Minggu, 11 Juni 2017

PART 1 Descendants Of The Sun Versi Wandagain



-Pertama kali Dan Aku Mengaguminya-
    
Sebuah jam pengingat dengan bunyi yang membuatku pusing kepala itu. Tak sadar telah aku lempar ke arah dinding samping dekat almari klasikku. Aku berlalu dan bergegas pergi ke kamar mandi. Niatku segera mandi dan membilas rambut yang beberapa hari tidak aku cuci. Senyumku menyeringai dengan otak yang sedikit licik.

“Kenapa keinginganku untuk mandi sangat antusias sekali. Padahal pikiranku meminta untuk keramas saja.”

     Helaan napasku panjang sekali. Melihat air saja aku sudah malas dan merasa kedinginan. Tanpa berpikir panjang. Lalu aku tancapkan gas untuk segera keramas saja. Dan mencuci muka.

     Makanan yang telah tersedia di meja makan hampir dingin. Kulihat ayah dan ibu sudah berangkat kerja. Aku menuju kamar hyungku, tetap saja ia tidak meninggalkan jejak dan kamar masih bersih dan rapi. Biasa orang itu datang, kamar sudah hampir seperti kapal pecah dan mayat-mayatnya tidak ditemukan. Kembaliku menuju dapur di sana aku menemukan kertas kecil yang berisikan catatan singkat dari ibu.

*Ji Won. Kau jangan lupa makan sebelum berangkat. Dan jangan lupa colokan yang tidak terpakai kau cabut saja. Hemat listrik ya nak #emoticsmile.*

“Haish... Sangat kekanak-kanakan sekali ibuku. Setiap harinya aku selalu diingatkan tentang hal ini. Hah...! Apakah ia tidak percaya bahwa aku punya daya ingat yang kuat. Haish! Benar-benar…” Merasa kesal.

     Sebelum bergegas untuk bersiap-siap. Aku masih memikirkan tentang mimpi semalam. Seseorang datang menemuiku dan tersenyum manis padaku. Aku seperti mengenalnya. Tapi siapa.

“Haish.. Membuatku sangat kesal.” Dengan menyantap roti yang sudah diberikan selai oleh ibunya sebelum berangkat kerja.

***

     Pagi ini membuatku sangat bersemangat sekali. Walaupun aku tidak mandi dan hanya membilas muka dan mencuci rambut saja. Ya seperti inilah penampilan untuk seorang wanita yang memiliki tipikal yang aneh dan sama sekali tidak membuat penampilan yang elegan. Padahal jurusan perkuliahannya Design. Tapi aku sama sekali tidak memperdulikannya. Karena aku sangat yakin. Akan ada seseorang yang menerimaku apa adanya suatu saat nanti. Jangan heran dan penasaran. Aku tetap wangi dan memiliki senyum yang manis.

     Musim salju telah tersambut olehku. Mereka turun layaknya menyapaku dengan sopan. Merasa seperti ratu dari kayangan, jika ku berjalan bersama salju yang putih dengan deraian yang berirama ini.Namun nyatanya aku bukan putrid yang turun dari kayangan. Tapi masih serendah dari putri.

     Gerbang Universitas Seoul telah terbuka lebar. Semester dua telah menyambutku dengan berbagai masalah sedikit. Sebenarnya tidak ingin ikut campur, tapi dia adalah temanku. Terpaksa aku harus membantunya.

“Kenapa?” Tanyaku pelan.

“Ah.. Ini Ji Won. Mereka telah menuduhku.” Merasa ketakutan.

“Maksudmu?” Agak kebingungan.

“Iya.. Kau tau sunbae Song Jong Ki?”

“Song Jong Ki!” Pikirku kemana-mana.

“Iya.. Aku dituduh telah merebut dia dari wanita ini.” Menunjuk lawan wanita yang menuduhnya.

“Hei! Memangnya kau siapa. Berani sekali menunjuk-nunjukku!” Kembali emosi.

“Hei.. Hei.. Hei.. Ya, sebentar. Kau jangan emosi dulu.” Balasku kepada lawan Lee Yu ri.
“Kau Yu Ri. Ikut denganku.” Mengandeng tangan Yu Ri lalu pergi dari tempat itu.

“Hei..!! Kalian berdua mau kemana!” Teriaknya masih terjangkau olehku. Namun aku hanya berlalu.

TAMAN KAMPUS 09:37 Am
    
“Kenapa bisa kau dituduh seperti itu?” Menatap Yu Ri.

Yu Ri hanya diam. Dan sepertinya memikirkan sesuatu.

“Kau dengar aku?” Menatap Yu Ri dalam.

“Jujur aku menyukai Sunbae Jong Ki. Tapi entah sunbae bagaimana denganku.” Merasa tak percaya diri.

“Ah! Kau ini bikin aku kaget saja.”
“Ehmm.. Jadi kau menyukainya?”

Yu Ri hanya mengangguk.

“Lalu.. Wanita itu?”

“Aku tidak tahu siapa dia. Yang jelas aku ingin bersaing dengannya.” Percaya dirinya kembali.

“Wah.. Kau sudah dewasa ya rupanya...” Aku tersenyum padanya.
“Yasudah.. Ayo kita masuk kelas dulu. Nanti kau ceritakan kembali.”

Yu Ri kembali hanya mengangguk.

     Belum sampai di depan kelas Design. Aku melihat dari arah barat. Seseorang yang telah diperebutkan oleh temanku dan lawannya itu telah berjalan menujuku. Entah aku sama sekali tidak menyadarinya. Apalagi percaya.

“Kau Lee Ji Won?” Tanyanya dengan menunjukku sopan.

“Oh.. Ya, kau benar.” Hatiku tak menyangka. Bahwa aku dapat bertemu dia di awal semester dua ini.

“Ah.. Baguslah kalau begitu.”

     Aku melihat teman sebelahku. Sangat kecentilan dan seperti cacing kepanasan. Senyum-senyum dan tertawa meringis sendiri membuatku rasanya jijik. Dan aku merasakan getaran asmaranya terdengar oleh telingaku. Seakan mengaung layaknya harimau ingin beranak. Ia melihat Song Jong Ki dengan tatapan yang dalam penuh cinta. Tak sedetik pun ia berkedip. Benar-benar sudah gila Yu Ri.

“Ah.. Maaf. Kau siapa, ya?” Aku berpura-pura tidak tahu.

Yu Ri mencubitku.
“Dasar kau! Ia sunbae Jong Ki. Ah! Benar-benar kau ini!” Membisikiku dengan raut wajah yang kesal.

Song Jong Ki melihat kita kebingungan.

“Kenapa kalian jadi main bisik-berbisik, ya?” Dia tersenyum menatap Jiwon dan Yuri

“Ah.. Hahaha.. Maaf. Jadi kau siapa, ya?” Kembali aku membuat temanku kesal.

Yu Ri mencubitku kembali dan cubitannya ini sangat terasa sakit sekali dari sebelumnya.

“Aw..Kenapa sih kau ini!" Merasa kesakitan.

Song Jong Ki melihat kami dengan tertawa kecil.
“Ya.. Kalian ini seperti anak kecil saja.”
“Perkenalkan aku Song Jong Ki. Dari Fakultas Psikologi. Dan masih semester empat.” Menyodorkan tangannya.

“Oh.. Sunbae.” Melihat Yu Ri dengan mata meledek.
“Jadi kau lelaki yang disukai oleh teman yang berada di sebelahku ini?” Tambahnya dengan senyum meledek.

Yu Ri merasa malu dan membalas Jiwon dengan mata melotot.

“Eh.. maaf. Maksudnya.” Balasnya dengan senyum kebingungan. Pula dengan melihat teman yang berada di sebelahku.

‘Ah.. Bagaimana ia sangat kebingungan sekali seperti itu’
“Ah.. Maaf-maaf. Jadi aku melupakanmu. Kau yang menolongku saat semester awal kemarin, kan?” Mencoba berbosa-basi. Agar Yu Ri tambah merajuk dan sedikit lebih tenang. Tidak malu lagi.

Dasar! Akan aku bunuh kau Jiwon!!!’ Teriak Yuri dalam hati. Berharap Jiwon mendengarnya.

“Oh.. Ya..Ya. Kau sudah mengingatnya?” Balasnya dengan tertawa manis.

“Ehm.. Kenapa kita hanya berdiri saja. Jika masih banyak yang ingin sunbae katakan. Kita bersantai saja dulu.”

Yu Ri kembali mengkerutkan dahinya.
‘Haish.. Benar-benar orang ini!’
Auh..’

“Ah.. Tidak. Aku hanya ingin menyapamu saja. Tapi sebenarnya ada yang ingin aku katakan. Kau ikut extra potografi, kan?”

“Oh.. Benar sekali.” Balasku dengan tersenyum.

Yu Ri semakin ingin mengakhiri hidupnya saja. Lelaki yang ia sukai malah ditikung oleh temannya sendiri. Raut wajahnya mengatakan seperti itu.

Hahaha…’ Melihat raut wajah Yu Ri yang semakin menipis seperti krisis uang.

“Yasudah.. Berikan aku nomormu. Dan sepulang kuliah nanti kau bisa menemuiku di Dalkom Café dekat kampus ini. Ok?”

“Oh.. Baiklah sunbae. Ini.” Aku memberikan ponselku padanya.

Song Jong Ki mencatat nomor teleponku.

Yu Ri yang berada di situasi seperti ini. Berusaha mengabaikannya dan tidak melakukan apa-apa. Karena merasa malu. Mulutnya kaku seakan diancam oleh rentenir. Aku melihatnya hanya tertawa saja.

“Ini..Nanti ku telpon.” Memberikan kembali ponselku dengan tersenyum manis sekali. Aku sangat ingat senyum itu. Kemudian ia pergi

“Ok.” Balasku dengan tersenyum manis juga. Tapi tidak manis juga sih.

     Kulihat Yu Ri menatapku tajam. Aku merasa sebentar lagi ia akan membunuhku. Aku tegakkan kepalaku. Dan kuanggap semuanya berjalan dengan lancar.

“Huh! Dasar teman penghianat!” Pergi.

“Hei.. Kau mau kemana?” Teriakku masih terjangkau oleh Yu Ri.

“jangan mendekatiku. Jika kau tak ingin aku bunuh!” Jawabnya dengan berteriak kesal.

Aku melihat adegan seperti itu hanya tersenyum dan berusaha bisa menyakinkan kembali nanti. Memang sangat lucu pertemananku ini.

“Huh.. Nampaknya ia benar-benar sedang jatuh cinta.” Tertawa tak yakin dengan berjalan menuju ruang kelas Design.

RUANG DESIGN 10:05 Am.

     Disana aku bertemu dengan Co Ara yang duduk di sebelah Yu Ri. Sepertinya Yu Ri tidak mengatakan apa-apa kepada Co Ara. Aku bersyukur.Karena aku benar-benar tak ingin melukai perasaan Yu Ri.

     Aku mencari tempat kursi yang masih berdekatan dengan Yu Ri. Saat ia aku lihat dengan wajahku yang sedang berjalan menuju wajahnya, ia hanya berpaling. Dan tak ingin melihatku. Co Ara pun kaget.

“Kenapa..” Berbisik. Dengan sedikit menggunakan kode mata yang mengarah ke Yu Ri.

“Biasa. Ia lagi kedatangan tamu. Hahaha.....” Aku tertawa tanpa sepengetahuan Yu Ri.

“Oh…Pantesan.. Hihihi.” Co Ara hanya mengangguk dengan sedikit tertawa juga.

PERKULIAHAN DIMULAI 10:25 Am.

     Di dalam ruang kelas aku dengan teman sebelahku hanya mengoceh saja. Karena aku merasa ada yang aneh. Benar. Lee Jae Hwan (Ken) tidak hadir hari ini. Aku memikirkannya. Yang benar saja. Awal perkulihan semester dua kenapa ia tidak hadir. Justru malah absen.

Apakah ada masalah dengannya?’ Tanyaku dalam hati. Dengan raut wajah yang mencemaskannya.

     Tanpa aku sadari namaku telah terpanggil oleh dosen. Karena aku hanya bengong dan menggerutu yang tidak pasti. Terpaksa aku dikeluarkan dari ruang kelas. Dan untungnya mata kuliah yang bukan menguntungkan buatku. Huh.. Jadi aku merasa aman dan lega. Tapi sial sekali awal pertama masuk telah diusir dosen dari ruang kelasku sendiri. Semuanya mentertawakanku dan tetap saja Yu Ri tidak melihatku. Padahal aku melihatnya. Co Ara yang melihatku hanya memberikan senyum semangat padaku. Aku membalasnya dengan senyum semnagat juga. Walau sebenarnya hati ini merasa dihianati.

     Di depan kelas membuatku suntuk sekali. Aku terpicu bunga yang bermekaran di seberang Fakultas Ilmu Budaya. Tempatnya tidak jauh dari jangkauan kelasku. Aku memutuskan untuk pergi menyapanya perlahan.

     Sesampainya aku menemukan bunga tulip yang warnanya sangat cerah dan menggoda iman ini. Ingin kupetik, untukku simpan dalam museum klasikku. Tapi yang tertulis disana adalah “Jangan memetik bunga disini. Jika tak ingin tanganmu terpotong” Ah.. siapa yang menulis kutipan yang menakutkan seperti ini. Dan terpaksa aku mengambil ponsel dari tasku dan memotretnya satu-persatu dengan backround rumput hijau yang bergoyang.

     Aku merasakan ada seseorang yang datang dari arah belakangku. Aku berbalik tenyata benar. Dia adalah Kim Myung Soo alias L nama populernya. Dia adalah seniorku dulu di Sekolah Menengah Atas di Gangnam. Ia memiliki wajah yang elegan. Postur tubuh bagus dan sekali tersenyum banyak mawar-mawar yang leleh.

     Tapi ia tetap bertahan dengan satu titik dimana hati itu tidak beranjak dari kemanapun. Aku.. Akulah orang yang disukai oleh sunbae L sejak masa Sekolah Menengah Atas dulu. Entah bagaimana ia masih menyukaiku. Padahal ia telah aku anggap sebagai hyungku sendiri. Benar.  Aku teringat. Hyungku seangkatan dengan sunbae L. Ah jadi memikirkan hyungku lagi. Kemana ia? Tidak bekerja ataupun meneruskan sekolahnya. Dasar. Bisanya hanya menguras dan meminta-minta saja kepada ayah dan ibu.
    
     Sunbae L di sini juga menjadi seniorku. Ia sama dengan sunbae Jong Ki. Di Fakultas sama dan semester yang sama. Banyak sekali yang menyukai mereka berdua. Ah.. Aku sangat iri sekali.

Kembali.
“Sunbae..” Melihat orang itu dan mengakhiri potretannya.

“Kau tidak ada kelas?” Duduk. Karena dekat jangkauan bunga ada beberapa tempat duduk yang sudah lama disediakan.

“Hehe.. Aku telah membuat kesalahan. Jadi terpaksa aku dikeluarkan dari ruang kelas. Huh.. Merasa dihianati sekali sih.” Menghela napas panjang.
“Lalu kau sendiri. Kenapa berada di sini?” Balasnya dengan penasaran.

“Aku tidak ada kelas.”

“Ah.. Begitu, ya?”
Berarti sunbae Jong Ki juga tidak ada kelas.’

“Kau sedang memikirkan apa?” Melihatku.

“Ah..Tidak sunbae.” Kembali berlalu.

“Eh.. Ji.. W-.” Terpotong.

     Tiba-tiba ponselku berdering dan aku tengah kaget. Segera aku membukannya dan ternyata nomor baru yang masuk dalam ponselku.

“Ah.. Sebentar sunbae.” Mengaktifkan ponselnya.
“Ternyata hanya miscall. Dasar!” Kembaliku letakkan dalam tas. Dan kemudian bergetar. Aku merasakannya.
“Ah.. Sebentar sunbae.” Tersenyum melihat L.

~Kau ada dimana? Sudah selesai mata kuliahmu? Aku ingin menemuimu di taman dekat Fakultas Ilmu Budaya.~

‘Sunbae Jong Ki.’ Aku hanya tersenyum.
~Baiklah.. Aku sudah berada di sini.~

~
Jong ki segera turun dari lantai tiga ke lantai satu untuk segera menemui Ji Won yang berada di taman menunggunya. Namun setengah dari perjalanannya. Ia dihentikan oleh seorang wanita yang seksi dengan body yang sempurna. Ia bernama Choi Sa Rang. Fakultas Design angkatan semester empat. Senior Ji Won. Banyak sekali yang telah memperebutkan lelaki tampan ini Song Jong Ki. Begitupun perempuan seksi itu.

Wanita itu segera menggandeng tangan Jong Ki.

“Ah.. Kau ini sedang apa!”

“Kau tidak mengantarku pulang?”

“Ah.. Aku ada tugas yang mendesak. Jadi kau lepaskan tanganmu dari lenganku. Atau aku paksa tarik tanganmu dari lenganku!”

Wanita itu melepaskannya.

Song Jong Ki kembali berjalan menuju taman. Dengan terburu-buru.

“Dasar! Jual mahal sekali dia. Heh!” Sinis.

     Tapi wanita itu tetap mengikuti Song Jong Ki dari belakang. Tanpa sepengetahuan Song Jong Ki. Wajahnya sepeti harimau yang ingin segera menerka mangsanya.

     Terlihat dari jauh. Song Jong Ki merasa kenal dengan lelaki yang bersebelahan dengan Ji Won. Postur tubuh yang ideal membuat Jong Ki merasa bahwa ia adalah L atau Kim Myung Soo. Jong Ki bertanya-tanya. Mengapa L bersama Ji Won. Apakah mereka sudah saling mengenal.

‘Ah.. Yasudahlah. Memangnya Ji Won siapaku?’ Gerutu dalam hati.

     Tepat di depan mereka berdua Jong Ki menyapa Ji Won dan L. L pun tidak menyangka bahwa akan ada Jongki di sini dan bahkan sudah saling mengenal satu sama lain dengan Jiwon. L merasa curiga. Kenapa tiba-tiba Jongki bisa sedekat itu dengan Jiwon. L merasa punya saingan.

“Duduk..Di sini sunbae.” Mempersilahkan duduk kepada Jongki.

‘Sunbae?’ L melihat Jiwon dengan raut wajah tidak menyangka.

Jongki duduk diantara mereka berdua Jiwon dan L.

~
     Perempuan yang berusaha mengikuti Jongki akhirnya mengetahui sebenarnya urusan yang mendesak itu dimana dan seperti apa. Dan ternyata ia merasa dibohongi dan segera menghampiri mereka bertiga.

“Apa ini yang kau maksud tugas mendesak!” Menatap Jongki tajam.

“Ya. Jadi kau mengikutiku?”

Jiwon hanya diam dan sedikit demi sedikit ia mengingat siapa wanita yang berdiri di depannya itu. Setelah berusaha keras memikirkannya. Akhirnya ia menemukan jawaban. Bahwa wanita itu adalah seniornya di Sekolah Menengah Atas sama dengan sunbae L. Dan lebih parahnya lagi ia adalah mantan kekasih L sunbae.

Aku hanya terdiam tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Aku merasa ia sedikit-sedikit melirikku dengan mata yang tajam. Mmebuatku sangat gugup dan kaki bergetar.

Karena mereka bertengkar. Entah mereka mempunyai hubungan apa sebenarnya. Aku tak ingin mengetahuinya. Dan segera tanganku ditarik oleh L sunbae. Sepertinya aku ingin diajak ia pergi meninggalkan mereka berdua.

“Ayo kita pergi. Ada pengantin baru yang telah mengalami pertikaian.” Menggandeng tangan Jiwon.

Jiwon hanya meng-iyakan gandengan itu dan segera beranjak pergi. Namun wanita itu telah membalas penyataan dari L tersebut.

“Tunggu. Kau bilang apa!” Mendekati L. L pun masih memegangi tangan Jiwon.

L hanya melirik dengan santai.

“Ah.. Jangan-jangan kau masih berharap denganku?” Tersenyum sinis.

“Apa.. Aku masih mengharapkanmu?” Balasnya dengan tertawa lelucon.

Cho Sa Rang hanya terdiam dan melihat L dengan mata ketus.

Song Jong Ki yang merasa pusing diantara mereka bertiga. Lalu ia mensegerakan pergi saja dari tempat itu. Namun ditahan oleh Choi Sa Rang.

“Jongki! Kau mau kemana?” Menarik tangan Jongki.

Jongki hanya berlalu.

     Jiwon yang berada diantara mereka bertiga merasa seperti di dalam drama yang saling tarik-menarik. Entah drama apa. Tapi Jiwon melepaskan tangannya dalam genggaman L.

“Oh.. Sunbae. Tolong lepaskan tanganku.”

L melepaskannya.

“Tunggu. Aku seperti mengenalmu.” Melihat wajah Jiwon.

Jiwon pun tak takut untuk menegakkan kepalanya menghadap wanita galak itu.

“Ah.. Kau Jiwon. Dari desa seberang yang tanpa lampu benderang itu kan. Heh..!!” Senyum sinis.

“Apa yang kau maksud!” Melirik tajam mata Choi Sa Rang.

“Hahaha… Aku benar, kan?”

“Ah.. Sunbae mari kita pergi saja dari sini.” Merasa kesal dan lalu pergi.

L melihat Choi Sa Rang sejenak dan bergegas pergi mengikuti Jiwon.

“Heh.. Kau ternyata masih hidup Jiwon!” Pikirnya licik.

     Entah aku ingin kemana waktu itu bersama sunbae L. Aku menyusuri jalan sempit dan berkeliling kampus. Hanya untuk menyegarkan pikiranku agar lebih tenang kembali. L sunbae hanya berdiam tanpa berbicara sepatah katapun saat mengikuti di belakangku. Entah maunya apa orang itu.

     Aku berpikiran untuk mentraktir L sunbae segelas cappuccino. Karena aku juga merasa lapar.

KANTIN KAMPUS 11:22 Am.
~
     L yang tidak menyadari terus mengikuti Jiwon. Pada akhirnya ia tetap mengikuti dan berhenti di kantin untuk membeli sesuatu yang enak dimakan ataupun diminum.

“Sunbae. Aku akan mentraktirmu. Jadi kau duduklah sebentar.”

L hanya meng-iyakan tawaran Jiwon.

“Sunbae. Sebenarnya kau masih mengharapkan sunbae Sarang?”

“Haish.. Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu. Apakah kau mentraktirku dengan sogokan?”

“Ahehe.. Akhirnya kau hidup juga. Jadi seperti apa aku ingin mendengar ceritamu kembali seperti waktu lalu.”

FLASHBACK SMA GANGNAM – KANTIN SEKOLAH – 11:23 AM – 2015.

     Setelah mengetahui apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu. L sunbae yang menjadi teman akrab dan sekalian tetanggaku ini menceritakan hubungannya dengan Choi Sa Rang yang waktu lalu dilanda badai. Sedikit demi sedikit aku mendengarkannya dengan penuh haru dan aku merasa kasihan dengan cerita mereka berdua. Yang aku tahu L sunbae adalah lelaki yang setia dan penuh perhatian. Tapi mengapa Choi Sa Rang gampang sekali memutuskannya karena hanya lelaki lain yang lebih beruang dan mempunyai mobil mewah. Aku sih takkan mau dengan lelaki yang banyak uang dan mobilnya mewah. Karena mungkin itu bukan hasil dari kerja kerasnya, melainkan hasil kerja keras tangan kedua orang tuanya. Kenapa aku berkata seperti ini. Karena tak mungkin anak SMA sudah mendapatkan segalanya seperti itu. Kalau bukan kekayaan dari kedua orang tuanya.

     Ia sempat menangis menceritakan hal yang telah mereka jalani selama hampir dua tahun terkahir ini. Tapi tidak di kantin. Ini di tempat yang berbeda. Taman Gangnam. Anginnya sejuk dan mendesahkan keringat yang menetes. Baru kali ini aku melihat lelaki yang meneteskan airmatanya demi orang yang dia suka. Ini menandakan tulus sekali. Jadi kalian tolong. Jangan pernah buat pasangan lelakimu menangis karena hanya dirimu yang egois.

     Beberapa waktu pekan. Ia sempat tak ingin sekolah, karena hal sebodoh itu. Hah.. Bagaimana aku bisa menenangkannya. Aku teringat bahwa ia akan segera melaksanakan Ujian Nasionalnya (UN-umumnya). Sekuat tenaga apapun aku lakukan untukknya. Deminya bisa bangkit dan tidak terpuruk lagi karena perempuan yang tidak tahu berterimakasih. Sayang sekali, kenapa kau disia-siakan seperti itu sunbae.

     UN telah berhasil ia selesaikan. Pengumuman akan segera di beritahukan kepada seluruh siswa dan akan disegerakan acara pelepasan seluruh siswa. Begitupun penyambutan siswa baru. Dalam perpisahan nanti. Aku akan menampilkan akustik dan lagu. Aku persembahkan untuk L sunbae yang telah mengalami kegagalan cinta. Lagu itu berjudul “You Are My Everything” aku menyukainya dan tak kusangka L sunbae menghampiriku untuk kolaborasi denganku. Ah rasanya waktu itu aku malu sekali. Kenapa tiba-tiba. Apakah ini rencana sunbae untuk membuat cemburu Sarang dan membuatnya kesal, karena telah menyia-yiakan dirinya. Positifku memang seperti itu. Mereka yang melihat aksi kami berdua bertepuk tangan dan aku merasa canggung karena diteriakki oleh teman seperjuangannya L sunbae.

     Usia perpisahan. Aku menunggunya di lobi depan kelas. Beberapa menit kemudian, L sunbae menghampiriku. Aku melihat ia sangat kelelahan dan segera menggandengku. Entah mengapa secepat itu gandeng-menggandengnya. Dan aku harap ini hanya perasaan malasnya yang tidak ingin berjalan sendiri. Aku hanya meng-iyakan gandengan itu. Di seberang jalan aku melihat dan merasakan ada seseorang yang melihatku yang tengah digandeng oleh L sunbae. Aku hanya berlalu saja. Mungkin itu mantan kekasih L sunbae.

“Sebenarnya kau ingin mengajakku kemana?” Tanyaku dengan wajah penasaran.

“Aku lapar.” Jawabnya dengan santai.

“Kau tahu, ada yang melihat kita.”

“Ya aku tahu.” Menggenggam tanganku lebih erat lagi.

Hemm.. Mengapa semakin erat. Bukankah ini hanya rencananya saja untuk membuat Sarang cemburu?’ Tanya dalam hatiku.

COFFE BY

     Sesampainya di Coffe By aku dengan L sunbae memesan minuman dan makanan sebanyak mungkin. Karena hari ini adalah hari perayaan sunbae lulus dari SMA Gangnam. Banyak sekali yang aku pesan dan hampir saja perutku sakit. Aku terus mendengarkan cerita dari sunbae mengapa ia bertindak seperti itu tadi. Ia hanya merasa nyaman saja. Aku hanya berlalu saja. Karena memang sunbae takkan pernah bisa dipercaya. Dia memang keterlaluan kalau sudah melakukan hal lelucon.

“Sunbae? Aku ingin bertanya sesuatu denganmu.” Meminum cappuccino.

“Apa?” Melihatku.

“Kau benar sudah tidak ada hubungan lagi dengan sunbae Sarang?” Agak ragu-ragu mengatakkannya.

“Ya! Kenapa kau bertanya itu lagi.” Melihatku kesal.

“Ahahaha.. Maafkan aku. Bukan maksudku seperti itu. Ah ya sudah lupakan.” Meminum cappuccino kembali.

     Setelah beberapa menit kami membahas tentang hal lain. Kami bergegas untuk pulang. Karena hari semakin larut dan mungkin akan segera hujan. Kami berjalan perlahan dan tiba-tiba hujan segera turun dan deras sekali. Aku berpikir ini akan memakan waktu yang lama. Padahal tempat tinggalku masih agak jauh. Karena bersama sunbae aku jadi merasa agak terlindungi. Walau sebenarnya ia mempunyai karakter dan sifat yang sangat aku benci. Menyebalkan sekali dan selalu keras kepala itu. Setelah beberapa menit hujan yang masih belum reda itu. Kembali aku menanyakan sesuatu.

“Sunbae?”

“Apa lagi?”

“Mengapa kau sensitive seperti itu? Aku hanya ingin menanyakan sesuatu tentang hyungku? Kau tahu apa yang dia lakukan selama sekolah dan satu ruangan denganmu? Apakah dia anak yang nakal? Dan sering membuat onar didalam kelas? Hum?” Melihat sunbae.

“jadi… Kau tertarik dengan cerita hyungmu saat ini?” Melihatku dengan tersenyum sinis.

“Oh.. Tentu. Diakan hyungku.”

“Bukankah kau membencinya dan lebih menyukai diriku.” Candaanya.

“Kenapa tiba-tiba tersenyum dan ingin membuka mulutmu. Bukankah kau terkenal dengan sifat yang cuek itu. Ah kau benar-benar misterius.” Gerutuku dengan melihat tatapan tajam sunbae.

“Hei.. Kau terlalu menilaiku diluar saja.”

“Benar. Kau memang seperti itu.”

“Jadi.. Kau ingin aku beritahu tentang hyungmu, tidak?”

“Ya. Cepat!” Merasa sia-sia.

Beberapa detik kemudian….
    
     Tampak wajah L sunbae sepertinya ada penyesalan. Aku melihatnya dengan pasti. Bahwa L sunbae dulu pernah menjadi temain baiknya hyungku.

“Waktu itu.. Kita memang sangat dekat sekali. Selebihnya kita adalah saudara yang layak dalam pertempuran dan bekerja sama. Namun seorang lelaki baru saja dipindahkan dalam ruang kelas kita namanya Bang Yong Guk. Entah bagaimana hyungmu itu dekat sekali dengannya. Seperti sudah mengenal lama. Dan saat ada pameran kemarin sebelum perpisahan. Aku melihat hyungmu tengah dihajar oleh sekelompok Bang Yong Guk. Entah mereka berasal darimana, tapi aku benar melihatnya bahwa yang bersama hyungmu itu adalah Bang Yong Guk. Aku ingin menolongnya, namun seseorang telah membantunya. Ia bernama Han Sang Hyuk. Beberapa anggota yang menghajar hyungmu itu lari entah kemana. Namun sebelum melarikan diri, mereka memberi salam hormat kepada Han Sang Hyuk. Aku berpikir mengapa seperti itu. Dan sampai sekarang hyungmu pun tidak datang diacara perpisahan sekolah. Aku sempat mengirimkan pesan, tapi tetap saja ia tidak membalasnya. Jadi kau merindukan hyungmu, Jiwon?” Melihatku dengan tatapan lembut.

“Heemm…” Aku mengangguk dengan membalas tatapan lembut itu.
“Huh…” Menghela napas.

“Kau tenang saja. Hyungmu akan kembali.”

“Iya.. Aku percaya itu.”

Sunbae tiba-tiba memegang tanganku dengan tatapan senyum. Lalu memandang ke arah yang luas yang berada di depannya. Aku hanya berlalu saja. Mungkin ini adalah penenang untukku. Agar tidak selalu memikirkan hyungku dengan keras.

Tanpa kami sadari hujan pun segera mereda perlahan. Aku bergegas berdiri dan sunbae telah mengikutiku. Dalam perjalanan pulang. Seseorang di dalam mobil telah meludahi kami tepat di depan kami. Dan untung saja tidak terkena wajah kami. Pikirku waktu itu adalah, mengapa masih saja ada orang yang tidak mempunyai sopan santun. Sunbae waktu itu mulai emosi, namun aku tahan dengan kode mataku. Ia berbalik kebelakang dan aku pun mengikutinya. Ternyata yang berada dalam mobil itu adalah Choi Sa Rang. Mantan kekasih L sunbae, yang beberapa waktu lalu telah menghianati L sunbae.

Setelah wanita galak itu pergi. Kita memulai perjalanan kembali menuju tempat tinggal kami. Setelah sampai di depan rumahku. Aku memutuskan segera masuk ke dalam. Tanpa membiarkan L sunbae mampir dulu sebentar. Aku merasa agak canggung waktu itu. Jadi aku hanya membiarkannya segera pulang saja. Lagi pula rumah kita sama-sama dekat hanya jarak beberapa rumah saja.


***

     Keesokan harinya aku mendapatkan pesan singkat dari L sunbae. Yang berisikan semangat dan motivasi. Pikirku, orang ini sudah hidup kembali rupanya. Padahal ia baru saja mendapatkan kegagalan cinta. Tapi mengapa ia lebih memberikan semangat padaku tidak dengan dirinya sendiri.

      Belum aku balas. Seseorang menelponku…

Dreeett…. Dreeeettt… Dreeett…
Aku membaca nama penelpon itu.

“Sunbae Jong?”
END FLASHBACK

“Apa katamu?”

“Ah.. Tidak. Ini ada yang menelponku. Sebentar.”

-
^Halo?^

^Kau dimana? Aku ingin bertemu denganmu? Kau bisa datang. Dalkom Caffe.^

^Oh.. Baik aku segera kesana sunbae.^

Song Joong ki menutup telponnya.

-
“Ah.. Sunbae aku ada urusan yang mendesak. Jadi aku pergi dulu. Kita sambung untuk lain kali. Ok”

~
     L yang belum membalas maksud dari Jiwon. Akhirnya ia hanya diam dan merasa kesepian waktu itu. Ia merasa telah ditinggal lagi oleh Jiwon.

***
~
     Jiwon yang berlari tengah cepat sekali waktu itu. Membiarkan airphonenya telah jatuh. Ia tidak menyadari sama sekali. Saat sampai di Dalkom Caffe ia baru menyadari bahwa ia tengah kehilangan airphone yang dulu saat masih Sekolah Menengah Pertama hyungnya memberikan kado ulang tahunnya dengan benda itu. Karena airphone itu sekarang menjadi temannya saat hyungnya tidak ada di sampingnya.


DALKOM COFFE

~
     Sesampainya di Dalkom Caffe Jiwon melihat satu-persatu orang yang berada duduk di kursi meja yang kosong. Ia melihat ke arah samping dekat papan quote. Pikirnya benar, bahwa yang duduk di sebelah sana adalah Song Joong Ki. Jiwon mendekati.

“Sunbae?”

Joongki berbalik arah.
“Oh.. Kau cepat sekali.”

“Ah.. Ya agak sedikit mempercepat jalanku.”

“Kau berlari?”

“Ah tidak sunbae. Kebetulan tadi aku agak dekat dengan tempat ini.”

“Begitukah? Oh.. Kau silahkan duduk.”

“Oh.. Ne (iya).” Sambil menganggukkan kepala.

     Setelah memesan beberapa makanan dan minuman. Joongki sunbae telah membuat pertanyaan yang mungkin agak sulit untuk kujawab.

“Kau sebenarnya ada hubungan apa dengan Myung Soo?” Melihatku dengan tatapan penasaran.

“Mengapa membahas yang lain. Bukankah sunbae akan membicarakan tentang ekstra fotografi?”

“Ah.. Kau itu orangnya sangat komitmen sekali rupannya.”

“Maksud sunbae?”

“Ya.. Kau memang wanita yang tidak gampang bosa-basi. Langsung to the point.”

“Oh.. Ya semacam itulah.”

     Setelah beberapa menit kemudian kami membahas hal tentang ekstra dalam kampus. Seseorang datang menghampiriku. Ia adalah Ken. Teman seperjuanganku yang tadi pagi ia tidak hadir dalam kelas.

“Kau menjatuhkan ini?” Menyodorkan airphone.

“Oh.. Kau menemukannya.” Kaget dan merasa senang.

“Ne.. Apa yang membuat kau sampai tak menyadari bahwa kenangan dari hyungmu telah kau jatuhkan.”

“Haishh.. Kau sangat berlebihan sekali.”
“Tapi.. Gumawo (Terimakasih).” Balasku dengan tersenyum.

Ken hanya tersenyum.

“Aku boleh bergabung.”

Joongki yang melihat mereka berdua hanya merasa ia diabaikan.

“Oh.. Tentu.” jawabku dengan tersenyum.

“Oh.. Kau Joongki sunbae?” Melihat Joongki dengan tatapan senang.

“Ne..” Tersenyum.

“Jadi kalian berdua . . . .”

     Seseorang berteriak dengan keras dari arah pintu. Aku spontan berbalik arah. Dan ternyata itu adalah Lee Yu Ri dengan Kim Co Ara. Aku melihatnya sepertinya sebentar lagi merasa ingin dibunuh oleh Yuri. Karena aku bersama seseorang yang disukainya.

“Jadi kau berhianat seperti itu Jiwon!” Menghampiriku dengan berteriak.

     Beberapa sebagian orang melihat kejadian itu dan aku merasa malu sekali karena aku merasa kambing hitam di sini. Sesampainya Yuri dihadapanku. Ia merasa marah sekali padaku. Ken dan Joongki merasa bingung dan wajah mereka saat kulihat ingin sekali membantuku. Tapi Yuri bersikeras memarahiku dan memakiku di depan orang-orang yang melihat kejadian itu. Mereka bingung yang dimaksudkan itu siapa. Aku mengerti maksud dari Yuri karena aku dan Yuri sudah beranggapan dan satu konteks denganku tidak dengan yang lain. Jadi wajar mereka bingung dan hanya diam saja.

“Ada apa ini. Mengapa kau datang tiba-tiba memarahi Jiwon seperti itu?” Joongki mulai membantuku.

“Kau tahu dia merebut pria yang kusuka!” Masih membentak.

“Maksudmu? Pria yang ini yang kau maksud.” Menunjuk Ken.

Ken yang berada disitu hanya merasa tambah bingung lagi.
“Ah! ini apa sih. Ya! kau Yuri kau kenapa!” Kembali membalas dengan tegas.

“Ya! Kau Ken, kau jangan ikut campur! Kau diam saja.”

“Hah.. Bagaimana aku bisa diam jika kelakuanmu ini seperti anak kecil.”

Aku merasa ingin meneteskan airmata saja di tempat itu. Aku berharap kejadian ini segera berlalu. Tiba tanpa aku sadari Coara telah pergi keluar dan kembali bersama L sunbae. Entah bagaimana aku mengatakannya. Aku melihatnya semakin menangis dan bibirku tidak dapat berkata apa-apa aku hanya menangis dan menangis melihat itu semua.

“Happy birthday Jiwon.. Happy birthday Jiwon..” L sunbae tersenyum, menghampiriku dengan membawa kue.

Aku tetap menangis dan tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sesenggukkan dan punggungku merasa ada yang membelai saat aku tengah membenamkan badanku dengan kedua tanganku. Aku menangis terdengar dengan keras sekali. Mengapa harus melakukan kekonyolan seperti ini. Ini sangat berlebihan dan sangat membuatku parah. Aku tidak bisa menahan tangis ini.

Mereka yang melihat kejadian yang mereka belum ketahui merasa kesal dan hanya mengganggu saja. Namun beberapa lagi tengah dikagetkan dan merasa senang dan terharu.

Aku masih tertunduk dan menangis. Aku tidak bisa menahannya. Aku berpikir ingin membunuh mereka satu persatu.

“Happy birthday Jiwon… Happy birthday Jiwon.. Kami menyayangimu Jiwon.” Kudengar Coara tersenyum meringis padaku.

“Ya..Ya..Ya.. Kau bangun Jiwon, Aku ingin melihat matamu yang bengkak itu.” Menggodaku dengan meringis keras.

“Ya! Kau tahu aku akan membunuhmu nanti.” Membangunkan kepala dan mulai memarahi mereka yang membuatku menangis.

Joongki yang berada disitu ia hanya tersenyum karena Jiwon terlihat lucu saat menangis dan sesenggukkan seperti itu. Senyumnya membuatku merasa tentram aku merasakannya waktu itu.

Begitupun Ken yang berada disitu hanya bingung dan merasa tidak dihiraukan sama sekali. Ia hanya bertingkah heboh dan merasa “Ada apa ini”

“Haish… Mengapa kalian tidak memberitahuku. kalau kalian akan mengerjai Jiwon seperti ini. Ah! Kalian memang tidak berguna sekali.” Ingin pergi tetapi ditahan oleh Jiwon.

“Kau duduk saja Ken.” Masih dengan sesenggukkan.

Jiwon melihat L sunbae.
“Sunbae, mengapa berada disini.”

“Aku tidak mungkin melupakan ulang tahunmu Jiwon”

"Ah.. Benar begitu." Sambil melirik Joongki sunbae.

joongki pun melihatku dengan bingung.
"Ah.. L kau ternyata juga disini, ya?"

Tak lama Joongki menanyakan itu. Tiba-tiba ponsel Joongki berdering. Dan sepertinya ada sesuatu yang mendesak. Tanpa berpikir panjang ia pun segera pergi meninggalkan Dalkom caffe.

"Aku sepertinya harus pergi, Jiwon" Melihatku dan bergegas pergi.

"Oh.. Baik. Kau hati-hati sunbae." Balasku dengan tersenyum.
~
Beberapa menit Joong ki meninggalkan tempat itu. Mereka yang masih berada di sana. Merayakan ulang tahun Jiwon yang ke 20 tahun. Mereka semua mencoba membuat Jiwon lemas dan tidak berdaya lagi. Karena ulah teman-temannya itu dan L sunbae. Ken yang berada disitu hanya bisa memandang Jiwon entah bagaimana keadaannya.

Beberapa menit kemudian setelah mereka merayakan dan berfoto-foto. Mereka segera meninggalkan tempat itu dan bergegas untuk pulang kerumah masing-masing. Hanya tinggal Jiwon, Ken, dan L. Pada akhirnya yang melakukan pengantaran adalah L. Karena L menggunakan mobil tercepatnya sehingga membuat rumah Jiwon terasa dekat. Ken pun bergegas untuk pergi duluan.

Seiring dengan berjalannya malam. Yuri dan Coara tampak senang mengobrol dalam grup ponsel. Mereka membicarakan bahwa aku pantas dan cocok sekali dengan L sunbae.

‘Hah.. menyebalkan sekali.’

Ada kata yang tidak bisa aku cerna dalam chat grup tersebut. Kutipan itu berbunyi. "Hei.. Kau Jiwon. Kau membaca chatku kan. Jangan sampai kau mencoba menghianatiku. Joongki sunbae adalah milikku". Coara yang melihatnya mungkin agak terkejut dan membalasnya dengan kata singkat, namun membuatku sangat kesal sekali.

"Wow... Yuri ternyata kau menyukai Joongki sunbae. Hahaha... Awas kau! Kau harus berjaga-jaga. Pasang pistolmu jika terjadi kesalahpahaman dengan perempuan galak itu." Emotik tertawa.

Tiba L sunbae mengagetkanku.

"Kenapa wajahmu cemberut seperti itu." Melihatku dengan penasaran.

"Ah.. Tidak apa-apa." Hanya tersenyum.

L diam. Dan kembali menyetir mobilnya.

Tiba sampai di depan rumah. Aku segera turun dari mobil yang aku tumpangi dan bergegas untuk masuk kedalam. Karena cuaca di luar sangat dingin dan semakin membuatku merasa kantuk. Aku hanya bilang terimakasih kepada sunbae. Karena sudah mengantarku pulang. Ia membalas dengan tersenyum. Lalu melanjutkan perjalannya.

Aku bergegas tertidur dan tidak memikirkan hal lain. Karena aku merasa ini sudah waktunya dan aku segera membersihkan wajahku untuk piknik ke bulan dengan wajah yang cantik nan menggemaskan ini.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar