kirimu?”

“Ah…ahaha.. Tidak apa-apa sunbae.” Balasku tersenyum.

“Kau yakin tak ingin menceritakannya kepadaku?”

“Ah.. Ye..Ye.. Aku akan menceritakannya kepadamu sunbae.”
Menghela napas panjang.
“Siang tadi aku bersama hyungku telah selesai membeli beberapa bahan untuk dimasak saat liburan nanti di Busan. Dan aku tidak menyadari seseorang dari arah tak terduga dan beberapa temannya telah menyerang hyung dan memukuli hyungku. Saat aku berteriak meminta tolong, aku tidak menyadari bahwa aku sudah di bekap oleh beberapa orang yang memukuli hyungku itu. Dan saat aku mencoba berteriak dengan tangan orang itu yang masih dimulutku, kemudian aku, entah dipukul atau ditampar aku masih tidak menyadarinya. Karena mataku tetap melihat hyungku yang berusaha berontak tetapi tidak bisa. Aku merasa kesakitan saat hyungku dipukuli sampai darah kental berwarna merah hati itu keluar dengan derasnya. Itu menyakitkan sekali sunbae.” Hampir meneteskan airmata.
“Ah.. Maaf aku hampir meneteskan airmata karena harus menceritakan ini kembali.”

“Tidak Jiwon. Lalu mengapa hyungmu bisa dipukuli seperti itu.” Tanyanya masih penasaran.

“Hemm.. Aku tidak tahu.” Menghela napas panjang kembali.
“Tapi yang pasti, sebelum itu aku menemukan alasan mengapa hyungku seperti itu. Ia setelah meninggalkan rumah untuk beberapa bulan lalu. Dan saat kembali aku menemukan keanehan dalam diri hyung. Saat oma melihat hyungku pingsan. Dan aku lihat hyungku merasa sangat menyesal kemudian ia membanting benda atau barang-barang yang berada didekatnya. Aku merasa takut. Setelah dokter memberitahuku bahwa hyungku mengidap penyakit khawatir dan cemas yang berlebihan. Aku tidak tahu sunbae, mengapa jadi seperti ini. Ia merasa tenang setelah meminum obat penenang efeknya bisa membuat ia lupa dengan masalah dan seperti melayang-layang di udara. Sunbae kau tahu. Aku takut sekali. Aku berharap hyungku itu sudah mati saja dan takkan kembali. Karena ia mengikuti gengster lokal dan hidupnya hanya untuk berjudi, memalak, dan uang, uang. Aku tidak tahu sunbae.” Menangis seperti kemarin saat di Dalkom Coffe dengan wajah tertunduk, ditahan oleh kedua lengannya.

Joongki yang melihatnya merasa sedih dan sesekali ia membelai rambut Jiwon. Dengan wajahnya yang manis sekali. Joongki memberikan nasehat bahwa semuanya tidak akan berkepanjangan dan semuanya akan baik-baik saja. Kemudian Jiwon kembali bangkit dari stresnya itu. Lalu kembali tersenyum kecil kepada Joongki.

Dreeett.. dreeet.. dreeet
Membuka ponsel.

~Jiwon kau ada dimana? Hyungmu sudah sadar.~

     Tanpa membalas pesan dari L sunbaenya ia langsung berlari dan kemudian Joongki sunbaenya mengikuti dari belakang.

MASUK RUANG RAWAT – YONGJAE TELAH MELEWATI MASA DARURATNYA 6:55 PM.

     Kulihat disana oma telah menangis terisak dengan derasnya airmata yang ia telah jatuhkan. Hyungku terlihat sangat syok dan sesekali melihatku tak sadar. Ayah memegangi tangan hyung semakin erat. Kudengar tangisan oma, aku tidak bisa menahannya. Semakin ingin menangis saja saat itu. Ku berbalik arah, ternyata Joongki telah berada di belakangku. Aku menabraknya dan kulihat ia semakin memberikan tatapan dalam untukku. Kulihat L sunbae yang melihatku dengan Joongki sunbae. Ia merasa sangat cemburu. Entahlah matanya berbinar seperti ingin mengungkapkan sesuatu untuk dibicarakan kepadaku.

“Kau ingin pergi kemana? Bukankah hyungmu sudah sadar. Kau harus menemuinya.” Pinta Joongki tegas.

“Baiklah…” Kembali mendekati hyungnya.

     Kulihat mata hyung yang berbinar lembut disana. Kulihat samar matanya ingin mengeluarkan bening putih dari tempat mata yang lembut itu. Kurasa hyungku ingin berbicara. Namun oma tetap menangis dan memukul dada hyung. Ayah segera menahan tangan oma dan menghindarkan hyung kepada oma, masih dekat dengan jangkauanku.

     Kini tinggal hyung dan aku. Kutatap kembali mata hyung yang mulai meneteskan airmata satu persatu dari kedua mata yang sayu itu. Tanganku kini telah tergenggam oleh hyung. Aku menahan tangisanku. Namun apalah dayaku yang tidak bisa menahannya. Seseorang dari belakang memegangi pundakku. Aku tidak menghiraukannya, karena mataku tetap tertahan oleh hyung Yongjae.

     Kini hyung telah memelukku dan masih terbaring kaku di kamar rawat ini. Aku menangis diatas dada hyungku. Sesekali aku ingin memukul dadanya.

“Kau tahu. Kau sangat menyebalkan dan selalu membuat kami khawatir dengan keadaanmu hyung. Dasar kau memang pria bajingan.” Teriakku semakin kencang dan berharap hyung sadar akan hal itu.

“Mianhae Jiwon. Hyungmu memang tidak berguna.” Balasnya santai dan membelai rambutku.

“Kau memang selalu begitu.” Bangkit dari pelukkan. Dan melihat tajam mata hyungnya.

Hyungnya tersenyum dengan menahan luka dibibirnya.

“Tidak lucu.” Balasnya masih tajam.

“Heii.. Kau tidak ingin mengenalkan pacarmu padaku?” Melihat seseorang yang berada dibelakang Jiwon.

Jiwon berbalik arah.
“Aih…” Gumamnya tak didengar oleh hyungnya dan seseorang dibelakangnya.

“Heemmm…” Tanyanya kembali.

Seseorang yang berada dibelakang Jiwon hanya tersenyum.

“Ah.. Kau jangan salah paham hyung. Ini adalah seniorku dari jurusan Psikologi. Namanya Song Joong Ki. Aku memanggilnya Joongki sunbae. Puas!!!” Menjelaskan dengan agak gugup.

“Lalu kenapa wajahmu terlihat merah muda begitu?” Candaanya.

“Haish..” Terlihat malu saat Joongki melihatnya.
“Kau belum pernah kupukul, kan?” Balasnya kejam.

“Ya, ya, ya.. Kau terus kejam padaku Jiwon.”

“Seeshhss….” Desisnya marah.

“Jadi kau bukan pacarnya Jiwon?”

Joongki tersenyum.
“Ah.. Tidak, aku hanya seniornya dari exstra photography.” balasnya kembali tersenyum.

“Aaahhh… Sayang sekali. Padahal kau tampan. Mengapa Jiwon tak menyukaimu, ya……. ” Candanya dengan memandang wajah Jiwon yang sedang memerah.

Jiwon dan Joongki saling memandang. Dan beberapa detik padangan mereka berlalu.

Bagaimana aku mengatakannya. Aku sebenarnya menyukaimu Jiwon.’

‘Hyung salah. Aku sebenarnya telah menyukai Joongki sunbae sejak pertama ia menolongku. Entah apa yang Jongki sunbae rasakan. Aku tak begitu memikirkan, karena aku memang tidak pantas dengannya. Mungkin.’

“Heii… Mengapa kalian berdua seperti canggung begitu?”

Soktoy banget sih jadi orang.” Mulai menggandeng tangan Joongki.

Hyungnya yang melihat tingkah adiknya yang aneh itu merasa terhibur dan tertawa menggodanya.

     Sedari tadi terlihat bahwa L telah mengalami kecemburuan yang teramat dalam. Bagaimana bisa Yongjae yang baru mengenal Joongki terlihat baik-baik saja. L semakin ingin murka kepada Joongki maupun Yongjae. Padahal Yongjae adalah teman lama L. Mengapa L tidak memahami itu.

“Joongki sunbae. Mari kita pergi dari sini.” Menggandeng tangan Joongki.

“Eh’emmm.. Sepertinya gandeng-menggandeng adalah hal yang dilakukan oleh pasangan kekasih.” Godanya hingga tertawa.

Jiwon melirik sebentar dan kembali meluruskan niatannya.

Joongki hanya tersenyum manis melihat wajah Jiwon yang begitu lucu saat marah.

     Sebelum keluar dari ruang rawat. Jiwon menyapa tulus kepada L sunbaenya. Dan memberikan ruang untuk L sunbae dan hyung Yongjae berbicara berdua. Karena telah lama mereka terpisah sebagai teman dekat.

     Entah kemana mereka akan pergi. Sesudah meminta izin kepada ayah dan omanya. Mereka bergegas ke parkir dan Joongki mengambil mobil yang lalu telah mengantarkan hyung Jiwon ke rumah sakit Gangnam ini.

“Gomawo (Terimakasih) sunbae.” Tersenyum.

“Untuk?” Melihat Jiwon sekilas kemudian mulai menyetir.

“Mengantarkan hyungku kerumah sakit ini. Karena jika bukan karena sunbae, mungkin hyungku telah mening…..”

“Heyy.. Kau tidak usah berterimakasih. Aku ikhlas melakukannya.” Balasnya tersenyum.

“Tapi, kan…” Terpotong.

“Sudahlah, tidak usah kau bahas lagi Jiwon.” Tersenyum kembali.

“Baik sunbae.” Balasnya dengan senyum juga.

“Ah.. Kita mau kemana? Kau belum makan, kan?” Melihat Jiwon sekilas.

“Ah.. Aku sudah kenyang sunbae.”

“Bagaimana kau sudah kenyang. Kau tadi hanya minum, bukan makan.” Tegasnya diperjelas.

“Hah.. Iya-iya, ayo kita makan. Tapi….” Kembali terpotong.

“Baiklah aku tahu. Aku yang akan mentraktirmu Jiwon.” Balasnya dengan tertawa menyeringai.

Jiwon pun ikut tertawa melihat Joongki tertawa seperti itu. Manis sekali.

     Tak lama kemudian. Joongki dan Jiwon telah sampai, dan berhenti di rumah makan yang masih ramai pengunjung dan masakkan kuliner yang tak ada habisnya. Yaitu Chicken Home.

Jiwon yang melihat nama dari rumah makan tersebut melotot tidak terbayangkan.

“Sun..sunbae.. Tempat ini. Ah…” Menghela napas panjang dan berpikir aneh-aneh.

“Kenapa?” Tanyanya dengan memandang wajah Jiwon yang sayu itu.

“Tempat ini kan makanannya mahal. Kenapa kita tidak mencari tempat yang lain saja. Ramen di gang gangnam cukup murah dan mengeyangkan sunbae. Bagaimana?” Ajakannya dengan jelas.

“Jadi, kau tidak ingin makan ayam. Kau ingin makan ramen.”

“Ne.. Nee.., sunbae.” Dengan wajah lucunya Jiwon menganggukkan kepalanya.

“Haish.. Kau lucu selaki.” Mengusap-usap rambut Jiwon.

Hati Jiwon tiba-tiba berdegub.
Ah.. Tanda apa ini, mengapa cepat sekali.’ Sambil memegang dadanya.

“Kau kenapa? Dadamu sakit.” Memegang kedua pundak Jiwon dan melihat Jiwon panik.

‘Haish.. Aku merasa aku menyukaimu. Kenapa kau malah bertanya dadaku sakit.’

“Jiwon.. Kau tidak menjawabku?” Semakin panik.

“Gwenchanayo…” Melihat Joongki pasrah.

“Ya.. Mengapa kau mendadak pasrah seperti itu.
“Kau benar tidak apa-apa?”

Jiwon hanya menganggukkan kepalanya dengan melihat mata Joongki sayu.

“Baiklah-baiklah mari kita makan ramen Jiwon.” Menggandeng tangan Jiwon dan membukakan pintu mobil untuk mempersilahkan Jiwon duduk.

Degg..Deg..deg..
Ah.. Mengapa terjadi lagi. Bagaimana ini…’ Gugup.

Duduk kemudian melihat Jiwon.
“Kau kenapa lagi Jiwon?”

“Ah.. sunbae. Bagaimana ini?”

“Apanya yang bagaimana?”

Jiwon diam.

“Jiwon.. Katakan?” Merasa cemas kembali.

“Aku menyukaimu sunbae.” Jawabnya dengan cepat dan tegas.

Joongki yang mendengar itu sambil mengemudi, akhirnya ia injak rem dengan mendadak. Jiwon pun kaget. Hampir terbentur kaca didepannya. Namun Jiwon tetap diam dan melihat ke depan karena malu kepada Joongki.

Joongki mendadak kaget bukan karena rem yang ia injak. Tapi karena perkataan jujur dari bibir Jiwon.

“Kau bicara apa? Aku tidak mendengarnya.” Tanyanya ingin semakin diperjelas.

“Ah.. Bukan apa-apa sunbae. Tapi mengapa kau menginjak rem dengan mendadak seperti itu. Kau ingin membunuhku, ya?” Berbicara tanpa menatap Joongki.

“Kau bicara dengan siapa?”

“Jelas dengan kau sunbae.”

“Lalu mengapa kau tak melihatku?”

“Aku hanya tidak ingin melihatmu terus, sunbae.”

Joongki menarik tangan kanan Jiwon. Jiwon pun tepat di depan wajah Joongki sekarang. Jiwon merasa panik dan bola mata yang berwarna hitam terus berjalan ke kanan dan ke kiri. Berusaha mencari alasan dan berusaha untuk tidak ditatap oleh Joongki terus. Namun usaha Jiwon sia-sia. Joongki terus menatap mata Jiwon. Bertanda akan perang romance. Wajah lucu Jiwon semakin Joongki dapati. Napas hangat terus keluar dari hidung Jiwon. Mengapa cepat sekali napasnya. Bertanda bahwa Jiwon sekarang sedang mengalami kegugupan yang berlebihan.

‘Aish..’ Menundukkan kepalanya, karena malu. Namun Joongki menangkup dagu kecil milik Jiwon dengan tangan kanannya. Kemudian memandangnya lagi dengan senyuman yang manis, menyeringai seperti ingin mendaratkan bibir hangatnya ke bibir merahnya Jiwon.

Kembali Joongki memerintahkan Jiwon untuk menatap matanya.

‘Ya Tuhan. Aku benar-benar tidak bisa menahannya. Tolong sudahi saja. Aku benar-benar tidak tahan. Rasanya aku ingin berteriak saja. Mengapa ia menatap tajam seperti itu.’ Dalam hati panik dan cemas karena perbuatan Joongki semakin membuatnya ingin gila saja dalam sekejap.

Jiwon semakin panic dan sesekali ia memejamkan matanya. Karena malu dengan tatapan yang diberikan oleh Joongki. Jiwon merasa leleh dan tidak tahan dengan tatapan tajam dengan sedikit gila itu. Jika seorang wanita lain dipandang dengan pandangan tajam dan penuh sensasi ini. Mungkin wanita itu akan seperti Jiwon. Leleh dan tidak bisa menahannya. Semua wanita pasti akan menyukai pria yang mempunyai tatapan yang tajam penuh cinta seperti Song Joong Ki. Termasuk Jiwon.
    
     Beberapa menit kemudian Joongki kembali tersenyum dan semakin mendekati bibir Jiwon. Dan hidungnya pun sudah bersentuhan. Keduanya mempunyai hidup yang mancung dan mempunyai bibir yang menggoda. Jiwon kembali memejamkan mata dan masih panik. Ia sesekali berpikiran, bahwa ciuman pertamanya harus berhasil.

‘Hah.. Kau tetap didepanku dan hidung kami telah bersentuhan Tuhan. Bagaimana ini. Hemm… Ya baiklah aku akan melakukannya dengan benar.’ Gumamnya dalam hati semakin menjadi-jadi.

Joongki yang melihat Jiwon seperti itu. Merasa tertawa kecil dan tetap memandang wajah Jiwon yang salah tingkah.

“Tapi aku mendengarnya kau ingin terus melihatku.” Bisiknya dengan tertawa kecil.

Jiwon mendadak kaget dan malu sekali.
‘Aiish..’ Menunduk malu.

“Hei.. Kau kenapa?” Menangkup dagu Jiwon kembali.

“Aniy (Tidak)..” Balasnya kembali pasrah.

“Ya.. Kau marah, padaku?” Menatap wajah Jiwon.

Jiwon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Bertanda ia tidak marah dengan Joongki.

Joongki tersenyum menatap Jiwon.
“Kau tahu? Jiwon yang tadi sangat lucu sekali. Aku melihatnya sampai ingin tertawa keras.” Candanya dengan tertawa menyeringai.

“Begikukah?” Menatap tajam Joongki.

“Huuemm..” Menganggukkan kepala dengan bibir yang seperti anak kecil.

“Aku benar tidak mood bercanda sunbae? Jadi kau antarkan aku pulang saja.” Mulai kesal.

“Wae (Kenapa)? Mengapa kau selalu seperti ini? Kadang kau sangat manja, lucu, tersenyum dan tidak pernah mendadak diam dan sensitive seperti ini? Wae, Jiwon? Apakah aku menyakitimu?” Tanyanya dengan menatap mata tulus Jiwon.

Jiwon kemudian memalingkan pandangannya. Berusaha menhindari tatapan yang diberikan oleh Joongki.

“Kau lihat aku.” Perintah Joongki tegas.

Jiwon pun melihat mata Joongki dengan penuh arti.
Dan mulai bicara.

“Aku menyukaimu sunbae. Aku berusaha menghindari ini. Tapi mengapa aku tak bisa. Karena aku benar-benar menjaga pertemananku dengan Yuri yang juga menyukaimu. Kau tahu apa yang selalu ia ceritakan jika ia bertemu denganku. Ia selalu menceritakan tentang dirimu. Dirimu menjadi kebanggannya. Bagaimana aku bisa menghianatinya. Sunbae… Aku tidak ingin kau menjawabnya, aku hanya ingin mengungkapkan yang sebenarnya didalam hati ini, yang semakin hari semakin mulai mencekikku. Aku sadar itu sunbae.” Meneteskan airmatanya satu-persatu.

Joongki spontan memeluknya. Sangat memilukan dan pelukkan hangat selalu Joongki berikan pada Jiwon. Tangisan isaknya terus terdengar oleh Joongki. Semakin membuat Joongki merasa ingin melindungi Jiwon disaat sepi melilit seperti ini.

‘Bukan tak ingin menjawabnya Jiwon. Sebenarnya aku juga menyukaimu. Sejak aku memanggil namamu untuk pertama kalinya. Aku sangat menyukai senyuman manismu itu. Tapi entah bagaimana aku mengatakannya. Karena saat ini kulihat kau banyak disukai oleh banyak lelaki, dan sebagian ku kenal adalah L dan Ken temanmu itu. Aku berjanji akan mengungkapkannya di waktu yang tepat dan takkan pernah terlupakan. Apakah kau mendengar desah hatiku Jiwon.’

‘Aku bersyukur bisa memelukmu seperti ini. Aku semakin ingin memiliki dan melindungimu.’

     Pelukkan hangat mereka seakan tenggelam dalam malam yang mencekam. Awan hitam mulai berjatuhan menjadi bening-bening putih yang berjatuhan dari langit. Membasahi bumi dan membuat keduanya melanjutkan perjalanan pulang dan melupakan perjanjian awal.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar