Minggu, 11 Juni 2017

PART 2 HE MAKES ME CRAZIER "TORU ONE OK ROCK"



“Im Still I Miss You”

At Area Yokohama Stadium. Minggu. 16:30

Langit pun segera menjadi awan hitam.

Akankah hujan turun ?’

Lama sekali. Menunggu band yang telah lama aku idam-idamkan dari kemarin tak kunjung datang juga. Bahkan aku hampir menyesal. Awan hitam sedari tadi telah menyelimuti kami di atas sana.

 Sesekali ku melihat perempuan yang berada di sampingku menggunakan gelang yang bertuliskan “TORU” pipi yang bertato Gitar.

Hah… melihat namanya saja aku semakin merindukannya.’
“Haruskah aku flashback ?”

Zura yang sedari tadi sibuk dengan update-tannya tiba-tiba mendengarkan celotehku.

“Apa?” Teriaknya.

Karena berada dalam tengah-tengah keramaian dan mungkin saja bisa kau lihat berapa banyak lautan manusia yang berada di area ini untuk melihat band yang sudah Go Internasional (mendunia).

‘Siapa sih yang ngga kenal sama band sekeren mereka.. Hehehe.’

Penggemar mereka bahkan sangat antusias untuk selalu mendukung Band ONE OK ROCK sampai kapanpun dan dimanapun.

‘Termasuk aku juga.. Hehehe.’

 ( Kembali )……

“Ah.. Tidak apa-apa!”

Yooripun kembali mem-flashback cerita pertama saat bertemu dengan Sonbae Toru dan Ryota setelah apa yang terjadi di dua tahun yang lalu di SMA Yokohama.

                                                                  “ Flashback “             

~Dua Tahun Yang Lalu 2012~
Saat aku masih menjadi adik kelas mereka di tahun 2011. Kita sesekali bertegur sapa, hanya saja tidak sering. Namun saat berada dalam studio musik, kadang aku merasa salting (salah tingkah) Toru Soenbae mengajariku bagaimana cara agar bisa menjadi gitaris yang keren seperti dia. Aku sesekali kecolongan memandanginya, entah bagaimana perasaan kita waktu itu. Aku hanya menyukai lebih dari sekedar seorang pengagum, jika aku benar-benar menyukainya dan mengatakannya langsung pada Toru Soenbae, akankah ada yang terjadi dengan diriku saat tengah banyak yang menggamparku dari arah belakang sana. Benar.. remaja-remaja alay yang sangat berlebihan mengangumi Toru, jika ada seseorang yang dekat dengan Toru khususnya perempuan akan benar-benar hancur di jambak-jambak oleh Fans Fanatik Garis Keras itu. Kalau untuk fans fanatic garis keras di SMA Yokohama tidak ada yang seperti itu. Itu dari SMA Osaka, yang khusus sekolah Perempuan saja, berasrama. INI TIDAK PENTING.

Saat tiba mulai petang aku pun bergegas pergi untuk pulang karena tiba-tiba cuaca hampir setengah mendung. Angin membawa segala kecamuk yang menggerogoti tulang yang berada di dalam tubuhku. Aku merasa kedinginan saat itu, tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang mengikutiku. Aku pun bersiap-siap untuk memasang kuda-kudaku.

“Hahaha.”

Jika aku teringat hal itu, aku hanya ingin tertawa. Karena merasa malu sekali pada saat itu. Aku memutar badanku dan melemparkannya dengan tasku, dia kaget bukan kepalang  dan merasa kesakitan. Setelah mengamati dengan perlahan. Melihat wajah itu.

Sepertinya aku mengenal wajah itu.’

 Setelah beberapa menit mengamati.
Ternyata dia Toru Sonbae!!’ Melotot.
Haish… Bodoh sekali penasaran tanpa alasan.’
“Ah.. Maafkan aku Toru Sonbae.” Menundukkan kepala.
“Aku benar-benar tidak sengaja ingin memukulmu. Aku merasa akhir-akhir ini ada seseorang yang mengikutiku saat pulang sekolah. Jadi aku harus berjaga-jaga jika sendirian seperti ini.

“Kau menyebalkan.” Merasa kesal.

“Ah.. maafkan aku Toru Sonbae.” Memohon dengan memegang tangan Soenbae.
“Aaa.. sebagai gantinya aku ingin mentraktirmu segelas Cappucino dingin. Bagaimana?”

 “Ok.”
Lalu berjalan menuju tempat yang menyediakan sejenis kopi lainnya dan beberapa makanan ringan.

Café Yokohama. Lewat 18:11

Setelah memesankan Cappucino untuk Toru Sonbae. Aku memulai pembicaraan kembali, agar suasana tidak tegang dan aku harus tetap meminta maaf agar aku tidak menyesalinya saat bertemu dengan Toru Soenbae di lain waktu.

“Soenbae. Maafkan aku.” Terus memohon.

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin di traktir. Hahaha…” Suara meledak.

“Heh.. ??” Kebingungan.

Aku yang berada dalam kebingungan merasa ada yang melihatku dari arah kanan. Perlahan aku melihatnya, dengan tatapan tajam saat itu.

Sepertinya aku mengenal orang itu. Tapi siapa?

Tidak begitu lama aku memikirkannya dengan melihat wajah Toru Sonbae, tiba-tiba saja Toru sonbae membentakku.

“Apa!!!” Dengan melotot.

Aku hanya menggigit bibir bawahku karena seperti itulah aku berpikir. Namun kenyataannya Toru Sonbae malah mentempeleng kepalaku.

“Haish… Benar-benar nih anak, kerasukan setan mana kau?” Masih melotot.

Kemudian, kembali ku reflek melihat ke arah pintu kafe yang tadi ada seorang lelaki berdiri di depan pintu itu.

“Ah.. Yongjae!!” Teriak.

“Ya !!.. Yongjae, Yongjae. Aku Toru bukan Yongjae. Siapa Yongjae?” Tanyanya dengan penasaran.

“Ah.. Hehe,, Tidak soenbae.” Merasa kecolongan.
Namun, benar itu Yongjae.’ Kembali melihat arah pintu masuk kafe.

Setelah selesai meneguk cappuccino dingin. Aku dengan Toru soenbae bergegas untuk pulang. Tetapi aku tetap diam dan merasa sangat lelah.

Sedikit lagi rumahku tampak terlihat, namun Toru tetap setia menemaniku  yang hanya diam dan melamunkan sesuatu dari tadi. Dan tanpa kusadari, aku sudah sampai di depan rumah.

“Ini rumahku.” Nada pelan dan wajah lemas.

“Ok. Berikan ponselmu padaku.” Dengan tangan menengadah.

Aku langsung memberikannya, tanpa berpikir banyak.

“Aku menyimpan nomormu. Jadi jika kau ingin bercerita telpon aku saja.” mengembalikan ponselku.

“Ne (iya).” Lalu masuk gerbang tanpa mengucapkan selamat tinggal untuk Toru.

Toru merasa aneh padaku saat itu.

“Haiish,.. bahkan dia tidak meminum cappuccino sedikit pun.
Mungkin dia lelah karena itu.’ Mengkerutkan dahinya
“Hemm.” Pergi.

***

Pagi membangunkan Yoori dengan semangat. Jus jeruk dingin sudah berada di meja samping kamar Yoori. Segeralah ia meneguk jus segar itu.

“Haah… Semoga saja pikiranku yang hancur tadi malam hilang tertelan oleh jus segar ini.” Meminum jus dengan lahap.
“Ah.. Aku menyukainya.” Tersenyum meringis.

Dengan senyum yang manis Yoori pun bersiap-siap untuk berangkat sekolah.

***

Sampai di sekolah “SMA Yokohama

Tiba-tiba ada yang menelponku, aku hanya mengabaikannya. Terdengar dari suara arah kananku. Suara yang paling kas dan kasar itu. Yaitu Toru soenbae.

“Ya.. kau tak ingin menjawab telpon dariku!” Menepuk bahuku dan aku hanya berlalu.

Toru hanya terdiam dan tidak berjalan mengikutiku. karena Toru ada janji latihan band dengan temannya untuk manggung di Festival Rock Musim Panas minggu depan.

Aku mengira akan ada sesuatu yang beda hari ini. Namun ternyata tetap sama saja. Seseorang datang dari arah yang tak terduga.

“Ikut denganku..” Menarik tanganku.

“Ada apa! ..eh.” Merasa kesakitan.

Lalu berhenti di depan taman sekolah.

“E..e.. Yongjae! Kenapa kau kasar seperti ini padaku. Memangnya kau siapa. Gampang sekali menarik tangan orang.” Merasa kesal.

“Kencanlah denganku.” Melihat sekeliling.

“Hee !!! Kau menyeretku seperti ini hanya mengatakan seperti itu!!” Melotot.

“Kau tidak mau!” Masih melihat kesekeliling.

“Aku harus pergi.” Tanganku masih tertarik oleh Yongjae.
“Yaa!! Lepaskan tanganku, kau tidak berhak seperti ini padaku, memangnya kau siapa!!” Mulai marah.

Seseorang datang untuk menyelamatkanku dari laki-laki kasar seperti Yongjae.

 “Lepaskan tangannya, atau kau akan berhadapan denganku.”

“Oh.. kau datang untuk menyelamatkan kekasihku.” Tersenyum sinis.

Toru terdiam. Ia merasa terbohongi olehku. Aku pun merasa tidak sanggup lagi. Akhirnya reflek aku menampar Yongjae dengan keras.

“Kau !! Dasar Bajingan.” Aku tarik tanganku dari genggaman sano dan cepat pergi.

Namun Yongjae tidak pernah menyerah atas apa yang dia lakukan padaku. Dia mengejarku dan Toru menghentikannya.

“Tunggu… Kita harus bicara.” Mengajak Yongjae duduk di tempat yang berada tidak jauh dari jangkauan mereka.

“Tunggu, aku akan membelikan minuman untukmu.” Bergegas pergi namun dihentikan oleh kata-kata dari Yongjae.

“Kau kira aku miskin!! Aku akan membelinya sendiri.” Emosi sedikit naik.

Lalu Yongjae berdiri kemudian pergi dan diikuti oleh Toru.

“Hmm…” Toru tersenyum kecil.

Setelah beberapa menit kemudian mereka kembali ke taman dan masih duduk di tempat yang sama seperti tadi.

Dan pada akhirnya Toru memulai pembicaraan dengan santai. Dengan mengingat-ingat kembali apa yang sudah dibicarakannya kemarin saat perjalanan pulang bersama Yoori.

“Apa benar Yoori kekasihmu” Sambil meminum Cappucino.

“Kenapa kau penasaran sekali..!” Mengikuti Toru meminum Cappucino.

“Hanya saja kemarin aku bertemu dengannya. Dia bilang padaku, bahwa ia akhir-akhir ini selalu diikuti oleh seseorang…. Apakah seseorang itu adalah kau!” Melihat Yongjae tajam seperti men-skak-mati.

“Hkjdkjsh.” Yongjae pun kaget.

“Ke,, Ke,, kenapa kau melihatku tajam seperti itu. Tentu saja tidak. Untuk apa aku membuang waktuku mengikuti gadis kasar seperti dia.” Menghabiskan minumannya.

“Jika bukan dirimu lalu siapa lagi? Aku tau kau berbohong, saat itu dia bilang, Yongjae. Itu namamu kan?.... Ku peringatkan sekali lagi, jika benar Yoori kekasihmu lindungi dia, jaga hatinya, jangan pernah kau bermain kasar dengan perempuan yang kau cintai, itu sama saja kau menyakiti ibumu, karena ibumu juga perempuan.” Mulai berdiri.
“Jadi kau harus berhati-hati. Aku takkan tinggal diam jika kau menyakiti Yoori.” Bergegas pergi.

“A.. Tunggu!” Toru menoleh.

Diam sejenak………………

“Sepertinya kau menyukainya? Kau tak ingin terjadi apa-apa dengan Yoori. Perkataanmu sangat jelas kau menghawatirkannya.” Membuang kaleng minuman.

“ Huhhh…” Menghela napas panjang.
“Karena aku tidak menyukai lelaki yang begitu kasar dengan perempuan, karena itu bukan sifat lelaki, namun pecundang!!” Bergegas pergi kemudian berhenti.
“A.. satu lagi aku tidak menyukai yang namanya KE- KE- RA- SAN. Ingat!!” Menunjuk ke arah otak Yongjae. Lalu pergi.

“Haiiiish… benar-benar menyebalkan.” Merasa kesal.

Kelas bahasa. 10:56

Menunggu datangnya bel saat pulang. Yooripun hanya melamun. Kebiasaannya melamun saat sendiri termenung menatap kearah yang luas.

“Doooorrr….!” Seseorang mengagetkanku.

Yooripun melihat siapa yang berani membangunkan macan yang sedang tidur. Yoori melotot dengan tajam ke arah seseorang itu, dan seseorang itu merasa ketakutan dan segera meminta maaf.

“Yoo..Yoori Maaf!!” Sambil memejamkan matanya.

“Yaa!!” Membentak seseorang itu.

Mereka yang berada di dalam kelas merasa tergganggu dengan teriakkan Yoori yang melayang keras.

Yoori pun tersadar.
“Ah.. Hehehe… Maaf,, maaf,, maaf.”  Melihat satu persatu teman sekelasnya dengan menggaruk-garuk rambutnya.
 Yooripun berdiri lalu menyeret keluar seseorang itu.

Tiba di depan pintu kelas.

“Kau ingin mati!!” Nada marah.

“Ah Maafkan aku Yoori-San. Aku hanya ingin mengantarkan surat ini. Aku pergi ya. Pergi.

“Hey.. ya, ya… Haissh! Benar-benar menyabalkan! Dengan raut wajah yang kesal aku membukannya.

Yoori memandangi begitu pelan.

“Festival musim panas!!”
“Rock band - Love Summer !!”
“Haish,.. mengapa banyak sekali. Bukankah hanya Firework saja? Sebenarnya dari siapa?” Kebingungan.

Saat ingin kembali masuk kelas tiba-tiba ponsel Yoori berbunyi.

Dreeett.. dreeettt..drrettt..dreeet..

Segera mengambil ponsel dalam saku dan segeram membuka pesan.
~kau sudah menerimanya, jangan lupa untuk datang. ini permintaanku yang pertama dan yang terakhir.~

Merasa bingung kembali. Aku pun mencoba membalasnya tanpa berpikir.
~Nugu (siapa).”

~Hehehe.. coba tebak siapa yang menelponmu tadi pagi dan kau hanya mengabaikannya :D.~

“Haissh.. jinjja (benar).
~Ah.. Ne (iya) Toru Sonbae. Aku pasti datang :). Mianh..~
‘Entah apa yang membuatku menulis kata “mianh (maaf) disana.

~Datanglah bersama kekasihmu Yoori-san :).”
Saat Toru menuliskan kata seperti itu sebenarnya hatinya terlalu sesak. Ia sedikit menyukai Yoori namun sebatas adik saja. Tapi entah Toru masih sakit mendengar perkataan Yongjae tadi yang kalau Yoori adalah kekasihnya. Tiba-tiba…

Dreeett..dreeet…

~ Ya. kekasih? Aku akan datang sendiri dan jangan pernah kau berkata seperti itu, karena aku memang belum ada pasangan. Lalu kau sendiri dengan Mizuki. Bagaimana ??”
Begitu pun dengan Yoori saat menuliskan nama Mizuki ia merasa kecewa dan menyesal.
Haish.. Kenapa harus menanyakan Mizuki kepadanya. Bagaimana kalau ia menjawab, Hubungannya baik –baik saja. Ah.. Bagaimana dengan perasaanku kepadanya Tuhan. Ah .. benar-benar bodoh.

Namun bagaimanapun …..
‘Membaca pesan dari Yoori seperti ini aku merasa belum puas. Entahlah percaya atau tidak namun bagaimanapun aku (Toru) takkan bisa memilikinya.’
~Hahaha.. Ne (iya). Oh untuk Mizuki kita hanya berteman saja tak lebih.~

Mendengarkan perkataan seperti itu aku (Yoori) merasa lega namun mengapa ia berkata “Oh untuk Mizuki kita hanya berteman saja tak lebih.”
‘Apakah ia menjaga perasaanku. Ah .. Ataukah Toru Sonbae menyukaiku.’

 Tiiiiiing……

Tiba-tiba bel pulang pun berbunyi dan membuyarkan hayalan indah Yoori.

“Haish… Benar-benar tidak bisa berkompromi.” Menggerutu pelan sambil jalan mengambil tasnya.”

Pukul 12:02

Tiba di depan gerbang, bertemulah Yoori dengan Yongjae. Namun Yoori hanya berlalu dan membiarkan Yongjae mengikutinya. Saat ingin berhenti sejenak Yongjae pun tetap mengikuti. Tanpa berpikir panjang Yoori pun langsung angkat bicara.

“Kau sebenarnya ingin apa!” Menatap mata Yongjae tajam. 
“Kenapa kau terus menggangguku! Kau tidak ada pekerjaan! Penguntit!” Nada tinggi.

Orang-orang yang berada di sekitar melihat dan mendengar Yoori berbicara keras. tanpa malu Yoori pun tetap ingin mengatakannya dengan nada keras. Biar semua orang tahu kalau Yoori sebenarnya meminta bantuan agar terselamatkan dari pria bajingan seperti dia.

“Nada bicaramu bisa kau pelankan sedikit. Aku hanya ingin bicara sebentar denganmu…. Kau mau?

‘Mengapa ia tidak kasar lagi?’
Ya…!” Hanya mengangguk.

Yongjae pun mengajak Yoori duduk di seberang jalan dengan membelikan Yoori ice cream.

“Ini untukmu…” Memberikannya kepadaku.

“Haiish…..Kau seperti anak kecil saja.” Masih merasa kesal dengan menerima ice cream dari Yongjae.

“Hehehe.. Tapi kau menerimanya kan?” Menggodaku.

Yoori hanya berlalu dan mulai memakan ice creamnya.

Diam sejenak……

Angin saat itu begitu menyegarkanku dari sinaran mentari yang panas membakar kulit keringku.

“Ah.. Benar musim panas telah tiba dan akan ada banyak festival musim ini di Jepang. Aku sama sekali takkan melewatkannya….. Agar hidupku tidak kosong dengan namanya pengalaman.” Gerutunya tidak jelas.
“Aku harus mengatakan ini ?” Agak gugup.

Namun yang terlihat disitu Yoori hanya kaget dan bingung.
“Heh ??” Melihat Yongjae.

“Iya aku harus mengatakan ini. Aku..aku..ak..aku” Tiba-tiba berhenti.

Yooripun masih kebingung.
“Aku …?? Aku apa Yongjae …?” Melihat kearah Yongjae.

“Benar, iya. Aku Menyukaimu Yoori-san!!”

Yooripun yang melihatnya lalu membuang muka perlahan. Ia sangat kaget dan tak mungkin ini terjadi karena dalam hati Yoori hanya bertuliskan Toru Yamashita.

Hahaha… ini tidak mungkin. Bagaimana aku menolakknya? Akankah aku memberikan waktu beberapa hari lagi untuknya.’
‘Aku tidak bisa jika secepat ini.’

“Aaa…” Melihat Yongjae.
“Haha.. Bagaimana ini? Aku sama sekali tidak menyadari bahwa kau akan menyukaiku.
 Terlihat bodoh.
Haish.. Mengapa aku bertindak sangat bodoh sekali. Apakah ini saat tepat untuk tertawa di depannya.’

“Aku tidak memaksamu untuk berikan jawaban kepadaku. Dan aku pasti menunggu itu. Mulai berdiri.
“Aku yakin suatu saat kau akan menerimaku.” Pergi.

“Aaa… Yongjae…!” Memanggilnya namun tak terjangkau olehku.

Yongjae hampir terlalu jauh.

“Haish… bagaimana ini!” Kesal.

Tiba-tiba ponsel Yoori bordering.

Dreeeet..dreeeet,..dreet..drreet.
Dua pesan belum terbaca.

“Yongjae !! Toru Sonbae <3 !!”

Hampir 2 menit Yoori melongo melihat dua pesan dari mereka berdua degan sama-sama seperti itu. Melihat dan berpikir keras entah siapa dulu yang akan ia baca.

Dan bagaimana pun ia tetap sama dengan pilihan hatinya.
Membuka pesan.

~Minggu depan kau harus melihatku !! #emoticSmile.~

Tanpa aku sadari yang berhasil aku buka bukan pesan milik Toru soebae. Namun pesan milik Yongjae.

“Heh..  Yongjae!!” Melotot.
“Haisssh.. Bagaimana ini kenapa kau ceroboh sekali Yoori.” Membentak diri sendiri.

Yooripun bergegas mengeluarkan pesan dari Yongjae dan ia cepat membuka pesan dari Toru soenbaenya.

Membuka pesan.
~Hey.. Kau jangan lupa untuk melihatku minggu depan. Bawakan aku bunga untuk aku simpan #emoticrofle.~ Aku tersenyum saat membaca pesan dari Toru soenbae.

Dan terlihat dari notifikasi
~Kau hanya membacanya tanpa membalas?~

 Yoori hanya mengabaikannya dan lebih  ia membalas pesan dari Toru Sonbae.
~Ne (iya) Toru Sonbae. Tapi aku tidak menjanjikan untuk membawakan bunga untukmu. Mianh (maaf) #emoticSmile. Tersenyum manis.

Yoori sudah menunggu pesan yang harus Toru balas. Namun sudah hampir 10 menit tidak ada balasan.

Namun pesan kembali terlihat dari notifikasi.
~Yaa.. Kau tidak membalas pesan dariku?~

Haish.. Benar-benar orang ini lagi.” Membuang napas.

Yooripun akhirnya membalas pesan dari Yongjae. Namun ia tetap standby di pesan Toru. Yoori sangat yakin setelah ini Toru akan membalasnya.

Namun tidak juga.

Dan pada akhirnya ia membalas pesan dari Yongjae.

Membuka pesan.
~Gomen (maaf). Aku tadi agak sibuk di perjalanan.~

~Kau yakin tidak ada masalah yang lain.~

~Ne (iya), jangan terlalu menghawatirkanku.~

~Haish.. Kau terlalu keras kepala.~

~Ya sudah aku harus beristirahat dulu. Bye.~

 Yongjae yang melihat balasan seperti itu dari Yoori ia hanya bernapas panjang tanpa memikirkannya dengan keras.


SEMINGGU KEMUDIAN

Festival Musim Panas telah tiba.  Area Yokohama Stadium 2012.

Dengan agak terlambat Yoori membelikan bunga, namun Toru Sonbae masih saja belum keluar. Yoori sejak tadi hanya berdiri dan membawa bunga tanpa mengabari Toru Sonbae kalau sudah tiba. Ia sudah mengantongi sebuah tiket untuk dirinya sendiri.

Dan beberapa teman perempuan Yoori menyapanya. Mereka bertanya-tanya siapakah yang akan ia beri bunga yang berada dalam genggaman tangannya itu.

“Wow.. Apakah bunga ini akan kau berikan pada Yongjae soenbae?

“Yongjae soenbae!!” Kaget.

“Ye (iya), kau tidak tau bahwa ia berpartisipasi untuk Festival Musim Panas ini.”

“Huh.. Ahaha, Ye (iya) aku baru mengingatnya.” Aku hanya meng-iyakan tanpa aku tahu yang sebenarnya.

“Lalu siapa yang akan kau beri bunga kalau tidak Yongjae soenbae??” Wajah penasaran.

Aku tak menjawabnya.
Mereka yang bertanya-tanya akhirnya meninggalkan gerbang masuk untuk membeli tiket.

Flashback..

 Yoori mengingat seminggu yang lalu. Yang terakhir Yongjae mengirimkan pesan untuk dirinya. Lalu ia membuka kembali isi pesan dari Yongjae.

Haiish.. Benar, ia juga akan berpartisipasi untuk FMP ini.’ Mengeluh.
“Bodoh sekali aku tidak menyadarinya.”

End Flashback….

“Hah..” Menghela napas panjang.
“Kapan kau akan menghubungiku??” Bergumam dengan Melihat nama Toru yang berada dalam kontak pesannya.

Tiba-tiba ponsel Yoori bordering setelah 1 menit ia melihat ke jangkauan yang luas. Ia cepat mengangkatnya tanpa melihat nama penelpon.

“Ah Toru Sonbae! Kenapa kau terlambat sekali menghubungiku?”
“Haish.. Kau benar-benar Sonbaeku yang parah!!” Merasa kesal.

“Toru Sonbae??” Seseorang dari seberang telpon bertanya dengan suara penasaran.

Yoori melihat nama penelpon. Ia melotot. Kaget bukan kepalang kembali hadir dalam otak dan pikirannya.

Yoori sangat kaget dan tidak menyangka bahwa yang menelponnya bukan Toru soenbaenya tetapi Yongjae. Entah bagaimana wajah Yoori saat itu. Ia sangat malu dan entah akan berkata apa pada Yongjae karena ia terlalu berlebihan hingga menyebut nama Toru dengan sebutan Sonbaeku.

Yongjae yang segera tampil merasa ia kehilangan semangat. Dan entah apa yang akan terjadi nanti. Pikirannya pun masih di kuat-kuatkan kalau tidak akan terjadi apa-apa dalam perfomance nanti.

“Ahaha…” Merasa salah tingkah.
“Yongjae. Gomen (maaf)!! Aku kira kau Toru Sonbae. Karena aku merasa kesal jadi aku tidak melihat siapa yang menelponku, sudah banyak korban yang aku kesali gara-gara lelaki itu.
“Dan aku berkata seperti itu karena dia meminjam buku novelku dan ia tidak mengembalikannya. Malah dia akan perfomance di FMP. Aneh kan!!
“Padahal aku sangat butuh buku itu untuk aku kerjakan hari ini.” Sedikit ragu menjawabnya.
‘Berbohong adalah solusi yang baik jika kepepet seperti ini’ Ahahaha…. (Jangan di tiru)

Tidak ada jawaban sama sekali dari Yongjae.

Yongjae yang mendengarkan perkataan itu merasa ia di bohongi. Semenjak Yoori belum mengangkat telpon darinya ia sudah melihat Yoori yang merasa resah di depan gerbang pintu masuk antrian tiket dari seberang jalan. Namun ia sadar kalau ia hadir tidak untuk Yongjae. Yongjae pun merasakan itu. Dan bagaimanapun Yongjae tetap akan bertindak baik-baik saja kepadanya.

“Oh.. Begitukah??” Suara melemas.

Yoori hanya mengangguk. Terlihat oleh Yongjae.

“E.. Lalu kau dimana?”
“Kau tidak melihatku?”
“Sepertinya 15 menit lagi aku akan tampil. Jadi kau segeralah kesini, bus yang menuju area Yokohama masih banyak. Kau bisa?” Dengan melihat Yoori dari seberang jalan.

Yoori terdiam sejenak.

“Yoori-san??”

“Oh, Ye, Ye aku akan datang untuk melihatmu Yongjae hehe…”

“Ok. aku akan menunggumu. Pastikan kau tidak terlambat.” Menutup telpon.

Yongjae masih tetap melihat Yoori yang kebingungan di depan gerbang antrian tiket.

Yooripun sudah memasuki Area Yokohama Stadium. Ia berada di pertengahan, tidak di tengah-tengah hampir menuju depan. Tepat dimana orang-orang bisa bersalaman dengan personil band yang mereka dukung itu.

Ia melihat-lihat dengan membawa bunga mawar merah yang berada di tangan kirinya itu. Ia merasa menyesal bahwa Yongjae telah ia panggil dengan sebutan Toru Sonbae.

Bagaimana perasaanya nanti saat tampil dengan kegelisahan yang aku buat tadi?’
‘Haish.. Kau bodoh sekali merusak kesenangan seseorang yang sebentar lagi akan tercapai. Dasar idiot !!’ Marah pada diri sendiri.

~Kau sudah sampai. Sebentar lagi aku naik. Jangan biarkan senyumanku di nikmati oleh orang lain. #emoticSmile.~

“Apa-apaan sih dia!!
~Tak usah khawatir aku sudah berada di depan. Lakukanlah yang terbaik. Jadikanlah hari ini menjadi keajaiban untukmu dan semua orang yang melihatmu.~ Membalas dengan keterpaksaan.
“Kenapa sih orang ini masih saja menyebalkan. Dasar bajingan!”
“Mengapa tadi aku merasa bersalah sekali padanya. Padahal dia masih saja seperti monster. Huh..!” Merasa kesal.

Yongjae yang membaca itu  merasa ada semangat kembali. Ia benar-benar berharap Yoori akan menerimanya setelah ini. Tanpa membalas pesan dari Yoori. Tiba-tiba Yongjae dengan beberapa temannya sudah naik panggung, yang semua berada di area itu meneriakki.
Yongjae soenbaeeee…..,”
“Yongjae oppa,”
“Yongjae soenbaee!!,”
“Baby Yongjae.”

“Haiish.. benar-benar penonton bayaran. Berisik !!” Merasa kesal dengan menutupi telingannya.
“Hah.. Benar-benar berlebihan sekali para wanita ini.” Tetap menggerutu.

Dua lagu telah ditampilkan oleh band Yongjae dan kawan-kawannya. Yongjae merasa ia senang atas pesan yang telah dikirimkan oleh Yoori kepadanya.

Lama menunggu. Akhirnya band yang di rindukan oleh Yoori Sudah di depan mata. Yoori yang berada disitu yang tadinya hanya lemas tidak menikmati band dari anggota lainnya. Ia mempunyai alasan untuk band ini. Ia berantusias berteriak-teriak layaknya menonton konser yang sudah  Go internasional itu.  Karena Sonbae manisnya berada dalam band tersebut.

“Ah.. Toru Sonbae,,,,, Toru Sonbae,,” Tambah volume suara.
“TORUUUUUU,,, SONBAE.,,,” Dengan memejamkan matanya dan tangan yang membentuk pelantang suara.

Dan tiba-tiba praaaakk….
Yoori kena pukulan dari salah satu penonton. Segera ia melihat sekitarnya tidak ada yang menghiraukannya. Hanya teriakkan dan tertawalah yang berada di dekatnya.

Ia kembali bersemangat dan mulai kembali meneriakki Toru sonbaenya.

“Toruuu,,,Sonbae.. Ini bunga untukmu. Ambilaah Toru Sonbae….”

Dan tak di sangka kelakuan Yoori tidak sengaja telah terekam oleh crew yang mengambil gambar Festival itu. Yongjae yang melihat gambar yang sudah disediakan di layar besar berada di depan, merasa hatinya telah kembali di permainkan oleh Yoori.

END FLASHBACK
KEMBALI KE AREA YOKOHAMA STADIUM 2014

“Hey.. Ya!! Apa yang sedang kau pikirkan.” Membuyarkan lamunan Yoori dengan mentempeleng kepalanya.

“Lihatlah One Ok Rock yang sudah 20 menit hadir di hadapan kita. Dan kau masih saja memikirkan Yongjae!! Nada teriak.

“Ya... Siapa yang memikirkannya.” Merasa kesal.

“Kalau tidak memikirkannya nikmatilah musik yang dibawakan oleh Taka. Kau tidak ingin sepertiku?? Jumping guys. Hahaha….” Memperlihatkan gayanya kepadaku.

“O..Ok. lets Go!! Yoori hanya berkata tanpa ia berpikir dahulu.

Tetap sama Yoori hanya melihat ke satu arah saja yaitu melihat Toru. Ia hampir meneteskan airmata.
Mengapa..Senyumnya tetap sama seperti dulu.’

~FLASHBACK~

‘Dua tahun aku dengan Toru soenbae tidak saling bertemu, karena aku juga yang sibuk berada di jepang menikmati belajar di Todai. Dan tanpa sepengetahuanku juga, Toru telah sukses menjadi seorang gitaris sekaligus leader sebuah band yang sangat terkenal sekarang. Album dan single bandnya sangat laris di pasaran dan perusahaan management musik lainnya. Dan juga dia mempunyai banyak penggemar. Mungkin aku salah satunya. ‘Hehe..’ Aku dengar mereka tinggal sementara di Amerika. Entahlah foto yang beredar di salah satu sosmed (sosial media). Bahkan aku sangat tidak ingin melihatnya dan selalu ingin melupakannya. Tentang apa yang terjadi 2 tahun lalu.

~END FLASHBACK~

Tanpa di sadari satu jam lewat 20 menit sudah selesai. Dan waktunya kembali tanda tangan album dan lainnya untuk para fans ONE OK ROCK.

Bunga?? Iyaa bunga..’ Mengingatnya.

Sesegera Yoori berlari keluar untuk membeli beberapa bunga untuk Toru Sonbaenya.
itu pun jika benar-benar bertemu. Yah semoga saja.’ Gumamnya.

“Kau mau kemana?” Tanya Zura penasaran.

“Sebentar.” Tersenyum. Kemudia pergi.

20 menit kemudian.

Setelah mendapatkan ia bergegas kembali. Melihat samping kirinya beberapa wanita meneriakki nama Toru dan berlari menuju kerumunan tersebut.
“Sepertinya tanda tangan.”

Dan Yoori segera mengikuti di belakang orang itu.
Benar…!’ Kegirangan.

Senang hampir tidak menyangka bahwa Toru sedang dalam tatapan mata Yoori sekarang.
“Ah.. Benar-benar Toru Sonbae.”
“Ahh.. Haishh!!”
Yoori tengah kesal dan kewalahan karena banyak fans yang saling mendorong.

“Toru-Sonbae. Terimalah bunga ini!
………..
Haiishh..!!”

Tiba—tiba Yoori jatuh tepat di depan Toru yang memegangi sebuah album yang usai di tanda tanganinya. Namun beberapa fans sempat menariknya agar Toru tidak merasa tergganggu.

“A..Ahh,, Apakah tidak bisa pelan-pelan!!” Beberapa fans Toru menariknya.

Toru yang berada di situ hanya mengabaikannya tanpa menghiraukan. Tapi sedikit-sedikit Toru mengingat wajah itu. Tapi tetap saja tanda tangan album ini lebih penting daripada mengingat orang yang sama sekali tidak kita kenali.

Padahal mawar yang telah ia genggam sedari tadi masih awet dan tidak sama sekali rusak. Itu karena alasan mengapa mawar itu tak rusak.

“Mengapa kau seperti orang pengemis, ayo berdirilah lalu pulang.” Seseorang tanpa aku sadari datang. Lalu menarikku dengan keras.

“Aish.. Kau si!....” Melihat kearah wajah itu.
“Yo.. Yongjae!! Bagaimana kau tau aku berada di sini.” Bersikeras melepaskan tangannya dari genggaman Yongjae.

“Ah sudahlah. Ayo berdiri!! Kau tidak pantas berada di tempat kotor seperti ini.” Nada tinggi dan masih tetap menarik tangan Yoori.

“Apa !! Kotor katamu. *duug*!!” Seseorang datang tiba-tiba. Lalu menonjok Yongjae.

Entah darimana orang itu berasal namun tiba-tiba ia merasa kesal dengan ucapan Yongjae waktu itu.

“Kau bilang tempat ini kotor, justru kau yang lebih kotor daripada tempat ini. Pergi sana !!” Emosi mulai memuncak.
“Sebelum kau di hajar masa yang tak kau kenal.” Marah.

Yongjae terdiam dengan memegangi bibir sampingnya yang sedikit berdarah. Yoori yang berada di situ pun hanya terdiam, juga terlihat malu. Kekasih yang ia banggakan selama ini telah membuat onar dalam konser ternama sepanjang masa di Jepang.

Tanpa di sadari Toru sudah hampir lama melihat perkelahian antara lekaki keras itu dengan seorang fans. Sedikit perlahan memahami wajah gadis yang berada dalam jangkauannya itu bersama lelaki keras tadi.

Aku sangat mengenal wajah itu dan suara itu? Itu wanita yang jatuh tepat di hadapanku tadi. Akankah itu Yoori?’ Masih melihat wanita yang berdiri dengan lelaki keras itu.

“Yoori, mari kita pulang.” Menarik kembali tangan Yoori.

Ah.. Benar itu Yoori wishblue, dan Nam Yongjae tetap sama, ia masih sangat keras!!’

 “Kau tidak ingin menandatangani punyaku??” Seseorang berteriak pada Toru.

 “Oh!” Kaget.
“Yee (iya),” Dengan sedikit tersenyum.

“Ne (iya), Arigato Gozaimasu (terima kasih)!! Tersenyum.

Zura yang sedari tadi menunggu albumnya untuk di tanda tangani oleh Toru akhirnya kini terselesaikan tinggal dari mister Taka yang belum menandatangani.

Setelah melihat seorang yang berada dalam kerumunan para wanita-wanita sexy  itu, Zura segera berlari ke arah kerumunan tersebut.

“Oh My God. Mister Taka. You are so HANDSOME!! Aw.. Aw.. Aw.” Mencubit Taka.
Saat berkata handsome Zura menekan keras kata itu.

“Ah.. Kau mencubitku.” Kaget namun tersenyum.

“Hahaha… Kau meresponku dan kau manis sekalin mister.” Semakin menjadi-jadi.

“Oh.. Yeah. Thanks.” Kembali tersenyum.

‘Benar-benar kau terlihat Baik.’
Zura senyum-senyum sendiri menatap Taka yang berada di depannya.
“Oh arigato gozaimasu Mister Taka.” Kembali mencubit pipi Taka dan tertawa nakal.
“WUHAHAHA…..”
‘Ah.. Baumu takkan aku lupakan Taka. Dan mungkin aku hari ini takkan mandi. Wakakakaka.’ Terlihat bodoh saat mencium jarinya yang baru saja digunakan untuk mencubit Taka.

Setelah mendapatkan tanda tangan dari Taka dan genit untuk mencubitnya. Akhirnya Zura mendapatkannya. Walapun dengan susah payah mendapatkannya hingga rambutnya terlihat acak-acakan seperti orang gila yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa. Kemudian ia merasa lega dan sesegera mencari Yoori.

Mencari kontak
“Yoori kau dimana? Kau tak ingin albummu di tanda tangani oleh Toru Sonbaemu??”

Dengan menelpon berada dekat jangkauan Toru. Toru pun mendengarnya. Dan benar feeling bahwa yang ia (Zura) katakan adalah Yoori adik kelas waktu SMA.

“Oh kau dengan Yongjae !!” Terdengar dari seberang telpon.
“Tempat mana?”
“Aku akan menyusulmu.”
“Oh ne, aku akan segera kesana.” Berlari.

Toru pun segera mengikuti perempuan itu. Namun sebelum mengikuti ia menolak dengan sopan ia meminta maaf kepada para fans yang albumnya belum di tanda tangani oleh Toru. Toru berjanji akan mendatanginya di kemudian hari saat Tour kembali.

            Ia mengikuti Zura. Ia tidak konfirmasi dulu kepada produser bahwa akan keluar sebentar untuk menemui seseorang. Dan pada akhirnya beberapa crew meminta pihak lainnya untuk menghubungi Toru setelah beberapa jam kemudian.

Kedai Coffe seberang jalan Yokohama

“Haish.. Kau berada disini rupanya.” Merasa kelelahan.

“Kau duduklah. Dan pesan yang kau inginkan.” Seseorang mempersilahkan duduk.

“Auhh..” Melihat Yongjae dengan kesal.
 “Ya.. Mengapa kau mengajak Yoori buru-buru kembali. Kau itu memang sangat keras kepala. Kenapa kau tidak memberikan ia kesempatan untuk berlibur dengan kebebasan yang ia miliki.” Melotot.
“Jika kau ingin Yoori bahagia. Kau itu membebaskannya bukan malah mengengkangnya!! Bukankah kau sudah berlebihan. Ini yang di namakan manusia memanusiakan manusia. Kau benar manusia yang tidak berperikemanusiaan!!” Nada keras dan sangat emosi.

“Hah.. Apa sih yang kau bicarakan. Tidak seharusnya kau di tempat seperti ini berbicara setinggi itu!! Ya.. kau ku beritahu tentang ini. Ini kisah asmaraku dengan Yoori jadi kau berdiam sajalah jangan terlalu masuk kedalam dan ikut campur!!”
“Ah.. Kau benar-benar membuat moodku hilang seketika.” Membuang muka.

Yoori yang berada disitu hanya diam dan tidak ada lagi yang ingin ia bicarakan, karena ia merasa sangat malu karena tingkah kekasihnya yang sudah keterlaluan itu.

“Yoori mari kita pergi. Aku benar-benar muak dengan temanmu yang bahaya seperti ini.
“Sudah seperti janda mengomelnya.” Hampir menarik Yoori. Namun Yoori sudah membacanya.

“Kau jika ingin pergi. pergilah sendiri, aku hanya ingin sendiri tanpa kau ganggu.” Berbicara dengan suara lemas tanpa melihat wajah Yongjae.
“Dan aku kira kau sudah berubah. Tapi kenyataannya kau telah berbohong pada dirimu sendiri dan aku benci itu.”
“Sudahlah kau jangan pernah lagi menemuiku.” Emosi naik.

Entah apa yang membuat Yoori merasa kuat seperti itu. Zura yang mengetahui Yoori yang sabar dan tidak banyak bicara. Tapi hari ini ia menyelesaikannya dengan baik.
Zura merasa hatinya ikut tersenyum dengan Yoori yang keren seperti itu.

“O.. Jika itu maumu aku akan pergi. Segera hubungi aku jika kau merasa sudah membaik.” Pergi.

Yoori hanya diam dan membiarkan semuanya berlalu.

~ APARTEMEN ~

Yoori yang sedari tadi melihat bunga mawar merah yang berada di atas meja belajarnya merasa gelisah dan menyesalinya. Entah karena apa. Asumsi ia berpikir bukan tentang Yongjae. Ia berpikir tentang Toru sonbaenya.
Dan saat ia ingin memflashback ia dikagetkan oleh bel dering yang tengah malam berbunyi. Ia melihat Zura yang sedang tidur dengan pulasnya sambil memeluk boneka Anime Naruto. Yoori ingin membangunkannya. Tapi Yoori merasa kasihan pada Zura yang tadi sudah berlari menemuinya di kedai. Dengan tegas Yoori tetap menaikkan energinya, agar berpikir tidak akan terjadi apa-apa. Yoori keluar dengan mengendap-endap dan pelan. Menyalakan lampu ruang tengah dengan melihat jam.

“Haish … Benar-benar sudah malam.” Melihat jam.
“Tapi mengapa malam-malam seperti ini ada seseorang yang ingin bertamu.”
“Ah.. Jangan-jangan…!” Mata melotot.
“Oh.. tidak-tidak.. tetap positif-positif kau Yoori.” Mengelus-elus dada.

Dengan kekesalannya ia membuka perlahan dengan sedikit takut.
Dan tiba-tiba hitam-hitam terlihat dan…..
“AAaaaa,,,,!! Melotot sangat ketakutan.
Seseorang membungkam mulutnya.

Seseorang melepaskan bungkamannya dan perlahan mengajak Yoori duduk dan memberikan sebuah minuman segar “Pocari Sweat”.
 Yoori yang sedari tadi masih shok dan hanya menunduk ketakutan. Namun di luar sini masih ramai dan masih banyak bus dan mobil atau pejalan kaki yang masih lewat. Jadi seseorang yang membawa Yoori berada dekat apartemennya tidak khawatir dengan keadaan seperti ini, karena merasa masih aman.
 
“Kkk..KKaau sebenarnya siapa!” Masih ketakutan. Tanganku merasa dingin sekali waktu itu.
“Mengapa kau berani seperti ini de.. de..denganku!! Sangat ketakutan.
“A..aapaa k..kk.kaau ingin menculiku! Bahkan aa..aa..aku tak mengenalmu. Me..mee..ngapa kau seperti ini denganku.” Masih menunduk ketakutan.

Seseorang yang sedari tadi melihatnya ketakutan hanya ingin tertawa.

“Hiih…” Tersenyum kecil. Dan mencubit pipi merahnya dengan kedua tangannya. “Ternyata Yoori-san masih sama seperti dulu. Penakut hahaha..” Suaranya mulai meledak.

“Heeh !!” Reflek melihat ke arah seseorang itu.

 Seseorang membuka maskernya.
“Kau sudah mengenaliku Yoori-san.” Tersenyum manis sekali.

Entah apa yang membuatku terdiam dan tiba-tiba airmataku menetes.
Bagaimana ini bisa terjadi. Apakah ini yang dinamakan takdir yang mempertemukan kita diwaktu yang sangat tepat.’
Toru-Sonbae kau memang belum berubah, senyumanmu yang manis itu memang belum berubah.’
‘Namun apakah perasaanmu padaku masih ada ??’  Melihat Toru dengan mata sayu.

“Yoori!”  Melihat wajah Yoori yang tengah mengeluarkan airmata dengan derasnya.
“Kau menangis?” Memegang wajah Yoori dan melihat wajah Yoori dengan dalam.

“Bagaimana kau bisa berada disini. Melihat wajah Toru dan mulai marah.
“Dan kau tahu! Bagaimana aku sangat frustasi saat kau pergi tanpa berpamitan padaku.”
Toru merasa bersalah.
“Dan kau sekarang datang dengan tiba-tiba. Bagaimana kau melakukannya. Bagaimana kau bisa seperti ini padaku Toru!!” Kembali menangis.

Tanpa berpikir panjang Toru segera memeluk Yoori.
 “Gomen (maaf) Yoori-san. Aku minta maaf, karena aku pergi tanpa berpamitan denganmu. Aku sangat menyesalinya. Sungguh! Di saat itu aku dengan bandku sudah di kontrak oleh Management Amerika tahun lalu. Ia menjadi juri di sebuah festival, lalu tanpa aku sadari dengan teman-temanku aku langsung menerima tawaran itu. Dan dari situlah mengapa aku saking bahagianya impianku tercapai kau aku lupakan.”
Yoori masih menangis.
“Jujur aku sangat menyesalinya. Aku tidak bisa menghubungimu, karena seluruh ponsel member dibawa oleh manager.”
Diam sejenak…..
“Dan kini aku ingin kembali untuk menebus semua kesalahanku padamu…. Maukah kau menerimaku kembali?”
“Entah bagaimanapun. Aku tidak pernah menyukai orang lain selain dirimu. Jadi aku tidak tahu. Aku merasa dua tahun ini, kau berada disisiku. Walaupun aku canggung untuk mengemailmu. Dan aku hanya bisa melihatmu saat kau update di sosmed.
“Aku mengerti kau tengah berhubungan dengan Yongjae.”
Berhenti menangis dan mulai beranjak dari pelukan Toru.
“Jangan dilepas dulu.” Memeluk Yoori lebih erat. Aku benar merasaknnya Toru memelukku saat ini.
“Aku masih merindukanmu. Entah bagaimana aku harus mengatakannya.”
 Diam sejenak…
 “Aku…” Menghela napas.
“Aku menyukaimu Yoori.”
Yoori kaget.
“Bagaimanapun nantinya, dan apapun yang terjadi di masa depan. Aku tidak akan menyerah menunggumu.”

Yoori beranjak dari pelukan Toru dan melihat Toru sejenak. Yoori masih tidak menyangka apakah benar yang sekarang di hadapan Yoori benar Toru Yamashita, Toru-sonbae Senior SMA Yokohama?

“Kau benar Toru Sonbae?”
Tanpa berpikir panjang, tiba-tiba ciuman hangat mendarat di bibir Yoori.
…………
Beberapa menit kemudian Yoori melepaskannya tiba-tiba. Ia mengingat bahwa ia masih kekasih Yongjae.
“Ah.. Gomen. Kau segeralah kembali jangan sampai ada yang melihatmu disini. Aku.. aku..aaa..ku tidak ingin fans-fansmu melihat kau tengah bersama wanita biasa sepertiku. Kau segeralah kembali. Aku masuk dulu. Kau hati-hati.” Masuk apartemen dengan tergesa-gesa.

Yoori teringat bahwa ia masih ada bunga mawar yang ingin ia berikan pada Toru. entah bagaimana pun ia masih ingin melihatnya sekali lagi.
Semoga dengan cara ini aku bisa menerimanya sebagai sonbaeku lagi.’ Senyumnya kembali hadir.

Belum lama jauh ia mengikuti Toru dari belakang. Dan perlahan ia memanggil dengan pelan.
 “Heii.. Ini untukmu.” Tersenyum ikhlas.
Aku memberikannya karena aku menyukainya sebagai penggemar yang menyukai idolanya.
Bukan, aku lebih dari sekedar fans.’
“Semoga kau menerima dan menyimpannya. Dan mungkin, aku akan mempertimbangkan soal katamu tadi. Gomen. Aku tadi merasa sangat marah denganmu. Tapi sebaiknya kau harus kembali lebih awal dulu. Nanti jika sudah sampai kau kirim email untukku. Emailku tidak berubah.” Tersenyum.

“Ye, aku akan kirim email untukmu. Kau jaga diri baik-baik.” Mengusap rambut Yoori dengan tersenyum. Yoori pun membalas senyumannya. Lalu Toru pergi.

Yoori masih teringat kejadian yang baru saja terjadi, ia benar-benar belum percaya jika yang datang tadi adalah Toru Sonbaenya. Dengan bibir brkomat-kamit, ia tersadar telah lewat jam 03:45.
Hah!’ Melotot.
Sudah hampir subuh.’

Kling…..
Email masuk.
Zura terbangun.
Dengan memaksakan diri untuk bangun, Zura kemudian melihat Yoori yang tengah  smembalas email.
“Heii.. Ya! Kau belum tidur?

“Oh..!” Agak kaget. Dan melihat Zura yang tengah menggaruk-garuk rambutnya.
“Hehe.. Kau terbangun karena suara emailku?”
“Ah.. mianhe (maafkan aku) Zura-san.”

“Ah tidak aku harus pergi untuk olah raga. Karena aku minggu depan akan mengikuti lari maraton.”

“Heh.. Kau mengikutinya! Kaget.

“Ye, wae (kenapa)?”

“Ah.. Tidak apa-apa. Hanya saja aku iri padamu. Kau mempunyai badan yang benar-benar atletik.”

“Haiish.. Kau meledekku ya!” Melemparkan bantal ke wajah Yoori.
Mereka berdua saling berpandangan dan kemudia mereka tertawa bersama. Hahaha….

“Ok! Aku akan bersiap-siap. Kau tidurlah sebentar.” Pergi.

“Ye,..” Kemudian melihat ponsel.

*Aku akan menemuimu dua hari lagi. Aku ingin bicara lama denganmu. Bisakah kau meluangkan waktu untukku Yoori-san?* Toru_10969@yahoo.com

*Ye. Aku akan melihat scheduleku dulu. Jika ada waktu luang mari kita bicara.* Tersenyum manis saat menekan tombol send.

Toru yang mendapat balasan dari Yoori dan membacanya seakan mereka tengah mendapatkan kedekatan mereka kembali.

Kling……
Email kembali masuk.
*Apakah kau sudah sampai?* Toru tersenyum manis sekali :D

*Ye. Aku sudah sampai di apartemen yang berada di Yokohama. Kau menghawatirkanku ??* Dibalik ponselnya Toru hanya tertawa.

*Tidak.. Mengapa aku menghawatirkanmu??* Dengan wajah memerah.

*Haha… Begitukah? Namun saat aku membacanya, kau menuliskan seperti ini “Ya aku menghawatirkanmu”#emoticrofle.*

Yoori kembali mengecek pesan yang baru saja ia kirimkan ke Toru.
“Dimana aku menuliskan kalau aku menghawatirkannya. Huh,,.. Mengapa ia selalu menjahiliku.”
*Dasar kau.. Selalu begitu padaku!! #emotickesal.*

*Hahaha… Nampaknya kau terlalu terbawa perasaan ya. Ataukah kau masih menyukaiku ?? Hahaha…#emoticrofle*          Toru tertawa dengan keras.

*Ya,,!! Ya,,!! Siapa !! Tidak..!! Kau istirahatlah. Aku juga ingin tidur. Cerita saja saat bertemu, oke. Ohayou Toru-Sonbae. #emoticsmile #emoticeheart.* Yooripun tersenyum manis sekali dibalik layar ponselnya :D.

Toru yang usai membacanya, tersenyum mengingat bagaimana saat mereka dulu pernah merasa dekat dan bahkan sangat lebih dari dekat. Mereka bahagia saat mereka jalan bersama, olahraga tiap subuh bersama, dan latihan gitar bersama. Toru mengingatnya seakan ingin meneteskan airmata karena Yoori telah bersama dengan yang lain. Namun tekat Toru untuk memiliki Yoori tidak akan pernah patah di tengah jalan. Toru mengira Yongjae adalah lelaki bajingan untuk Yoori. Bagaimanapun Toru ingin Yoori dalam lindungannya.

“Bunga ini….”
~FLASHBACK~

 SAAT MELIHAT BUNGA YANG DIBERIKAN OLEH YOORI~

Usai Festival Musim Panas, Yoori mencari-cari Toru yang sedari tadi ia tidak keluar dan tidak menghubunginya. Namun saat tengah berjalan seorang perempuan memanggil Yoori.

“Yoori kau akan pulang?”

“Ne, wae (kenapa)?

“Seseorang mencarimu, ia berada di taman dekat area ini. Segeralah menemuinya.

“Oh, ne. Arigato gozaimasu.” Memberi salam.

Yooripun berjalan menuju tempat yang sudah di beritahu oleh seorang perempuan tadi. Tetap saja Yoori terus melihat ponselnya karena ia berharap kalau Toru-sonbae akan menghubunginya. Pada saat Yoori melihat sekeliling, saat itu juga Yoori terfokus dengan lelaki yang menggunakan jaket hitam dan rambut dengan agak keblonde-blondean yang duduk di dekat pohon sakura itu, dengan memegangi gitarnya.

Apa itu Toru Sonbae??’

Tiba-tiba Toru pun sudah membalikkan wajahnya ke arah Yoori, sebelum Yoori memanggil. Yoori melihat Toru dengan melotot karena benar-benar kaget.
Entah bagaimana ia tahu kalau batinku berkata dia adalah Toru-sonbae.

Toru tersenyum dari kejauhan. Dan perlahan Yoori menuju tempat yang Toru duduki. Hampir sedikit sampai di tempat yang Toru duduki. Seseorang datang menghalangi Yoori.

“Yoori-san. Kau ingin kemana. bukankah kau harus pulang hari ini denganku?” mencoba menghalangi.

 Yoori yang mencoba trus melihat Toru akhirnya menyerah karena Yongjae tengah membuatnya kesal.

“Hei.. Kau melihat apa.” Melihat pandangan Yoori yang tertuju ke seseorang.

Yongjae pun mengikuti kearah yang dilihat oleh Yoori. Toru yang masih berada di dekat pohon itu melihat Yoori dengan Yongjae yang berbincang-bincang berdiri sejak lima menit tadi.

“Oh.. Toru.  Kembali melihat Yoori.

Yoori hanya diam dan kesal atas perbuatan Yongjae  yang semakin hari, semakin memuakkan.

“Hei.. Bunga ini untuk siapa? Untukku kah? Melihat bunga yang ada dalam genggaman Yoori.

Yooripun langsung memberikan membuang bunga itu kepadanya dan ia pergi.

“Ya..!! Yoori,, ya!! Memanggil Yoori dengan berteriak karena Yoori sudah jauh dalam jangkauannya.

Karena Yoori merasa kesal dan untuk apa bicara panjang lebar kalau si lelaki bajingan itu tidak akan pernah mengerti dirinya. Toru yang berada disitu akhirnya berdiri dan mengejar Yoori, namun dihalangi oleh Yongjae.

“Kau jangan mencoba untuk mengejar Yoori. Dia kekasihku bukan kekasihmu!!” Pergi.

Mendengar perkataan Yongjae yang seperti itu Toru pun terdiam dan tidak melanjutkan perjalanannya.

Seorang laki-laki datang menghampiri Toru.
“Hey.. Hey.. Hey.. Hyung (kakak/senior) sedang apa kau disini. Kembalilah ke aula. Kau belum makan kan?” Merangkul pundak Toru.

Toru membalikkan wajahnya kearah seorang lelaki yang tengah merangkul bahunya itu.

“Huuh,,,” Menghela napas panjang.
“Ryota. Apakah menurutmu seseorang yang dicintai, apakah harus selalu diperjuangkan?”
Ryota kaget. Melihat Toru tajam.
“Hee.. !!
Toru membalas pandangannya kepada Ryota.

“Entahlah,, namun jika aku sudah benar mencintai seorang wanita. Aku akan mengatakkannya tanpa terlambat. Dan aku harus mendengarkan jawaban dalam detik itu juga, sebelum hati terasa sakit saat lama tak ada jawaban, namun jawaban tersebut tetap berkata zonk. Setidaknya jika kau menyukai seseorang katakanlah terus terang dan jujurlah tanpa kau membohongi dirimu sendiri hyung.

Toru yang mendengar kata-kata dari Ryota memahami satu persatu arti dari semuanya. Dan bagaimanapun Toru termotivasi untuk tidak membuat semuanya rumit.
“Baik aku harus mengatakannya segera.”

Ryota yang melihat Toru hanya mengkerutkan dahinya.
“Yasudah mari kita makan.” Merangkul Toru.

“Hemm..” Membalas rangkulan dari Ryota lalu pergi bersama.

SMA YOKOHAMA
~KANTIN~ 10:12 am

Dengan wajah yang tampak murung dan lesu. Yoori hanya membolak balikkan makanannya yang telah di pesan 10 menit yang lalu. Dengan memikirkan hal kemarin yang telah terjadi.
Dia selalu memikirkan bagaimana bisa bunga yang seharusnya ia berikan untuk Toru-sonbae harus di berikan kepada Yongjae yang benar-benar kurang ajar itu.
‘Ahhish…. Mengapa tiba-tiba aku merasa pusing.’ Memegangi kepalanya dengan menunduk.

Kemudian Yoori kembali membolak balikkan makanannya. Daging yang padat, entah bagaimana saat itu sudah hancur menjadi lembut.

Seorang laki-laki datang. Kemudian duduk. Lalu mentempeleng kepala Yoori yang sedang asik bermain dengan makanannya.

“Aishh… “ Wajah penasaran.

Yoori yang melihat dengan mata seperti mabuk, dan kemudian berlalu

“Ya.. Ya,ya. Begitukah sifat aslimu!!

Yoori melihat kembali wajah seorang laki-laki itu.

“Kenapa menatap tajam seperti itu ??”

“Tidak. Aku merasa agak pusing sonbae.” Suara Melemas.

“Bagaimana kau tidak pusing, kau tidak memakan makananmu.”

Toru sonbae telah menyendokkan makanannya dan menyuapkan ke Yoori.

“Cepat makan… Aaaa. Tolong buka mulutmu??”

Yoori hanya melemas dan tiba-tiba Yoori pingsan.

“Yoori.. Yoori…. Haish… Mengapa tiba-tiba…”

 Toru pun segera membawa Yoori ke ruang UKS untuk diperiksa.

“Ah.. Kau ternyata berat juga.” Membopong Yoori.

RUANG UKS.

Toru yang menunggu sudah hampir 10 menit itu merasa khawatir akan terjadi apa-apa dengan Yoori. Setelah diperiksa. Toru segera masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan Yoori. Di sana Toru terlihat begitu menghawatirkan keadaan Yoori yang belum sadar.
 “Aku mohon, kau sadarlah Yoori.” Memegangi tangan kiri Yoori.

Toru terlalu cemas dan sudah hampir lama menunggu Yoori. Tiba dikagetkan oleh seseorang yang datang dengan nada tingginya.

“Ya.. Haish kau minggir!!.” Tangan Yoori terlepas dari genggaman Toru.
“Apa yang kau lakukan dengan Yoori-ku. mengapa ia pingsan seperti ini.” Emosinya meningkat.

Toru merasa terganggu dengan nada bicara laki-laki itu.
“Yongjae. Ikutlah denganku.” Melihat laki-laki itu tajam.
“Aku ingin bicara empat mata padamu.”

Yongjae mengikutinya.

Depan Ruang UKS

“Apa yang sebenarnya kau ingin bicarakan.” Nada kesal.

“Yongjae! Bisakah kau bicara pelan sedikit ??” Menatap Yongjae tajam.

“Ya,, kau memangnya siapa! Kau tidak punya hak untuk mengaturku.” Balas tatapan tajam.

“Apakah Yoori akan menerimamu jika kau seperti ini.”
“Kau tau! Mencintai itu bukan merusak atau menyakiti. Namun mencintai untuk melindungi dan menyayangi.”
Diam sejenak……….
“Kau yakin menyayanginya? Bukankah ia akan tersiksa jika kelakuanmu melebihi amatir!”
Wajah Yongjae terlihat agak ingin memberontak setelah mendengar kata amatir.

“Ku peringatkan sekali lagi. Jika kau benar menyukainya jaga dia dengan baik. Dan jika tidak! Aku tidak akan pernah melepaskan ia jatuh ke tanganmu.” Pergi.

“Haiish… benar- benar menjengkelkan. Memangnya kau siapa! Kesal.

Tak terduga Yoori telah mendengarkan percakapan Yongjae dengan Toru dibalik pintu ruang rawat yang ia tepati. Dibalik pintu yang using, ia mendengarkan semua yang diucapkan oleh Toru yang hampir ia tidak menyadarinya. Bahwa Toru memiliki perasaan yang dalam untuk Yoori. Hingga menetes airmata yang terkadang ingin mengungkapkannya. Namun Yoori tersadar ada seseorang yang mendekati Toru dari belakang.

Setelah mendengarkan Yongjae nampak akan masuk ke dalam ruang rawat, sesegera Yoori berbaring dan memejamkan matanya.

Kreeeeeek…. pintu terbuka.

Yongjae melihat dengan tatapan mata yang pasrah. Karena hal yang sudah dikatakan oleh Toru membuatnya semakin ingin dan ingin memiliki Yoori. Lama memandangi Yoori, akhirnya Yoori pun membuka matanya perlahan. Yongjae merasa kaget dan senang Yoori telah sadar.

“Yoori.. K-kau sudah sadar, syukurlah…. Memegang tangan kiri Yoori.

“Hmm.. Aku dimana?” Suara melemas.

“Aaa.. Kau ada diruang rawat. Kau tadi sempat pingsan. Ada yang terluka? hmm..” Sangat khawatir.

Yoori beranjak untuk bangun.
“Ah tidak ada, sedikit pusing.” Memegangi kepalanya.

“Kau ingin keluar, mari kubantu.” Yoori hanya mengangguk.

Yoori tiba di kelas. Masih dengan menundukkan kepalanya bertumpu di meja. Setelah beberapa menit kemudian. Jam sudah menunjukkan waktu 12:30. Pelajaran usai dan Yoori pun bergegas untuk pulang.

Masih agak pusing.

Saat di gerbang.

Drreettt..dreeett..drrettt..dreeet..
Ponsel Yoori berbunyi menandakan ada email masuk untuk di terima.
“Sano!”
Membuka email.
*Kau tidak apa-apa pulang sendiri? Aku ada latihan untuk acara besok. Pulanglah dengan hati-hati. Nanti aku telvon setelah latihanku selesai.* Yoyjae96@yahoo.com

Yoori hanya membacanya dan mulai berjalan kembali untuk pulang.

Dreeeettt…dreeettt.drreeett…drereettt.
Haisshh… siapa lagi.”

Mengaktifkan power ponselnya dan terlihat di notifikasi….
Toru-sonbae.’
Ia cepat membukannya.

*Jangan cemberut seperti itu. Lihatlah kebelakang.*

Dengan cepat Yoori pun berbalik arah ke belakang. Yoori pun nampak terlihat sangat manis. Ia tersenyum dengan apa adanya natural dan sangat sangat memuaskan untuk di pandang. Ibarat mawar harumnya sangat mewangi untuk di petik.

“Toru- sonbae…” Tersenyum.

Melihat Toru yang berada di dekat jangkauannya ia merasa kegirangan. Toru yang nampak tersenyum manis, Yoori merasa tingkahnya sangat aneh sekali. Entah bagaimana perasaan itu. Dan tiba-tiba rasa pusing telah berhenti. Hati Yoori kembali bersemangat melihat senyum manis yang menghias wajah Toru. Yoori yang berada di situ hanya berdiri dan entah ingin berbuat apa. Pikirannya sangat bingung, malu dan campur aduk.

“Kau sudah baikkan ? Toru mendekati Yoori.

Aku hanya mengangguk dengan tersenyum malu.

“Syukurlah kalau begitu.”
“Ehmm.. Apakah kau Ingin pergi denganku??” Sedikit canggung.

Yoori tetap saja tidak bisa berkata apa-apa dia hanya mengangguk seperti tadi.

“Kenapa kau hanya mengangguk-angguk saja?”

Mereka saling lirik melirik dan pada akhirnya mereka tertawa bersama.

Aku hanya berharap bisa berlama-lama dengan Toru-sonbae. Entah apa yang aku pikirkan pada saat itu, Namun aku sangat ingin bersama Toru-sonbae. Tapi aku benar-benar tersadar kalau Toru sonbae sudah dengan yang lain.
Bersamanya membuat Yoori mengalami kemajuan untuk benar-benar menjadi diri sendiri.

Banyak hal yang ingin ia lakukan dengan Toru-sonbaenya.
‘Akankah Toru-sonbae juga begitu padaku ??’

Memandang Toru dengan perlahan.
Toru pun membalas Yoori dengan tersenyum.

Yoori yang ketahuan memandangi wajahnya, menjadi memerah dan entah ia bertingkah aneh lagi.

“Eh.. Toru-sonbae,,,” Terpotong oleh seorang perempuan.

Seorang perempuan datang dari arah yang tak terduga. Dan perempuan itu membuyarkan semua pikiran Yoori. Padahal ada hal penting yang ingin dikatakan oleh Yoori.

“Eh Toru-kun, Sibukkah kau nanti malam?

“Akan kulihat dulu scheduleku.

“Ok. Kau harus mengabariku nanti.”

Toru hanya mengangguk.

Perempuan itu kemudian pergi.

            Yoori yang melihat adegan seperti tadi hanya diam dan berpikiran positif saja.

~SAMPAI DI TAMAN SANKAKU~

Mereka duduk dengan menghela napas panjang. Hembusan angin yang menerpa mereka berdua. Membuat mereka semakin ingin berbicara panjang.

“Aaa.. Aku akan memesan minuman dulu, kau tetap disini.”

Yoori hanya mengangguk

‘Mengapa perasaanku tak tentu seperti ini. Bukankah perempuan itu yang sempat digosipkan dekat dengan Toru sonbae beberapa bulan lalu. Lalu mengapa aku harus cemburu. Jika mereka hanya berteman itu alasan yang masuk akal.’
‘Haruskah aku menannyakan ini pada Toru-sonbae?’
‘Haish.. Mengapa kau bodoh ingin menanyakan seperti ini. Kau kira akan berhasil jika kau mengatakan ini.’
‘Benar-benar,, lebih baik aku diam, biarkan Toru sonbae yang mengatakannya sendiri.’
Hah… iya, sebagai wanita aku lebih baik menunggu.” Menghela napasnya.

Tiba-tiba ia melihat anak kecil yang jatuh tepat di depannya.

“Akh.. Hihihi…. Anak itu menangis.

“Oh..” Menolongnya.
“Hemm.. Apakah kau baik-baik saja.” Menatap mata anak itu dengan dalam-dalam.

Anak itu tetap menangis.

“Ah.. Kau kasihan sekali. Dimana orang tuamu?” Mengusap-usap rambutnya.

Tanpa disadari Toru yang melihat dari kejauhan merasa sangat senang. Karena Yoori begitu suka juga dengan anak kecil. Toru mulai mendekati Yoori dan memberikannya anak itu permen.

“Ini untukmu adik kecil.. Kau jangan menangis lagi ya.”

Adik itu menerima permen dari Toru.

“Haissh.. Anak pintar.” Dengan mengusa-usap rambutnya.

Yoori melihat dengan tersenyum dalam hati.

“Ini untukmu Yoori.” Memberikan minuman kepada Yoori.

“Terimakasih sonbae.” Menerima sambil tersenyum.

Toru kembali duduk dan menanyakan dari mana asal anak itu.
“Mengapa dia bisa ada denganmu ?

“Dia baru saja mengalami kecelakaan, saat ia berlari. Entah ia ingin kemana, namun ia jatuh tepat dihadapanku. Aku langsung membantunya dan menggendongnya. Sudah hampir 25 menit tidak ada yang mencarinya. Mungkin rumahnya sekitar sini kali ya?”


“Oh.. Begitu.”
“Kau menyukai anak kecil ternyata.” Melihat Yoori sambil tersenyum.

“Ah…Haha.. Tidak juga!! Ini hanya kebetulan saja.” Membalas senyuman.

Hati Yoori kembali berdegub kenacang.

“Begitukah…” Tersenyum kepada Yoori. Dan sangat manis sekali. Terlihat gigi kelincinya. Ah kudu nyipok ae loh wkwkwk

Yoori hanya megangguk dan kembali tersenyum.

“Ah..! Orang tuamu dimana?”

Anak kecil itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan memakan permen pemberian Toru.

“Ah.. apakah dia tidak ingat. Lalu bagaimana ini. Apakah kita harus menunggu sampai 24 jam? Agar orang tuanya datang ke sini untuk mencarinya.

“Ya. Aku setuju denganmu.

Dan tanpa mereka sadari anak itu tertidur pulas dengan memegangi permen yang berada di tangan kanannya. Yoori pun tengah membersihkan bibirnya yang celemotan dengan permen yang berwarna-warni itu lollipop.

“Ah.. Dia tertidur dengan tersenyum. Waah manis sekali.” Tersenyum memandangi anak kecil itu. Lalu Yoori mempuk-puk pantat anak kecil yang mungil itu.

Toru yang melihat itu hanya tersenyum. Karena baginya melihat Yoori tersenyum sudah mencukupkan hatinya terasa nyaman.

“Dia tampan sekali. Seperti aku waktu kecil.” Melihat anak kecil itu dengan berhayal ke masa lalu.

“Haha..” Yoori tertawa kecil.
“Kau sungguh lucu. Mengapa kau sepede itu. Kau itu tidak tampan sonbae. :D” Meledek dengan tertawa kecil lagi.

“Haiish.. Kau sangat menyebalkan Yoori.”

Yoori masih tertawa kecil.

“Oh,,” Melihat jam.
“Mengapa hampir sore?” Mengkerutkan dahinya.

“Kau ada janji?” Melihat Toru dengan penasaran.

“Entahlah… Namun aku ingin menunggumu menjaga anak ini.”

“Huuuh…..” Yoori terlihat menghela napas panjang.

“Kau kenapa? Asma ?”

“Haishh,.. Dasar kau!!

Toru tertawa meledek.

“Ya.. Kau pelan-pelan.” Memperingatkan Toru.

“Hehehe… Maafkan aku Yoori. Bukankah aku lucu?” Tertawa kecil.

“Tidak! Kau tidak lucu sama sekali.” Mengelus-ngelus anak kecil itu.

“Yoori. Kau jangan salah paham tentang perempuan tadi yang menemuiku. Hanya saja, ia sekelas denganku.”

“Salah paham? Maksudmu?”
“Ya terserah kau Toru—sonbae, aku juga tak ada hak untuk tidak mengizinkanmu dengan yang lain.”
“Memangnya siapa aku ?” Muka memerah tegang.

“Benarkah kau tak keberatan? Bukannya kau suka padaku?” Melihat Yoori yang menundukkan kepalanya.

“YA!!!” Melihat wajah Toru.

Anak kecil dalam pangkuan Yoori terbangun.

“Aih.. Semua ini gara-gara kau Toru-sonbae.”
“Ah.. Dia menangis lagi. Bagaimana ini.” Mulai Menggendong. Berdiri lalu pergi.

“Ah maafkan aku Yoori. Lalu kau akan membawa anak ini pergi kemana?” Mengikuti Yoori.

Entah akan dibawa kemana anak itu, karena sedari tadi tidak ada satu pun gerak gerik orang tua anak ini mencari keberadaannya. Dengan berjalan kaki sepanjang jalan yang hampir sepi mereka bergantian untuk menggendong anak kecil itu yang sedang tertidur pulas sejak perjalanan tadi.

“Toru sonbae ?”

“Hmm,,,” Toru menjawab.

“Bukannya kau ada janji malam ini. Kau pergilah. Biarkan aku menjaga anak ini. Sisanya besok kita urus lagi.”

“Ah.. Sebentar.” Mengambil ponsel dari saku celana kanannya.
“Ini…” Memberikan ponsel kepada Yoori.

“U-Untuk apa!” Merasa kebingungan.

“Kau kirimkan email untuk Mizuki. Bilang padanya kalau malam ini aku sibuk latihan dengan teman-teman.”

“Tapi…”

“Sudahlah kau tulis saja lalu kirimkan.” Toru memotong pembicaraan.

Yoori hanya mengangguk.

Selesai mengirimkan email.
“Ini..” Mengembalikan ponsel kepada Toru.

“Kau tidak kelelahan.”

Yoori hanya menggeleng-geleng.

“Berikan padaku, aku akan menggendongnya.”

“Biarkan aku saja Toru…..!!!” Berontak.

“Apa!.. Kau memanggilku dengan sebutan apa?” Memandang wajah Yoori tajam.

“Toru!” Merasa kesal.
Menatap Toru tajam.

“Ya! Kau kenapa?”

“Ah jangan tanya aku. Aku ingin menggendongnya lebih.”

“Ah.. Kau sudahlah. Tanganmu terlihat kecil akan lelah jika kau memaksakannya.”

Yoori hanya diam. Lalu memberikan anak kepada Toru.
Songong banget nih anak.’ Dengan kesal Yoori mengikuti Toru dari belakang.

~ SAMPAI DI DEPAN KONTRAKKAN YOORI~

Tanpa disadari semua kami berdua pun telah sampai di depan kontrakkanku. Begitu kuat menggendong anak kecil tampan itu. Kagumku selalu meracuni pikirku. ‘Ah…. apa-apaan sih.’

Ah.. Sudah sampai.” Menghela napas.

“Baiklah. Dimana tempat tidurmu?” Masih menggendong anak kecil tampan itu.

“Yah.. Cukup sampai disini saja. Biarkan aku yang menggendongnya sampai ke kamarku.”

“Tanganmu terlalu kecil. Jadi ku pastikan anak ini sampai di tempat tidurmu.”

“Hah! Kau rupanya tak percaya padaku sunbae.”

Balasnya dengan tersenyum.

‘Hmmm… Bukan hal yang tepat kau tersenyum manis seperti itu.’

Setelah selesai membopong anak kecil tampan ke dalam kamar Yoori yang serba warna pink itu. Toru kagum dan merasa penasaran dengan warna yang ia sukai. Begitu banyak benda-benda unik di dalamnya. Toru merasa terjebak dalam dimensi yang serba pink.

“Haish.. Sungguh kekanak-kanakkan sekali.”

Kemudian Toru terhipnotis oleh lukisan bunga mawar yang indah dan natural sekali seperti nyata. Namun entah abstrak. Ia melihat dan sesekali memegangnya, membuat Toru makin penasaran dengan Yoori.

“Yaa.. Kau!! Jangan pegang lukisanku. Tanganmu tidak pantas memegangnya,

Toru melepaskan pegangannya dari lukisan itu dan merasa sangat kecewa mendengar perkataan dari Yoori yang kasar.

“Kau, pantasnya hanya boleh memegang gitar dan memainkannya. Bukan lukisanku yang kotor.”

Toru merasa menyesal telah kecewa dengan Yoori sebelum konteks yang kemudian muncul.

“Ya.. Haha… Mengapa kau bicara seperti itu padaku. Aku hanya saja kagum. Kau yang melukisnya?” Mendekati Yoori penuh perasaan.

“Ah.. Kau hanya akan membangunkan anak kecil itu, ayo kita bicara di luar saja.” Ajakku dengan menggandeng tangan Toru.

~ DI RUANG TAMU ~

“Ini untukmu..” Memberikan jus jeruk dan kemudian duduk.

Toru tetap melihat-lihat dan kemudian duduk.
“Kau sendirian disini?” Tanyanya dengan meminum jus jeruk tersebut.

Yoori hanya mengangguk dan juga meminum jus jeruk.

diam sejenak…………………….

“Ah.. Ini sudah malam. Kau harus pulang.” Nada tinggi.

“Mengapa kau tiba-tiba mengusirku? Kau tak ingin melihatku lebih lama.

“Haish.. Kau benar-benar membuatku frustasi. Sana cepat pergi.” Nada kesal.

“Ah.. Baiklah aku akan pergi. Tapi aku akan meminum ini dulu.” Kembali meminum jus jeruknya.

Nampaknya ia sangat kehausan.’ Melihat Toru yang sedang meminum jusnya.

“Ah.. Kau jangan lupa untuk mengirimkan email. Beritahu aku secepatnya tentang perkembangan anak kecil itu.” Pintanya tegas.

Yoori mengangguk dengan tersenyum.

Kemudian Toru pergi dengan senyum yang sangat manis pula.

~ END FLASHBACK~

Lama menjelajahi masa lalu Toru pun lelah dan tertidur pulas, namun di sisi lain Yoori pun ternyata juga sama, memikirkan dan memutar masa dulu bersama Toru. Entah bagaimanapun mereka terlihat dekat dengan kebatinnannya masing-masing. Yoori, lama menginginkan kembali rasa bahagianya saat pertama melihat dan bertemu dengan Toru. Saat ia tidak bertemu dengan Toru dan entah bagaimana ia tidak mengetahui bagaimana Toru sudah sesukses ini. Ia hanya selalu menghayal dan memutar masa lalunya dengan Toru saat masih di sekolah menengah atas bersama. Kenangan demi kenangan tersimpan rapi. Yoori mengatakan bahwa hanya Torulah pangeran yang ia impikan selama ini. Namun entahlah, mungkin memiliki Toru sonbae hanya sebatas mimpi. Gumamnya dalam hati saat itu.

***

Terimakasih telah meluangkan waktunya untuk cerita abal-abalku dan sangat amatiran ini. J

 PLEASE VOTE AND COMENT !!!
KARENA DUKUNGAN KALIANLAH AKU BISA MELANJUTKAN!!! ^V^


Tidak ada komentar:

Posting Komentar