Malam yang
sudah hampir larut menyisakkan kabut gelap dengan desahan angin semilir
mengalir merdu di atas lorong-lorong ruang yang sempit ini. Dimana aku masih
terjaga oleh pintu yang bertuliskan “OPEN” kerut dahiku seakan ingin
mengantarkan aku segera tertidur. Ocehan binatang malam sempat menakutiku,
namun aku hanya bisa berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa. Aku menunggu
Dokter Larasati untuk ku ajak sedikit berbincang mengenai pasien-pasien yang
mengandung.
Pekerjaanku
juga mewakili diriku yang ingin sekali menyembuhkan para pasien yang
membutuhkan pertolonganku. Aku melakukan ini karena aku sadar bahwa masa laluku
memang buruk dan menyombongkan diri karena uang. Hal tersebut ingin aku
hapuskan dari pikiranku, yang kemungkinan perjalananku akan di mulai tanpa
pamrih atau uang lagi. Aku sadar memang uang itu bukan segalanya, karena
kebahagiaan itu juga tak harus di beli dengan uang. Kesederhanaan pun mampu
menciptakan kebahagiaan.
Pekerjaanku ini memang tidak mudah untukku. Namun, dengan
adanya Dokter Larasati dan Dokter Surya, aku melakukannya dengan sangat yakin
dan terasa mudah. Beberapa pasien yang bermasalah dengan kandungannya telah aku
pecahkan bersama kedua dokter tersebut. Tapi entah mengapa aku selalu berkata
salah saat berbicara kepada Dokter Larasati. Itu selalu membuatku bingung dan
selalu bertanya-tanya.
Banyak sekali yang mendukungku sebagai pengganti Dokter
Larasati penyelamat wanita-wanita yang mengandung. Tapi, disisi lain aku
terkadang sangat takut dengan Dokter Larasati. Aku merasa ia tidak menyukaiku
saat pertama kali aku berada disini. Aku merasa selalu ingin menyainginya untuk
memperoleh jabatan yang lebih tinggi dan baik untuk Rumah Sakit ini.
***
Pagi telah berlalu, segera ku beranjak dari tempat tidur.
Aku sekali merasakan desahan kicauan burung yang bercengkrama dalam jangkaun
jendela yang terlintas. Celoteh burung-burung yang sedari tadi telah berirama
dengan alunan yang bernada tanpa jeda membuatku terus menari. Lalu membawaku
terpaku dalam detik melankoli yang menyeruap hangat dalam ingatan. layaknya
rindu merindukan rindu itu adalah candu terbesar dalam diriku pada masa lalu.
Aku tenggelam dalam masa dulu, mengingat percintaan yang membuatku merasa gagal
menjadi seorang wanita. Untuk itu aku ingin berusaha menjadi yang terbaik untuk
sekarang.
Hari ini aku mendapatkan pesan, bahwa pada pukul 10.00
siang nanti ada pasien yang ingin melahirkan, dan keluarga mereka ingin aku
yang menanganinya. Entah mengapa harus diriku. Padahal Dokter Larasati juga
lebih bisa cepat menanganinya.
Setelah usai bersiap-siap. Aku kembali terlambat menyeduh
kopi yang sudah di buatkan oleh Bibi Inah. Lalu kemudian aku bergegas untuk
berangkat kerja. Ku lihat ayah termenung di teras, raut wajahnya seakan rindu
dengan ibu yang meninggal 5 tahun yang lalu. Tinggal bersama ayah dan bibi itu
membuatku merasa bahwa ada ibu. Namun, sedikit aku menghawatirkannya. Tanyaku
selalu kepada ayah, kenapa ayah terkadang memikirkan masa lalunya. Mengapa sama
sepertiku?.
“Ayah.. Bella berangkat dulu”
Sapaku dengan lirih.
“Oh.. Bella, kau sudah ingin
berangkat” Terkejut.
“Iya Ayah..” Mencium tangan.
“Kau hati-hati ya nak..”
Tersenyum. Aku pun membalasnya dengan tersenyum manis.
***
Tak sadar gumamku sepanjang jalan telah mengantarkanku
sampai ke tempat dimana aku bekerja “Rumah Sakit Pelita Harapan”, dari arah
yang tak terduga tiba-tiba suster memanggil untuk aku menangani pasien yang
ingin melahirkan sekarang pada Pukul 10.00, Tanggal 10, Bulan 10 dan Tahun
2010. Tersamar aku melihat dari kejauhan Dokter Surya dan Dokter Larasati telah
berbincang dengan seorang pasien yang ingin melahirkan di tahun ini. Ku dengar
mereka menakut-nakuti bahwa bayi yang sebelum tanggalnya lahir akan cacat dan
perkembangannya sangat buruk. Tiba-tiba gertakku…
“Mari ikut saya, kita langsung
saja menyiapkan ruang operasi” Kuambil alih dengan yakin. Pasien yang bersama
orang tuanya itu berantusias sekali. Namun di titik lain ku lihat Dokter Surya
dan Dokter Larasati merasa aneh dan kebingungan. Beberapa dokter menemaniku
untuk membantu jalannya operasi.
Selang
beberapa waktu, operasi telah selesai. Aku merasa lega karena dengan bantuan
dokter lain aku merasa yakin bahwa penyelamat orang itu adalah keajaiban dalam
hidupku.
“Dok. Selamat ya” Sapa
beberapa dokter.
“Dokter Bella selamat ya Dok”
Sapa Dokter Larasati.
“Selamat Dok” Lanjut Dokter
Surya.
“Hehe.. Iya Dok. Terimakasih
kembali karena Dokter Surya dan Dokter Larasati telah membantu saya. Mungkin
jika tidak ada Dokter. Aku merasa kuwalahan.
Usai berbincang sedikit mereka meninggalkanku. Tetapi
sedikit mengganjal, karena beberapa pertanyaan belum tersampaikan untuk Dokter
Larasati.
***
Saat
berjalan di lorong koridor rumah sakit aku berjalan bertemu dengan Dokter
Larasati yang mungkin telah usai mengobati pasiennya. Dan kulihat ia berbincang
dengan seorang laki-laki. Segera aku menyimpulkan bahwa ia adalah kekasihku
Alfian namanya.
“Dokter Larasati” Panggilku
dengan pelan.
“Iya, Dokter Bella. Sudah mau
pulang?” Berhenti berjalan.
“Yo..yo..yo.. Bella kekasihku.
Mari kita pulang” Tersenyum menyapaku.
“Iya Dok” Jawabku dengan
tersenyum. “Fian!. Udah ngobrol rupanya. Kenalin Dok Ini pacar saya. Fian
kenalin ini Dokter Larasati” Mereka berdua saling berjabat tangan.
“Yo..yo..yo, saya Alfian Dok,
nama dokter cantik sekali” Sedikit merayu.
Dokter Larasati hanya
tersenyum.
“Ya sudah Dok, kita bicara
besok saja, sekarang saya dan Alfian jalan dulu” Tersenyum.
“Ok, kalian hati-hati” Membalas
senyuman Bella.
“Yo..yo..yo.. Nice to meet you
Dok” Mulai pergi.
“Yo..yo.yo.. too” Sedikit
tertawa namun ia tahan. Dalam batin Dokter Larasati, tidak menyangka seorang
gadis yang anggun dan elegan seperti itu mendapatkan lelaki yang bisa di maksud
lucu dan aneh seperti dia.
Setelah
pulang dari rumah sakit. Sesampai di depan rumah, aku sudah mendengar suara
piano dengan di iringi suara yang agak melankolis itu, sedikit lebih dekat dari
jangkauanku, aku berjalan dengan perlahan melihat bahwa yang memainkan piano
itu adalah ayahku dengan irama yang beralunan merdu dengan di temani ribuan
cahaya yang menenggelamkan malam.
“Ayah belum tidur..?” Memeluk
dari belakang.
“Belum nunggu anakku yang
cantik pulang, hehehe.. Bagaimana pekerjaanmu” Melihat Bella dengan tatapan
halus dan tersenyum.
“Apaan sih Ayah,” Tersenyum
kecil. Hening sejenak… “Ayah masih cinta Ibu?” Melihat poto keluarga.
“Tentu aku mencintai Ibumu”
“Ayah punya masalalu?”
Lanjutku dengan lirih.
“Iya, itu masih waktu ayah
remaja sayang, kamu tau dalam hati ayah ada tiga wanita, yaitu ibuku, ibumu dan
kau anakku. Aku pun tersenyum haru, kemudian secara instan aku memeluk ayahku.
“Ayah besok bisa jemput Bella?”
Melepaskan pelukan.
“Iya, besok Ayah akan jemput
kamu” Tersenyum manis.
“Ya sudah, Bella tidur dulu ayah”
Bergegas pergi. Ayah tersenyum.
***
Pagi yang
cerah telah mengantarkanku ke tempat dimana aku menginginkan kehidupanku yang
lebih baik lagi dari sebelumnya. Sesampainya tiba di rumah sakit. Aku berjalan
menuju koridor dan menemukan ruang Dokter Larasati untuk menyambung
perbincangan yang kemarin sempat tertunda tanpa sengaja. Tetapi tanpa ku sadari
aku telah di panggil dahulu oleh Dokter Larasati. Kemudian aku memulai
perbincangan kembali.
“Dokter, terimakasih atas
kerjasamanya..” Dokter Larasati hanya tersenyum halus. Sambil berjalan bersama
mereka mulai berbincang-bincang.
“Dokter Surya sudah lama
bekerja disini dengan anda ?” Lanjutku dengan penasaran.
“Iya, aku dengan Dokter Surya
bekerja disini sudah hampir cukup lama”
“Apa tidak ada rencana untuk
pensiun?” Mendadak wajah Dokter Larasati seakan terkejut dengan pertanyaanku
yang mungkin kurang sopan.
“Saya memang suka dengan orang
yang blak-blakan. Namun tidak berlebihan seperti ini” berhenti sejenak dan
memandangku dengan tatapan serius. Lalu Dokter Larasati segera pergi.
Aku yang
hanya melongo melihat Dokter Larasati yang salah paham dengan ucapanku, lalu
aku merasa sedikit bersalah karena dia bisa ku sebut dengan seniorku di
pekerjaan ini. Namun, ya sudahlah batinku saja merasa bahwa kalau aku memang
tipe orang yang berlebihan.
‘Hah.. Apakah aku masih belum bisa berubah untuk kesombanganku?’.
***
Setelah aku
memeriksa beberapa pasien, aku sempatkan beristirahat dahulu dengan sedikit
makan yang bergizi. Aku lihat ada Dokter Surya yang makan dengan ditemani
kesendiriannya. Aku sedikit meminta untuk di perbolehkan duduk bersama dengan
Dokter Surya dan memulai pembicaraanku. Di tengah-tengah keasyikan mengobrol aku
menemukan sisi dimana Dokter Surya seperti Ayah saya.“Dokter Surya seperti Ayah
saya..” Menatap Dokter Surya dengan lirih. Dokter Surya membalas dengan
senyuman lembut.
***
Entah apa
yang memberanikanku untuk menemui Dokter Larasati. Aku hanya ingin meminta maaf
atas apa yang aku lakukan kepada Dokter Larasati. Mungkin hatinya merasa bahwa
ia sangat kecewa padaku. Perlahan aku menghampiri Dokter Larasati di ruang yang
sering ia di jumpai banyak pasien yang mengeluh atas kandungan. Aku permisi dan
mulai pembicaraan inti. Aku telah membahas dengan panjang lebar, namun entah
bagaimana aku merasa diriku ingin selalu menyaingi Dokter Larasati.
“Dok. Maafkan perkataanku
tadi” Sedikit canggung mengatakannya.
“Kenapa? tidak ada yang perlu
di maafkan” Tersenyum kecil.
“Ini yang membuatku selalu
ingin menyaingi anda Dok” Diam sejenak... “Dok. kita memang mempunyai masa lalu
yang kelam, namun apakah kita masih harus terjerumus ke dalam sana?”
“Entahlah, tapi aku tetap
ingin membantu pasien-pasienku dulu”
“Dok! Dokter harus memikirkan
keadaan dokter dulu baru ke pasien-pasien kita Dok. Kita juga butuh waktu untuk
menenangkan diri agar semua yang kita inginkan berjalan dengan lancar” Seruku
dengan antusias.
“Kamu benar Dokter Bella… Tapi…”
Tiba-tiba suara suster terdengar jelas bahwa ada salah satu pasien yang
mengalami pendarahan hebat di pukul tengah malam seperti ini. Akhirnya aku
dengan Dokter Larasati segera menemui dan bersiap-siap untuk menuju ruang
operasi.
Nyawa melayang dan tak terselamatkan. Pasien yang katanya
penuh dengan dramatisir dalam rumah tangganya ini telah meninggal dunia. Aku
lihat suami yang penuh wajah yang berkelainan seks ini merasa sangat menyesal
dan takkan bisa terobati penyesalannya. Polisi telah membawanya dan semua yang
berada disitu mengalami ketegangan.
Kulihat ayah telah menunggu dengan duduk di lobi koridor
depan ruang mawar. Ku panggil ayah dan menceritakan semua yang terjadi hari
ini, malam ini. Tak lama ku lihat juga Dokter Larasati keluar dari ruang dimana
pasien yang baru saja meninggal itu bersama adik pasien. Terlihat jelas mengapa
Dokter Larasati kaget terkejut saat melihat ku dengan ayahku. Hatiku
bertanya-tanya apakah ayahku adalah masa lalu Dokter Larasati dan kemudian
sebaliknya. Ayahku perlahan mendekati dan memanggil nama Dokter Larasati.
Pertanyaan sudah terjawab dengan pasti. Aku mengambil alih untuk memeriksa
kembali mayat Ibu Riri, dengan bersama adiknya itu.
Entah apa yang di lakukan dan di perbincangkan oleh ayah
dan Dokter Larasati. Aku tidak begitu penasaran, karena mungkin aku sudah
merasa lega masa lalu sudah terjawab. dan pekikku menjawab semuanya akan
baik-baik saja. Semoga setelah ini aku dapat hidup dengan tenang dan
mendapatkan pringkat yang terbaik dari Tuhan. Karena aku adalah perempuan dan
aku merasa bahwa aku adalah ketangguhan yang terandalkan. Bagiku menjadi
perempuan adalah yang berharga layaknya melakolis yang di rindukan dalam hitam
putih kehidupan. Masa lalu memang masa lalu. Ku tak selalu hidup di dunia
hitam. Karena aku juga mampu hidup di dunia putih.
–The End—
Penulis abal-abal yang selalu
berantusias menghibur dirinya sendiri dengan kata-kata ajaib tapi kenyataannya
palsu belaka ini adalah penyuka bakso dan terlahir di kota paling pelosok,
Bojonegoro, kanor. Hobinya adalah selalu mencoret-coret dengan tinta di atas
layar yang mencerminkan dirinya bahwa dirinya adalah perempuan tangguh yang
selalu dekat dengan Tuhannya. itu bulshit! Cerita terbanyak di blog yang sampai
sekarang masih bersarang layaknya rumah spiderman. Motto hidupnya adalah Nama
lain dari keajaiban adalah kerja keras. Hidupnya masih labil dan masih
mendramatisir. Puisi dan cerpennya selalu di tujukan kepada kekasihnya yang
bernama Dodik Pratama. Katanya “Dengan adanya dirimu, hidupku tak kehabisan
untuk menulis”. Mari berteman kawan…. J
Blog :
wandagain.blogspot.com
Wattpad+Instagram
: wandagain
Email :
wandawulandar@yahoo.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar