-Karena
Cinta Awal Dari Kebiasaan-
Mentari kembali terik dan memapas
jendelaku dengan cahayanya yang keemasan itu. Aku rebahkan semua yang berada
dalam tubuhku, selimut dan guling yang menahanku untuk bangun. Kucium bau kopi
yang menyegarkan semangatku dari arah dapur. Tak biasanya bau itu tercium saat
ini. Aku mengingat, hanya hyung yang meminum kopi bukan ayah atau ibu. Tapi
saat ku melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 08:59 ayah ibu telah berangkat
bekerja lagi setiap harinya.
“Padahal hari libur. Tapi tidak untuk ayah dan ibu. Heeem.” Menghela
napas dan bergegas untuk bangun dari tempat tidur.
Kreeeekkk…. Kreeeeek…
Pintu terbuka.
Aku melihatnya kaget bukan kepalang.
Apakah sesosok yang berdiri di tengah pintu itu benar hyungku. Lidahku keluh
untuk memanggilnya. Ia mendekatiku dengan wajah yang berlumuran darah, namun
terlihat kering.
“Jiwon…” Tersenyum dan mendekatiku.
Aku masih melotot tidak percaya.
Hyung semakin dekat denganku, dan
berdiri tepat dihadapanku. Ia tersenyum padaku. Ia membelai rambutku dan aku
semakin ingin menangis. Mengapa seperti ini. Lalu mengapa ada darah yang
bercucuran kering diwajah tampannya itu. Akhirnya ku beranikan diri untuk
bertanya padanya.
“Bagaimana hyung bisa berada disini..” Agak sedikit kaku.
Hyung masih membelai
rambutku dan masih menatap serius wajahku. Kembali ia memasang wajah tampannya
dengan dilapisi senyum yang manis itu.
“Hyung.. Kau dengar aku?” Menatap serius wajah hyungku.
“Iya.. Aku mendengarnya.” Balasnya dengan senyuman.
“Lalu mengapa kau tak menjawabku? Dan mengapa wajahmu penuh dengan
darah? Sebenarnya kau di luar sana sedang apa! Kau kerja apa!” Bentakku mulai
terlihat.
Hyung berhenti membelai rambutku. Dan menatapku tajam.
“Hei… Kau memang tak berubah rupanya.” Tersenyum.
“Kau masih bisa bercanda rupanya?” Mencoba melarikan diri dari
hadapan hyungnya.
Hyung menarik tanganku. Akupun berhenti.
“Kau tidak ingin mengobati hyungmu yang malang ini.” Suara melembut.
Aku menoleh melihatnya.
“Baik. Tapi kau harus menceritakan kepadaku nanti.”
Hyungku hanya mengangguk dan tersenyum.
RUANG TAMU 10:56
AM.
~
Jiwon mengobati luka yang berada di dahi
hyungnya dengan sedikit agak perih hyungnya pun merasa kesakitan.
“Awhhh..Awhh…” Pekiknya kesakitan.
“Hei.. Kau pria. Mengapa lemah sekali.” Memarahi hyungnya.
“Yaa… Mengapa kau terus memarahiku. Kau tidak melihatku yang terluka
seperti ini.” Masih merasa kesakitan.
Melihat hyungnya dengan tajam.
“Selesai.” Melepaskan plester dari dahi hyungnya.
“Kau harus menceritakan kepadaku hyung.”
“Hah.. Kau ini memang sangat keras kepala sekali.”
Kembali Jiwon melotot kepada hyungnya.
“Ah! iya-iya…. Aku merasa menyesal telah meninggalkan kalian tanpa
mengucapkan sepatah kata waktu itu. Hyungmu ini telah dihajar oleh gangster
lokal, karena hyungmu ini tidak bisa membayar hutang yang beberapa bulan lalu
aku meminjamnya, dan aku belikan sebuah obat penenang. Maafkan aku Jiwon.
Hyungmu ini memang seorang pria brengsek. Hyung akan mencoba mencari pekerjaan
yang gajinya sangat banyak. Dan hyung berjanji akan membiyayai kuliahmu. Itupun
jika cukup untuk buat jajan saja.” Tersenyum kemudian membelai rambut Jiwon.
Jiwon yang mendengarnya
hampir meneteskan airmata. Mengapa harus begini akhir dari kehidupan hyungnya.
“Heii.. Mengapa kau tidak meresponku. Kau tadi sangat berantusias
sekali ingin mendengar ceritaku.
Jiwon tetap diam dan melihat hyungnya penuh dengan kesedihan.
‘Mengapa kau selalu membuatku
khawatir hyung. Tapi aku bersyukur kau masih kembali pada kami dan baik menjadi
hyungku.’
“Ah… Aku membelikanmu sesuatu. Sebentar...” Mengambil sesuatu dari
luar.
Jiwon tetap diam dan sedikit penasaran.
Hyungnya kembali menghampirinya.
“Taraaa……” Membuka sebuah kotak berisikan kue.
Jiwon masih tetap diam.
“Ya.. Kenapa kau tidak senang. Aku membawakanmu kue, Jiwon.”
Tiba-tiba Jiwon menangis dan memeluk
hyungnya erat sekali. Perasaan Jiwon kembali merasa sedih dan bersyukur, karena
hyungnya telah kembali dengan baik-baik saja. Hyungnya membalas pelukan Jiwon
dengan terharu. Begitupun hyungnya mengeluarkan bening-bening putih dari
matanya. Membasahi bibirnya yang sedikit terluka. Jiwon menangis dengan
sesenggukan. Hyungnya hanya mengelus-elus punggungnya. Mencoba menenangkan dan
semua akan baik-baik saja.
“Kau memang jahat hyung. Aku sangat membencimu sebenarnya. Aku
berharap kau mati saja dan takkan kembali lagi menjadi anak dari ayah ibu dan
menjadi hyungku. Kau tidak sadar membuat semuanya khawatir. Tapi saat kau
kembali dengan terluka seperti ini. Aku ingin sekali melindungimu. Aku tidak
ingin hyung meninggalkan kami lagi.” Menangis dengan keras dan memeluk hyungnya
lebih erat.
“Ah..Hehe.. Maafkan hyungmu yang tidak bisa melindungi keluarga ini.
Dan malah lari dari kenyataan, karena kepuasan hyung di luar sana. Maafkan aku,
karena telah membuatmu selalu khawatir dengan keadaanku. Sekali lagi maafkan
aku, Jiwon.” Mencium pelipis Jiwon.
Beberapa menit kemudian.
Tiba-tiba seseorang datang dan menjatuhkan barang yang ia bawa. Ia adalah Lee
Yo Won ibu dari mereka berdua. Ia kaget hampir tidak percaya bahwa anak
pertamanya akan kembali dengan terluka seperti itu.
Braaaaaak…..
Jiwon dan Yongjae melihat seseorang itu.
“Omaaa…” Kata Yongjae sambil lari mendekati ibunya.
“Yongjae.. Anakku.” Merasa dadanya sesak.
“Omaa,..” Tepat dihadapan ibunyna.
Jiwon yang mengikuti hyungnya segera
membantu ibunya yang sudah hampir tergeletak di ubin, karena dadanya sesak dan
ia terus memeganginya.
“Omaaa….” Teriak Yongjae dengan meneteskan airmatanya.
“Omaaa…Omaaa..” Jiwon pun panik.
Ibunya hanya sedikit remang-remang saat
melihat Yongjae dan akhirnya mengalami syok dan pingsan. Segeralah Yongjae
membawa masuk ke dalam kamar. Dan menyuruh Jiwon untuk menelpon dokter terdekat
untuk memeriksa ibunya.
Dengan menunggu kedatangan
dokter. Yongjae yang masih mengompres dahi ibunya sambil meneteskan airmata itu
merasa bersalah dan menyesal.
“Mengapa aku datang hanya membuat masalah seperti ini.” Menangis.
Jiwon yang berada dekat jangkauannya
hanya mengelus pundak hyungnya dengan tanda bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tak lama kemudian dokter
datang. Dan menyuruhnya segera mengobati dan memeriksa ibunya. Yongjae yang
panik itu membuat pikirannya tak tentu arah. Ia merasa pusing dan membuang
semua benda-benda yang berada didekatnya dengan keras. Hingga terlempar pada
kepala Jiwon. Jiwon yang melihat hyungnya merasa panik dan juga tidak melihat
bahwa ia sedang terluka. Dokter yang mendengarnya dari dalam kamar, mencoba
keluar dan melihat kejadian itu. Segera mengambil obat penenang. Dan kemudian
disuntikkannya kedalam tubuh Yongjae. Yongjae pun tidak bergerak dan melemaskan
badannya dan terbaring lemas di lantai. Jiwon merasa panik dan takut dengan
kejadian yang baru saja terjadi.
“Dokter.. Mengapa hyungku menjadi seperti ini?” Tanyanya dengan agak
ketakutan.
“Ia hanya mengalami kecemasan yang berlebihan. Jangan khawatir, semua
akan baik-baik saja. Ini obat untuk hyungmu. Setelah ia tersadar kau harus
memberikannya, campurkan kedalam air tanpa sepengetahuannya.”
Jiwon hanya mengangguk tanda mengerti.
“Dan ini obat untuk ibumu. Ia hanya mengalami syok dan segera sadar.
Kau harus memberikannya air putih setelah sadar nanti.”
Jiwon kembali mengangguk.
“Baik. Aku harus melanjutkan tugasku.”
“Oh.. Ne..” Memberikan salam, hingga obat yang berada ditangannya
jatuh di lantai.
Setelah dokter yang
memeriksa itu pergi. Jiwon masih tetap tidak percaya hyungnya mengalami
kecemasan yang berlebihan seperti itu. Ia merasa tangannya bergetar tanpa
terkontrol. Ia merasa takut kejadian tadi terulang dan membuat keluarganya
panik.
Beberapa menit kemudian.
Ibu Jiwon tersadar dan merasa lemas dan pusing. Ia terus memegangi dadanya yang
sesak.
“Oh.. Omaaa… Syukurlah. Omaa telah sadar.” Mengambil segelas air
putih dan memberikannya kepada ibunya.
Ibunya meminum segelas air putih yang diberikan Jiwon.
Usai meminum segelas air
putih. Ibunya spontan menanyakan keadaan anak pertamanya kepada anak keduanya,
mengapa terjadi seperti itu. Mengapa ada luka di dahi Yongjae yang deras
mengalir bau anyir.
“Bagaimana keadaan kakakmu? Kemana dia? Mengapa tak menghampiri
ibunya?” Merasa cemas dengan keadaan anak pertamanya.
“Omaa.. Omma harus memikirkan kondisi omma dulu. Jangan memikirkan
hyung dulu.... Ayah sebentar lagi akan pulang.”
“Apa kau memberitahu ayahmu tadi?”
“Ne.. Karena aku sangat khawatir dengan keadaan omma.” Memeluk ibunya
dengan erat.
Ibunya merespon dengan mata berkaca-kaca.
Tak lama mereka berpelukan
diatas ranjang. Seseorang datang dengan jalan yang agak melemas menuju kamar
tersebut.
“Ommaa…” Panggilnya dengan meneteskan airmatanya.
“Yoo..Yongjae. Anakku.” Melihat dengan tidak percaya.
Jiwon melepaskan pelukkannya.
“Ne.. Ini anakmu yang malang omma..” Tangisannya keras dan
menundukkan kepalanya tepat di lutut ibunya.
Jiwon yang melihat kejadian
itu tidak bisa membendung airmatanya. Hyungnya merasa sangat bersalah sekali
hingga sujud mencium kaki ibunya dengan suara tangisan yang membuatnya sangat
perih sekali. Jiwon merasakan bahwa amat dalam sekali omma mencintai anak
pertamannya itu.
“Maafkan aku omaa… Maafkan aku.” Menangis dengan sesenggukkan.
“Oma sudah memaafkanmu. Jadi kau berdirilah. Jangan seperti ini.”
Pintanya untuk segera berdiri.
Yongjae melihat mata ibunya yang menangis.
“Oma.. Putramu yang malang ini berjanji akan menjadi anak yang baik
dan mencari uang untuk kalian bertiga, ayah, Jiwon dan omaa.. Mengerti?”
Mencium tangan ibunya.
Terlihat sangat tulus
sekali saat Yongjae mengucapkan kalimat yang seperti itu. Jiwon yang berada
disitu memalingkan wajahnya agar tidak kembali menangis saat melihat kejadian
yang berada di depannya. Mendengarnya terasa menyakitkan dan bahkan banyak
pengorbanan disana.
Usai tangisan yang terisak
malang kembali membawa segala bahagia didalam keluarga itu. Mereka bertiga
duduk bersama dan masih diatas ranjang. ibunya sangat bahagia walaupun masih
belum sepenuhnya bahagia karena keadaan yongjae yang masih terluka itu. Ibunya
memeluk Jiwon dan kemudian memeluk Yongjae dengan tersenyum mengiris sekali.
“Syukurlah.. Anak-anakku sudah dewasa.” Tersenyum. Kembali memeluk
erat.
Jiwon dan Yongjae yang mendengar
perkataan itu merasa bersyukur dan merasa akan lebih melindungi keluarganya
lagi.
Seseorang tiba-tiba datang dan membawa
segala alat bangunan yang sangat memberatkan tulang-tulang yang hampir keropos.
Ia merasa kesusahan dan meletakkannya didekat pintu masuk.
“Aigooo…” Suaranya semakin mengecil dan berjalan masuk ke dalam
kamar.
Ayahnya melongo tidak
percaya saat matanya mendapati mata anaknya yang bernama Yongjae itu.
Pikirannya tidak menemukan kata untuk diperjelaskan lagi. Ia mencoba mendekati
Yongjae dan hampir memukulnya.
“Aigooo… Dasar anak tidak berguna. Mengapa kau kembali dengan wajah
yang tidak tampan seperti ini.” Memukuli dada Yongjae.
Yongjae hanya meneteskan airmatanya dan merasa sangat bersalah
sekali.
Setiap tetesan airmata dari
Yongjae menandakan bahwa ia sangat menyesal sekali, telah menjadikan
keluarganya semakin terisak tangis seperti ini.
“Maafkan aku ayah.. Maafkan putramu yang bodoh ini.” Ayahnya masih
memukul-mukul Yongjae.
“Lalu mengapa kau melakukan ini pada ayahmu! Kenapa!” Teriaknya
dengan melotot tajam tepat bulatan mata Yongjae.
“Mianhae aboeji..Mianhae..” Yongjae memeluk erat ayahnya.
Ayahnya pun merespon pelukkan Yongjae.
Jiwon dan ibunya melihat
kejadian itu merasa haru. Bening-bening putih telah menetes sejak kedatangan
ayahnya. Bagaimanapun suasana segera menjadi lebih terang dan panas sekali.
Setelah melewatkan waktu yang sangat mengharu biru. Kembali mereka berempat
telah merencanakan akan berlibur dengan hasil jeri payah yang telah dihasilkan
oleh ayah dan ibu mereka. Rencana liburan mereka akan ke pantai untuk beberapa
hari di Busan.
Setelah merencanakan
liburan minggu depan. Jiwon dan Yongjae segera bersiap-siap untuk membeli
sesuatu untuk dimasak saat keberangkatan esok. Mereka membeli bahan yang masih
agak sejangkau dari rumah mereka.
Sepanjang perjalanan.
Mereka berdua saling berpegang tangan tanpa menghiraukan yang lain. Tak lama
kemudia kami berdua sampai di tempat penjualan bahan-bahan yang akan dimasak.
Usai membeli untuk beberapa
menit yang lalu, mereka kembali menuju tempat tinggalnya. Masih dengan berjalan
kaki, karena cukup menghemat dan sedikit berolahraga. Walaupun panas dan terik
mentari menepiskan tubuh mereka berdua. Mereka tetap berjalan tanpa henti.
Namun dari arah tak terduga seseorang menyerang dan memukul Yongjae. Jiwon yang
tiba melihat itu terlihat kaget dan hanya melongo begitu saja. Pikirnya cemas
dan segera meminta tolong kepada yang lain, yang mendengarnya.
“Tolong.. Toloong.. Toloong..”Teriaknya dengan cemas.
“Hyuuuung…” Bahan-bahanya tercecer sepanjang perjalanan.
Beberapa orang telah memegangi Jiwon.
Agar tetap diam dan tidak berteriak-teriak lagi. Bungkamnya terlalu sadis dan
Jiwon tidak dapat berkata apa-apa selain menangis syok melihat kejadian itu.
Hyungnya telah terpukul untuk beberapa kali. Cucuran darah telah mengalir deras
dari dahi yang baru saja ia obati. Kini telah terbuka lebih lebar lagi. Wajah
hyungnya telah terlihat seperti lautan darah. Mata kiri bengkak dan
mengeluarkan darah. Ini menyakitkan dan mengerikan. Jiwon semakin berteriak dan
menangis, namun usaha bersikerasnya tidak dapat terpungkiri. Rasa sakit yang
tidak menyadarkannya, telah membuatnya pingsan dan seperti kehabisan darah.
Beberapa orang tidak muncul untuk membantu mereka berdua. Praaak… Tamparan
keras mengenai wajah Jiwon yang cantik itu. Entah bagaimana mereka melakukannya
sangat kejam. Kini Jiwon tahu apa yang membuat mereka menghajar hyungnya itu.
Aku tidak tahu mengapa menjadi seperti
itu. Kurasa karena hyungku menyembunyikan sesuatu. Mereka menggelidah beberapa
saku hyungku. Aku melihatnya dan menemukan sebuah benda kecil, entah itu apa.
Aku tidak begitu jelas saat melihat. Remang-remang telah membuat mataku tidak
jelas. Hyungku kembali tersadar.
“Ah.. Jangan kau ambil..” Suaranya kudengar terasa menyakitkan.
“Hahaha….” Menendang muka Yongjae. Kembali bibirnya mengalir deras
bau anyir.
Beberapa orang itu telah
pergi. Akupun menghampiri hyungku dan aku mengangkat kepala yang hampir
terselimuti darah kental yang sangat deras sekali. Aku menangis terasa sakit
melihat semua itu. Bagaimana hyungku bisa mendapatkan masalah seperti ini dan
darah yang mengalir deras seperti ini.
“Apa kau tidak bisa berkelahi.. Ha!” Aku memarahinya dan masih
menangis.
Aku melihatnya, bahwa ia
hanya tersenyum membalas perkataanku. Aku mengabaikannya dan mencoba
menghubungi L sunbae.
~Sunbae kau ada dimana. Aku membutuhkanmu. Aku berada di jalan
gangnam nomor 68. Kau cepat kesini aku sangat membutuhkan bantuanmu. Cepat!~
Teriakku tanpa jeda dan sangat panik. Langsung mematikan ponselnya.
L yang belum membalas
perkataannya itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang sifat Jiwon saat
panik seperti itu. Langsung ke inti.
“Kau bertahanlah hyung. Sebentar lagi aku akan membawamu ke rumah
sakit. Kau bertahanlah.”
Yongjae pun pingsan kembali pingsan.
Aku kembali menangis.
“Bagaimana ini… Ah.. Hyung. Kau bertahanlah…” Teriakku menggema.
Beberapa menit kemudian.
Mobil berwarna putih mengkilap telah menghampiri mereka berdua. Saat L turun
dari mobilnya, melihat yang berada dalam pangkuannya adalah teman saat SMAnya
itu. L terlihat kebingungan dan tidak percaya bahwa temannya itu telah kembali
dan terluka seperti itu.
“Eee..ee.. Bagaimana hyungmu….” Melihat Jiwon tidak percaya.
“Ah.. Kau tidak usah banyak bertanya dulu sunbae. Kau harus membawa
hyungku ke rumah sakit.” Balasnya dengan nada memaksa.
“Lalu wa..wajahmu….” Menunjuk pipi kiriku.
“Ah sudahlah sunbae. Cepat!” Balasku teriak.
“Oh.. Ye..Ye..” Membopong Yongjae kedalam mobil.
Setelah semuanya beres.
Jiwon tidak mengikuti L sunbae dan hyungnya. Melainkan membersihkan bahan-bahan
yang telah tercecer di jalan.
“Kau tidak ikut?” Mendekatiku yang sedang memunguti beberapa bahan
yang masih utuh.
“Kau harus membawa hyungku sunbae. Aku akan memberitahu ayah dan
ibuku. Cepat!” Perintahku tegas.
“Oh.. Baik.. Kau segeralah kesana.” Masuk dalam mobil.
Aku hanya mengangguk tanda mengerti.
Beberapa menit kemudian.
Jiwon telah sampai dirumah dan dilemma, harus bagaimana mengatakan semua ini.
Padahal baru saja hyungnya datang dengan keadaan sedikit terluka. Namun
sekarang bertambah parah dan hampir tidak mengenali wajahnya.
“Kau sendirian? Mana hyungmu? Tanya ibunya penasaran.
“Mengapa bahan-bahannya sedikit sekali. Bukankah ibu menyuruhmu
mengambil beberapa yang harus kita bawa esok pada saat liburan?” Tanyanya
sedikit membingungkan Jiwon.
“Ah.. Tadi…….” Terpotong dengan kedatangan ayahnya yang dari
belakang.
“Jiwon.. Mengapa didepan kamar ibumu banyak benda yang bergelimpangan
dan sedikit pecah?” Kembali tanyanya membuat Jiwon semakin gelisah.
“Sebenarnya.. Hyung berada di rumah sakit sekarang omma, ayah..”
Melihat ibu dan ayahnya dengan sedikit agak menghawatirkan.
“Aigooo…” Kembali ibu Jiwon memegangi dadanya.
“Sayang kau tidak apa-apa?” Menopang tubuh istrinya.
“Kita harus ke rumah sakit ayah, oma… sekarang.”
“Omma.. Oma harus bisa menahannya..” Merangkul ibunya.
Taksi masih agak sulit
dicari di daerah Gangnam yang pelosok seperti ini. Biar bagaimanapun Jiwon
tetap mencarikan demi kedua orang tuanya itu. Beberapa menit kemudian Jiwon
tidak mendapatkan taksi melainkan mobil Joongki sunbaenya. Tidak merasa
terepotkan pada akhirnya mobil yang dikemudikan Joongki ini membawa Jiwon dan
ayah ibunya kerumah sakit Gangnam.
“Aigoo.. Temanmu tampan sekali.” Joongki yang mendengar itu hanya
tersenyum kecil.
“Ah.. Oma, mengapa seperti itu. Bukannya oma tadi merengek karena dadamu
sakit. Haish dasar!
“Jiwon.. Kau tidak seharusnya berkata seperti itu pada ibumu.”
Melihat Jiwon dengan tatapan menasehati.
“Lihatlah Jiwon ia sangat dewasa sekali.” Kembali sedikit merayu
Jiwon.
“Ah.. Benar-benar, omaa..” Sedikit agak malu-malu.
Joongki tersenyum menyeringai dengan menyetir mobilnya.
“Oh.. Nak. Kau benar teman Jiwon?” Tanyanya sedikit kurang jelas.
“Ayah!” Menoleh kebelakang untuk melotot tajam kepada bulat mata
ayahnya itu.
“Ahehehe… Ne. Aku hanya senior putrimu paman.” Melihat sekilas ayah
Jiwon.
“Ah.. Benar-benar. Mengapa aku terjebak dalam situasi seperti ini.
Dan kau ayah. Joongki sunbae sedang mengemudikan mobilnya. Jadi ayah jangan
bertanya atau bicara lagi. Biarkan Joongki sunbae fokus menyetir.”
“Wooowowoooow….” Kembali ayah dan ibu Jiwon menggoda Jiwon.
“Haish.. Benar-benar kalian kekanak-kanakan sekali.” Merasa kesal.
Joongki yang melihat kejadian seperti itu hanya tertawa kecil dan
melihat Jiwon lucu sekali bertingkah seperti itu.
RUMAH SAKIT
GANGNAM 03:45 PM.
Setelah sampai rumah sakit
untuk beberapa menit. Mereka berjalan menuju pusat informasi. Setelah mendapati
tempat Yongjae yang berada diruang UGD lantai 5. Mereka bergegas menuju ke
lantai 5 dengan menggunakan lift.
Sesampainya disana, L sunbae telah menunggu dengan raut wajah yang masih
terlihat kebingungan.
“Sunbae…” panggilku dengan agak sedikit tergesa.
L sunbae menolehku.
“Jiwon.. Oh, paman bibi.” Menyalami ayah ibu Jiwon.
“Bagaimana keadaan Yongjae.”
“Ah masih diperiksa paman. Jadi paman dan bibi duduklah dulu.”
Ayah dan ibu Jiwon duduk, sedikit mencemaskan anak pertamanya itu.
“Jiwon.. Kau kesini dengan apa?” Melihat langkah seseorang yang
berjalan.
“Joongki. Mengapa kau ada disini.” Tanyanya penasaran.
“Ah.. L sunbae kau jangan berpikiran negative dulu. Joongki sunbae
telah mengantarkan kami kesini. Oh... Terimakasih Joongki sunbae, Kau telah
mengantarkan kami dengan baik sampai kesini.” Tersenyum melihat Joongki.
L sunbae merasa diabaikan.
“Iya Jiwon. Kau tidak usah sungkan jika kau membutuhkan bantuan
dariku.” Balasnya tersenyum menyeringai manis.
“Ah.. Jiwon. Luka dipipi kirimu sudah tidak apa, kan?” Khawatirnya
dengan mengjangkau pipi kiri Jiwon.
“Oh.. Baik-baik saja sunbae. Kau jangan khawatir seperti itu. Aku tak
apa-apa.
Joongki hanya diam, dan sedikit
mengamati pipi kiri Jiwon. Dia mencoba untuk bertanya namun belum waktunya. Ia
masih harus mendengarkan apa yang sedang mereka berdua bicarakan tanpa
menghiraukan ia yang berada di jangkauan mereka berdua.
“Kau tidak ingin memeriksanya, mari kuantar?”
“Ah.. Tidak usah. Aku baik-baik saja sunbae.”
“Lalu mengapa kau terluka di pipi kirimu. Nampak bekas luka
tamparan.” Kembali ia mempertegas pertanyaannya.
“Sunbae. Mengapa kau ingin tahu sekali.”
“Karena aku menyukaimu, aku ingin melindungimu Jiwon.” Tanpa canggung
di depan kedua orang tua Jiwon.
Ayah ibu Jiwon hanya
melihat, kemudian mengabaikannya. Begitupun Joongki yang mendengar itu seakan
tidak percaya. Teman seperjuangannya itu telah menyukai perempuan yang ia sukai
juga. Namun Joongki masih sekedar suka. Belum mencintai atau menyayangi.
Jiwon yang mendengar
perkataan dari L hanya merasa bahwa ia tidak mendengarkan kata-kata dari L
sunbaenya itu. Merasa tidak terjadi apa-apa dan segera mengajak Joongki sunbae
mencari minuman. Karena ia merasa haus sekali.
“Ah.. Joongki sunbae. Kau belum minumkan dari tadi. Ayo kita mencari
yang dingin.” Menggandeng tangan Joongki sunbae.
L yang melihat tingkah mereka berdua
merasa cemburu dan diabaikan untuk kedua kalinya lagi.
KANTIN RUMAH
SAKIT GANGNAM 04:15 PM.
“Haish… Mengapa aku dalam situasi seperti ini lagi.” Duduk.
“Kenapa?” Mengikuti Jiwon duduk.
“Ah.. Tidak apa-apa sunbae.” Balasku tersenyum kelelahan.
“Jiwon.. Aku ingin bertanya kepadamu?”
“Apa sunbae?”
“Sebenarnya ada kejadian apa? Mengapa ada bekas luka tampar di pipi
kirimu?”
“Ah…ahaha.. Tidak apa-apa sunbae.” Balasku tersenyum.
“Kau yakin tak ingin menceritakannya kepadaku?”
“Ah.. Ye..Ye.. Aku akan menceritakannya kepadamu sunbae.”
Menghela napas panjang.
“Siang tadi aku bersama hyungku telah selesai membeli beberapa bahan
untuk dimasak saat liburan nanti di Busan. Dan aku tidak menyadari seseorang
dari arah tak terduga dan beberapa temannya telah menyerang hyung dan memukuli
hyungku. Saat aku berteriak meminta tolong, aku tidak menyadari bahwa aku sudah
di bekap oleh beberapa orang yang memukuli hyungku itu. Dan saat aku mencoba
berteriak dengan tangan orang itu yang masih dimulutku, kemudian aku, entah
dipukul atau ditampar aku masih tidak menyadarinya. Karena mataku tetap melihat
hyungku yang berusaha berontak tetapi tidak bisa. Aku merasa kesakitan saat
hyungku dipukuli sampai darah kental berwarna merah hati itu keluar dengan
derasnya. Itu menyakitkan sekali sunbae.” Hampir meneteskan airmata.
“Ah.. Maaf aku hampir meneteskan airmata karena harus menceritakan
ini kembali.”
“Tidak Jiwon. Lalu mengapa hyungmu bisa dipukuli seperti itu.”
Tanyanya masih penasaran.
“Hemm.. Aku tidak tahu.” Menghela napas panjang kembali.
“Tapi yang pasti, sebelum itu aku menemukan alasan mengapa hyungku
seperti itu. Ia setelah meninggalkan rumah untuk beberapa bulan lalu. Dan saat
kembali aku menemukan keanehan dalam diri hyung. Saat oma melihat hyungku
pingsan. Dan aku lihat hyungku merasa sangat menyesal kemudian ia membanting benda
atau barang-barang yang berada didekatnya. Aku merasa takut. Setelah dokter
memberitahuku bahwa hyungku mengidap penyakit khawatir dan cemas yang berlebihan. Aku tidak tahu sunbae, mengapa
jadi seperti ini. Ia merasa tenang setelah meminum obat penenang efeknya bisa
membuat ia lupa dengan masalah dan seperti melayang-layang di udara. Sunbae kau
tahu. Aku takut sekali. Aku berharap hyungku itu sudah mati saja dan takkan
kembali. Karena ia mengikuti gengster lokal dan hidupnya hanya untuk berjudi,
memalak, dan uang, uang. Aku tidak tahu sunbae.” Menangis seperti kemarin saat
di Dalkom Coffe dengan wajah
tertunduk, ditahan oleh kedua lengannya.
Joongki yang melihatnya merasa sedih dan
sesekali ia membelai rambut Jiwon. Dengan wajahnya yang manis sekali. Joongki
memberikan nasehat bahwa semuanya tidak akan berkepanjangan dan semuanya akan
baik-baik saja. Kemudian Jiwon kembali bangkit dari stresnya itu. Lalu kembali
tersenyum kecil kepada Joongki.
Dreeett.. dreeet.. dreeet
Membuka ponsel.
~Jiwon kau ada dimana? Hyungmu
sudah sadar.~
Tanpa membalas pesan dari L
sunbaenya ia langsung berlari dan kemudian Joongki sunbaenya mengikuti dari
belakang.
MASUK RUANG RAWAT
– YONGJAE TELAH MELEWATI MASA DARURATNYA 6:55 PM.
Kulihat disana oma telah menangis terisak dengan derasnya airmata
yang ia telah jatuhkan. Hyungku terlihat sangat syok dan sesekali melihatku tak
sadar. Ayah memegangi tangan hyung semakin erat. Kudengar tangisan oma, aku
tidak bisa menahannya. Semakin ingin menangis saja saat itu. Ku berbalik arah,
ternyata Joongki telah berada di belakangku. Aku menabraknya dan kulihat ia
semakin memberikan tatapan dalam untukku. Kulihat L sunbae yang melihatku
dengan Joongki sunbae. Ia merasa sangat cemburu. Entahlah matanya berbinar
seperti ingin mengungkapkan sesuatu untuk dibicarakan kepadaku.
“Kau ingin pergi kemana? Bukankah hyungmu sudah sadar. Kau harus
menemuinya.” Pinta Joongki tegas.
“Baiklah…” Kembali mendekati hyungnya.
Kulihat mata hyung yang
berbinar lembut disana. Kulihat samar matanya ingin mengeluarkan bening putih
dari tempat mata yang lembut itu. Kurasa hyungku ingin berbicara. Namun oma
tetap menangis dan memukul dada hyung. Ayah segera menahan tangan oma dan
menghindarkan hyung kepada oma, masih dekat dengan jangkauanku.
Kini tinggal hyung dan aku.
Kutatap kembali mata hyung yang mulai meneteskan airmata satu persatu dari
kedua mata yang sayu itu. Tanganku kini telah tergenggam oleh hyung. Aku
menahan tangisanku. Namun apalah dayaku yang tidak bisa menahannya. Seseorang
dari belakang memegangi pundakku. Aku tidak menghiraukannya, karena mataku
tetap tertahan oleh hyung Yongjae.
Kini hyung telah memelukku
dan masih terbaring kaku di kamar rawat ini. Aku menangis diatas dada hyungku.
Sesekali aku ingin memukul dadanya.
“Kau tahu. Kau sangat menyebalkan dan selalu membuat kami khawatir
dengan keadaanmu hyung. Dasar kau memang pria bajingan.” Teriakku semakin
kencang dan berharap hyung sadar akan hal itu.
“Mianhae Jiwon. Hyungmu memang tidak berguna.” Balasnya santai dan
membelai rambutku.
“Kau memang selalu begitu.” Bangkit dari pelukkan. Dan melihat tajam
mata hyungnya.
Hyungnya tersenyum dengan menahan luka dibibirnya.
“Tidak lucu.” Balasnya masih tajam.
“Heii.. Kau tidak ingin mengenalkan pacarmu padaku?” Melihat
seseorang yang berada dibelakang Jiwon.
Jiwon berbalik arah.
“Aih…” Gumamnya tak didengar oleh hyungnya dan seseorang
dibelakangnya.
“Heemmm…” Tanyanya kembali.
Seseorang yang berada dibelakang Jiwon hanya tersenyum.
“Ah.. Kau jangan salah paham hyung. Ini adalah seniorku dari jurusan
Psikologi. Namanya Song Joong Ki. Aku memanggilnya Joongki sunbae. Puas!!!”
Menjelaskan dengan agak gugup.
“Lalu kenapa wajahmu terlihat merah muda begitu?” Candaanya.
“Haish..” Terlihat malu saat Joongki melihatnya.
“Kau belum pernah kupukul, kan?” Balasnya kejam.
“Ya, ya, ya.. Kau terus kejam padaku Jiwon.”
“Seeshhss….” Desisnya marah.
“Jadi kau bukan pacarnya Jiwon?”
Joongki tersenyum.
“Ah.. Tidak, aku hanya seniornya dari exstra photography.”
balasnya kembali tersenyum.
“Aaahhh… Sayang sekali. Padahal kau tampan. Mengapa Jiwon tak
menyukaimu, ya……. ” Candanya dengan memandang wajah Jiwon yang sedang memerah.
Jiwon dan Joongki saling memandang. Dan beberapa detik padangan
mereka berlalu.
‘Bagaimana aku mengatakannya.
Aku sebenarnya menyukaimu Jiwon.’
‘Hyung salah.
Aku sebenarnya telah menyukai Joongki sunbae sejak pertama ia menolongku. Entah
apa yang Jongki sunbae rasakan. Aku tak begitu memikirkan, karena aku memang
tidak pantas dengannya. Mungkin.’
“Heii… Mengapa kalian berdua seperti canggung begitu?”
“Soktoy banget sih jadi orang.” Mulai menggandeng
tangan Joongki.
Hyungnya yang melihat tingkah adiknya
yang aneh itu merasa terhibur dan tertawa menggodanya.
Sedari tadi terlihat bahwa
L telah mengalami kecemburuan yang teramat dalam. Bagaimana bisa Yongjae yang
baru mengenal Joongki terlihat baik-baik saja. L semakin ingin murka kepada
Joongki maupun Yongjae. Padahal Yongjae adalah teman lama L. Mengapa L tidak
memahami itu.
“Joongki sunbae. Mari kita pergi dari sini.” Menggandeng tangan
Joongki.
“Eh’emmm.. Sepertinya gandeng-menggandeng adalah hal yang dilakukan
oleh pasangan kekasih.” Godanya hingga tertawa.
Jiwon melirik sebentar dan kembali meluruskan niatannya.
Joongki hanya tersenyum manis melihat wajah Jiwon yang begitu lucu
saat marah.
Sebelum keluar dari ruang
rawat. Jiwon menyapa tulus kepada L sunbaenya. Dan memberikan ruang untuk L
sunbae dan hyung Yongjae berbicara berdua. Karena telah lama mereka terpisah
sebagai teman dekat.
Entah kemana mereka akan
pergi. Sesudah meminta izin kepada ayah dan omanya. Mereka bergegas ke parkir
dan Joongki mengambil mobil yang lalu telah mengantarkan hyung Jiwon ke rumah
sakit Gangnam ini.
“Gomawo (Terimakasih) sunbae.” Tersenyum.
“Untuk?” Melihat Jiwon sekilas kemudian mulai menyetir.
“Mengantarkan hyungku kerumah sakit ini. Karena jika bukan karena
sunbae, mungkin hyungku telah mening…..”
“Heyy.. Kau tidak usah berterimakasih. Aku ikhlas melakukannya.”
Balasnya tersenyum.
“Tapi, kan…” Terpotong.
“Sudahlah, tidak usah kau bahas lagi Jiwon.” Tersenyum kembali.
“Baik sunbae.” Balasnya dengan senyum juga.
“Ah.. Kita mau kemana? Kau belum makan, kan?” Melihat Jiwon sekilas.
“Ah.. Aku sudah kenyang sunbae.”
“Bagaimana kau sudah kenyang. Kau tadi hanya minum, bukan makan.”
Tegasnya diperjelas.
“Hah.. Iya-iya, ayo kita makan. Tapi….” Kembali terpotong.
“Baiklah aku tahu. Aku yang akan mentraktirmu Jiwon.” Balasnya dengan
tertawa menyeringai.
Jiwon pun ikut tertawa melihat Joongki tertawa seperti itu. Manis
sekali.
Tak lama kemudian. Joongki
dan Jiwon telah sampai, dan berhenti di rumah makan yang masih ramai pengunjung
dan masakkan kuliner yang tak ada habisnya. Yaitu Chicken Home.
Jiwon yang melihat nama dari rumah makan
tersebut melotot tidak terbayangkan.
“Sun..sunbae.. Tempat ini. Ah…” Menghela napas panjang dan berpikir
aneh-aneh.
“Kenapa?” Tanyanya dengan memandang wajah Jiwon yang sayu itu.
“Tempat ini kan makanannya mahal. Kenapa kita tidak mencari tempat
yang lain saja. Ramen di gang gangnam cukup murah dan mengeyangkan sunbae.
Bagaimana?” Ajakannya dengan jelas.
“Jadi, kau tidak ingin makan ayam. Kau ingin makan ramen.”
“Ne.. Nee.., sunbae.” Dengan wajah lucunya Jiwon menganggukkan
kepalanya.
“Haish.. Kau lucu selaki.” Mengusap-usap rambut Jiwon.
Hati Jiwon tiba-tiba berdegub.
‘Ah.. Tanda apa ini, mengapa
cepat sekali.’ Sambil memegang dadanya.
“Kau kenapa? Dadamu sakit.” Memegang kedua pundak Jiwon dan melihat
Jiwon panik.
‘Haish.. Aku
merasa aku menyukaimu. Kenapa kau malah bertanya dadaku sakit.’
“Jiwon.. Kau tidak menjawabku?” Semakin panik.
“Gwenchanayo…” Melihat Joongki pasrah.
“Ya.. Mengapa kau mendadak pasrah seperti itu.
“Kau benar tidak apa-apa?”
Jiwon hanya menganggukkan kepalanya dengan melihat mata Joongki sayu.
“Baiklah-baiklah mari kita makan ramen Jiwon.” Menggandeng tangan
Jiwon dan membukakan pintu mobil untuk mempersilahkan Jiwon duduk.
Degg..Deg..deg..
‘Ah.. Mengapa terjadi lagi.
Bagaimana ini…’ Gugup.
Duduk kemudian melihat Jiwon.
“Kau kenapa lagi Jiwon?”
“Ah.. sunbae. Bagaimana ini?”
“Apanya yang bagaimana?”
Jiwon diam.
“Jiwon.. Katakan?” Merasa cemas kembali.
“Aku menyukaimu sunbae.” Jawabnya dengan cepat dan tegas.
Joongki yang mendengar itu sambil
mengemudi, akhirnya ia injak rem dengan mendadak. Jiwon pun kaget. Hampir
terbentur kaca didepannya. Namun Jiwon tetap diam dan melihat ke depan karena
malu kepada Joongki.
Joongki mendadak kaget bukan karena rem
yang ia injak. Tapi karena perkataan jujur dari bibir Jiwon.
“Kau bicara apa? Aku tidak mendengarnya.” Tanyanya ingin semakin
diperjelas.
“Ah.. Bukan apa-apa sunbae. Tapi mengapa kau menginjak rem dengan
mendadak seperti itu. Kau ingin membunuhku, ya?” Berbicara tanpa menatap
Joongki.
“Kau bicara dengan siapa?”
“Jelas dengan kau sunbae.”
“Lalu mengapa kau tak melihatku?”
“Aku hanya tidak ingin melihatmu terus, sunbae.”
Joongki menarik tangan kanan Jiwon.
Jiwon pun tepat di depan wajah Joongki sekarang. Jiwon merasa panik dan bola
mata yang berwarna hitam terus berjalan ke kanan dan ke kiri. Berusaha mencari
alasan dan berusaha untuk tidak ditatap oleh Joongki terus. Namun usaha Jiwon
sia-sia. Joongki terus menatap mata Jiwon. Bertanda akan perang romance. Wajah lucu Jiwon semakin
Joongki dapati. Napas hangat terus keluar dari hidung Jiwon. Mengapa cepat
sekali napasnya. Bertanda bahwa Jiwon sekarang sedang mengalami kegugupan yang
berlebihan.
‘Aish..’ Menundukkan
kepalanya, karena malu. Namun Joongki menangkup dagu kecil milik Jiwon dengan
tangan kanannya. Kemudian memandangnya lagi dengan senyuman yang manis,
menyeringai seperti ingin mendaratkan bibir hangatnya ke bibir merahnya Jiwon.
Kembali Joongki memerintahkan Jiwon untuk menatap matanya.
‘Ya Tuhan. Aku
benar-benar tidak bisa menahannya. Tolong sudahi saja. Aku benar-benar tidak
tahan. Rasanya aku ingin berteriak saja. Mengapa ia menatap tajam seperti itu.’
Dalam
hati panik dan cemas karena perbuatan Joongki semakin membuatnya ingin gila
saja dalam sekejap.
Jiwon semakin panic dan sesekali ia
memejamkan matanya. Karena malu dengan tatapan yang diberikan oleh Joongki.
Jiwon merasa leleh dan tidak tahan dengan tatapan tajam dengan sedikit gila
itu. Jika seorang wanita lain dipandang dengan pandangan tajam dan penuh
sensasi ini. Mungkin wanita itu akan seperti Jiwon. Leleh dan tidak bisa
menahannya. Semua wanita pasti akan menyukai pria yang mempunyai tatapan yang
tajam penuh cinta seperti Song Joong Ki. Termasuk Jiwon.
Beberapa menit kemudian
Joongki kembali tersenyum dan semakin mendekati bibir Jiwon. Dan hidungnya pun
sudah bersentuhan. Keduanya mempunyai hidup yang mancung dan mempunyai bibir
yang menggoda. Jiwon kembali memejamkan mata dan masih panik. Ia sesekali
berpikiran, bahwa ciuman pertamanya harus berhasil.
‘Hah.. Kau tetap
didepanku dan hidung kami telah bersentuhan Tuhan. Bagaimana ini. Hemm… Ya
baiklah aku akan melakukannya dengan benar.’ Gumamnya dalam hati semakin
menjadi-jadi.
Joongki yang melihat Jiwon seperti itu. Merasa
tertawa kecil dan tetap memandang wajah Jiwon yang salah tingkah.
“Tapi aku mendengarnya kau ingin terus melihatku.” Bisiknya dengan
tertawa kecil.
Jiwon mendadak kaget dan malu sekali.
‘Aiish..’ Menunduk malu.
“Hei.. Kau kenapa?” Menangkup dagu Jiwon kembali.
“Aniy (Tidak)..” Balasnya kembali pasrah.
“Ya.. Kau marah, padaku?” Menatap wajah Jiwon.
Jiwon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Bertanda ia tidak marah
dengan Joongki.
Joongki tersenyum menatap Jiwon.
“Kau tahu? Jiwon yang tadi sangat lucu sekali. Aku melihatnya sampai
ingin tertawa keras.” Candanya dengan tertawa menyeringai.
“Begikukah?” Menatap tajam Joongki.
“Huuemm..” Menganggukkan kepala dengan bibir yang seperti anak kecil.
“Aku benar tidak mood
bercanda sunbae? Jadi kau antarkan aku pulang saja.” Mulai kesal.
“Wae (Kenapa)? Mengapa kau selalu seperti ini? Kadang kau sangat
manja, lucu, tersenyum dan tidak pernah mendadak diam dan sensitive seperti
ini? Wae, Jiwon? Apakah aku menyakitimu?” Tanyanya dengan menatap mata tulus
Jiwon.
Jiwon kemudian memalingkan pandangannya. Berusaha menhindari tatapan
yang diberikan oleh Joongki.
“Kau lihat aku.” Perintah Joongki tegas.
Jiwon pun melihat mata Joongki dengan penuh arti.
Dan mulai bicara.
“Aku menyukaimu sunbae. Aku berusaha menghindari ini. Tapi mengapa
aku tak bisa. Karena aku benar-benar menjaga pertemananku dengan Yuri yang juga
menyukaimu. Kau tahu apa yang selalu ia ceritakan jika ia bertemu denganku. Ia
selalu menceritakan tentang dirimu. Dirimu menjadi kebanggannya. Bagaimana aku
bisa menghianatinya. Sunbae… Aku tidak ingin kau menjawabnya, aku hanya ingin
mengungkapkan yang sebenarnya didalam hati ini, yang semakin hari semakin mulai
mencekikku. Aku sadar itu sunbae.” Meneteskan airmatanya satu-persatu.
Joongki spontan memeluknya. Sangat
memilukan dan pelukkan hangat selalu Joongki berikan pada Jiwon. Tangisan
isaknya terus terdengar oleh Joongki. Semakin membuat Joongki merasa ingin
melindungi Jiwon disaat sepi melilit seperti ini.
‘Bukan tak ingin
menjawabnya Jiwon. Sebenarnya aku juga menyukaimu. Sejak aku memanggil namamu
untuk pertama kalinya. Aku sangat menyukai senyuman manismu itu. Tapi entah
bagaimana aku mengatakannya. Karena saat ini kulihat kau banyak disukai oleh
banyak lelaki, dan sebagian ku kenal adalah L dan Ken temanmu itu. Aku berjanji
akan mengungkapkannya di waktu yang tepat dan takkan pernah terlupakan. Apakah
kau mendengar desah hatiku Jiwon.’
‘Aku bersyukur
bisa memelukmu seperti ini. Aku semakin ingin memiliki dan melindungimu.’
Pelukkan hangat mereka seakan tenggelam
dalam malam yang mencekam. Awan hitam mulai berjatuhan menjadi bening-bening
putih yang berjatuhan dari langit. Membasahi bumi dan membuat keduanya
melanjutkan perjalanan pulang dan melupakan perjanjian awal.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar