Minggu, 11 Juni 2017

PART 3 Descendants Of THe Sun Versi Wandagain



-Jangan Terus Menghindar Dariku-

Hari mulai terbelah menjadi hari berikutnya. Uapan segar yang sedari tadi telah membangunkan wanita cantik nan ayu itu, telah membuatnya semakin terlelap kembali. Ia berusaha berpikir ulang bahwa ia hari ini harus segera pergi lebih awal. Tugas deadline telah melambai-lambai dari meja belajarnya. Segeralah ia mempersiapkan semua untuk ia bawa ke kampus.

Tak lama ia bergegas dan pergi dengan jalan kaki. Memang agak sedikit terjangkau, kampus dengan rumahnya, namun ia sedang ingin menghemat uang karena oppanya masih berada di rumah sakit.

Belum lama ia teringat sesuatu yang mengejutkan dan memalukan tadi malam bersama orang yang ia sukai Song Joong Ki. Setiap perjalanannya ia tetap bergumam tidak jelas karena malu melakukannya secepat itu dan tidak ada jawaban. Entah bagaimana ia menepatkan wajahnya di depan Song Joong Ki nanti.

Hari ini ia tidak berpamit dengan keluarganya, karena mungkin keluarganya sudah mengetahui bahwa Lee Ji Won berangkat lebih awal. Sebelum oppanya mengalami kecelakaan, ibunya telah memasuki kamarnya dan melihat schedule berwarna pink yang telah tertempel rapi di pojok dekat almari klasiknya itu.

Sosok Jiwon itu memang sangat perapi namun posesive, sedikit tomboy dan tidak begitu menyukai barang-barang wanita apalagi yang mewah. Berantusias sekali ingin mempunyai usaha roti dan butik. Namun akhir-akhir ini ia telah melewatkan banyak waktu. Ia tidak terfokus untuk membuat roti lagi, karena ia ingin fokus dengan dunianya, photographer dengan designer. Beruntunglah ia jika mendapatkan beasiswa di kampus ternama ini yaitu Universitas Sungkyunkwan.

Jam sudah menunjukkan pukul 09:10. Beberapa menit lagi mata kuliah harus dimulai. Ia segera berlari menuju kelas, namun ia masih berjalan dengan cepatnya dan masih di area Fakultas IT. Jangkauan tinggal beberapa detik lagi. Dan pada akhirnya ia telah sampai dan di sana ia telah disapa oleh teman seakrabnya Yuri, Coara dan si imut nan lucu itu Ken. Jiwon hanya tersenyum dan pembimbing telah memasuki ruangan. Tugas telah terkumpulkan.

***

RUMAH SAKIT GANGNAM
     Ruang rawat telah menjadi kamar akrabnya saat ini untuk Lee Yong Jae. Sakit memilukan yang ia rasakan setiap hari terus membuatnya lebih kuat lagi demi keinginannya melindungi keluarga yang ia sayangi. Namun bisa jadi, sewaktu ia akan segera kambuh karena penyakit paniknya itu. Penyakit cemas berlebihan atau panik terus menghantui pikirannya. Jika obat penenang dalam genggamannya telah habis maka ia akan segera mencari agar tidak terjadi yang ia inginkan yaitu merusak barang-barang yang ada di sekitarnya.

“Lee Yong jae….” Panggil seseorang lembut.

Yongjae membuyarkan lamunannya.
“O..” Balasnya dengan memperhatikan wajah sedikit lemas itu.

Seseorang mendekat Lee Yong Jae

“Heii, Kunyuk. Kau sedang apa disini? Bukankah kau ada kuliah hari ini.” Sedikit membentak raut wajah yang lemas itu.

“Bagaimana aku bisa kuliah. Jiwon telah pergi dari awal.”

“Maksudmu..?” Bingung.

Seseorang itu diam.

“Hei.. Myung Soo. Mengapa kau masih saja seperti ini. Jika kau menyukai adikku. Kau harus mengejarnya. Bukan hanya diam tanpa bertindak apapun.” Mulai menasehati dengan sedikit tegas sambil menepuk pundak Myung Soo atau L.

Myung Soo masih saja diam.

“Ya.. Kau benar-benar pria payah.” Sedikit memaki dengan mata yang melirik.

Myung Soo masih saja tetap diam.

“Ya.. Myung Soo. Ya.. Haish.. Jika kau hanya diam saja. Ku mohon kau pergi saja dari sini.” Mulai kelas.

Myung Soo melihat mata Yongjae tajam penuh serius.
“Yongjae.. Kau bisa membantuku mendapatkan adikmu?”

Yongjae mulai memekikkan matanya tanda tidak menyangka.

“Ya.. Mengapa kau memandangku seperti itu?” Jawabnya dengan melotot.

“Mengapa kau seperti ini. Dan bagaimana bisa kau masih saja menyukai adikku? Padahal wanita cantik dan baik diluar sana masih banyak yang menyukaimu, Myung Soo.”
“A… Apakah karena kau sudah terlalu sering bersama adikku saat itu, saat aku tidak ada disampingnya, dan kau selalu membantunya dalam kesulitan.”

Myung Soo mengangguk tanda mengerti.

***

PELOSOK GANGNAM, JALAN SEBERANG PERBATASAN.
GENG LOKAL
     Segerombolan menyerupai serigala itu telah memblokir jalan yang berada di pelosok Gangnam. Entah apa yang dilakukan mereka. Sepertinya ketua geng lokal atau yang bernama geng Warior tersebut telah membahas tentang penyerangan yang ditujukan oleh Lee Yong Jae kemarin. Han Sang Hyuk pemimpin dari geng Warior telah mendapati ancaman dari geng lainnya, karena obat penenang yang telah ia kirim masih kurang. Meraka berbisnis ilegal obat penenang dan sedikit tercampur dengan ganja, itu telah mewarnai dunia mereka, hingga Lee Yong Jae yang sebagai pengedar telah menjadi penghianat selama ini. Dan membuatnya kini terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit. Geng Warior memiliki tempat persembunyian yang teramat tidak semua geng atau polisi tahu. Memiliki jumlah anggota yang sangat banyak dan yang terkenal dengan ancaman atau sering terekam polisi adalah Bang Yong Guk dan Han Sang Hyuk sendiri. Leader dengan tangan kanannya. Untuk Lee Yong Jae masih bisa teratasi, karena ia memiliki otak yang licik dan cerdas saat polisi tiba menemuinya, sehingga ia tidak mudah di temukan.

“Bajingan. Lee Yong Jae!” Seseorang berteriak dengan membanting besi keras di sebelah beberapa anggota geng Warior.
“Haish.. Mengapa Lee Yong Jae tidak mati saja waktu itu.. Haish..” Kembali berteriak dan membanting beberapa besi lagi.

Anggota yang melihat kejadian itu hanya melotot dan merasa ketakutan.

“Yongguk! Apa yang kau lakukan!” Seseorang datang.

“Kau tidak melihatnya! Mengapa Lee Yong Jae tidak mati. Ha!” Memekik leher Han Sang Hyuk.

“Ya.. Mengapa kau seperti ini. Lepaskan aku. Kita bisa membicarakannya dengan baik-baik.” Mencoba melepaskan.

“Haish…” Melepaskan pekikkannya.

     Suasana menjadi tegang dan membuat para anggota lainnya berusaha memikirkan agar polisi tidak mencurigai tempat keberadaan mereka. Sebagai pemimpin Han Sang Hyuk selalu memberikan arahan yang baik, namun tangan kanannya itu Bang Yong Guk selalu membuat suasana menjadi mencekam.

     Kini mereka kembali mulai aksinya. Namun tidak dengan Lee Yong Jae. Tetapi dengan anggota geng lokal yang lain, yang menyembunyikan barang penenang itu di tempat persembunyian di bawah tanah.

***
Universitas Sungkyunkwan
     Jam mata kuliah telah usai. Segeralah Jiwon bergegas pergi. Namun Yuri, Coara dan Ken telah mengajaknya untuk ke kantin sebentar. Membeli beberapa kudapan dan minuman penghilang stress.

     Tak disangka Song Joong Ki telah berada tidak lama di situ. Ia melihat Jiwon dengan tatapan yang berbeda penuh arti. Jiwon yang spontan melihat tatapan Song Joong Ki kembali keluar dan meninggalkan teman-temannya itu.

“Ya! Lee Ji Won. Kau mau kemana?” Teriak Yuri hingga membuat beberapa orang terganggu.

“Haish.. Benar-benar anak itu.” Tambah Coara.

Ken yang melihat itu hanya berlalu.

Yuri kemudian melihat Song Joong Ki
“Sunbae…” Panggilnya dengan bahagia.

“Oh.. Yuri, mengapa Jiwon pergi begitu saja.” Tanyanya dengan melihat langkah Jiwon yang masih terjangkau olehnya.

“Entahlah. Ku dengar kakaknya sedang berada di rumah sakit.”

Song Joong Ki hanya menganggukkan kepalanya. Dan segera ia berdiri dan mengejar Lee Ji Won yang masih dapat dijangkau olehnya.

“Ya.. Sunbae. Kau mau kemana?” Tanyanya dengan penasaran.

“Ada sesuatu yang mendadak. Aku pergi dulu.” Pergi.

Yuri melihat Song Joong Ki yang lari kearah dimana Jiwon melarikan diri dari kantin.

“Kau tidak melihat mata Song Joong Ki sunbae yang berbinar begitu mesra ketika melihat Jiwon.” Seseorang berbicara dengan serius. Seperti peramal yang mendadak.

“Ya.. Apa yang kau bicarakan Coara?” Membentak Coara.

“Benar. Kata Coara. Kau sebaiknya jangan menyukai Song Joong Ki.”

“Ya.. kau diam saja, Ken.” Bentak kesal.
“Tapi mengapa kau diam saja seperti itu. Bukankah kau bilang padaku kau menyukai Jiwon.” Balasnya tegas.

“Ah.. Lupakan soal itu. Ayo makan.”

Coara yang tadi seperti seorang peramal mendadak dan sekarang ia telah berdiam diri tanpa memakan-makanannya.

Yuri pun masih memikirkan. Apakah Jiwon akan menghianatinya? Apakah Jiwon sudah merasakan hal itu. Dan mengapa ia pergi. Apakah karena Song Joong Ki berada disini.

***
     Jalannya semakin kencang. Khawatir dengan seseorang yang mengikutinya. Sepanjang perjalanan ia bergumam. Apakah Song Joong Ki mengikutinya.

“Ya.. Mengapa kau jalan cepat sekali seperti itu. Kakimu akan terluka.”

Jiwon berhenti.
‘Benar. Ia mengikutiku.’
Berbalik arah.
“Kau mengikutiku.” Tanyanya galak.

“Hei.. Kau masih marah denganku.”

Tanpa memberikan jawaban. Jiwon pun melanjutkan perjalanannya.

“Jiwon.. Kau dengar aku.”

Jiwon mengambil airphone dalam ranselnya dan memakainya. Agar apapun yang Song Joong Ki katakan tak didengar olehnya.

Namun Joongki pun mempercepat jalannya dan mengambil airphone yang terpasang di telinga Jiwon.

Mereka saling bertatap muka.

“Maafkan aku Jiwon.” Suara lembut telah terdengar dari bibir merah Song Joong Ki.

Jiwon tetap menatap pilu dan diam.

Song Joong Ki tiba-tiba memegangi kedua pundak Jiwon.

Jiwon semakin berdebar-debar. Menatap mata Song Joongki. Merasa detak jantungnya berhenti sekejap.

“Maafkan aku. Jika aku menyakitimu. Tolong jangan menghindar dariku.”

Jiwon hanya mengangguk tanda mengerti.

Song Joong Ki menyiutkan dahinya tanda tak mengerti.

“Singkirkan tanganmu dari pundakku.” Pekiknya.

Song Joong Ki melepaskan.

Kemudian Lee Ji Won pun melanjutkan perjalannya kembali.

“Ya.. Jiwon-si!” Teriakknya.

Jiwon berhenti sejenak, mendengar -si yang berada dibelakang namanya.
‘Apakah kau tak mengenalku, sampai –si kau ucapkan.’
Jiwon membalikkan mukannya.
“Wae (Kenapa) Song Joong Ki-si.”

Song Joong Ki hanya tersenyum, karena Jiwon membalas dengan agak kesal dan tanda tidak mengenal itu.
Song Joong Ki mendekati Jiwon kembali.

“Jiwon-si.. Kau ingin pergi kemana? Mari kuantar.” Tanyanya dengan lembut dan tersenyum manis.

“Menemui keluargaku di rumah sakit Joongki-si. Tidak usah terimakasih.” Pergi.

“Haish.. Kau memang mempunyai sifat temperamental yang keras sekali.”
Song Joong Ki yang melihat Jiwon yang terus melanjutkan perjalanannya, tersenyum. Bahwa segeralah ia mengikuti Jiwon tanpa sepengetahuan Jiwon.

***

RUMAH SAKIT GANGNAM
Ruang Lavender
     Sampai diruang Lavender segeralah ia menemui Oppa kesayangannya Lee Yong Jae. Berharap Oppanya itu segera pulih dan bisa berlibur minggu depan bersama keluarganya. Harapan itu selalu Jiwon tunggu. Semoga tahun ini segera menjadi kenyataan.

     Kulihat Oppaku sedang tertidur lelap. Dan aku menemukan keanehan, mengapa ada tas ransel diatas meja ruang berkunjung. Aku seperti mengenal tas itu. L sunbae. Ah.. entahlah.

     Tiba-tiba Oppa membuka matanya perlahan, namun sedikit lebar. Ia sepertinya memanggilku. Aku tetap berjalan menujunya. Ia melambaikan tangan kanannya untukku. Aku mengerti. Dan segera mendekati Oppaku yang sweet itu.

“Wae (Kenapa) Oppa?” Duduk disamping Oppanya.

“Kau merindukan Oppa?” Candanya dengan sedikit tersenyum.

“Ne (Iya), Aku merindukanmu Oppa.” Memeluk Oppanya.

“Kenapa, tiba-tiba…” Membalas pelukan Jiwon.

“Kau jangan pergi lagi. Oma, Ayah dan aku membutuhkanmu Oppa.” Peluknya semakin erat.

“Ah… Ne, Ne. Aku berjanji tidak akan meninggalkan kalian bertiga.” Mencium kepala Jiwon. Dan tersenyum lega.

Jiwon beranjak dari pelukan.
“Oppa. Sepertinya seseorang ada disini?”

Lee Yong Jae (Oppa) hanya menyiutkan dahinya.

“Aku mengenal tas berwarna coklat itu. Apakah L sunbae?” Agak sedikit ragu mengatakannya.

“Hei.. Kau berbakat sekali menjadi detektif.” Candanya kembali dengan mata melirik lucu.

“Oppa! Kau jangan menggodaku. Benar apa tidak L sunbae berada disini?”

“Yaah.. Kau merindukannya.”

“Haish.. Kau selalu begitu.”

Oppanya hanya tertawa iseng.

“Kau membutuhkan sesuatu Oppa?”

“Tidak usah seseorang telah membelikanku segelas cappuccino.”

“Maksudmu L sunbae?”

“Hemm…” Hanya mengangguk.

Jiwon diam.

“Apakah kau tidak menyadari bahwa Myungsoo telah menyukaimu sejak Oppamu ini tidak berada disini.”

Jiwon sejenak diam memikirkan pertanyaan dari Oppanya.

“Jiwoooon???” Panggilnya. Ingin segera mendengar jawaban Jiwon.

“Aku tidak begitu menyukai L sunbae, Oppa. Tapi… Aku menyukainya karena ia telah menjadi pengganti Oppa waktu itu. Tapi.. aku tidak pernah mendengar ia mengatakannya langsung kepadaku?”

“Ah.. Ternyata ia pria tidak gantleman.”

“Huuuh…” Membuang napas panjangnya.

     Jiwon tidak menyadari bahwa pembicaraannya telah terdengar oleh Song Joong Ki dibalik pintu ruang rawat Lavender, yang berusaha mengkutinya tadi sejak ia berjalan ke rumah sakit.

“Tapi Oppa, aku telah menyukai pria lain. Ia juga seruang dengan L sunbae. Malam itu aku mengatakan kepadanya bahwa aku menyukainya, Namun tak ada jawaban dan ia malah memelukku. Hah.. Aku merasa kesal sekali. Kau tahu Oppa, aku sangat malu sekali bertemu dengannya. Tadi aku bertemu dengannya. Dan sesekali aku menghindar, karena aku sepertinya ingin mengupas saja wajahku ini. Hah…!” Menundukkan kepalanya, tanda malu.

Song Joong Ki yang berada dibalik pintu hanya tersenyum dan mengetahui siapa yang Jiwon bicarakan, dan tidak menyangka bahwa ia menceritakan kepada Oppanya. Song Joong Ki tidak terlalu yakin bahwa Oppanya akan mengerti siapa yang Jiwon maksudkan.

Lee Yong Jae (Oppa) hanya tersenyum menyeringai.

Jiwon masih tertunduk malu.

“Yaa… Rupanya adikku sudah dewasa.” Mengelus-elus rambut berwarna agak kepirangan itu.

Jiwon beranjak dari malunya.

“Tapi Oppa. Aku sudah berjanji akan melupakan perasaanku itu. Aku ingin fokus dengan apa yang aku harapkan.” Tegasnya membuat Oppanya kaget.

Song Joong Ki kaget mendengar kata-kata “Aku sudah berjanji akan melupakan perasaanku itu” Ia sangat merasa kecewa dan menyesal tidak menerima Jiwon secepat itu sebagai kekasihnya.

“Wae? Secepat itu. Kau akan menghapus perasaanmu? lalu kau akan menerima Myungsoo.” Candanya dengan sedikit tertawa.

“Aniyo.. (Tidak). Aku hanya tidak ingin memikirkan hal-hal yang mempusingkan Oppa. Lagi pula.. Ah, Kau tahu teman perempuanku yang bernama Yuri. Yah.. Dia sangat menyukai Song Joong Ki sunbae.” Dengan wajah agak sedikit kesal.

“Ah.. Jadi yang kau maksud Song Joong Ki pria tampan itu.”

“Ya! Kau tidak tahu!” Kesal.

“Ahahaha… Aniy (tidak). Aku sudah mengetahuinya Jiwon. Aku tahu kau menyukainya. Matamu seakan berbinar saat melihat pria tampan itu.” Tambahnya membuat Jiwon tersipu malu.

“Ya.. Oppa! Haish.. Bagaimana ini.” Tertunduk malu lagi.

Song Joong Ki kembali tersenyum dengan tertunduk mendengar itu. Manis sekali. Ditambah gigi depannya terlihat. Semakin jatuh cinta dengan Song Joong ki gueh…wkwkwk

Ingin sekali Song Joong Ki masuk ke ruang itu. Namun dari arah jauh ia telah dipergokki oleh seseorang, dan seseorang itu mempunyai mata yang tajam sedikit sipit, ia bernama Kim Myung Soo atau L. Song Joong Ki tidak mengetahuinya. Ia masih terfokus dengan pembicaraan kedua saudara itu Lee Ji Won dengan Oppanya Lee Yong Jae.

“Jiwon.. Apakah kau akan menyerah?”

Jiwon kembali menegakkan kepalanya.
Jiwon melihat mata Oppanya.
Seperti ada secercah harapan dalam mata Oppanya itu.

“Coba kau tanyakan pada hatimu? Pesanku, jangan bohongi diri sendiri, karena itu menyakitkan.” Sambil memejamkan mata dan memegangi dadanya Lee Yong Jae dengan agak berlebihan mengatakan kalimat terakhir.

“Oppa… Haish.. Mengapa kau jadi seperti itu. Memalukan.” Jiwon yang Melihat ekspresi itu ingin sekali mencakar wajah Oppanya.

Lee Yong Jae hanya tertawa keras.

~
Didepan pintu Lavender
“Mengapa kau ada disini? Kau menguping? Apa kau mata-mata disini?” tanyanya kejam.

Song Joong Ki tersenyum.
“Aku hanya tidak ingin mengganggu pembicaraan mereka yang sangat romantis, seperti pasangan yang baru saja menikah.”

“Hah..” Pekiknya.
“Alasan saja. Pengecut.”

Song Joong Ki melotot tajam mendengar kata itu.

“Wae.. Kau ingin memukulku? Coba kau pukul saja aku?” Menyodorkan pipi kirinya tanpa ragu.

“Heh..” Balasnya sinis.
“Tanganku lebih berharga untuk memukul wajahmu yang penuh murka itu.”

Myungsoo kaget dan segera mendapati kerah Song Joong Ki untuk ia pegangi dengan erat dan tangan kanannya pun telah mengepal untuk ia daratkan ke wajah tampan Song Joong Ki.

~
Di dalam ruang rawat Lavender
“Lalu Ayah dan Oma? Apa mereka sudah berangkat bekerja.”

“Ne (Iya) ia meninggalkanku sendirian.” Jawabnya seperti anak kecil.

“Haish.. Kau bukan lagi seperti anak kecil Oppa.” Candanya dengan sedikit mencubit perut Oppanya.

     Tiba-tiba Jiwon dan Yongjae mendengar suara agak keras yang melintang di depan pintu ruang Lavender. Segeralah Jiwon memeriksanya.

“Ada apa Jiwon?”

“Biar aku memeriksanya Oppa.”

     Sebelum pukulan mendarat di wajah Song Joong Ki. Jiwon yang melihat itu langsung melerai dan segera bubar dari tempat itu. Security yang berusaha ingin membawa mereka berdua ke kantor polisi untuk dimintai keterangan, karena membuat onar didalam rumah sakit, namun Jiwon berusaha keras untuk menyakinkan bahwa ini hanya salah paham saja. Untuk itu permasalahan telah dianggap selesai.

Song Joong Ki dan Kim Myung Soo masuk keruang yang ditepati oleh Oppa Jiwon.

Jiwon mendekati mereka berdua yang berusaha melakukan aksi tawuran di dalam rumah sakit ternama ini.

“Mengapa bisa kalian seperti ini!” Tanyanya tegas.
“Kalian tahu, kalian berada dimana! Hah.. Seperti anak kecil saja.”

Mereka berdua tetap diam.

“Kau L sunbae? Mengapa kau ingin memukul JoongKi sunbaeku!”
“Ah.. Aniy.. Ah.. Bagaimana ini!”

Song Joong Ki kaget.

Oppanya mendengar itu tersenyum kegirangan.

“Maksudmu? Tanya Myungsoo penasaran.

“Ah tidak. Hah! Bagaimana ini.”
“Aku harus pergi dulu!”
Jiwon mendekati Oppanya.
“Oppa aku harus pergi dulu. Aku ada urusan mendadak. Nanti sore kau kutemui lagi bersama Ayah dan Oma. Oke?” Gugup.

“Wow.. Kau sepertinya malu sekali ya..” Canda gelinya.
“Haish..” Pergi.

     Sebelum beranjak pergi dengan pelan Lee Ji Won melihat wajah Song Joong Ki. Song Joong Ki yang berada disitu dan melihat kembali wajah Lee Ji Won tersenyum menyeringai.

“Song Joong Ki?”

Song Joong Ki kaget.
“Ne..?”

“Kau kemari..” Tegasnya.

Song Joong Ki mendekati Lee Yong Jae.

“Ada apa hyung?”

“Ah.. Kau seumuran denganku. Jadi kau harus memanggilku dengan nama saja tanpa penghormatan seperti itu. Mengerti.”

“Ne..” Tersenyum.

“Kau tidak mengejar Lee Ji Won?”

“Ne!.. (Maksudmu)?” Bingung.

“Bukankah kau juga menyukainya?” Tambah Lee Yong Jae dengan nada skak.

     Lee Yong Jae berkata seperti itu tanpa sepengetahuan dari Myung Soo. Song Joong Ki tetap kaget dan kebingungan. Matanya menandakan penasaran yang dalam. Tapi kemudian ia memahami apa maksud dari Oppa Lee Ji Won itu.

“Kejarlah Lee Ji Won. Ia masih tak jauh dari sini.”

“Tapi …” Tiba-tiba terpotong..

“Pergilah Song Joong Ki.” Perintahnya tegas dan tak bisa dibantah.

“Oh.. Ne.” Pergi.

     Kim Myung Soo yang sedari tadi terduduk manis dengan tatapan tajam melihat Song Joong Ki mendekati Lee Yong Jae. Ia kini berdiri tegak dengan tatapan kaget. Bagaimana bisa ia pergi tanpa pamit dengannya. Ah apakah mereka berdua memang bersaing mendapatkan Lee Ji Won?

“Yong Jae. Mengapa ia pergi?” Tanyanya penuh penasaran.

“Ia merasa ada urusan yang mendadak.”

“Hah! Begitukah?” Pekiknya melihat Song Joong Ki yang masih dalam jangkauannya.

***

Halaman Rumah Sakit Gangnam
     Lee Ji Won di sepanjang perjalannya terus menggumamkan kalimat-kalimat yang masih membuatnya malu di hadapan Song Joong Ki. Ia merasa bahwa ingin mengakhiri hidupnya saja dari pada harus membuat malu diri sendiri di depan pria tampan seperti dia. Bagaimana ini?

“Ah.. Bagaimana ini? Mengapa aku seperti ini lagi.” Memukul keras dahinya.

…… “ Lee Ji Won….?” Teriaknya terdengar oleh Jiwon.

‘Ah.. Itu suara Joongki sunbae. Bagaimana ini.’ Bingung.
    
Ia pun menemukan airphone didalam tasnya. Dan ia segera memakainya. Agar pengalihannya teralaskan. Ia memutar lagu kesukaannya. You Are My Everything. Lagu ini mengingatkannya kepada perpisahan waktu lalu bersama L sunbaenya. Dan tiba-tiba….

“Hei… Kau benar-benar tidak mendengarku, ya?” Memberhentikan langkah Jiwon.

Jiwon berhenti dan menatap Song Joong Ki. Kemudian melepaskan airphonenya.

“Ah.. Jadi kau memakai ini.” Dengan memegang airphone yang masih tertancap di telinga Jiwon.

“Kau tahu Joong Ki sunbae? Kau memang menyebalkan.” Ingin bergegas pergi namun tangannya telah tergenggam oleh Song Joong Ki.

“Ya.. Kau mau kemana? Mengapa kau terus menghindariku?” Tanyanya penuh tanya.

“Aku ingin bertemu seseorang. Tolong lepaskan tanganku.” Mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Song Joong Ki.

Song Joong Ki tetap menahan tangan Lee Ji Won.
“Seseorang ?”

Jiwon hanya menganggukkan kepalanya.

“Mari kuantar.”

     Belum lama Jiwon membalas pertanyaan dari Song Joong Ki. Ia mendapati pesan dari Oppanya Lee Yong Jae. Yang masih dalam jangkauan matanya itu. Kemudian ia segera membukannya. Dan  Song Joong Ki melepaskan tangan Jiwon.

~Kau jangan menolak tawaran Song Joong Ki. Ia pria baik.~

~Ya!(Hei).. Maksudmu?~ Menyiutkan dahinya tanda tak paham.

“Wae (Kenapa)..?” Tanya Song Joong Ki penasaran.

“Ah.. Tidak sunbae.”

Pesan masuk…
Jiwon segera membukanya.

~Song Joong Ki menyukaimu.~

     Jiwon yang melongo dan kaget membaca pesan dari Oppanya itu, sempat tak menyangka dan percaya tiba-tiba. Bagaimana mungkin Song Joong Ki menyukainya. Padahal gerak-gerik yang terlihat diwajah Song Joong Ki tidak menandakan bahwa ia menyukai Lee Ji Won.

     Aku melihatnya sekilas. Dan mataku terasa berbinar dan menari-menari saat bertemu dengan kedua matanya yang elok itu. Apakah mungkin ia menyukaiku? Ku lihat lagi perlahan. Aku tidak percaya dan membuang-buang lamunanku itu. Aku harus tetap menghapus perasaanku. Aku tidak ingin seperti ini. Huh…. Tapi sebaiknya aku menerima tawaran itu.

“E..e.. Sunbae. Apakah tawaranmu tadi masih berlaku untukku??” Tanyaku ragu.

“Hahaha….” Ia tertawa menyeringai dengan mata yang sipit melihat kearah yang luas dan kemudian melihatku penuh arti.
“Tentu Jiwon-si” Candanya lagi dengan tersenyum manis.

“Ya.. Kau memanggilku dengan itu lagi.” Merasa kesal.

Song Joong Ki tersenyum melihatku.
“Lalu, aku harus memanggilmu apa? Wanita galak? Ya? Hahahaha…” Tambahnya dengan tertawa meledak.

“Haish.. Dasar! Aku bukan wanita galak.” Jawabnya kesal.

“Hehe… Ne.. Ne.. Ne.. Kau mau aku antarkan kemana?” Tanyanya lembut dengan kedua bola matanya menatapku tajam, namun terlihat indah.

“Rumah Ken.”

“Ya.. Pria yang kau temui?”

“Wae..? Dia juga temanku.”

Song Joong Ki diam.
“Baiklah..” Dengan wajah yang tiba-tiba layu.

Jiwon hanya menyiutkan bibirnya lalu berlalu.

     Mereka kemudian menuju parkiran mobil. Mereka segera menuju rumah Ken yang berada tidak jauh dari Rumah Sakit Gangnam ini. Sepanjang perjalanan mereka berdua saling berdiam, canggung dan pada akhirnya  Song Joong Ki lah yang berusaha mencairkan suasana dengan menanyakan lagu apa sebenarnya yang Lee Ji Won dengarkan sepanjang perjalannya bersama Song Joong Ki itu. Song Joong Ki merasa ia sangat menghayati sekali mendengarkan lagu yang ia dengarkan tanpa berbicara sepatah katapun dengannya.
     Namun berbeda dengan Lee Ji Won yang masih memikirkan dan berusaha membuka pesan dari Oppanya dan membaca kalimat itu berulang-ulang. ~Song Joong Ki menyukaimu~ ~Song Joong Ki menyukaimu~ ~Song Joong Ki menyukaimu~ ~Song Joong Ki menyukaimu~ ~Song Joong Ki menyukaimu~ itu yang selalu ada dipikirannya sekarang.

“Jiwon?”

“Oh.. Ye!” Melotot kaget.

“Mengapa kau terkejut seperti itu.” Melihat sekilas dan kemudian fokus menyetir kembali.

Jiwon tetap diam.

“Haish.. Kau rupanya sangat menghayati sekali dengan lagu yang kau dengarkan itu, ya? Sampai-sampai kau ku panggil saja bisa terkejut seperti ini.”

Jiwon tetap diam tanpa berkata apapun.

“Coba, aku ingin mendengarnya juga. Berikan satu padaku?” Mengambil kabel airphone sebelah kanannya.

“Ya.. Kau menyetir sunbae. Jangan lakukan ini.”

     Tiba-tiba Song Joong Ki mengambil jalan pintas dan menepiskan mobilnya ke arah kanan untuk diparkirkan di seberang jalan dekat dengan taman kota Gangnam. Sangat indah dan suasananya semakin membuat melankolis saja. Entah bagaimana mereka tepat menemukan tempat untuk memperdengarkan lagu yang sangat menyatukan mereka itu.

Song Joong Ki mengambil airphone milik Jiwon yang sebelah kiri untuk diperdengarkan.

Jiwon menyiutkan dahinya tanda tak percaya.

“Ah lagu ini..” Mencoba menghayati.

Jiwon tetap diam dan mendengarkan lagu itu.

“Judulnya?”

“Ah.. You Are My Everything.”

“Jadi lagu ini yang sering kau dengarkan Jiwon?”

“Oh.. Ne..” Agak gugup.

     Suasana semakin menyeruak ketika mata mereka berdua saling bertemu dan beberapa daun tengah gugur dengan manisnya. Hawa di dalam mobil semakin bergusik asik. Dan tiba-tiba ponsel Jiwon merubah lamunan mereka yang saling tatap-menatap.

Dreeet.. Dreeet.. Dreeet…
“Oh..” Kaget.

Song Joong Ki mengalihkan matanya dengan memandang luas taman Gangnam.

Jiwon membukannya.
~Lama sekali.~
     Pesan tersebut dari Ken.

~Mianh.. Aku sedang perjalanan menuju rumahmu.~ Mematikan ponselnya.

Jiwon melihat Song Joong Ki.
“Ah sunbae. Kau bisa mengantarku sekarang? Ken baru saja mengirim pesan.”

“Baiklah.” Masih tertancap airphone Jiwon di telinganya.

“Kau harus mencopot airphoneku.” Mencoba menjangkau. Namun Song Joong Ki telah mengetahui.

“Hei.. Biarkan saja. Ini adalah lagu favoriteku sekarang.” Balasnya dengan senyum menyeringai.

“Ya bagaimana bisa. Kau baru saja mendengarnya.” Gerutunya terdengar oleh Song Joong Ki.

Balas Song Joong Ki dengan tatapan mata yang serius penuh manis.

“Haish…” Balasku melirik tajam.

Song Joong Ki tersenyum melihatku.

“Auh.. Kau memang pandai merayu, ya?”

Tambah Song Joong Ki dengan tertawa menyeringai.

“Ya! Lebih baik kau menyetir dengan benar sunbae.” Spontan mencabut airphone yang dipakai oleh Song Joong Ki.

“Auh.. Kau sangat kasar sekali.”

Lee Ji Won hanya diam dan meneruskan pandangannya ke depan.

***

Lokasi Seberang Gangnam pukul 03:55 Pm.
     Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai dirumah Ken. Lee Ji Won yang telah melihat Ken di depan rumah segera menyapanya dengan senyuman. Song Joong Ki yang melihat itu hanya berlalu saja.

“Ken..” Sapanya tersenyum dari jauh.

Song Joong Ki mengikuti Jiwon dari belakang.

“Kau lama sekali, dari mana saja?”

“Kau tanya saja pada sunbae. Entah bagaimana ia yang menyetir.” Melirik Song Joong Ki dengan tersenyum iseng.

“Ah.. Jiwon ada yang ingin aku katakan padamu.” Sekilas melirik Song Joong Ki. Kemudian memegangi tangan Jiwon.

Jiwon kaget.
“Tentang?”

“Bagaimana kalau hanya berdua saja.”

Jiwon melihat Song Joong Ki.
Kemudian kembali melihat Lee Jae Hwan (Ken)
“Baiklah..”
“Sunbae. Kau tak apa-apa kan jika sendiri.” Tanyanya kepada Song Joong Ki.

“Pergilah.” Jawab dengan nada pasrah.
“Pastikan kau cepat kembali.”

“Ne..” Balasnya tersenyum.

“Haish.. Kalian memang benar-benar berlebihan.” Balas Ken dengan nada tidak suka.

     Kemudian Ken mengajak Jiwon tidak jauh dari rumahnya. Pemandangan yang sedikit agak menyempurnakan dan memanjakan mata itu membuat Jiwon semakin nyaman dengan tempat itu. Hawa sejuk sangat menyegarkan sekali di sore ini. Tapi apa yang sebenarnya yang akan dibicarakan oleh Ken kepada Lee Ji Won.

     Mereka duduk di sebuah batu yang agak besar dan membuat keduanya saling nyaman. Bukan nyaman dalam perasaan. Namun nyaman dalam suasana. Jiwon masih penasaran sebenarnya apa yang akan dibicarakan Ken kepadanya.

“Ken.. Sebenarnya apa yang akan kau bicarakan padaku?” Mulai mencairkan suasana.
“Dan kau tidak mempersilahkanku dengan Song Joong Ki sunbae masuk kedalam rumahmu. Malah kau membuat Kami terpisah?”

“Kau orangnya memang blak-blakkan sekali ya.”
“Tapi maksud dari pernyataan tadi apa?” (Mengacu pada “Kau malah membuat kami terspisah).

“Ah.. Tidak apa-apa. Hanya saja aku tidak enak dengan sunbae. Ia yang mengantarkanku kesini. Malah ia aku tinggal seperti ini. Bahkan aku menikmati pemandangan yang indah dan ia hanya menjaga mobilnya sendirian.” Merasa menyesal.

“Jadi kau merasa menyesal?”
“Dia bukan anak kecil lagi Jiwon.” Tegasnya.

“Apakah kau sungguh tidak menyukai sunbae ?”

“Hei.. Jelas, karena aku laki-laki.”

“Ya! Bukan itu maksudku.”

“Ah.. Jangan membahas yang tidak perlu dibahas.”

Jiwon melirik sekilas Ken.
“Lalu yang ingin kau bahas sebenarnya apa?”

“Aku sepertinya ingin mundur saja Jiwon.”

“Maksudmu!”

“Iya,, Aku ingin mengakhiri hidupku tanpa pergi ke kampus lagi.” Tiba-tiba kepalanya bersandar dipundak Jiwon.

Jiwon kaget. Menelan ludahnya.

“Mengapa kau berpikiran seperti itu?”

“Karena keluargaku memang sudah tidak ada lagi dan aku bersusah payah pada pekerjaanku yang hanya pengedar kupon ayam. Itupun tidak seberapa. Dispensasi di kampus juga agak menyesakkan buatku. Yah.. Memang semuanya tidak ada yang gratis, kan?, Jiwon!. Aku benar-benar lelah. Aku benar-benar ingin lari dari kenyataan yang membuatku semakin terluka parah ini.”

“Hei.. Kau bicara apa?”

“Jangan mencoba menasehatiku. Itu takkan membuatku goyah. Karena aku benar-benar sudah menyerah. Uang tidak ada lagi Jiwon. Dan yang aku butuhkan hanyalah dirimu. Karena aku sudah berjanji tadi adalah hariku yang terakhir masuk kuliah. Aku ingin berada disampingmu. Kau bisa membantuku. Untuk selalu berada disampingku?” Tanyanya penuh harap.

Jiwon kaget setengah mati.

‘Apa yang harus aku lakukan. Mengapa ia seperti ini padaku.’
“Lee Jae Hwan. Kau bahkan belum apa-apa. Tapi mengapa kau menyerah seperti ini?”

“Sudah kubilang. Kau jangan mencoba untuk menasehatiku. Itu takkan merubah apa yang ada dalam pikiranku. Kau cukup berada disampingku seperti ini Jiwon.”

“Ya! Mengapa kau berubah drastis seperti ini. Kau tidak seperti Ken yang ku kenal.”

“Cukup! Kau diam saja. Ini tidak akan lama. Sebentar saja Jiwon.”

     Song Joong Ki yang berusaha mencari kemana perginya mereka berdua. Pada akhirnya ia menemukan bahwa Lee Jae Hwan telah bersandar di pundak wanita yang ia sukai Lee Ji Won. Saat ia pikir-pikir mengapa nama marga mereka bisa sama seperti itu. Ah.. itu hanya kebetulan saja.

Song Joong Ki yang melihat kejadian itu langsung membalikkan arah pandangannya ke tepi puncak. Tak lama kemudian ia melihat lagi. Mereka berdua masih tetap seperti yang pertama ia lihat. Kemudian ia segera meninggalkan tempat itu dan pemandangan yang tidak mengenakkan baginya.
~
     Lee Jae Hwan memejamkan matanya. Karena hari sudah mulai semakin malam. Ken atau Lee Jae Hwan tetap bertahan dan tidak ingin Jiwon pergi dari sisinya. Ia memiliki pikiran yang mulai licik. Ia ingin Jiwon berada disampingnya. Karena keputusasaannya dia tidak berangkat ke kampus lagi dan uangnya telah habis, karena sepeninggalan kedua orang tuangnya ia mulai berontak pada takdir. Ia ingin sekali mengakhiri hidupnya. Namun ada permata bening yang bersinar yang selalu membuat ia semangat yaitu Lee Ji Won. Ia berusaha tetap bertahan hidup karena demi Jiwon. Entah Jiwon menganggapnya apa. Tapi ia selalu berusaha menjadi yang terbaik selama ini. Tapi karena kecemburuannya terhadap Song Joong Ki, emosinya selalu menyeruak dan tidak terkendalikan. Pikirnya, Lee Ji Won akan diculiknya. Namun ia menahan dulu.

“Ken.. Kau beranjaklah. Hari sudah mulai petang. Aku juga harus pulang.”

“Hanya sebentar saja.”

“Tapi ini sudah hampir larut malam Ken.”

“Haish…” Beranjak dalam sandaran Jiwon.
“Kenapa kau berisik sekali!” Bentaknya, sampai terdengar Song Joong Ki.

     Song Joong Ki yang mendengar teriakkan itu. Kemudian kembali menuju tempat dimana Lee Jae Hwan dan Lee Ji Won sedang duduk ditempat yang pertama ia lihat tadi. Song Joong Ki merasa ada yang aneh dan segera menghampiri mereka berdua.

     Song Joong Ki yang melihat Jiwon diperlakukan kasar dengan Ken itu merasa dirinya akan marah. Karena yang dilakukan Ken kepada wanita yang disukainya, membuatnya naik darah.

“Aww…” Jiwon merasa kesakitan.

Ken memegangi tangan Jiwon dengan erat.

Jiwon mencoba melepaskan.

“Ya! Ken. Jangan seperti ini. Aku mohon lepaskanlah.”

Ken tertawa dengan menyeramkan.

“Ya! Kau ini kenapa?”
“Kau tidak seperti biasanya? Ken tolong lepaskan tanganku!” Mencoba melepaskannya dari genggaman Ken. Namun masih tertahan oleh Ken.

…… “Lepaskan tangan Jiwon!”

Ken melirik orang yang tiba-tiba menghentikkannya.
“Ya! Kau.. Diam saja. Kau tak punya urusan dengan kami berdua.” Balasnya kejam.

“Sunbae. Tolong aku!” Teriakkan takutnya memberitahu Song Joong Ki, agar ia cepat melepaskan Jiwon dari genggaman Jaehwan.

Song Joong Ki melihat Jiwon kasihan.

     Segeralah Song Joong Ki memukul tepis dahi Lee Jae Hwan tanpa berpikir apapun. Genggaman telah terlepas. Jiwon segera menuju belakang Song Joong Ki, ia bersembunyi di balik Song Joong Ki untuk dilindunginya. Lee Jae Hwan merasa kesakitan dan membalas pukulan Song Joong Ki, namun ia terjatuh dan pingsan. Jiwon menghawatirkannya. Tapi Song Joong Ki tidak mengizinkannya menyentuh tubuh Lee Jae Hwan.

“Biarkan aku saja yang membawanya masuk kedalam.”

Jiwon diam dan terlihat masih shock.

     Song Joong Ki mengambilkan seember air dan mencelupkan kain dan memeras. Kemudian ia taruh di atas dahi Lee Jae Hwan. Lee Ji Won yang melihat itu kaget dan tidak percaya. Mengapa masih saja ada orang sebaik dia.

     Song Joong Ki mengobati dahi yang sedikit mengeluarkan darah segar itu dari pelipis Lee Jae Hwan. Tidak ada yang tertinggal semuanya berakhir dengan mengharukan. Plester kini telah tertempel sempurna di pelipis Jaehwan. Namun ia masih pingsan ataukah sudah tertidur.

“Kau mengapa melihatku seperti itu.” Liriknya pelan.

“A..Aku hanya kagum padamu.” Jawab dengan keadaan masih shock.

Song Joong Ki mengambilkan segelas air putih untuk Jiwon.
Song Joong Ki memberikannya pada Jiwon.

“Gumawo (terimakasih) sunbae…”

     Kembali Song Joong Ki menuliskan sesuatu di kertas kecil. Yang berisikan. “Jika kau sudah terbangun. Kau harus meminum segelas air putih yang telah disediakan di meja sampingmu ini. Jangan melakukan tindakan kekerasan lagi. Jika aku mengetahuinya kau akan mendapatkan pukulan yang tak seberapa lagi.”

“Kau menulis apa sunbae?”

“Kau tak perlu tahu.”

“Ya! Mengapa kau menjadi seperti Ken.” Kesal.

“Ah.. Aniy-aniy (tidak-tidak). Aku hanya menakut-nakutimu saja. Hehehe…” Tertawanya jail.

“Dasar…” Merasa kesal.

“Ya.. Kau jangan marah. Mari kita pergi.” Menempelkan di pipi Ken. Dan sudah mendiagnose bahwa lem ini sampai ia terbangun tidak akan pernah lepas. Kecuali ia melepasnya.

     Kemudian mereka segera kembali kerumah. Mungkin orang tua Jiwon telah menunggu ia pulang. Sudah larut malam mereka harus cepat bergegas pulang. Song Joong Ki mengantarkan Jiwon dengan santai dan perjalanan mereka berdua masih di hantui oleh kejadian tadi. Penasaran Song Joong Ki pun kembali menanyakan.

“Aku sangat penasaran dengan percakapan kalian berdua tadi.” Pernyataan yang mengandung makana.

“Aku juga lebih penasaran dengan sunbae, mengapa kau memukul Ken?” Memarahi Song Joong Ki.

“Ya! Jadi kau menghawatirkannya?” Melotot tidak percaya.

“Aniy.. Aku hanya tidak suka dengan pria yang selalu memukul tanpa alasan.” Balasnya tanpa memandang mata Song Joong Ki.

“Kau bilang tanpa alasan?”

“Apa kau tidak tahu? Kau sedang diperlakukan kasar dengannya!” Teriakknya agar Jiwon sadar.

“Kenapa kau berteriak padaku?” Merasa takut.

“Bukan maksudku meneriakkimu. Hanya saja aku tidak menyukai pria yang kasar seperti itu, Jiwon. Kau paham itu.” Tatapan matanya penuh arti kepada Jiwon.

Jiwon yang melihat itu tertunduk dan diam.

Song Joong Ki kembali fokus menyetir.

     Jiwon semakin memikirkan apa yang Song Joong Ki bicarakan, itu memang benar. Namun tetap saja Jiwon takut dengan pria yang pemukul dan apalagi pukulannya keras dan membuat sampai mengeluarkan darah. Tiba-tiba teringat Lee Yong Jae Oppa, yang selalu pulang dengan lumuran darah.

Jiwon memukul-mukul kepalanya.
“Ah,.. Jangan-jangan memikirkan itu lagi.”

“Jiwon!” Panggilnya dengan memegang tangan Jiwon yang baru saja ia buat memukul kepalanya.

Jiwon kaget. Dan membuka matanya.
“Ne!!!”

“Kau kenapa?”

“Tidak sunbae!”

“Jika kau lelah kau bisa tidur sebentar.”

“Tidak. Aku memikirkan persiapan untuk besok.”

“Persiapan?”

Jiwon hanya mengangguk.

“Kau ingin pergi besok?”

“Sepertinya.”

“Kemana?” Tanyanya penasaran.

“Kau tidak perlu tahu sunbae.”

“Hei.. Heii.. Hei.. Kau ternyata masih marah padaku?”

“Tidak.”

“Lalu mengapa wajahmu seperti itu.”

“Ya! sebaiknya sunbae fokus saja menyetir.” Gugupnya tanpa melihat wajah Song Joong Ki.

     Beberapa menit kemudian Song Joong Ki berhenti di pinggir jalan. Jiwon yang melihat itu sepertinya Song Joong Ki membeli sesuatu. Benar.. Song Joong Ki membeli kudapan yang telah terbungkus rapid an tidak langsung ia makan. Tapi ia bawa pulang.

‘Hemmm… Apakah kudapan itu hanya akan ia makan dirumahnya saja. Hah.. aku sangat lapar sekali.’ Sambil memegangi perutnya.

Song Joong Ki melihat tingkah lucunya Jiwon dengan tersenyum.

“Kau lapar?”

“Tentu. Kau tidak menawariku sesuatu ya? Kenapa malah langsung membungkus makananmu. Bukan malah mengajakku untuk makan.”

“Ya! Jadi seperti ini tingkah aslimu.”

“Wae!”

“Ah.. Tidak apa-apa.” Melihat Jiwon dengan tertawa menyeriangai.

“Jadi kau tetap saja diam seperti ini. Tidak menawariku?”

“Haish.. Kau sangat berisik sekali.” Pekiknya lucu melihat Jiwon.

Song Joong Ki segera membelokkan mobilnya di seberang jalan dan berhenti untuk memakan makanan yang telah dibelinya tadi. Seperti biasa Jiwon masih merengek dengan memegangi perutnya.

Song Joong Ki yang melihat itu merasa ingin tertawa saja.

“Kau sepertinya lapar sekali.”

“Tentu. Kau memang pria yang tidak peka sunbae.”

“Hei.. Mengapa kau berkata seperti itu.”

“Faktanya memang benar.”

“Ya! Kau makan saja ini. Jangan mengoceh mulu.” Menyodorkan kebab ke dalam mulut Jiwon.

“Uhmm..” Melotot tajam kepada Song Joong Ki.

Song Joong Ki hanya tersenyum licik.

     Selesai makan kebab Jiwon masih saja merasa lapar. Kemudian Song Joong Ki menawarkannya kembali. Akhirnya Jiwon pun menerimanya tanpa malu. Karena ini demi percernaannya agar tidak terkena lambung. Karena dulu sering terkena penyakit lambung.

“Kau tahu. Kebab ini sebenarnya ingin aku berikan kepada Ayah dan Ibumu.”

“Maksudmu?” Berhenti memakan.

“Iya,, Ayah dan Ibumu, Jiwon?”

“Wae?”

“Iya, karena aku akan malu. Jika mengantarmu pulang dan tidak membawa apa-apa?”

“Ya! Sunbae. Mengapa kau berlebihan sekali. Ayah dan Oma tidak akan seperti itu. Kau mengantarkan aku pulang dengan keadaan baik-baik saja mereka sudah sangat bersyukur.”

“Tapi…” Terpotong oleh ponsel Jiwon yang bordering.

Kliiinggg… Kliiiing… Kliiiing…
“Ah sebentar sunbae.”
“Oh Omma” Melihat penelpon.

“Oh Ne. Yoeboseyo (halo/salam) Omma?”

Jiwon kau kemana? Oppamu sudah ada dirumah. Jadi kau langsung pulang saja tanpa kerumah sakit.”

“Oh.. Ne, Omma. Aku masih dalam perjalanan pulang. Kau tak perlu khawatir Omma. Aku bersama Song Joong Ki sunbae.”

“Hei.. Kau pulang larut malam sebenarnya apa yang telah kalian lakukan?” Tanya seseorang menggelitik.

“Ya! Oppa. Kau! Awas kau ya. Tunggu aku. Kau akan mati nanti.”

“Hei Jiwon. Kau tidak boleh berbicara seperti itu. Kemana sopan santunmu anak nakal.”

“Haish.. Mianhe Omma. Baiklah aku akan segera pulang. Aku tutup telponnya.” Menutup telpon.
~
“Kau benar-benar wanita yang tidak mempunyai sopan-santun. Kau kasar sekali Jiwon.”

“Sunbae. Sebaiknya kau menyetir dengan baik saja. Jangan berbicara padaku.”

Song Joong Ki hanya diam mendengar perkataan dari Jiwon yang membuatnya ingin mengalah saja.
Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiranmu Jiwon. Kau terkadang sangat menyenangkan, lucu, pemarah dan selalu membuatku ingin membentakmu. Mianhae Jiwon. Jika aku telah membuatmu menunggu terlalu lama.” Sesekali memandang wajah Jiwon.

     Sesampainya di rumah. Jiwon bergegas masuk dan mengabaikan Song Joong Ki. Song Joong Ki pun merasa ingin menggeleng-gelengkan kepalanya. Putri salju yang tiba-tiba berubah menjadi serigala yang menyeruak.

“Eh.. Ji..” Entah terdengar Jiwon atau tidak.

     Namun Jiwon tetap saja berlalu dan masuk kedalam kamarnya. Tanpa menghiraukan keluarganya dan Oppanya yang berada di ruang tamu tersebut. Padahal Kedua orang tuanya dan Oppanya sedang menyambut kedatangan Lee Ji Won dan Song Joong Ki. Tapi mereka merasa ada yang aneh. Lee Yong Jae atau Oppa Jiwon ini menemui Song Joong Ki yang masih mengambil kebab sisa yang telah dimakan Jiwon. Dan masih ada beberapa yang terbungkus rapi. Song Joong Ki segera masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Lee Yong Jae.

“Ah.. Hyung rupanya kau sudah diizinkan untuk pulang.”

Yongjae mengangguk.

“Ya! Hyung… Sepertinya Jiwon kesal denganku.” Dengan nada menyesal.

“Kau mengatakannya?” Sangat antusias.

“Maksud Hyung?” Tanyanya bingung.

“Ya! Panggil saja Yongjae. Kau seumuran denganku. Aku semakin tidak enak jika kau memanggilku dengan Hyung.” Merasa tua sebenarnya.

“Apa kau merasa tua sebenarnya?” Candaanya.

“Ya! Kau mengejekku. Aku seumuran denganmu.”

“A.. Ye.Ye..Ye. Kau tidak membawaku masuk kedalam Yongjae?”
“Ah.. Sepertinya Yongjae tidak enak sekali. Karena aku merasa aku tidak menghormatimu.”

“Hei.. jangan berlebihan seperti itu. A.. Begini, kau panggil aku saja dengan sebutan Big Boss. Bagaimana ?” Tertawa menyeringai.

“Boleh. Baik Big Boss.”

“Tapi apa makna dari “Big Boss” tersebut?”

“Ya.. Ya.. Ya.. Kau banyak pertanyaan sekali seperti ajhuma-ajhuma saja. Cepat masuk.” Merangkulkan pundak Song Joong Ki.

     Memasuki ruang tamu Song Joong Ki disambut dengan baik oleh keluarga  Jiwon. Ia tidak menyangka bahwa keluarga Jiwon bisa secepat ini baik dengannya.

“Aigoo.. Anak tampan ini telah mengantarkan putriku pulang.” Menghampiri Song Joong Ki dengan memegang pundak Song Joong Ki untuk mempersilahkan duduk.

Song Joong Ki tersenyum membalas gurauan ibu Jiwon yang baik itu.
                                          
“Haish.. Ternyata omaku telah terayu oleh kentampanan Song Joong Ki, ya? Hehehe….” Canda Yongjae menggelitik.

Mereka yang berada di dalam ruang tamu tertawa. Namun tiada Jiwon disitu. Song Joong Ki merasa ada yang hilang.

“Kau tidak memanggil Jiwon untuk bergabung disini, sayang?” Perintah mesra dari ayah ke ibu Jiwon.

“Auh.. Ayah. Tidak seharusnya Ayah seperti itu di depan tamu.” Merasa malu.

“Ah.. Tidak apa-apa Hyung.” Balasnya tersenyum kepada Ayah Jiwon dan Yongjae.

“Lihatlah Song Joong Ki saja tidak keberatan. Hehehe..” Tambah Ayahnya menggelitik.

Song Joong Ki tersenyum manis.

     Beberapa menit kemudian keluarlah Lee Ji Won dengan penampilan yang cukup cantik. Song Joong Ki kagum dengan dandanan Jiwon yang sedikit agak kefeminiman itu. Terbengkalak sudah kedua bolah mata Song Joong Ki saat bertemu dengan bibir Lee Ji Won yang berwarna merah muda itu.

“Ya.. Itu benar kau Jiwon? (tiba-tiba menjadi cantik)” Canda Oppanya menggelitik.
“Lihatlah Song Joong Ki tidak berkedip melihatmu.” Tambahnya dengan tertawa menyeringai melihat Song Joong Ki dan Lee Ji Won.

“Yeah.. Bukan seperti itu. Aku hanya kagum saja. Mengapa tiba-tiba menjadi seperti wanita.” Ejek Song Joong Ki kepada Lee Ji Won.

“Hei! Kau benar-benar menyebalkan sekali. Apa aku ini berjenis kelamin ganda. Ha!” Tiba-tiba marah.

“Jiwon! Dimana sopan santunmu!” Bentak Ayahnya.

Jiwon diam.

Yongjae (Oppa) dan Omanya kaget.

“Yeah… Aku hanya bercanda Jiwon. Kau jangan marah seperti itu. Mari kita bicara di halaman saja.”

Jiwon hanya diam tanpa menjawab.

“E.. Om, Tante. Aku ajak Jiwon keluar sebentar.” Tanyanya kepada kedua orang tua Jiwon.

“Oh.. Silahkan.” Jawab Ayahnya.

Beberapa menit kemudian.

“Lee Ji Won? Sebenarnya kau ini kenapa? Kenapa aku selalu salah di matamu? Dan entah bagaimana aku selalu ingin membentakmu jika kau sudah seperti ini. Tapi mengapa kau terkadang lucu, menyenangkan, dan aku sesekali gemas terhadapmu. Tapi sifat pemarahmu tiba-tiba tanpa alasan yang tidak aku sukai. Jadi ku mohon kau harus paham maksudku.” Pergi masuk kedalam. Tanpa mendengarkan jawaban dari Jiwon.

     Ternyata Song Joong Ki tiba-tiba masuk ke dalam itu untuk meminta izin pulang, karena hari sudah terlanjur petang dan malam.

“Om, Tante, Hyung. Aku pergi dulu sudah larut malam, tidak enak jika berlama-lama bertamu di rumah orang malam-malam seperti ini.”

“Aigoo.. Kau dewasa sekali Joongki.” Kagum Ibu Jiwon.

Song Joong Ki membalas dengan senyuman.
“A.. Dan Jiwon ada di depan hyung.” Bisiknya lirih. Lalu pergi.

Lee Yong Jae membalas dengan mengedipkan mata sebelah kiri tanda mengerti (OK).

     Kemudian Song Joong Ki keluar dari rumah keluarga Lee dan berpapasan dengan Lee Ji Won. Namun Song Joong Ki tidak menghiraukan bahwa yang berada di sampingnya adalah Lee Ji Won, Karena masih dengan keadaan yang panas Song Joong Ki pergi dengan begitu saja tanpa melihat Jiwon.

“Hei.. Sunbae? Kau secepat ini akan pulang?” Tanyanya dengan nada lembut.

Song Joong Ki berhenti dan hanya menganggukkan kepalanya. Tanpa melihat wajah Jiwon.

Lee Yong Jae keluar dari rumah melihat mereka berdua seperti adegan di drama saja.

Song Joong Ki kemudian membalikkan wajahnya ke arah Jiwon.
“Baiklah aku pergi dulu Jiwon,…..Hyung.” Melirik dari belakang Jiwon. Dan melambaikan tangan lalu pergi.

Mianhe sunbae. Aku memang wanita yang tak kau sukai.’ (?).

“Hei.. Hei.. Hei.. Kenapa kau sering sekali marah-marah dengannya?” Merangkul pundak Jiwon.

Jiwon pun menyingkirkan tangan Oppanya dari pundak, namun tetap diam kesal.

“Hei.. Jiwon. Lihatlah mata Oppamu ini.” Perintahnya tegas dan diikuti oleh Jiwon.
“Wae ? (Kenapa, ada apa) Kau jadi seperti ini.” Tanyanya penuh lembut.

Jiwon tiba-tiba memeluk dan mengeluarkan sedikit bening-bening putih.

“Hei.. Kau kenapa Jiwon. Ya! Beranjaklah dari pelukkan. Aku akan memberikannya nanti setelah kau mandi.”

Jiwon beranjak dari pelukkan, karena merasa tersinggung dengan kata yang “setelah kau mandi”.
“Ya Oppa! Kau tidak melihatku secantik ini. Aku sudah berusaha membuatnya kagum padaku. Tapi apa? Aku tidak menyukainya Oppa. Aku harus berdandan dengan karakterku sendiri.” Gerutunya kesal.

“Hei.. Lalu siapa yang kau salahkan? Memangnya Oppamu ini yang menyuruhmu? Kau tahu, aku melihatnya sangat geli.” Bisiknya risih.

“Ya Oppa! Kau benar-benar menjengkelkan ternyata. Mentang-mentang kau sudah sembuh dan bisa bicara seenakknya kepadaku. Ha!” Merasa kesal dan berteriak.

“Heii.. Kau jangan marah. Oppamu ini hanya bercanda, Jiwon.” Rayunya agar Jiwon mereda.

…… “Hei.. Kalian selalu bertengkar jika sudah bertemu. Ayo masuk ke dalam. Di luar sangat dingin.” Ajaknya merangkul kedua anaknya.

“Omma! Kenapa kita harus serumah dengan Lee Yong Jae?” Tanya kesalnya dengan sedikit melirik Oppanya.

“Wae!” Yongjae kaget.
“Yah.. Kau benar-benar adik yang tidak baik untukku.” Melotot tajam melihat Jiwon.

Jiwon pun membalas dengan tatapan tajam
“Weeeeeeeek” Menjulurkan lidahnya tanda meremehkan.

“Aiigoo.. Kalian benar-benar seperti tikus dan kucing saja.” Melihat Jiwon dan Yongjae. Lalu mengajak mereka masuk kedalam.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar