Rabu, 25 Januari 2017

Melankoli Hitam Putih ( Improv dari Film 7 hati 7 cinta 7 wanita )



Malam yang sudah hampir larut menyisakkan kabut gelap dengan desahan angin semilir mengalir merdu di atas lorong-lorong ruang yang sempit ini. Dimana aku masih terjaga oleh pintu yang bertuliskan “OPEN” kerut dahiku seakan ingin mengantarkan aku segera tertidur. Ocehan binatang malam sempat menakutiku, namun aku hanya bisa berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa. Aku menunggu Dokter Larasati untuk ku ajak sedikit berbincang mengenai pasien-pasien yang mengandung.
Pekerjaanku juga mewakili diriku yang ingin sekali menyembuhkan para pasien yang membutuhkan pertolonganku. Aku melakukan ini karena aku sadar bahwa masa laluku memang buruk dan menyombongkan diri karena uang. Hal tersebut ingin aku hapuskan dari pikiranku, yang kemungkinan perjalananku akan di mulai tanpa pamrih atau uang lagi. Aku sadar memang uang itu bukan segalanya, karena kebahagiaan itu juga tak harus di beli dengan uang. Kesederhanaan pun mampu menciptakan kebahagiaan.
            Pekerjaanku ini memang tidak mudah untukku. Namun, dengan adanya Dokter Larasati dan Dokter Surya, aku melakukannya dengan sangat yakin dan terasa mudah. Beberapa pasien yang bermasalah dengan kandungannya telah aku pecahkan bersama kedua dokter tersebut. Tapi entah mengapa aku selalu berkata salah saat berbicara kepada Dokter Larasati. Itu selalu membuatku bingung dan selalu bertanya-tanya.
            Banyak sekali yang mendukungku sebagai pengganti Dokter Larasati penyelamat wanita-wanita yang mengandung. Tapi, disisi lain aku terkadang sangat takut dengan Dokter Larasati. Aku merasa ia tidak menyukaiku saat pertama kali aku berada disini. Aku merasa selalu ingin menyainginya untuk memperoleh jabatan yang lebih tinggi dan baik untuk Rumah Sakit ini.
***
            Pagi telah berlalu, segera ku beranjak dari tempat tidur. Aku sekali merasakan desahan kicauan burung yang bercengkrama dalam jangkaun jendela yang terlintas. Celoteh burung-burung yang sedari tadi telah berirama dengan alunan yang bernada tanpa jeda membuatku terus menari. Lalu membawaku terpaku dalam detik melankoli yang menyeruap hangat dalam ingatan. layaknya rindu merindukan rindu itu adalah candu terbesar dalam diriku pada masa lalu. Aku tenggelam dalam masa dulu, mengingat percintaan yang membuatku merasa gagal menjadi seorang wanita. Untuk itu aku ingin berusaha menjadi yang terbaik untuk sekarang.
            Hari ini aku mendapatkan pesan, bahwa pada pukul 10.00 siang nanti ada pasien yang ingin melahirkan, dan keluarga mereka ingin aku yang menanganinya. Entah mengapa harus diriku. Padahal Dokter Larasati juga lebih bisa cepat menanganinya.
            Setelah usai bersiap-siap. Aku kembali terlambat menyeduh kopi yang sudah di buatkan oleh Bibi Inah. Lalu kemudian aku bergegas untuk berangkat kerja. Ku lihat ayah termenung di teras, raut wajahnya seakan rindu dengan ibu yang meninggal 5 tahun yang lalu. Tinggal bersama ayah dan bibi itu membuatku merasa bahwa ada ibu. Namun, sedikit aku menghawatirkannya. Tanyaku selalu kepada ayah, kenapa ayah terkadang memikirkan masa lalunya. Mengapa sama sepertiku?.
“Ayah.. Bella berangkat dulu” Sapaku dengan lirih.
“Oh.. Bella, kau sudah ingin berangkat” Terkejut.
“Iya Ayah..” Mencium tangan.
“Kau hati-hati ya nak..” Tersenyum. Aku pun membalasnya dengan tersenyum manis.
***     
            Tak sadar gumamku sepanjang jalan telah mengantarkanku sampai ke tempat dimana aku bekerja “Rumah Sakit Pelita Harapan”, dari arah yang tak terduga tiba-tiba suster memanggil untuk aku menangani pasien yang ingin melahirkan sekarang pada Pukul 10.00, Tanggal 10, Bulan 10 dan Tahun 2010. Tersamar aku melihat dari kejauhan Dokter Surya dan Dokter Larasati telah berbincang dengan seorang pasien yang ingin melahirkan di tahun ini. Ku dengar mereka menakut-nakuti bahwa bayi yang sebelum tanggalnya lahir akan cacat dan perkembangannya sangat buruk. Tiba-tiba gertakku…
“Mari ikut saya, kita langsung saja menyiapkan ruang operasi” Kuambil alih dengan yakin. Pasien yang bersama orang tuanya itu berantusias sekali. Namun di titik lain ku lihat Dokter Surya dan Dokter Larasati merasa aneh dan kebingungan. Beberapa dokter menemaniku untuk membantu jalannya operasi.
            Selang beberapa waktu, operasi telah selesai. Aku merasa lega karena dengan bantuan dokter lain aku merasa yakin bahwa penyelamat orang itu adalah keajaiban dalam hidupku.
“Dok. Selamat ya” Sapa beberapa dokter.
“Dokter Bella selamat ya Dok” Sapa Dokter Larasati.
“Selamat Dok” Lanjut Dokter Surya.
“Hehe.. Iya Dok. Terimakasih kembali karena Dokter Surya dan Dokter Larasati telah membantu saya. Mungkin jika tidak ada Dokter. Aku merasa kuwalahan.
            Usai berbincang sedikit mereka meninggalkanku. Tetapi sedikit mengganjal, karena beberapa pertanyaan belum tersampaikan untuk Dokter Larasati.
***
Saat berjalan di lorong koridor rumah sakit aku berjalan bertemu dengan Dokter Larasati yang mungkin telah usai mengobati pasiennya. Dan kulihat ia berbincang dengan seorang laki-laki. Segera aku menyimpulkan bahwa ia adalah kekasihku Alfian namanya.
“Dokter Larasati” Panggilku dengan pelan.
“Iya, Dokter Bella. Sudah mau pulang?” Berhenti berjalan.
“Yo..yo..yo.. Bella kekasihku. Mari kita pulang” Tersenyum menyapaku.
“Iya Dok” Jawabku dengan tersenyum. “Fian!. Udah ngobrol rupanya. Kenalin Dok Ini pacar saya. Fian kenalin ini Dokter Larasati” Mereka berdua saling berjabat tangan.
“Yo..yo..yo, saya Alfian Dok, nama dokter cantik sekali” Sedikit merayu.
Dokter Larasati hanya tersenyum.
“Ya sudah Dok, kita bicara besok saja, sekarang saya dan Alfian jalan dulu” Tersenyum.
“Ok, kalian hati-hati” Membalas senyuman Bella.
“Yo..yo..yo.. Nice to meet you Dok” Mulai pergi.
“Yo..yo.yo.. too” Sedikit tertawa namun ia tahan. Dalam batin Dokter Larasati, tidak menyangka seorang gadis yang anggun dan elegan seperti itu mendapatkan lelaki yang bisa di maksud lucu dan aneh seperti dia.
Setelah pulang dari rumah sakit. Sesampai di depan rumah, aku sudah mendengar suara piano dengan di iringi suara yang agak melankolis itu, sedikit lebih dekat dari jangkauanku, aku berjalan dengan perlahan melihat bahwa yang memainkan piano itu adalah ayahku dengan irama yang beralunan merdu dengan di temani ribuan cahaya yang menenggelamkan malam.
“Ayah belum tidur..?” Memeluk dari belakang.
“Belum nunggu anakku yang cantik pulang, hehehe.. Bagaimana pekerjaanmu” Melihat Bella dengan tatapan halus dan tersenyum.
“Apaan sih Ayah,” Tersenyum kecil. Hening sejenak… “Ayah masih cinta Ibu?” Melihat poto keluarga.
“Tentu aku mencintai Ibumu”
“Ayah punya masalalu?” Lanjutku dengan lirih.
“Iya, itu masih waktu ayah remaja sayang, kamu tau dalam hati ayah ada tiga wanita, yaitu ibuku, ibumu dan kau anakku. Aku pun tersenyum haru, kemudian secara instan aku memeluk ayahku.
“Ayah besok bisa jemput Bella?” Melepaskan pelukan.
“Iya, besok Ayah akan jemput kamu” Tersenyum manis.
“Ya sudah, Bella tidur dulu ayah” Bergegas pergi. Ayah tersenyum.
***
Pagi yang cerah telah mengantarkanku ke tempat dimana aku menginginkan kehidupanku yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Sesampainya tiba di rumah sakit. Aku berjalan menuju koridor dan menemukan ruang Dokter Larasati untuk menyambung perbincangan yang kemarin sempat tertunda tanpa sengaja. Tetapi tanpa ku sadari aku telah di panggil dahulu oleh Dokter Larasati. Kemudian aku memulai perbincangan kembali.
“Dokter, terimakasih atas kerjasamanya..” Dokter Larasati hanya tersenyum halus. Sambil berjalan bersama mereka mulai berbincang-bincang.
“Dokter Surya sudah lama bekerja disini dengan anda ?” Lanjutku dengan penasaran.
“Iya, aku dengan Dokter Surya bekerja disini sudah hampir cukup lama”
“Apa tidak ada rencana untuk pensiun?” Mendadak wajah Dokter Larasati seakan terkejut dengan pertanyaanku yang mungkin kurang sopan.
“Saya memang suka dengan orang yang blak-blakan. Namun tidak berlebihan seperti ini” berhenti sejenak dan memandangku dengan tatapan serius. Lalu Dokter Larasati segera pergi.
Aku yang hanya melongo melihat Dokter Larasati yang salah paham dengan ucapanku, lalu aku merasa sedikit bersalah karena dia bisa ku sebut dengan seniorku di pekerjaan ini. Namun, ya sudahlah batinku saja merasa bahwa kalau aku memang tipe orang yang berlebihan.
‘Hah.. Apakah aku masih belum bisa berubah untuk kesombanganku?’.
***
Setelah aku memeriksa beberapa pasien, aku sempatkan beristirahat dahulu dengan sedikit makan yang bergizi. Aku lihat ada Dokter Surya yang makan dengan ditemani kesendiriannya. Aku sedikit meminta untuk di perbolehkan duduk bersama dengan Dokter Surya dan memulai pembicaraanku. Di tengah-tengah keasyikan mengobrol aku menemukan sisi dimana Dokter Surya seperti Ayah saya.“Dokter Surya seperti Ayah saya..” Menatap Dokter Surya dengan lirih. Dokter Surya membalas dengan senyuman lembut.
***
Entah apa yang memberanikanku untuk menemui Dokter Larasati. Aku hanya ingin meminta maaf atas apa yang aku lakukan kepada Dokter Larasati. Mungkin hatinya merasa bahwa ia sangat kecewa padaku. Perlahan aku menghampiri Dokter Larasati di ruang yang sering ia di jumpai banyak pasien yang mengeluh atas kandungan. Aku permisi dan mulai pembicaraan inti. Aku telah membahas dengan panjang lebar, namun entah bagaimana aku merasa diriku ingin selalu menyaingi Dokter Larasati.
“Dok. Maafkan perkataanku tadi” Sedikit canggung mengatakannya.
“Kenapa? tidak ada yang perlu di maafkan” Tersenyum kecil.
“Ini yang membuatku selalu ingin menyaingi anda Dok” Diam sejenak... “Dok. kita memang mempunyai masa lalu yang kelam, namun apakah kita masih harus terjerumus ke dalam sana?”
“Entahlah, tapi aku tetap ingin membantu pasien-pasienku dulu”
“Dok! Dokter harus memikirkan keadaan dokter dulu baru ke pasien-pasien kita Dok. Kita juga butuh waktu untuk menenangkan diri agar semua yang kita inginkan berjalan dengan lancar” Seruku dengan antusias.
“Kamu benar Dokter Bella… Tapi…” Tiba-tiba suara suster terdengar jelas bahwa ada salah satu pasien yang mengalami pendarahan hebat di pukul tengah malam seperti ini. Akhirnya aku dengan Dokter Larasati segera menemui dan bersiap-siap untuk menuju ruang operasi.
            Nyawa melayang dan tak terselamatkan. Pasien yang katanya penuh dengan dramatisir dalam rumah tangganya ini telah meninggal dunia. Aku lihat suami yang penuh wajah yang berkelainan seks ini merasa sangat menyesal dan takkan bisa terobati penyesalannya. Polisi telah membawanya dan semua yang berada disitu mengalami ketegangan.
            Kulihat ayah telah menunggu dengan duduk di lobi koridor depan ruang mawar. Ku panggil ayah dan menceritakan semua yang terjadi hari ini, malam ini. Tak lama ku lihat juga Dokter Larasati keluar dari ruang dimana pasien yang baru saja meninggal itu bersama adik pasien. Terlihat jelas mengapa Dokter Larasati kaget terkejut saat melihat ku dengan ayahku. Hatiku bertanya-tanya apakah ayahku adalah masa lalu Dokter Larasati dan kemudian sebaliknya. Ayahku perlahan mendekati dan memanggil nama Dokter Larasati. Pertanyaan sudah terjawab dengan pasti. Aku mengambil alih untuk memeriksa kembali mayat Ibu Riri, dengan bersama adiknya itu.
            Entah apa yang di lakukan dan di perbincangkan oleh ayah dan Dokter Larasati. Aku tidak begitu penasaran, karena mungkin aku sudah merasa lega masa lalu sudah terjawab. dan pekikku menjawab semuanya akan baik-baik saja. Semoga setelah ini aku dapat hidup dengan tenang dan mendapatkan pringkat yang terbaik dari Tuhan. Karena aku adalah perempuan dan aku merasa bahwa aku adalah ketangguhan yang terandalkan. Bagiku menjadi perempuan adalah yang berharga layaknya melakolis yang di rindukan dalam hitam putih kehidupan. Masa lalu memang masa lalu. Ku tak selalu hidup di dunia hitam. Karena aku juga mampu hidup di dunia putih.



–The End—








            Penulis abal-abal yang selalu berantusias menghibur dirinya sendiri dengan kata-kata ajaib tapi kenyataannya palsu belaka ini adalah penyuka bakso dan terlahir di kota paling pelosok, Bojonegoro, kanor. Hobinya adalah selalu mencoret-coret dengan tinta di atas layar yang mencerminkan dirinya bahwa dirinya adalah perempuan tangguh yang selalu dekat dengan Tuhannya. itu bulshit! Cerita terbanyak di blog yang sampai sekarang masih bersarang layaknya rumah spiderman. Motto hidupnya adalah Nama lain dari keajaiban adalah kerja keras. Hidupnya masih labil dan masih mendramatisir. Puisi dan cerpennya selalu di tujukan kepada kekasihnya yang bernama Dodik Pratama. Katanya “Dengan adanya dirimu, hidupku tak kehabisan untuk menulis”. Mari berteman kawan…. J


Blog : wandagain.blogspot.com
Wattpad+Instagram : wandagain
Email : wandawulandar@yahoo.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar