Selasa, 18 Oktober 2016

ANALISIS KESALAHAN BAHASA PBSI B UNISDA LAMONGAN



MAKALAH
KETERAMPILAN MENULIS
ANALISIS KESALAHAN BAHASA
Dosen Pengampu
Iib Marzuqi, M.Pd.
                                   NAMA KELOMPOK 7
1.     Awanda Devi Wulandari
2.     Henti Aisatun
3.     Mahfud Fendy


PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS ISLAM DARUL ‘ULUM LAMONGAN (UNISDA)
Jln. Airlangga No.3 Sukodadi Lamongan
2016

BAB II
Keterampilan Menulis Dalam Pembelajaran Bahasa
2. Ejaan
 Ejaan adalah aturan pelambangan atau penggambaran bunyi-bunyi ujar suatu bahasa. Ejaan bahasa Indonesia yang berlaku dewasa ini disebut Ejaan Yang Disempurnakan (EyD). Dalam buku ini akan di bicarakan tiga hal tentang ejaan, yaitu (a) Penggunaan huruf, (b) Penulisan huruf, dan (c) Penulisan kata.
a)      Penggunaan Huruf
Dalam bahasa Indonesia terdapat 26 huruf, yaitu yang terbagi atas huruf vocal dan selebihnya termasuk huruf konsonan.

(1)   Penggunaan Huruf Vokal
Huruf vokal adalah bunyi yang keluar tanpa hambatan. Artinya, saat keluar, bunyi tanpa adanya penyempitan dan penutupan pada daerah artikulasi. Yang termasuk ke dalam bunyi ini adalah  a,i,u,e,dan o. Terdapat beberapa huruf vokal yang memiliki variasi fonetis. Kemudian huruf vokal e memiliki variasi /e/ (pada kata Apel) /E/ (pada kata Apel), atau vokal o memiliki variasi /O/ (pada kata pohon).
Dalam penggunaan huruf vokal dikenal juga istilah diftong atau vokal rangkap, yaitu au (pada kata gurau), ai (pada kata lebai), dan oi (pada kata asoi). Ciri utama diftong adalah dalam pengucapannya cukup dihembuskan satu nafas.
Kesalahan penggunaan huruf vokal dapat dilihat dibawah ini :
1)  Hamid dan Wafi pergi ke Indomart untuk membeli cemilan(1).
2) Adikku ingin pergi ke pantay(2).
3) Toha disuruh ibunya ke pasar untuk membeli cabe(3).
            Pada kata “Cemilan”, “Pantay”, dan  kata “Cabe” dalam  kaidah bahasa Indonesia tidak benar, seharusnya penulisan yang benar. Pelafalan ini merupakan perubahan fonem vokal /e/ menjadi vokal /a/, konsonan /y/ menjadi vokal /i/, dan vokal /e/ menjadi diftong /ai/. jadi pembenarannya adalah “Camilan”, “Pantai”, dan “ Cabai”.


(2)   Penggunaan Huruf Konsonan
Huruf konsonan adalah bunyi yang keluar terdapat hambatan. Artinya, saat keluar, bunyi terdapat penyempitan dan penutupan pada daerah artikulasi, misalnya huruf /c/ akan terbentuk setelah mendapat hambatan di ujung lidah, langit-langit dan gigi. Gigi sebagai articulator, sedang ujung lidah dan langit-langit sebagai titik artikulasi. Huruf-huruf yang termasuk ke dalam bunyi konsonan adalah huruf-huruf selain huruf vokal.
Jika pada penggunaan huruf vokal terdapat istilah vokal rangkap, pada bunyi konsonan juga terdapat istilah konsonan rangkap atau kluster. Pada diftong, rangkap yang dimaksud maksimal dua, sedangkan pada kluster maksimal tiga huruf, misalnya pada huruf eksposisi, …… dll. Terdapat kluster yang dihitung satu huruf dan tidak dapat di pisahkan, misalnya kluster /kh/,/sy/, /ng/, dan /ny/.
Terdapat ketentuan beberapa huruf konsonan dalam penggunaan, yaitu huruf /q/, /x/, /y/, dan /w/.
(a)      Huruf /q/ digunakan untuk penulisan kebutuhan ilmiah dan digunakan untuk menulis nama kita suci umat islam, yaitu Alquran atau Quran.
(b)      Huruf /x/ digunakan untuk menulis lambing-lambang kimia, misalnya Xenon serta untuk menulis nama diri, misalnya Alex, Maxico. Pada kata serapan, huruf /x/ apabila terletak di awal kata tetap ditulis /x/, tetapi apabila terletak di tengah atau akhir kata, huruf /x/ berubah menjadi /ks/, misalnya kata taxi menjadi taksi, sex menjadi seks.
(c)       Huruf /y/ akan menjadi huruf /i/ apabila terletak di akhir kata, misalnya kata belay menjadi belai dan diluluhkan apabila terletak di antara huruf /i/ dengan /a/,/u/,/o/, dan /e/, misalnya dia dan siul. terdapat bunyi /y/ saat mengucapkan dia atau siul disebut gejala polatalisasi.
(d)      Huruf /w/ akan menjadi huruf /u/ apabila terletak di akhir kata, misalnya kata danaw menjadi danau dan akan diluluhkan apabila terletak diantara huruf /u/  dengan /a/,/i/, dan /e/, misalnya pada kata jual, kue, dan kuil. munculnya huruf /w/ saat mengucap ketiga kata tersebut disebut gejala labialisasi.
Kesalahan penggunaan huruf konsonan dapat dilihat dibawah ini
1)      Sutam membersihkan aquarium(1) di sore hari.
2)      Anak itu sedang berfikir(2) untuk membuat tulisan yang baik dan benar.
3)      kita harus menjadi orang yang beradap(3).
4)      Ustad itu sedang berda’wah(4) tentang tata cara haji.
Dalam analisis kesalahan penggunaan hurf dapat dilihat di bawah ini.
1.      Kata “Aquarium” dalam kaida bahasa Indonesia tidak benar, seharusnya adalah “Akuarium”.
2.      Kata “Ber-fikir” dalam kaida bahasa Indonesia tidak benar, seharusnya adalah “Ber-pikir”.
3.      Kata “Ber-adap” dalam kaida bahasa Indonesia tidak benar, seharusnya adalah “Ber-adab”.
4.      Kata “Ber-da’wah” dalam kaida bahasa Indonesia tidak benar, seharusnya adalah “ber-dakwah”.
Jadi, bila didasarkan pada kaidah bahasa Indonesia yang benar, contoh yang kurang tepat diatas pembenarannya adalah sebagai berikut.
1)      Sutam membersihkan akuarium di sore hari.
2)      Anak itu sedang berpikir untuk membuat tulisan yang baik dan benar.
3)      kita harus menjadi orang yang beradab.
4)      Ustad itu sedang berdakwa) tentang tata cara haji.


b)      Penulisan Huruf
Penulisan huruf yang di maksud terdiri atas penggunaan huruf capital, huruf miring, huruf kecil, huruf tebal dan huruf yang bergaris bawah. Implementasi penggunaan huruf tersebut dapat diamati dari kesalahan penulisan huruf pada kalimat berikut.
dua(1) minggu yang akan datang wanda(2)  bersama  teman-temannya akan berpergian ke “Negeri Sakura” yaitu jepang(3), untuk meng-explore(4) budaya yang ada di sana. Sebelum berangkat mereka melakukan doa bersama agar meraka dilindungi oleh pencipta-nya(5). Mereka prepare(6) menuju bandara(7) Halim Perdana Kusuma, dan diberi nasihat oleh kedua orang tua mereka, agar hati-hati di sana.
Kalimat di atas kesalahan penulisan terletak pada penulisan huruf kapital dan huruf miring. Untuk mengetahui kebenaran kalimat tersebut, perhatikan kaidah penggunaan huruf capital dan huruf miring di bawah ini.
(1)   Penggunaan Huruf Kapital
Penulisan huruf kapital digunakan bagian-bagian berikut.
(a)    Huruf kapital digunakan pada huruf pertama sebuah kalimat.
Kita harus rajin belajar.
(b)   Huruf kapital digunakan pada huruf pertama setiap kata nama orang, nama bangsa, nama bahasa, nama suku, nama dalam geografi, nama hari, nama bulan, dan nama tahun. Begitu juga nama dalam geografi yang tidak diikuti nama, tidak dikapitalkan.   bangsa Indonesia, suku Sunda = mengindonesiakan kata asing.
(c)    Huruf kapital digunakan pada huruf pertama buku, nama surat kabar, nama majalah, dan judul karangan yang tidak termasuk preposisi (kata depan) dan konjungsi (kata sambung)
(d)   Huruf kapital digunakan pada huruf pertama nama agama, nama kita suci, nama hari raya, nama Tuhan termasuk kata ganti dan sifat-Nya.
Tuhan selalu menunjukkan jalan yang benar kepada setiap hamba-Nya
(e)    Huruf kapital digunakan pada huruf pertama lembaga atau badan pemerintah, ketatanegaraan, dan nama dokumen resmi, termasuk juga singkatannya.Misalnya, Republik Indonesia; Majelis Permusyawaratan Rakyat. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.
Misalnya : menjadi sebuah republik, beberapa badan hukum, kerja sama antara pemerintah dan rakyat, menurut undang-undang yang berlaku.
(f)    Huruf kapital digunakan pada huruf pertama gelar akademik, gelar kehormatan, gelar keagamaan, gelar keturunan dan nama jabatan atau pangkat, termasuk singkatan-singkatan gelar tersebut yang disertai nama orang. Bagi tidak disertai nama orang, huruf kapital tidak di pakai.
Sultan Hasanuddin, Haji Agus Salim. = Tahun ini ia pergi naik haji.
(g)   Huruf kapital digunakan pada huruf pertama petikan (kutipan) langsung.
    Adik berkata, “Kapan kita pulang?”
(h)   Huruf kapital digunakan pada huruf pertama istilah kekerabatan yang digunaan sebagai kata ganti dan sapaan.
Adik bertanya, “Itu apa, Bu?”
(2)   Penggunaan Huruf Miring
Huruf miring digunakan pada kata dalam cetakan. Bagi kata yang ditulis tangan atau diketik manual, digunakan garis bawah. Huruf miring digunakan dibeberapa tempat, yaitu:
(a)    Digunakan untuk menuliskan judul buku, nama majalah, nama surat kabar yang dikutip dalam karangan. Misalnya, Majalah  Bahasa dan Kesusatraan, buku Negara kertagama karangan Prapanca, surat kabar Suara Karya.
(b)   Digunakan untuk menuliskan istilah ilmiah, ungkapan asing atau daerah yang belum diadopsi ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya, Nama ilmiah buah manggis adalah carcinia mangostana.
(c)    Digunakan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf bagian kata, atau kelompok kata. Misalnya, Bab ini tidak membicarakan penulis huruf kapital.
Jadi, bila didasarkan pada kaidah-kaidah penggunaan huruf capital dan huruf miring tersebut, kalimat yang kurang tepat di atas pembenarannya adalah sebagai berikut.
Dua(1) minggu yang akan datang Wanda(2)  bersama  teman-temannya akan berpergian ke “Negeri Sakura” yaitu Jepang(3), untuk meng-explore(4) budaya yang ada di sana. Sebelum berangkat mereka melakukan doa bersama agar meraka dilindungi oleh pencipta-Nya(5). Mereka prepare(6) menuju Bandara(7) Halim Perdana Kusuma, dan diberi nasihat oleh kedua orang tua mereka, agar hati-hati di sana.
(3)   Penggunaan Huruf Kecil
Huruf kecil digunakan selain pada penggunaan huruf capital yang tercantum di atas.
(4)   Penggunaan Huruf Tebal
Huruf tebal digunakan pada kata-kata yang dianggap penting dan yang perlu mendapat perhatian oleh pembaca, misalnya sub judul dalam karangan.
Huruf tebal hanya bisa digunakan dalam cetakan. Bila menggunakan tulisan tangan, penulis dapat member I garis bawah pada kata yang dianggap penting atau yang perlu mendapat perhatian tersebut. Namun, penggunaan garis bawah  pada huruf tebal terdapat garis berganda.
Contoh 1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...........................................................................................  i
DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... iii
contoh 2
DIA YANG KU PILIH MAHROMKU(2)
Cerpen Karya Lily Arsy

Bunga-bunga itu memang cantik dan indah. Sayangnya bunga-bunga itu terkadang hanya untuk menaklukkan para dewi-dewi yang bertebaran hampir di seluruh permukaan bumi ini oleh para playboy…


Dalam penulisan huruf tebal dapat digunakan kaidah seperti berikut: 
1.      Huruf tebal dalam cetakan dipakai untuk menulis judul buku, bab, bagian bab, daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar pustaka, indeks dan lampiran.
2.        Huruf tebal dalam cetakan dipakai untuk menulis judul buku, bab, bagian bab, daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar pustaka, indeks dan lampiran.

Jadi, bila didasarkan pada kaidah-kaidah penggunaan huruf tebal, kedua contoh yang kurang tepat diatas pembenarannya adalah sebagai berikut.
Contoh 1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...........................................................................................  i
DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... iii
Contoh 2
 DIA YANG KU PILIH MAHROMKU
Cerpen Karya Lily Arsy

Bunga-bunga itu memang cantik dan indah. Sayangnya bunga-bunga itu terkadang hanya untuk menaklukkan para dewi-dewi yang bertebaran hampir di seluruh permukaan bumi ini oleh para playboy…

Dalam tulisan tangan atau ketik manual, huruf atau kata yang dicetak dengan huruf tebal diberi garis bawah ganda.      




Daftar Pustaka
Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar