-Pertama
kali Dan Aku Mengaguminya-
Sebuah jam pengingat dengan bunyi yang
membuatku pusing kepala itu. Tak sadar telah aku lempar ke arah dinding samping
dekat almari klasikku. Aku berlalu dan bergegas pergi ke kamar mandi. Niatku
segera mandi dan membilas rambut yang beberapa hari tidak aku cuci. Senyumku
menyeringai dengan otak yang sedikit licik.
“Kenapa keinginganku untuk mandi sangat antusias sekali. Padahal
pikiranku meminta untuk keramas saja.”
Helaan napasku panjang
sekali. Melihat air saja aku sudah malas dan merasa kedinginan. Tanpa berpikir
panjang. Lalu aku tancapkan gas untuk segera keramas saja. Dan mencuci muka.
Makanan yang telah tersedia
di meja makan hampir dingin. Kulihat ayah dan ibu sudah berangkat kerja. Aku
menuju kamar hyungku, tetap saja ia tidak meninggalkan jejak dan kamar masih
bersih dan rapi. Biasa orang itu datang, kamar sudah hampir seperti kapal pecah
dan mayat-mayatnya tidak ditemukan. Kembaliku menuju dapur di sana aku
menemukan kertas kecil yang berisikan catatan singkat dari ibu.
*Ji Won. Kau
jangan lupa makan sebelum berangkat. Dan jangan lupa colokan yang tidak
terpakai kau cabut saja. Hemat listrik ya nak #emoticsmile.*
“Haish... Sangat kekanak-kanakan sekali ibuku. Setiap harinya aku
selalu diingatkan tentang hal ini. Hah...! Apakah ia tidak percaya bahwa aku
punya daya ingat yang kuat. Haish! Benar-benar…” Merasa kesal.
Sebelum bergegas untuk
bersiap-siap. Aku masih memikirkan tentang mimpi semalam. Seseorang datang
menemuiku dan tersenyum manis padaku. Aku seperti mengenalnya. Tapi siapa.
“Haish.. Membuatku sangat kesal.” Dengan menyantap roti yang sudah
diberikan selai oleh ibunya sebelum berangkat kerja.
***
Pagi ini membuatku sangat
bersemangat sekali. Walaupun aku tidak mandi dan hanya membilas muka dan
mencuci rambut saja. Ya seperti inilah penampilan untuk seorang wanita yang
memiliki tipikal yang aneh dan sama sekali tidak membuat penampilan yang
elegan. Padahal jurusan perkuliahannya Design.
Tapi aku sama sekali tidak memperdulikannya. Karena aku sangat yakin. Akan ada
seseorang yang menerimaku apa adanya suatu saat nanti. Jangan heran dan
penasaran. Aku tetap wangi dan memiliki senyum yang manis.
Musim salju telah tersambut
olehku. Mereka turun layaknya menyapaku dengan sopan. Merasa seperti ratu dari
kayangan, jika ku berjalan bersama salju yang putih dengan deraian yang
berirama ini.Namun nyatanya aku bukan putrid yang turun dari kayangan. Tapi
masih serendah dari putri.
Gerbang Universitas Seoul
telah terbuka lebar. Semester dua telah menyambutku dengan berbagai masalah
sedikit. Sebenarnya tidak ingin ikut campur, tapi dia adalah temanku. Terpaksa
aku harus membantunya.
“Kenapa?” Tanyaku pelan.
“Ah.. Ini Ji Won. Mereka telah menuduhku.” Merasa ketakutan.
“Maksudmu?” Agak kebingungan.
“Iya.. Kau tau sunbae Song Jong Ki?”
“Song Jong Ki!” Pikirku kemana-mana.
“Iya.. Aku dituduh telah merebut dia dari wanita ini.” Menunjuk lawan
wanita yang menuduhnya.
“Hei! Memangnya kau siapa. Berani sekali menunjuk-nunjukku!” Kembali
emosi.
“Hei.. Hei.. Hei.. Ya, sebentar. Kau jangan emosi dulu.” Balasku
kepada lawan Lee Yu ri.
“Kau Yu Ri. Ikut denganku.” Mengandeng tangan Yu Ri lalu pergi dari
tempat itu.
“Hei..!! Kalian berdua mau kemana!” Teriaknya masih terjangkau
olehku. Namun aku hanya berlalu.
TAMAN KAMPUS
09:37 Am
“Kenapa bisa kau dituduh seperti itu?” Menatap Yu Ri.
Yu Ri hanya diam. Dan sepertinya memikirkan sesuatu.
“Kau dengar aku?” Menatap Yu Ri dalam.
“Jujur aku menyukai Sunbae Jong Ki. Tapi entah sunbae bagaimana
denganku.” Merasa tak percaya diri.
“Ah! Kau ini bikin aku kaget saja.”
“Ehmm.. Jadi kau menyukainya?”
Yu Ri hanya mengangguk.
“Lalu.. Wanita itu?”
“Aku tidak tahu siapa dia. Yang jelas aku ingin bersaing dengannya.”
Percaya dirinya kembali.
“Wah.. Kau sudah dewasa ya rupanya...” Aku tersenyum padanya.
“Yasudah.. Ayo kita masuk kelas dulu. Nanti kau ceritakan kembali.”
Yu Ri kembali hanya mengangguk.
Belum sampai di depan kelas
Design. Aku melihat dari arah barat.
Seseorang yang telah diperebutkan oleh temanku dan lawannya itu telah berjalan
menujuku. Entah aku sama sekali tidak menyadarinya. Apalagi percaya.
“Kau Lee Ji Won?” Tanyanya dengan menunjukku sopan.
“Oh.. Ya, kau benar.” Hatiku tak menyangka. Bahwa aku dapat bertemu dia
di awal semester dua ini.
“Ah.. Baguslah kalau begitu.”
Aku melihat teman
sebelahku. Sangat kecentilan dan seperti cacing kepanasan. Senyum-senyum dan
tertawa meringis sendiri membuatku rasanya jijik. Dan aku merasakan getaran
asmaranya terdengar oleh telingaku. Seakan mengaung layaknya harimau ingin
beranak. Ia melihat Song Jong Ki dengan tatapan yang dalam penuh cinta. Tak
sedetik pun ia berkedip. Benar-benar sudah gila Yu Ri.
“Ah.. Maaf. Kau siapa, ya?” Aku berpura-pura tidak tahu.
Yu Ri mencubitku.
“Dasar kau! Ia sunbae Jong Ki. Ah! Benar-benar kau ini!” Membisikiku
dengan raut wajah yang kesal.
Song Jong Ki melihat kita kebingungan.
“Kenapa kalian jadi main bisik-berbisik, ya?” Dia tersenyum menatap
Jiwon dan Yuri
“Ah.. Hahaha.. Maaf. Jadi kau siapa, ya?” Kembali aku membuat temanku
kesal.
Yu Ri mencubitku kembali dan cubitannya ini sangat terasa sakit
sekali dari sebelumnya.
“Aw..Kenapa sih kau
ini!" Merasa kesakitan.
Song Jong Ki melihat kami dengan tertawa kecil.
“Ya.. Kalian ini seperti anak kecil saja.”
“Perkenalkan aku Song Jong Ki. Dari Fakultas Psikologi. Dan masih semester
empat.” Menyodorkan tangannya.
“Oh.. Sunbae.” Melihat Yu Ri dengan mata meledek.
“Jadi kau lelaki yang disukai oleh teman yang berada di sebelahku
ini?” Tambahnya dengan senyum meledek.
Yu Ri merasa malu dan membalas Jiwon dengan mata melotot.
“Eh.. maaf. Maksudnya.” Balasnya dengan senyum kebingungan. Pula
dengan melihat teman yang berada di sebelahku.
‘Ah.. Bagaimana
ia sangat kebingungan sekali seperti itu’
“Ah.. Maaf-maaf. Jadi aku melupakanmu. Kau yang menolongku saat
semester awal kemarin, kan?” Mencoba berbosa-basi. Agar Yu Ri tambah merajuk
dan sedikit lebih tenang. Tidak malu lagi.
‘Dasar! Akan aku bunuh kau
Jiwon!!!’ Teriak Yuri dalam hati. Berharap Jiwon mendengarnya.
“Oh.. Ya..Ya. Kau sudah mengingatnya?” Balasnya dengan tertawa manis.
“Ehm.. Kenapa kita hanya berdiri saja. Jika masih banyak yang ingin
sunbae katakan. Kita bersantai saja dulu.”
Yu Ri kembali mengkerutkan dahinya.
‘Haish.. Benar-benar
orang ini!’
‘Auh..’
“Ah.. Tidak. Aku hanya ingin menyapamu saja. Tapi sebenarnya ada yang
ingin aku katakan. Kau ikut extra
potografi, kan?”
“Oh.. Benar sekali.” Balasku dengan tersenyum.
Yu Ri semakin ingin mengakhiri hidupnya
saja. Lelaki yang ia sukai malah ditikung oleh temannya sendiri. Raut wajahnya
mengatakan seperti itu.
‘Hahaha…’ Melihat raut
wajah Yu Ri yang semakin menipis seperti krisis uang.
“Yasudah.. Berikan aku nomormu. Dan sepulang kuliah nanti kau bisa
menemuiku di Dalkom Café dekat kampus ini. Ok?”
“Oh.. Baiklah sunbae. Ini.” Aku memberikan ponselku padanya.
Song Jong Ki mencatat nomor teleponku.
Yu Ri yang berada di situasi seperti
ini. Berusaha mengabaikannya dan tidak melakukan apa-apa. Karena merasa malu.
Mulutnya kaku seakan diancam oleh rentenir. Aku melihatnya hanya tertawa saja.
“Ini..Nanti ku telpon.” Memberikan kembali ponselku dengan tersenyum
manis sekali. Aku sangat ingat senyum itu. Kemudian ia pergi
“Ok.” Balasku dengan tersenyum manis juga. Tapi tidak manis juga sih.
Kulihat Yu Ri menatapku
tajam. Aku merasa sebentar lagi ia akan membunuhku. Aku tegakkan kepalaku. Dan
kuanggap semuanya berjalan dengan lancar.
“Huh! Dasar teman penghianat!” Pergi.
“Hei.. Kau mau kemana?” Teriakku masih terjangkau oleh Yu Ri.
“jangan mendekatiku. Jika kau tak ingin aku bunuh!” Jawabnya dengan
berteriak kesal.
Aku melihat adegan seperti itu hanya
tersenyum dan berusaha bisa menyakinkan kembali nanti. Memang sangat lucu
pertemananku ini.
“Huh.. Nampaknya ia benar-benar sedang jatuh cinta.” Tertawa tak
yakin dengan berjalan menuju ruang kelas Design.
RUANG DESIGN 10:05 Am.
Disana aku bertemu dengan
Co Ara yang duduk di sebelah Yu Ri. Sepertinya Yu Ri tidak mengatakan apa-apa
kepada Co Ara. Aku bersyukur.Karena aku benar-benar tak ingin melukai perasaan
Yu Ri.
Aku mencari tempat kursi
yang masih berdekatan dengan Yu Ri. Saat ia aku lihat dengan wajahku yang
sedang berjalan menuju wajahnya, ia hanya berpaling. Dan tak ingin melihatku. Co
Ara pun kaget.
“Kenapa..” Berbisik. Dengan sedikit menggunakan kode mata yang
mengarah ke Yu Ri.
“Biasa. Ia lagi kedatangan tamu. Hahaha.....” Aku tertawa tanpa
sepengetahuan Yu Ri.
“Oh…Pantesan.. Hihihi.” Co Ara hanya mengangguk dengan sedikit tertawa
juga.
PERKULIAHAN
DIMULAI 10:25 Am.
Di dalam ruang kelas aku
dengan teman sebelahku hanya mengoceh saja. Karena aku merasa ada yang aneh.
Benar. Lee Jae Hwan (Ken) tidak hadir hari ini. Aku memikirkannya. Yang benar
saja. Awal perkulihan semester dua kenapa ia tidak hadir. Justru malah absen.
‘Apakah ada masalah dengannya?’
Tanyaku dalam hati. Dengan raut wajah yang mencemaskannya.
Tanpa aku sadari namaku
telah terpanggil oleh dosen. Karena aku hanya bengong dan menggerutu yang tidak
pasti. Terpaksa aku dikeluarkan dari ruang kelas. Dan untungnya mata kuliah
yang bukan menguntungkan buatku. Huh.. Jadi aku merasa aman dan lega. Tapi sial
sekali awal pertama masuk telah diusir dosen dari ruang kelasku sendiri.
Semuanya mentertawakanku dan tetap saja Yu Ri tidak melihatku. Padahal aku
melihatnya. Co Ara yang melihatku hanya memberikan senyum semangat padaku. Aku
membalasnya dengan senyum semnagat juga. Walau sebenarnya hati ini merasa
dihianati.
Di depan kelas membuatku suntuk
sekali. Aku terpicu bunga yang bermekaran di seberang Fakultas Ilmu Budaya.
Tempatnya tidak jauh dari jangkauan kelasku. Aku memutuskan untuk pergi
menyapanya perlahan.
Sesampainya aku menemukan
bunga tulip yang warnanya sangat cerah dan menggoda iman ini. Ingin kupetik,
untukku simpan dalam museum klasikku. Tapi yang tertulis disana adalah “Jangan memetik
bunga disini. Jika tak ingin tanganmu terpotong” Ah.. siapa yang menulis
kutipan yang menakutkan seperti ini. Dan terpaksa aku mengambil ponsel dari
tasku dan memotretnya satu-persatu dengan backround
rumput hijau yang bergoyang.
Aku merasakan ada seseorang
yang datang dari arah belakangku. Aku berbalik tenyata benar. Dia adalah Kim
Myung Soo alias L nama populernya. Dia adalah seniorku dulu di Sekolah Menengah
Atas di Gangnam. Ia memiliki wajah yang elegan. Postur tubuh bagus dan sekali
tersenyum banyak mawar-mawar yang leleh.
Tapi ia tetap bertahan
dengan satu titik dimana hati itu tidak beranjak dari kemanapun. Aku.. Akulah
orang yang disukai oleh sunbae L sejak masa Sekolah Menengah Atas dulu. Entah
bagaimana ia masih menyukaiku. Padahal ia telah aku anggap sebagai hyungku
sendiri. Benar. Aku teringat. Hyungku
seangkatan dengan sunbae L. Ah jadi memikirkan hyungku lagi. Kemana ia? Tidak
bekerja ataupun meneruskan sekolahnya. Dasar. Bisanya hanya menguras dan
meminta-minta saja kepada ayah dan ibu.
Sunbae L di sini juga
menjadi seniorku. Ia sama dengan sunbae Jong Ki. Di Fakultas sama dan semester
yang sama. Banyak sekali yang menyukai mereka berdua. Ah.. Aku sangat iri
sekali.
Kembali.
“Sunbae..” Melihat orang itu dan mengakhiri potretannya.
“Kau tidak ada kelas?” Duduk. Karena dekat jangkauan bunga ada
beberapa tempat duduk yang sudah lama disediakan.
“Hehe.. Aku telah membuat kesalahan. Jadi terpaksa aku dikeluarkan
dari ruang kelas. Huh.. Merasa dihianati sekali sih.” Menghela napas panjang.
“Lalu kau sendiri. Kenapa berada di sini?” Balasnya dengan penasaran.
“Aku tidak ada kelas.”
“Ah.. Begitu, ya?”
‘Berarti sunbae Jong Ki juga
tidak ada kelas.’
“Kau sedang memikirkan apa?” Melihatku.
“Ah..Tidak sunbae.” Kembali berlalu.
“Eh.. Ji.. W-.” Terpotong.
Tiba-tiba ponselku
berdering dan aku tengah kaget. Segera aku membukannya dan ternyata nomor baru
yang masuk dalam ponselku.
“Ah.. Sebentar sunbae.” Mengaktifkan ponselnya.
“Ternyata hanya miscall.
Dasar!” Kembaliku letakkan dalam tas. Dan kemudian bergetar. Aku merasakannya.
“Ah.. Sebentar sunbae.” Tersenyum melihat L.
~Kau ada dimana? Sudah selesai
mata kuliahmu? Aku ingin menemuimu di taman dekat Fakultas Ilmu Budaya.~
‘Sunbae Jong
Ki.’ Aku hanya tersenyum.
~Baiklah.. Aku
sudah berada di sini.~
~
Jong ki segera turun dari lantai tiga ke
lantai satu untuk segera menemui Ji
Won yang berada di taman menunggunya. Namun setengah dari perjalanannya. Ia
dihentikan oleh seorang wanita yang seksi dengan body yang sempurna. Ia bernama Choi Sa Rang. Fakultas Design
angkatan semester empat. Senior Ji Won. Banyak sekali yang telah memperebutkan
lelaki tampan ini Song Jong Ki. Begitupun perempuan seksi itu.
Wanita itu segera menggandeng tangan Jong Ki.
“Ah.. Kau ini sedang apa!”
“Kau tidak mengantarku pulang?”
“Ah.. Aku ada tugas yang mendesak. Jadi kau lepaskan tanganmu dari lenganku.
Atau aku paksa tarik tanganmu dari lenganku!”
Wanita itu melepaskannya.
Song Jong Ki kembali berjalan menuju taman. Dengan terburu-buru.
“Dasar! Jual mahal sekali dia. Heh!” Sinis.
Tapi wanita itu tetap
mengikuti Song Jong Ki dari belakang. Tanpa sepengetahuan Song Jong Ki.
Wajahnya sepeti harimau yang ingin segera menerka mangsanya.
Terlihat dari jauh. Song
Jong Ki merasa kenal dengan lelaki yang bersebelahan dengan Ji Won. Postur
tubuh yang ideal membuat Jong Ki merasa bahwa ia adalah L atau Kim Myung Soo.
Jong Ki bertanya-tanya. Mengapa L bersama Ji Won. Apakah mereka sudah saling
mengenal.
‘Ah.. Yasudahlah.
Memangnya Ji Won siapaku?’ Gerutu dalam hati.
Tepat di depan mereka
berdua Jong Ki menyapa Ji Won dan L. L pun tidak menyangka bahwa akan ada
Jongki di sini dan bahkan sudah saling mengenal satu sama lain dengan Jiwon. L
merasa curiga. Kenapa tiba-tiba Jongki bisa sedekat itu dengan Jiwon. L merasa
punya saingan.
“Duduk..Di sini sunbae.” Mempersilahkan duduk kepada Jongki.
‘Sunbae?’ L melihat Jiwon
dengan raut wajah tidak menyangka.
Jongki duduk diantara mereka berdua Jiwon dan L.
~
Perempuan yang berusaha mengikuti Jongki akhirnya mengetahui
sebenarnya urusan yang mendesak itu dimana dan seperti apa. Dan ternyata ia merasa
dibohongi dan segera menghampiri mereka bertiga.
“Apa ini yang kau maksud tugas mendesak!” Menatap Jongki tajam.
“Ya. Jadi kau mengikutiku?”
Jiwon hanya diam dan sedikit demi
sedikit ia mengingat siapa wanita yang berdiri di depannya itu. Setelah berusaha
keras memikirkannya. Akhirnya ia menemukan jawaban. Bahwa wanita itu adalah
seniornya di Sekolah Menengah Atas sama dengan sunbae L. Dan lebih parahnya
lagi ia adalah mantan kekasih L sunbae.
Aku hanya terdiam tanpa mengatakan
sepatah kata apapun. Aku merasa ia sedikit-sedikit melirikku dengan mata yang
tajam. Mmebuatku sangat gugup dan kaki bergetar.
Karena mereka bertengkar. Entah mereka
mempunyai hubungan apa sebenarnya. Aku tak ingin mengetahuinya. Dan segera
tanganku ditarik oleh L sunbae. Sepertinya aku ingin diajak ia pergi
meninggalkan mereka berdua.
“Ayo kita pergi. Ada pengantin baru yang telah mengalami pertikaian.”
Menggandeng tangan Jiwon.
Jiwon hanya meng-iyakan gandengan itu
dan segera beranjak pergi. Namun wanita itu telah membalas penyataan dari L
tersebut.
“Tunggu. Kau bilang apa!” Mendekati L. L pun masih memegangi tangan
Jiwon.
L hanya melirik dengan santai.
“Ah.. Jangan-jangan kau masih berharap denganku?” Tersenyum sinis.
“Apa.. Aku masih mengharapkanmu?” Balasnya dengan tertawa lelucon.
Cho Sa Rang hanya terdiam dan melihat L dengan mata ketus.
Song Jong Ki yang merasa pusing diantara mereka bertiga. Lalu ia
mensegerakan pergi saja dari tempat itu. Namun ditahan oleh Choi Sa Rang.
“Jongki! Kau mau kemana?” Menarik tangan Jongki.
Jongki hanya berlalu.
Jiwon yang berada diantara
mereka bertiga merasa seperti di dalam drama yang saling tarik-menarik. Entah
drama apa. Tapi Jiwon melepaskan tangannya dalam genggaman L.
“Oh.. Sunbae. Tolong lepaskan tanganku.”
L melepaskannya.
“Tunggu. Aku seperti mengenalmu.” Melihat wajah Jiwon.
Jiwon pun tak takut untuk menegakkan kepalanya menghadap wanita galak
itu.
“Ah.. Kau Jiwon. Dari desa seberang yang tanpa lampu benderang itu
kan. Heh..!!” Senyum sinis.
“Apa yang kau maksud!” Melirik tajam mata Choi Sa Rang.
“Hahaha… Aku benar, kan?”
“Ah.. Sunbae mari kita pergi saja dari sini.” Merasa kesal dan lalu
pergi.
L melihat Choi Sa Rang sejenak dan bergegas pergi mengikuti Jiwon.
“Heh.. Kau ternyata masih hidup Jiwon!” Pikirnya licik.
Entah aku ingin kemana
waktu itu bersama sunbae L. Aku menyusuri jalan sempit dan berkeliling kampus.
Hanya untuk menyegarkan pikiranku agar lebih tenang kembali. L sunbae hanya
berdiam tanpa berbicara sepatah katapun saat mengikuti di belakangku. Entah
maunya apa orang itu.
Aku berpikiran untuk
mentraktir L sunbae segelas cappuccino.
Karena aku juga merasa lapar.
KANTIN KAMPUS
11:22 Am.
~
L yang tidak menyadari
terus mengikuti Jiwon. Pada akhirnya ia tetap mengikuti dan berhenti di kantin
untuk membeli sesuatu yang enak dimakan ataupun diminum.
“Sunbae. Aku akan mentraktirmu. Jadi kau duduklah sebentar.”
L hanya meng-iyakan tawaran Jiwon.
“Sunbae. Sebenarnya kau masih mengharapkan sunbae Sarang?”
“Haish.. Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu. Apakah kau mentraktirku
dengan sogokan?”
“Ahehe.. Akhirnya kau hidup juga. Jadi seperti apa aku ingin
mendengar ceritamu kembali seperti waktu lalu.”
FLASHBACK
SMA GANGNAM – KANTIN SEKOLAH – 11:23 AM – 2015.
Setelah mengetahui apa yang
terjadi beberapa waktu yang lalu. L sunbae yang menjadi teman akrab dan
sekalian tetanggaku ini menceritakan hubungannya dengan Choi Sa Rang yang waktu
lalu dilanda badai. Sedikit demi sedikit aku mendengarkannya dengan penuh haru
dan aku merasa kasihan dengan cerita mereka berdua. Yang aku tahu L sunbae
adalah lelaki yang setia dan penuh perhatian. Tapi mengapa Choi Sa Rang gampang
sekali memutuskannya karena hanya lelaki lain yang lebih beruang dan mempunyai
mobil mewah. Aku sih takkan mau
dengan lelaki yang banyak uang dan mobilnya mewah. Karena mungkin itu bukan
hasil dari kerja kerasnya, melainkan hasil kerja keras tangan kedua orang
tuanya. Kenapa aku berkata seperti ini. Karena tak mungkin anak SMA sudah
mendapatkan segalanya seperti itu. Kalau bukan kekayaan dari kedua orang
tuanya.
Ia sempat menangis
menceritakan hal yang telah mereka jalani selama hampir dua tahun terkahir ini.
Tapi tidak di kantin. Ini di tempat yang berbeda. Taman Gangnam. Anginnya sejuk
dan mendesahkan keringat yang menetes. Baru kali ini aku melihat lelaki yang
meneteskan airmatanya demi orang yang dia suka. Ini menandakan tulus sekali.
Jadi kalian tolong. Jangan pernah buat pasangan lelakimu menangis karena hanya
dirimu yang egois.
Beberapa waktu pekan. Ia sempat tak
ingin sekolah, karena hal sebodoh itu. Hah.. Bagaimana aku bisa menenangkannya.
Aku teringat bahwa ia akan segera melaksanakan Ujian Nasionalnya (UN-umumnya).
Sekuat tenaga apapun aku lakukan untukknya. Deminya bisa bangkit dan tidak
terpuruk lagi karena perempuan yang tidak tahu berterimakasih. Sayang sekali,
kenapa kau disia-siakan seperti itu sunbae.
UN telah berhasil ia
selesaikan. Pengumuman akan segera di beritahukan kepada seluruh siswa dan akan
disegerakan acara pelepasan seluruh siswa. Begitupun penyambutan siswa baru.
Dalam perpisahan nanti. Aku akan menampilkan akustik dan lagu. Aku persembahkan
untuk L sunbae yang telah mengalami kegagalan cinta. Lagu itu berjudul “You Are
My Everything” aku menyukainya dan tak kusangka L sunbae menghampiriku untuk kolaborasi
denganku. Ah rasanya waktu itu aku malu sekali. Kenapa tiba-tiba. Apakah ini rencana
sunbae untuk membuat cemburu Sarang dan membuatnya kesal, karena telah
menyia-yiakan dirinya. Positifku memang seperti itu. Mereka yang melihat aksi
kami berdua bertepuk tangan dan aku merasa canggung karena diteriakki oleh
teman seperjuangannya L sunbae.
Usia perpisahan. Aku
menunggunya di lobi depan kelas. Beberapa menit kemudian, L sunbae menghampiriku.
Aku melihat ia sangat kelelahan dan segera menggandengku. Entah mengapa secepat
itu gandeng-menggandengnya. Dan aku harap ini hanya perasaan malasnya yang
tidak ingin berjalan sendiri. Aku hanya meng-iyakan gandengan itu. Di seberang
jalan aku melihat dan merasakan ada seseorang yang melihatku yang tengah
digandeng oleh L sunbae. Aku hanya berlalu saja. Mungkin itu mantan kekasih L
sunbae.
“Sebenarnya kau ingin mengajakku kemana?” Tanyaku dengan wajah
penasaran.
“Aku lapar.” Jawabnya dengan santai.
“Kau tahu, ada yang melihat kita.”
“Ya aku tahu.” Menggenggam tanganku lebih erat lagi.
‘Hemm.. Mengapa semakin erat.
Bukankah ini hanya rencananya saja untuk membuat Sarang cemburu?’ Tanya
dalam hatiku.
COFFE BY
Sesampainya di Coffe By aku
dengan L sunbae memesan minuman dan makanan sebanyak mungkin. Karena hari ini
adalah hari perayaan sunbae lulus dari SMA Gangnam. Banyak sekali yang aku
pesan dan hampir saja perutku sakit. Aku terus mendengarkan cerita dari sunbae
mengapa ia bertindak seperti itu tadi. Ia hanya merasa nyaman saja. Aku hanya
berlalu saja. Karena memang sunbae takkan pernah bisa dipercaya. Dia memang
keterlaluan kalau sudah melakukan hal lelucon.
“Sunbae? Aku ingin bertanya sesuatu denganmu.” Meminum cappuccino.
“Apa?” Melihatku.
“Kau benar sudah tidak ada hubungan lagi dengan sunbae Sarang?” Agak
ragu-ragu mengatakkannya.
“Ya! Kenapa kau bertanya itu lagi.” Melihatku kesal.
“Ahahaha.. Maafkan aku. Bukan maksudku seperti itu. Ah ya sudah
lupakan.” Meminum cappuccino kembali.
Setelah beberapa menit kami
membahas tentang hal lain. Kami bergegas untuk pulang. Karena hari semakin
larut dan mungkin akan segera hujan. Kami berjalan perlahan dan tiba-tiba hujan
segera turun dan deras sekali. Aku berpikir ini akan memakan waktu yang lama.
Padahal tempat tinggalku masih agak jauh. Karena bersama sunbae aku jadi merasa
agak terlindungi. Walau sebenarnya ia mempunyai karakter dan sifat yang sangat
aku benci. Menyebalkan sekali dan selalu keras kepala itu. Setelah beberapa
menit hujan yang masih belum reda itu. Kembali aku menanyakan sesuatu.
“Sunbae?”
“Apa lagi?”
“Mengapa kau sensitive seperti itu? Aku hanya ingin menanyakan
sesuatu tentang hyungku? Kau tahu apa yang dia lakukan selama sekolah dan satu
ruangan denganmu? Apakah dia anak yang nakal? Dan sering membuat onar didalam
kelas? Hum?” Melihat sunbae.
“jadi… Kau tertarik dengan cerita hyungmu saat ini?” Melihatku dengan
tersenyum sinis.
“Oh.. Tentu. Diakan hyungku.”
“Bukankah kau membencinya dan lebih menyukai diriku.” Candaanya.
“Kenapa tiba-tiba tersenyum dan ingin membuka mulutmu. Bukankah kau
terkenal dengan sifat yang cuek itu. Ah kau benar-benar misterius.” Gerutuku
dengan melihat tatapan tajam sunbae.
“Hei.. Kau terlalu menilaiku diluar saja.”
“Benar. Kau memang seperti itu.”
“Jadi.. Kau ingin aku beritahu tentang hyungmu, tidak?”
“Ya. Cepat!” Merasa sia-sia.
Beberapa detik kemudian….
Tampak wajah L sunbae
sepertinya ada penyesalan. Aku melihatnya dengan pasti. Bahwa L sunbae dulu
pernah menjadi temain baiknya hyungku.
“Waktu itu.. Kita memang sangat dekat sekali. Selebihnya kita adalah
saudara yang layak dalam pertempuran dan bekerja sama. Namun seorang lelaki
baru saja dipindahkan dalam ruang kelas kita namanya Bang Yong Guk. Entah
bagaimana hyungmu itu dekat sekali dengannya. Seperti sudah mengenal lama. Dan
saat ada pameran kemarin sebelum perpisahan. Aku melihat hyungmu tengah dihajar
oleh sekelompok Bang Yong Guk. Entah mereka berasal darimana, tapi aku benar
melihatnya bahwa yang bersama hyungmu itu adalah Bang Yong Guk. Aku ingin
menolongnya, namun seseorang telah membantunya. Ia bernama Han Sang Hyuk.
Beberapa anggota yang menghajar hyungmu itu lari entah kemana. Namun sebelum
melarikan diri, mereka memberi salam hormat kepada Han Sang Hyuk. Aku berpikir
mengapa seperti itu. Dan sampai sekarang hyungmu pun tidak datang diacara
perpisahan sekolah. Aku sempat mengirimkan pesan, tapi tetap saja ia tidak
membalasnya. Jadi kau merindukan hyungmu, Jiwon?” Melihatku dengan tatapan
lembut.
“Heemm…” Aku mengangguk dengan membalas tatapan lembut itu.
“Huh…” Menghela napas.
“Kau tenang saja. Hyungmu akan kembali.”
“Iya.. Aku percaya itu.”
Sunbae tiba-tiba memegang tanganku
dengan tatapan senyum. Lalu memandang ke arah yang luas yang berada di
depannya. Aku hanya berlalu saja. Mungkin ini adalah penenang untukku. Agar
tidak selalu memikirkan hyungku dengan keras.
Tanpa kami sadari hujan pun segera
mereda perlahan. Aku bergegas berdiri dan sunbae telah mengikutiku. Dalam
perjalanan pulang. Seseorang di dalam mobil telah meludahi kami tepat di depan
kami. Dan untung saja tidak terkena wajah kami. Pikirku waktu itu adalah,
mengapa masih saja ada orang yang tidak mempunyai sopan santun. Sunbae waktu
itu mulai emosi, namun aku tahan dengan kode mataku. Ia berbalik kebelakang dan
aku pun mengikutinya. Ternyata yang berada dalam mobil itu adalah Choi Sa Rang.
Mantan kekasih L sunbae, yang beberapa waktu lalu telah menghianati L sunbae.
Setelah wanita galak itu pergi. Kita
memulai perjalanan kembali menuju tempat tinggal kami. Setelah sampai di depan
rumahku. Aku memutuskan segera masuk ke dalam. Tanpa membiarkan L sunbae mampir
dulu sebentar. Aku merasa agak canggung waktu itu. Jadi aku hanya membiarkannya
segera pulang saja. Lagi pula rumah kita sama-sama dekat hanya jarak beberapa
rumah saja.
***
Keesokan harinya aku
mendapatkan pesan singkat dari L sunbae. Yang berisikan semangat dan motivasi.
Pikirku, orang ini sudah hidup kembali rupanya. Padahal ia baru saja
mendapatkan kegagalan cinta. Tapi mengapa ia lebih memberikan semangat padaku
tidak dengan dirinya sendiri.
Belum aku balas. Seseorang menelponku…
Dreeett…. Dreeeettt… Dreeett…
Aku membaca nama penelpon itu.
“Sunbae Jong?”
END
FLASHBACK
“Apa katamu?”
“Ah.. Tidak. Ini ada yang menelponku. Sebentar.”
-
^Halo?^
^Kau dimana? Aku ingin bertemu denganmu? Kau bisa datang. Dalkom Caffe.^
^Oh.. Baik aku segera kesana sunbae.^
Song Joong ki menutup telponnya.
-
“Ah.. Sunbae aku ada urusan yang mendesak. Jadi aku pergi dulu. Kita
sambung untuk lain kali. Ok”
~
L yang belum membalas
maksud dari Jiwon. Akhirnya ia hanya diam dan merasa kesepian waktu itu. Ia
merasa telah ditinggal lagi oleh Jiwon.
***
~
Jiwon yang berlari tengah
cepat sekali waktu itu. Membiarkan airphonenya
telah jatuh. Ia tidak menyadari sama sekali. Saat sampai di Dalkom Caffe ia baru menyadari bahwa ia
tengah kehilangan airphone yang dulu
saat masih Sekolah Menengah Pertama hyungnya memberikan kado ulang tahunnya
dengan benda itu. Karena airphone itu
sekarang menjadi temannya saat hyungnya tidak ada di sampingnya.
DALKOM
COFFE
~
Sesampainya di Dalkom Caffe Jiwon melihat satu-persatu
orang yang berada duduk di kursi meja yang kosong. Ia melihat ke arah samping
dekat papan quote. Pikirnya benar,
bahwa yang duduk di sebelah sana adalah Song Joong Ki. Jiwon mendekati.
“Sunbae?”
Joongki berbalik arah.
“Oh.. Kau cepat sekali.”
“Ah.. Ya agak sedikit mempercepat jalanku.”
“Kau berlari?”
“Ah tidak sunbae. Kebetulan tadi aku agak dekat dengan tempat ini.”
“Begitukah? Oh.. Kau silahkan duduk.”
“Oh.. Ne (iya).” Sambil menganggukkan kepala.
Setelah memesan beberapa
makanan dan minuman. Joongki sunbae telah membuat pertanyaan yang mungkin agak
sulit untuk kujawab.
“Kau sebenarnya ada hubungan apa dengan Myung Soo?” Melihatku dengan
tatapan penasaran.
“Mengapa membahas yang lain. Bukankah sunbae akan membicarakan
tentang ekstra fotografi?”
“Ah.. Kau itu orangnya sangat komitmen sekali rupannya.”
“Maksud sunbae?”
“Ya.. Kau memang wanita yang tidak gampang bosa-basi. Langsung to the point.”
“Oh.. Ya semacam itulah.”
Setelah beberapa menit
kemudian kami membahas hal tentang ekstra dalam kampus. Seseorang datang
menghampiriku. Ia adalah Ken. Teman seperjuanganku yang tadi pagi ia tidak
hadir dalam kelas.
“Kau menjatuhkan ini?” Menyodorkan airphone.
“Oh.. Kau menemukannya.” Kaget dan merasa senang.
“Ne.. Apa yang membuat kau sampai tak menyadari bahwa kenangan dari
hyungmu telah kau jatuhkan.”
“Haishh.. Kau sangat berlebihan sekali.”
“Tapi.. Gumawo (Terimakasih).” Balasku dengan tersenyum.
Ken hanya tersenyum.
“Aku boleh bergabung.”
Joongki yang melihat mereka berdua hanya merasa ia diabaikan.
“Oh.. Tentu.” jawabku dengan tersenyum.
“Oh.. Kau Joongki sunbae?” Melihat Joongki dengan tatapan senang.
“Ne..” Tersenyum.
“Jadi kalian berdua . . . .”
Seseorang berteriak dengan
keras dari arah pintu. Aku spontan berbalik arah. Dan ternyata itu adalah Lee
Yu Ri dengan Kim Co Ara. Aku melihatnya sepertinya sebentar lagi merasa ingin
dibunuh oleh Yuri. Karena aku bersama seseorang yang disukainya.
“Jadi kau berhianat seperti itu Jiwon!” Menghampiriku dengan
berteriak.
Beberapa sebagian orang
melihat kejadian itu dan aku merasa malu sekali karena aku merasa kambing hitam
di sini. Sesampainya Yuri dihadapanku. Ia merasa marah sekali padaku. Ken dan
Joongki merasa bingung dan wajah mereka saat kulihat ingin sekali membantuku.
Tapi Yuri bersikeras memarahiku dan memakiku di depan orang-orang yang melihat
kejadian itu. Mereka bingung yang dimaksudkan itu siapa. Aku mengerti maksud
dari Yuri karena aku dan Yuri sudah beranggapan dan satu konteks denganku tidak
dengan yang lain. Jadi wajar mereka bingung dan hanya diam saja.
“Ada apa ini. Mengapa kau datang tiba-tiba memarahi Jiwon seperti
itu?” Joongki mulai membantuku.
“Kau tahu dia merebut pria yang kusuka!” Masih membentak.
“Maksudmu? Pria yang ini yang kau maksud.” Menunjuk Ken.
Ken yang berada disitu hanya merasa tambah bingung lagi.
“Ah! ini apa sih. Ya! kau
Yuri kau kenapa!” Kembali membalas dengan tegas.
“Ya! Kau Ken, kau jangan ikut campur! Kau diam saja.”
“Hah.. Bagaimana aku bisa diam jika kelakuanmu ini seperti anak
kecil.”
Aku merasa ingin meneteskan airmata saja
di tempat itu. Aku berharap kejadian ini segera berlalu. Tiba tanpa aku sadari
Coara telah pergi keluar dan kembali bersama L sunbae. Entah bagaimana aku
mengatakannya. Aku melihatnya semakin menangis dan bibirku tidak dapat berkata
apa-apa aku hanya menangis dan menangis melihat itu semua.
“Happy birthday Jiwon.. Happy birthday Jiwon..” L sunbae tersenyum,
menghampiriku dengan membawa kue.
Aku tetap menangis dan tidak bisa
berbuat apa-apa. Aku sesenggukkan dan punggungku merasa ada yang membelai saat
aku tengah membenamkan badanku dengan kedua tanganku. Aku menangis terdengar
dengan keras sekali. Mengapa harus melakukan kekonyolan seperti ini. Ini sangat
berlebihan dan sangat membuatku parah. Aku tidak bisa menahan tangis ini.
Mereka yang melihat kejadian yang mereka
belum ketahui merasa kesal dan hanya mengganggu saja. Namun beberapa lagi
tengah dikagetkan dan merasa senang dan terharu.
Aku masih tertunduk dan menangis. Aku
tidak bisa menahannya. Aku berpikir ingin membunuh mereka satu persatu.
“Happy birthday Jiwon… Happy birthday Jiwon.. Kami menyayangimu Jiwon.”
Kudengar Coara tersenyum meringis padaku.
“Ya..Ya..Ya.. Kau bangun Jiwon, Aku ingin melihat matamu yang bengkak
itu.” Menggodaku dengan meringis keras.
“Ya! Kau tahu aku akan membunuhmu nanti.” Membangunkan kepala dan
mulai memarahi mereka yang membuatku menangis.
Joongki yang berada disitu ia hanya
tersenyum karena Jiwon terlihat lucu saat menangis dan sesenggukkan seperti
itu. Senyumnya membuatku merasa tentram aku merasakannya waktu itu.
Begitupun Ken yang berada disitu hanya
bingung dan merasa tidak dihiraukan sama sekali. Ia hanya bertingkah heboh dan
merasa “Ada apa ini”
“Haish… Mengapa kalian tidak memberitahuku. kalau kalian akan
mengerjai Jiwon seperti ini. Ah! Kalian memang tidak berguna sekali.” Ingin
pergi tetapi ditahan oleh Jiwon.
“Kau duduk saja Ken.” Masih dengan sesenggukkan.
Jiwon melihat L sunbae.
“Sunbae, mengapa berada disini.”
“Aku tidak mungkin melupakan ulang tahunmu Jiwon”
joongki pun melihatku dengan bingung.
"Ah.. L kau ternyata juga disini, ya?"
Tak lama Joongki menanyakan itu. Tiba-tiba ponsel
Joongki berdering. Dan sepertinya ada sesuatu yang mendesak. Tanpa berpikir
panjang ia pun segera pergi meninggalkan Dalkom caffe.
"Aku
sepertinya harus pergi, Jiwon" Melihatku dan bergegas pergi.
"Oh..
Baik. Kau hati-hati sunbae." Balasku dengan tersenyum.
~
Beberapa menit Joong ki meninggalkan tempat itu.
Mereka yang masih berada di sana. Merayakan ulang tahun Jiwon yang ke 20 tahun.
Mereka semua mencoba membuat Jiwon lemas dan tidak berdaya lagi. Karena ulah
teman-temannya itu dan L sunbae. Ken yang berada disitu hanya bisa memandang
Jiwon entah bagaimana keadaannya.
Beberapa menit kemudian setelah mereka merayakan
dan berfoto-foto. Mereka segera meninggalkan tempat itu dan bergegas untuk
pulang kerumah masing-masing. Hanya tinggal Jiwon, Ken, dan L. Pada akhirnya
yang melakukan pengantaran adalah L. Karena L menggunakan mobil tercepatnya
sehingga membuat rumah Jiwon terasa dekat. Ken pun bergegas untuk pergi duluan.
Seiring dengan berjalannya malam. Yuri dan Coara
tampak senang mengobrol dalam grup ponsel. Mereka membicarakan bahwa aku pantas
dan cocok sekali dengan L sunbae.
‘Hah.. menyebalkan sekali.’
Ada kata yang tidak bisa aku cerna dalam chat grup
tersebut. Kutipan itu berbunyi. "Hei.. Kau Jiwon. Kau membaca chatku kan.
Jangan sampai kau mencoba menghianatiku. Joongki sunbae adalah milikku".
Coara yang melihatnya mungkin agak terkejut dan membalasnya dengan kata singkat,
namun membuatku sangat kesal sekali.
"Wow...
Yuri ternyata kau menyukai Joongki sunbae. Hahaha... Awas kau! Kau harus
berjaga-jaga. Pasang pistolmu jika terjadi kesalahpahaman dengan perempuan
galak itu." Emotik tertawa.
Tiba
L sunbae mengagetkanku.
"Kenapa
wajahmu cemberut seperti itu." Melihatku dengan penasaran.
"Ah..
Tidak apa-apa." Hanya tersenyum.
L
diam. Dan kembali menyetir mobilnya.
Tiba sampai di depan rumah. Aku segera turun dari
mobil yang aku tumpangi dan bergegas untuk masuk kedalam. Karena cuaca di luar
sangat dingin dan semakin membuatku merasa kantuk. Aku hanya bilang terimakasih
kepada sunbae. Karena sudah mengantarku pulang. Ia membalas dengan tersenyum.
Lalu melanjutkan perjalannya.
Aku bergegas tertidur dan tidak memikirkan hal
lain. Karena aku merasa ini sudah waktunya dan aku segera membersihkan wajahku
untuk piknik ke bulan dengan wajah yang cantik nan menggemaskan ini.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar